Adalah Eksposure (2)

Posted on May 4, 2012

0


Oh, Damn! SHIT. Tangan saya gatel juga!

Sebenarnya tugas reportase ini bukanlah bagian saya, tapi yasudahlah. Namanya hasrat, kalau tak keturutan nanti bisa jadi syahwat. Dan syahwat itu gak jauh dari urusan otot dan urat. Dan itu gawat!

Acara itu bertajuk Banyak Asa Disana. Terlaksana berkat banyak pihak, selain sederet nama distro di kota Malang yang pastinya sangat mensupport. Tentu saja ada nama tempat diselenggarakannya acara itu, Tutu Demas. And organized by: Koalisi Nada. (yang memiliki lambang pohon yang bekas kena tebang dan ada tulisan ‘koalisi nada’ ditengahnya) pertanyaan selanjutnya itu pohon jenis apa? Dan siapa yang menebang? Alangkah afdolnya kalau 2 pertanyaan barusan tidak usah disimak. Karena memang berazaskan keisengan semata.

Lagi-lagi, saya tiba dan melewatkan 2 band. Tapi untuk kali ini, alasannya jelas. “Saya baru saja selesai berlatih di sebuah studio musik dengan kelompok bermain saya, Militant Express.” Kenapa kelompok bermain? Karena moto kita adalah: “ojo sampe jadwal dulinmu keteteran gara-gara urusan sing liane” (buat yang merasa terkena roaming, kurang lebih seperti ini artinya: jangan sampai jadwal mainmu dibuat repot dengan urusan yang lain) selain sisi musikalitas kami yang hanya sekedar gonjreng-gonjreng saja.

Masuk ke pembahasan pokok, Kobra sudah menunggu! Saya cuma berani mengabadikan beberapa gambar, sambil mengambil jarak yang cukup. Karena mereka berbisa, seperti sebuah judul lagu mereka “Bisa ular”. Sampai sebuah meomen dimana, salah seorang teman saya mendekat dan berbisik: “itu vocalistnya siapa namanya?” oh, yeah! You’re officially got a fans, Kobra! Masuk ke penampil selanjutnya, Time Portal. Meskipun berisikan sang empunya venue, bukan berarti band ini memanfaatkan keadaan seperti SCTV. Mentang-mentang punya sarana bikin award lah mereka, sembarangan pula! (kondisi ini saya perhatikan semalam, ketika melihat ending sinetron cinta fitri, yang entah memasuki episode keberapa. Perhatikan di pojok kiri atas, terdapat sejumlah hiasan berbentuk piala yang tulisannya “SCTV Awards: …..”) Capitalism Stole My Virginity, mengutip salah satu judul lagu T(I)NC

Kembali ke Time Portal, “Senorita’ memang terlihat seksi untuk disenandungkan meskipun tidak terlihat seorang madam seperti band sebelumnya. Karena 4 orang personilnya mutlak batangan, tulen! The RATNA, Video Tape dan ALSOO. Selanjutnya 3 band itu yang tampil. The RATNA dan ALSOO, memiliki permainan yang hampir bisa dikategorikan rock n’ roll, hal ini terlihat jelas dari attitude mereka saat membawakan lagu andalannya masing-masing. Ketika ALSOO membawakan “Making Love”, sang vokalis mencoba mensinkronkan desahan ala film porno dengan todongan microphone. Jujur saja, saya malah geli meliat ulahnya. Tapi bukan ilfeel, malah merasa lucu. Yeah, that’s rock n’ roll music man, remember this one: “Nice boy, don’t even play rock n’ roll”. Dan untuk Video Tape, noise yang diciptakan dari pergesekan senar gitar dan Sendok itu, Impresif!

Sebentar! Sebenarnya ini acara apa sih? Udah 5 band yang saya sebutkan diatas dan masih ada 3 band lagi yang tersisa. Ada yang bertanya gak, init uh acara apa? Kok tempatnya di Tutu Demas lagi? Bandnya juga gak jauh beda? Saya coba jawab ya, karena saya sok tahu! Kenapa kalian, ada yang gak suka? Silahkan jawab kalau emang tahu. Haha. Ini adalah acara penggalangan dana untuk korban bencana alam yang melanda 3 wilayah di Indonesia, teman-teman musisi dari kota Malang mencoba memberikan apa yang mereka sanggup berikan. Mereka bermain music tanpa mengharapkan bayaran sambil berinisiatif memutarkan kardus yang bertuliskan “Kotak Amal Korban Bencana”. Sampai acara ini berakhir, dana yang terkumpul malam itu sebesar 335700 rupiah. Terima kasih teman-teman atas atensinya! Kita berikan apa yang kita sanggup berikan, dan ikhlas.

Mari lanjut ke 2 band berikutnya sebelum 1 band, yang sengaja diletakkan diakhir acara (mungkin guest star? I have no idea) Dead In deadline tampil percaya diri mengusung fomat music nihilitas dengan racikan synt, ala power pop? Kurang lebih. Tapi lirik yang mereka lontarkan lebih mengacu tentang paradigma akademia, sedikit membuat kita mengerenyitkan dahi ketika ada sebuah lagu yang membahas tema pendidikan terlontar dari mulut sang vokalis yang bajunya ditempeli tulisan “ASA” yang dibuat dengan sellotape kertas. Nice try, by the way. Ada Saturday Night diurutan selanjutnya, yang malam itu membawakan music yang sarat akan teknologi, “post-rock” begitulah orang-orang menyebutnya. Rupanya sangat sukses membuat penonton merenungi suasana lagu yang memang pas dengan malam muram itu, gerimis turun monoton sepanjang acara. Tapi tidak dengan gemuruh tepuk tangan ketika satu persatu lagu selesai dibawakan oleh Saturday Night.

Dan di penampilan terkahir, Savior. Band ini berasal dari salah satu daerah korban bencana, Jogjakarta. Maka ketika vokalis meminta seluruh pengunjung menundukkan kepala untuk sejenak mengheningkan cipta, nuansa khusyuk langsung menyeruak. Tanpa panjang lebar, Garage Rock langsung digempur. Say lupa berapa pastinya, yang jelas 5 lagu tidak cukup untuk membuat dahaga kawan-kawan di kota Malang terpuaskan akan sebuah subdivisi music keras. Dan terciptalah crowd surfing yang didalangi oleh seorang dan satu-satunya MC pada malam itu. Sekitar Pukul 22 lewat 50 menit pertunjukan amal ini resmi diberhentikan, karena tidak ada lagi band yang bermain setelah Savior. Malam yang sangat padat dengan penampilan 10 band selama lebih kurang 4 jam, tapi dengan 1 tujuan penggalangan dana untuk korban bencana. Semoga hasil yang terkumpul bisa berguna bagi mereka para korban bencana dan kita akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Indonesia.

******

Ini visualnya (kembali saya suguhkan dalam B/W,karena sebuah alasan)

 
Time Portal yang menembus waktu Indonesia-Spanyol
Tulisan itu memperjelas kotak atau orangnya?
Si MC yang nanti crowd surfing
Pengunjung yang tidak kehujanan (itu sebabnya mereka terlihat bahagia dan tidak basah) meskipun yang basah, juga bahagia.
Wow! Ada Faank “wali” (lagi)
The RATNA. Sebenernya siapa diantara kalian yang nama tetangganya itu Herman? cepat ngaku!
Mungkin sendoknya pinjam di Tutu Demas? Ah, sepertinya vokalis Video Tape sudah menyiapkannya
ALSOO (dengan desahan ala film porno produk lokal yang memaksa kita memiringkan kepala ke arah kiri,karena posisinya yang vertikal. nonton video aja kok repot!)
2 pesan yang cukup mencerminkan
Dead In Deadline. Tulisan dibaju vokalisnya: ASA. tulisan di key synth: Alesis. Tulisan di baju bassistnya: Help. Merk gitarnya: Fender. Kalo Agung Rahmadsyah itu watermark
Transaksi majalah Sintetik dalam format CD
Saturday Night got some good time! even that was Wednesday night.
Orang dalam kaca
Tuh kan si MC crowd surfing!
Savior. Band Jogja yang lagi ke Malang, setelah sebelumnya dari Surabaya dan keesokan harinya ke Surabaya lagi. (yang denger aja pegel. smangat kawan!)

——-

Tulisan ini dibuat karena memuaskan hasrat saya saja. Versi lainnya (yang lebih layak disimak) bisa dinikmati dalam majalah ‘SINTETIK’. Sebuah majalah lokal kota Malang, berformat digital yang berisikan musik sebagai kajian utamanya. (tapi tidak menutup kemungkinan bentuk seni lainnya, karena seni memang untuk diapresiasikan)

“Mew – Apocalypso” Tidak ada alasan khusus. Saya ingin mendengarkan album “And The Glass Handed Kites” itu saja. Karena cukup penat sama playlist di mp3 player.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

18 November 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized