Apakah kita diciptakan untuk mengusai?

Posted on May 4, 2012

0


Sebuah pertanyaan kembali mendarat tepat di pusat control diri gw. Hal ini tiba mengalir bersama hujan yang mengguyur kota bandung pada jumat malam tanggal 19 maret 2010. Deras dan konstan bulir-bulir air terus menghujam kota itu selama lebih dari 6 jam. Di sepanjang jalan sebuah kota yang dijuluki Paris Van Java, terlihat rombongan air itu merajai jalanan beraspal dan halaman yang sudah kokoh di lumuri oleh campuran semen, pasir dan beragam baham alam lainnya yang membuat sebuah unsur menghilang dari tempat yang seharusnya. Tanah.

Ya,kenapa tanah? Apa karena kita sebagai manusia yang secara srtuktur mangandung unsur ini? Sebenarnya bukan ini alasan gw untuk memperhatikan tanah sekarang. Tapi gw mencoba untuk memahami unsur bumi secara dasar. Sepengelihatan gw selama ini, langsung maupun tidak, unsur bumi hanya terbagi 2. Daratan dan lautan. Lautan sudah pasti berisi air, meskipun zat-zat yang terjadung dalam air tidaklah sesingkat saat mata gw bertatapan langsung dengan mereka. Sedangkan daratan? Unsur terbesarnya adalah tanah. Meskipun ada unsur-unsur lain yang tidak berasal dai tanah. Pasir di pantai atau lainnya, ini udah bukan bidang gw lagi, jadi ada yang lebih paham mengenai ini.

Yang jadi permasalahan saat ini adalah Kenapa kita membiarkan unsure yang seharusnya berada di tempatnya menghilang? Atau boleh gw bilang, dihilangkan! Sebenernya gak cuma bandung aja yang melakukan hal ini. Banyak kota-kota lain yang udah melangkah menuju jalan ini. Membuat praktis segalanya dan mengesampingkan fungsi tanah. Gw rasa mereka udah sangat paham, kalau tanah adalah unsure yang baik untuk dijadikan resapan. Dan berlandaskan kepentingannya, mereka menghilangkan bagian ini. Sungguh gak bisa ditolerir. Kenapa aktivis lingkungan hidup berteriak-teriak ketika alam, tempat kita menerima takdir dilahirkan sebagai manusia, di rubah fungsinya? Karena mereka lebih dulu sadar kalau apa yang sebagian orang sebut sebagai pembangunan hanalah sebuah kedok dari sebuah antonimnnya.

Sekarang coba balik keadaannya. Gimana kalau mereka, yang terlahir dan berasal dari sebuah kondisi yang serba berkecukupan ditempatkan di sebuah petak yang pengap dan sempit. Apakah mereka akan diam saja dengan kondisi mereka? Tentu saja tidak. Mereka bisa memaki-maki ataupun marah kepada siapa yang berani memindahkan mereka ke tempat dimana mereka seharusnya tidak berada disana. Kalau mereka bisa berpikir seperti itu, Mengapa alam tidak? Alam lebih kuat daripada harta benda dan kekuasaan kalian. Jadi jangan mengangis dan berteriak-teriak ketika tempat tinggal kalian yang berada di dataran tinggi mengalami longsor dan hilang dalam seketika. Bagi mereka yang berani menginvestasikan tempat tinggal mereka disana, tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Dan deretan angka itu bukan merupakan penghalang, untuk melampiaskan keinginannnya. Tinggal menyuruh orang dan menyulapnya menjadi bangunan megah yang memiliki kolam renang dan sarana hiburan lain dalam 3-6 bulan. Tapi alam bisa melakukan sulap yang lebih baik, membalik keadaan yang kalian rubah hanya dalam 5 menit untuk kembali ke posisi awalnya.

Jadi jangan pernah berpikir untuk bisa menguasai. Kita dilahirkan kedalam kondisi yang sudah tepat dan tugas kita adalah menjaganya, bukan memanipulasi. Jika ada kondisi yang kurang baik, lebih baik dikembalikan keposisi awal. Meskipun kita memang harus melakukan sebuah perubahan, tapi perubahan yang diadopsi dari cara yang salah adalah sebuah tindakan bunuh diri yang tidak intelek. Hanya orang-orang yang mau belajar dari kesalahan, yang bisa melakukan perubahan.

Hanya bermodal nalar, Tanpa Wikipedia dan literasi lainnya.

Malam hari gw terlalu lelah untuk merekam percakapan satu kepala ini dalam bentuk teks, sampai sekarangpun masih penat. Tapi lebih baik diselesaikan sekarang, daripada mati menyisakan pertanyaan. 

Maaf untuk kali ini tidak menyertakan lampiran 2 dimensi. Sebab gw terjebak di mobil dan tempat lainnya, sedangkan medianya berada kamar hotel. 

 

——————
Agung Rahmadsyah
Bekasi
21 Maret 2010
Advertisements
Posted in: Uncategorized