10.5505.250987.1002

Posted on May 4, 2012

0


Hah! Apakah rentetan nomer itu? Itu nomer ktp gw. Haha, penting abis!Trus apa hubungannya?

Jadi gini, otak gw kembali berpikir yang macem2. Bisakah kita menjadi diri sendiri yang memiliki privasi? Jawaban gw: mungkin bisa, itu tergantung lo dan kemungkinan itu sangat kecil. 

In case, Kalau kita ngurus apapun, gw ngambil contoh ngurus KTP WNI, pasti kita dikasih serangkaian pertanyaan yang jawabannya berhubungan dengan siapa kita. Nama, alamat, tempat & tanggal lahir, nama orang tua, dan masih teramat banyak pertanyaan yang mengorek habis tentang siapa kita. Tujuannya? Pasti jawaban yang keluar adalah “sebagai arsip yang memudahkan pencarian data anda.” Dan sebagai gantinya kita diberi serangkaian angka yang gak mungkin kita hafal dalam semalam. Gak seperti sebuah nama yang cukp catchy, apalagi kalau kita habis samakenalan sama sesorang yang cukup menarik perhatian kita, gw jamin lo pasti mampu mengingatnya dalam tempo 5 detik saja.

Trus nama yang diberikan sama orang tua kita yang udah memutar otak dengan sangat rumit untuk mencetuskan sebuah nama, yang kelak kita pakai seumur hidup (ini juga masih tergantung lo! Sebagai contoh Jimi Hendrix & Christopher McCandless.) dibuat apa? Sebelum masuk ke pertanyaan gw yang lebih bodoh, mending kenalan sama 2 nama yang gw sebutin barusan. kalau ada yang udah kenal, alhamdulillah. 

Jimi Hendrix. Ada yang gak aware sama nama yang satu ini? Gw jamin, pasti lo bukan penikmat musik rock. Buat yang mau kenalan, ada cara simple. Mungkin ada suka sama Jamie Cullum & John Mayer? Coba cari lagunya Jamiie Cullum “Wind Cries Marry” & John Mayer “Bold As Love”. Lagu bagus bukan? Easy listening dengan nada-nada yang mudah diserap. Tapi ini bukan lagu buatan mereka, ini ciptaan Jimi Hendrix. Jimi Hendrix lahir dengan nama Johnny Allen Hendrix, tapi setelah bokapnya dipecat dari militer USA pada tahun 1945, dia mengganti nama anaknya dengan nama James Marshall Hendrix, keputusan ini diambil untuk mengambil hak asuh anaknya tersebut. Nama yang baru ini dipilih untuk mengenang saudaranya yang meninggal, Leon Marshall Hendrix. Dan untuk nama Jimi sendiri, dipilih oleh yang bersangkutan sebagai “stage name”, biar gampang diingat aja. Kaya entertain pada umumnya, pasti punya “stage name”.

Christopher McCandless. siapa lagi ini? Ada yang pernah denger nama Alexander Supertramp di film “Into The Wild”. Dan ini (Alexander Supertramp) adalah dia (Christopher McCandless). Gw gak mau crita, mending nonton sendiri aja filmnya. Yang pasti dia memilih untuk merubah nama aslinya, pada saat dia memutuskan untuk berpetualang ke Alaska.

Trus apa hubungannya? Jadi gini. Gw sekelibat terpikir. Buat apa orang tua kita bersusah payah mikirin nama yang menyratkan makna-makna tertentu, kalau toh nantinya ditranformasikan menjadi serentetan angka oleh orang-orang yang gak ada sangkut pautnya sama kita dengan alasan tujuan birokrasi? Pertanyaan bodoh memang! Tapi terus gw mikir lagi, apakah nanti kalau kalian punya anak berpikir untuk menjaga privasi mereka? Kalau mau menjaga privasi mereka. Gantilah nama yang kalian pikirkan untuk nama anak anda, dengan rangkaian angka yang, ini opsional, bermakna maupun tidak. Seperti strategi provider esia, menjual kartu perdana tanpa nomer. Haha. 

Dan sempat gw pernah terpikir untuk mengganti nama gw. Tapi setelah memikirkannya lebih lanjut, gw buang pikiran itu. Karena nama itu adalah warisan nyata yang abadi dari orang tua gw. Kalau bicara kasih sayang mereka, gw gak patut untuk membicarakannya. Toh gw gak bakalan bisa menginvestigasinya untuk kemudian mengarsipkannya satu persatu. Seperti yang dilakukan orang-orang yang tugasnya mengganti nama kita dengan serangkaian angka yang menurut lembaganya memiliki arti.

——-

Ini udah hari terakhir di Malang dan besok balik lagi ke Jakarta, beraktivitas lagi untuk menguliti serangkaian agenda. 4 hari yang cukup menyenangkan, walau hujan yang turun memang sangat menghambat, tapi gw bisa apa selain berteduh dan mematikan rencana. Dan mudah-mudahan 4 bulan lagi, burung gagak dan bunga lotus sudah bisa gw rawat sampai gw gak sanggup lagi menahan keinginan untuk merajah (gw janji ini yang terakhir). Sebuah lagu dari “Seringai – Amplifier”. Lirik yang menggambarkan sikap tanpa hari esok dan berkumpul bersama serangkaian orang yang mengusung prinsip: “Hidupku, Musik, Distorsi” membuat gw kembali skeptis
——————

Agung Rahmadsyah
Malang
18 April 2010
Advertisements
Posted in: Uncategorized