3 tahun silam

Posted on May 4, 2012

0


Baru saja aku sisihkan sepersekian detik disaat ini tentang masa itu,

hanya sekadar untuk kembali menyuburkan sehektar persepsi tentangmu.

Mengenai malam yang ditantang penat, maupun bunga yang terhadang layu.

Dan mengenai apapun itu yang akan mati, untuk kemudian hanya jadi bulan-bulanan syahdu dalam rangkaian aksara.

Begitu halnya dengan cinta, ia pasti akan mencumbu ajalnya kelak.

Detik ini juga, cintamu sangat bisa menjadi mayat.

BANGKAI yang menyebabkanmu terharu, biru dan pilu.

Menorehkan warna pilu dalam kanvas bukanlah kehendakku, tapi siapakah yang maha berkehendak?

Apakah tuhan itu masih maha segalanya seperti yang kutahu 3 tahun silam?

Dan siapakah yang bisa menghalau kehendak tuhan?

Aku rasa tidak ada, sekalipun dia memiliki kromosom penguasa olympus atau merupakan hasil perdebatan tentang sebuah teknologi yang berkonsentrat tinggi.

3 tahun silam, dikala bulan menitikan peluh ditepi kericuhan malam,

aku terpana menyaksikan kehadiran sosok raksasa senyap yang menghadang hadirnya kantuk

Bagiku, kesenyapan tanpa hadirnya kantuk adalah teror!

Dan aku,aku coba membalas teror itu dengan meneror surga melalui beragam doa.

Apa kau tahu teror apa yang datang kepadaku waktu itu? Konon, namanya adalah kerinduan.

Tapi rupanya si teror kerinduan ini tidak datang sendirian, ia merupakan metafora dari beberapa kerabat karib yang ia telan mentah-mentah untuk kemudian dikembangbiakan menjadi

kerisauan,

kegalauan,

kecemburuan,

ketidakpercayaan,

kewaspadaan,

kecurigaan,

kemunafikan

dan ketidakpedulian.

Aku alamatkan rangkaian teror doa ke surga itu sebagai saksi.

Meskipun aku tahu bahwa ia yang kelak akan memberatkanku, karena aku sendirilah yang menamatkan riwayat cinta. Dan aku pasti akan jalani hukuman ini, tanpa menyertakan isak tangis meskipun terkadang pilu.

Dan saat ini, disaat aku masih menerawang kedalam buih-buih kisah 3 tahun silam.

Aku akan teruskan igauan dan gumamanku tentang terorku ke surga:

Semoga engkau bukanlah objek bualan tentang kematian cinta.

Aku akan selalu berdoa untuk kalian yang dijadikan bulan-bulanan syahdu,

dari atas bumi.

——-

Gw gak tau ini namanya apa, puisikah atau bukan, gw gak terlalu peduli. Yang pasti gw cuma mau nulis dan inilah yang terjadi. Intinya gw cuma pengen memotivasi diri gw sendiri kalau kehilangan bukan alasan untuk menjadi lemah atau tidak berdaya.

Oya, tulisan ini juga dipicu oleh pemberitaan infotaintment (yang, sebagian besar, merupakan hasil kerja dari team Indigo Production) mengenai Saiful Jamil pasca bencana di tol tersebut. Seinget gw, yang meninggal pas musik lebaran 2011 ada 600 orang. Terus kenapa yang 599 lainnya gak dibikinin sesi isak tangis kaya Saiful Jamil? C’mon man, the show must go on! Yang mati yaudah, gak usah disinggung-singgung lagi. Menyedihkan! Toh juga gak bakalan hidup lagi kan?

Selain dipicu oleh kekesalan akan pemberitaan diatas, tadi pagi gw baru denger langsung gimana W.S Rendra membacakan puisi. Dan dari beberapa judul yang tadi pagi sempet gw simak salah satu puisinya yang berjudul “Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya’ itu bener-bener inspiratif. Gak heran kalau Seno Gumira Ajidarma ngefans sama orang ini, dan Iwan Fals sampai membuatkannya lagu khusus untuk beliau.

Berikut adalah potongan dari sebuah sajak karya W.S Rendra yang berjudul ‘Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya’. Semoga bisa membangkitkan pandangan tentang hidup. Dan silahkan cek link berikut ini kalau penasaran sama versi lengkapnya http://www.youtube.com/watch?v=LBtWxk2lKwg&feature=related  🙂

“Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh. Hidup adalah untuk mengolah hidup, bekerja membalik tanah, memasuki rahasia langit dan samudera serta mencipta dan mengukir dunia.”

“Iwan Fals – Orang Pinggiran” bukan lagu ini yang gw maksud diatas. Kalau lagu ini sih, kayanya semua juga udah tahu. Dari duaranya udah kedengeran Iwan Fals duat sama siapa, keren pisanlah pokoknya 🙂

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

17 September 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized