apakah seorang biduan wanita adalah sosok yang dibangun?

Posted on May 4, 2012

0


Dengan 37.500 Rupiah, saya mendapatkan beberapa barang yang menarik dalam 1 Plastic Bag. Apa saja barang-barang itu? 1 Buah Brosur yang merepresentasikan sebuah yayasan amal (lengap beserta kolom bagi orang yang berniat untuk menjadi donator), 1 buah T-Shirt (tampaknya ini sebuah produk dari sebuah distro ternama di Jakarta), 1 lembar tiket untuk ditukarkan dengan sebuah kaleng Beer ‘San Miguel’ (Padahal saya lagi pingin minum ‘Bintang’, tapi ini sebenarnya bukan sebuah masalah besar bagi saya, haha) dan yang pasti adalah 1 majalah Rolling Stone edisi Oktober. Hari itu tanggal 5 Oktober 2010, Rolling Stone Release Party October Edition diadakan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan kondisi Jl.Ampera yang masih mencekam (kalau ini sedikit berlebihan, karena mencekam disini bukan karena peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Tapi waspada kalau mendadak hujan turun tanpa permisi dan belas kasih! Haha)

Sebenarnya dihari yang sama, saya mendapat sms yang isinya adalah undangan untuk menghadiri acara pembukaan pameran foto di kantor berita Antara, Pasar Baru, pukul 19.30. Tapi terpaksa saya batalkan karena saya pikir waktunya cukup berbenturan dengan acara di Rolling Stone, yang hanya berbeda 30 menit untuk waktu pembukanya. Jika diurut secara kronologis, sebenarnya saya bisa menghadiri kedua acara tersebut. Pada sore hari, tepatnya pukul 16.30, saya mengabari teman saya yang datang dari Temanggung untuk menghapirinya pada pukul 19.00,dan untuk selanjutnya singgah ke Antara dan meluangkan waktu sekitar 1 jam, setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju Ampera. Tapi itu sebuah rencana yang gagal. Kenapa? Karena begitu saya tiba pukul 17.30 dirumah, saya mendapati kakak saya sedang menggunakan komputer untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Dan itu jelas mengganggu rencana yang sudah saya susun, untuk mengedit tulisan mengenai konser Dying Fetus di Jakarta beberapa pekan silam. Akhirnya setelah meluapkan ekspresi kekesalan demi mengembalikan mood atas tindakan kakak saya yang, saya pikir, EGOIS, saya mengerjakan tulisan itu pukul 18.00 lebih beberapa menit di kamar atas dengan menggunakan laptop milik kakak saya dan berakhir pukul 18.30 untuk kemudian bersiap-siap (makan dan mandi) dan berangkat. (Tapi setelah dipikir lagi, saya juga salah, kenapa gak dikerjakan dari kemarin biar gak buru-buru? Tapi ya sudahlah, toh saya sama sekali tidak marah sama kakak saya. Saya cuma sedikit kesal saja, kesal terhadap diri saya dan kakak saya. Selesai itu ya sudah, It’s clear. Kami masih baik-baik saja) Dan ketika semuanya beres, waktu sudah menunjukan pukul 19.30, perkiraan dimana saya seharusnya sudah berada di Antara.

Terlepas dari semua kemelesetan atas rencana itu, saya mencoba meredam emosi yang tersisa dengan mendengarkan lagu dari John Frusciante saat mengendari sepeda motor. Dan itu berhasil, entah kenapa setiap saya merasa memiliki rasa kekesalan yang cukup tinggi saat itu pula lagu-lagu dari John Frusciante sukses menunaikan tugasnya. Khususnya lagu ‘Smile From The Streets You Hold’ dan ‘Your Pussy’s Glued To A Building On Fire’. Sekedar info, 2 lagu itu terbuat saat John masih menjadi junkie karena ketergantungannya terhadap heroine. Dan menurut saya, karya-karyanya  setelah fase itu (sekarang ia sama sekali bersih dari segala aktivitas penyalahgunaan zat psikotropika) terdengar lebih matang. Silahkan simak lagu ‘Dark Light’ dari album terbarunya The Empyrean, salah satu rekomendasi bagi orang yang penasaran atas sosok John Anthony Frusciante, mantan gitaris Red Hot Chili Peppers. Sekali lagi saya menyarankanuntuk disimak, kalau untuk sekedar mendengarkan silahkan cari artis lain saja. Di  Indonesia sendiripun masih banyak yang nikmat didengar, saya sebutkan sebuah band sebagai contoh: D’masiv. Dan Anda diperkenankan menyebut versi anda. Tapi buat saya pribadi, music itu cukup sekedar didengar saja, tidak untuk disimak. Karena kontennya tidak ada yang menarik! Setelah 2-3 kali saya mendengarkan, saya sudah hafal kemudian saya akan merasa bosan dengan sendirinya setelah memasuki repetisi yang ke 4. Entah kenapa alasannya, mungkin ada yang rusak dengan selera music saya? Atau ada yang patut ditanyakan kepada diri anda tentang alasan kenapa lagu-lagu itu menjadi lagu musiman favorit anda? Jika boleh berpendapat berdasarkan pengamatan saya: menurut saya, proses penciptaan music yang untuk didengar sangat berbeda dengan musik yang memang untuk disimak. Untuk music yang disimak, pada awalnya mereka cukup atau sangat membosankan, tapi itu adalah sebuah proses yang dibutuhkan untuk menikmati lebih lanjut dan kemudian sampai fase penginterpretasian maksud dari sang artis. Di lain kasus, contohnya: untuk membuat karya brilian (dalam hal ini saya menyempitkan dalam kategori music) bukanlah pekerjaan yang sekedar memproduksi, tapi melibatkan emosi dan ekspresi untuk karya itu. Singkat kata, sang artis melebur kedalam karyanya, dan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Musik yang masuk kategori brilian adalah musik yang sudah tercipta kemudian ditransformasikan dalam bentuk nada (saya ibaratkan ini adalah sebuah wahyu yang diberikan kepada para nabi) itu jelas momen yang sakral dan langka! Dan saya dapat menemukannya dalam lagu ciptaan Jimi Hendrix  berjudul ‘Bold As Love’ (saya lebih menyukai versi intrumentalnya) Sekali lagi ini adalah pendapat saya, khususnya soal music. Bagaimana dengan anda? Silahkan dishare jika berkenan.

Kembali ke dunia nyata tanggal 5 Oktober 2010, saya tiba di Ampera pukul 21.00 dan langsung menuju sebuah meja, dimana disana sudah duduk 2 orang teman saya. Pada malam itu, Rolling Stone memasang line up: Nadya Fatira, Aditya Sofyan, Dira Sugandi dan Netral. Seperti Sesi bulan sebelumnya, acara ini dimulai dengan diskusi yang dimoderatori oleh Wendi Putranto. Tema diskusinya apa? Saya tidak memperhatikan karena datang terlambat, untuk itu saya segera menukarkan 1 lembar tiket dengan sekaleng beer dan menikmatinya tanpa banyak bicara. Tapi ada beberapa hal yang patut disimak dimalam itu adalah:

  • Soleh Solihun yang menjadi MC sekaligus mascot (mengutip perkataan Wendi Putranto) sedang mengalami diare. Hal ini dapat diperhatikan ketika beberapa kali ia curhat tentang aktivitasnya yang sudah 2 kali buang air, sepanjang sore itu. Sehingga kondisi itu mempengaruhi performanya. (meskipun menurut saya, tidak ada yang berubah dari bahan pembicaraannya. Karena semua hal tidak luput dari komentar yang kritis namun membuat saya terpingkal. Jujur, saya senang merasa bodoh di tempat itu)
  • Salah satu joke Soleh yang membuat saya tak henti-hentinya tertawa adalah: “Sekarang saya prihatin sama orang yang pakai tattoo, karena kesan garangnya kurang. sekarang orang yang garang adalah orang-orang yang pakai kopiah dan celananya ngatung. Coba liat aja daftar pencarian orang kalo ke mall. Kesan garang tattoo jadi sirna, setelah mode rambut highlight dan distorsi sentimental. Kemudian muncul tipe orang-orang itu” Haha. Sumpah, speechless! Anjrit.
  • Nadya Fatira terlihat sibuk mengklarifikasi hal-hal yang menurut saya tidak penting untuk diklarifikasi. Seperti ketika ia dikomentari Soleh tentang penampilannya yang mirip Avril Lavigne dan ia melakukan klarifikasi sebanyak jumlah line up yang tertera malam itu, bahwa Ia tidak pernah mendengarkan Avril Lavigne! Dan satu lagi, ketika ia mencoba bercerita dan memberi petuah tentang “Ada baiknya tidak memandang sebelah mata bagi orang yang pindah ke jalur mainstream adalah karena materi semata” dalam hal ini Ia memberi contoh dirinya sendiri yang pernah terlibat dalam scene music independent dan sekarang harus keluar dari jalur itu. Padahal pada waktu Ia bicara seperti itu, ada beberapa orang yang lokasi duduknya berada dekat saya dan lokasinya dengan stage hanya berjarak sekitar 3 meter. Orang-orang itu adalah: Gusse ‘Kripik Peudeus’, Ricky ‘Seringai’, Glen Freddly, Wendi Putranto, Coky dan Bagus ‘Netral’ dan Gugun “Gugun and The Blues Shelter’. Silahkan tafsirkan sendiri apa yang saya maksud dengan menyebutkan nama-nama barusan. Kalu boleh saya berpendapat: Nice move for your carrier, young lady! Better watch you step. (Jujur, Saya pribadi lebih respect sama attitudenya Aditya Sofyan yang tetap cool, meskipun Ia juga tidak luput dari komentar Soleh yang berbunyi: “Mas mas berwibawa” hahaha)
  • Untuk penampilan Dira Sugandi, bagi saya sendiri, tidak ada yang menarik untuk dibahas. Kecuali sikap teman saya yang “berapi-api” hingga membuat ia sejenak meninggalkan bangkunya, karena pensaran dengan “sosok” Dira. Jadi inget status YM seorang teman: “Boy’s dream, boy’s dream” hahaha
  • NETRAL? Saya tidak bisa bersikap seperti namanya ketika band ini memainkan lagu “Cahaya Bulan” sebagai lagu pembuka, karena saya sendiri sudah cukup lama tidak menyaksikan NETRAL secara langsung. Selanjutnya Netral bermain atas request penonton. haha, cool. Bagus, Coky, Enno and I get fun as myself! Yay.

Majalah Rolling Stone Edisi Oktober memasang figur Roger Waters Sebagai Front Cover. Begitu saya membuka plastic yang menyelimuti majalah itu, saya langsung menuju ke lembaran yang terlihat mencolok dan ternyata lebaran itu adalah produk setia yang mengisi halaman majalah Rolling Stone Indonesia. Dari bahan kertasnya saja bisa dipastika Ia membayar lebih daripada iklan pada halaman 3 yang konten produknya sama, tapi jelas berbeda perusahaan. Saya teruskan pencarian sampai pada sebuah momen saya mendapati artikel Roger Waters tersebut. Karena hanya sekedar ingin tahu, akhirnya saya kembali membuka halaman demi halaman dan berhenti pada artikel berikutnya. “Sex, God and Katy”. Wow! Mendadak mata saya terasa jernih dan sejenak menenggak bir untuk membuka halaman berikutnya. Untuk para lelaki normal, silahkan simak halaman itu. Dan coba jujurlah tentang apa reflek anda? Haha

Akhirnya saya melontarkan komentar ke teman saya “Wuih! Katy Perry, boy.(tertawa)”

Disambut dengan respon yang saya beri poin 9 oleh teman saya “Gawat juga nih!” kemudian Ia melanjutkan pembicaraan “Tadi gue moto buat rubrik di majalah, trus kan gue stuck ngarahin gaya. Akhirnya gue tanya aja musisi favoritnya. Dia jawab Katy Perry. Gue gak ngerti itu siapa. Kalo ngerti orangnya kaya gini (sambil menunjuk foto yang tertera di majalah itu) gue suruh pose kaya begini aja deh. (tertawa)”

(tertawa) “Wah, tolol! Eh, tapi boleh juga sih ajak gue kalo nemu model yang mau foto begini, trus komuknya (muka-red) gak caur-caur amat!” saya menimpali

“Yee, si anjing! Bangke juga lo!” selorohnya sambil menyalakan rokok.

*****

Sampai pada hari ini (Kamis 07 Oktober 2010) akhirnya saya menyalakan komputer di pagi hari dan entah apa yang membuat saya singgah di youtube untuk melihat video dari Katy Perry ‘California Gurls’. Oh iya, saya ingat! Sebelumnya saya mencari video “Phantom Planet – California” dan di kolom samping kanan muncul video tersebut. Dan karena saya penasran akhirnya saya ‘klik’ dan kemudian menikmatinya, dan memang cukup nikmat. Karena saya lelaki normal 😀

Darisana saya coba mencari video Katy Perry yang lain, dan nyatanya menemukan yang lainnya. Sampai akhirnya  saya mencoba memberikan komentar tentang sosok penyanyi wanita saat ini. Dalam hal ini Katy Perry, Miley Cyrus dan Lady Gaga. Siapa yang tidak pernah dengar nama-nama mereka? Khususnya bagi para penghuni sekte entertaint? Sayapun sering menjumpai nama-nama ini meluncur dari mulut beberap teman saya. Meskipun secara pribadi, saya tidak ambil pusing tentang hal ini. Tapi sampai tadi pagi saya mulai melihat dari beragam perspektif. Tindakan ini saya ambil setelah saya melihat video documenter yang berdurasi pendek, tentang Janis Joplin. Dan saya melihat perbedaan antara sosok Janis dengan ketiga sosok itu, dalam hal ini saya fokuskan pada Katy Perry.

Kenapa Katy Perry? Karena saya tidak punya banyak waktu untuk melibatkan diri saya terlalu jauh dengan Miley Cyrus atau Lady Gaga. Hal ini bukan berarti saya menilai music Miley Cyrus ataupun Lady Gaga itu jelek bagi saya, tapi saya merasa tidak butuh untuk banyak tahu tentang music mereka. Kalau anda berpendapat lain, silahkan saja. Itu hak. Karena saya pikir, mereka (sang artis) tidak sibuk memikirkan “saya adalah yang terbaik, dan selain saya itu adalah buruk!” Jadi kenapa saya harus membuang waktu dan tenaga untuk kukuh mempertahankan pendapat atau selera saya ketika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda dengan saya? “I didn’t say is a wrong way, I just say that’s not my way.”

Perjalanan ini saya mulai dari sini (Untuk kali ini, saya sama sekali tidak membaca artikel tentang Katy Perry yang disuguhkan dalam majalah Rolling Stone. Meskipun sebenarnya sangat menggelitik untuk dibaca, tapi saya mencoba untuk bertanya dan memahami berdasarkan penalaran dan pemikiran saya saja. Dan setelah tersalurkan pertanyaan dan pendapat ini akan saya baca artikel tersebut, guna mencocokkan. Sekali lagi, bukan karena saya malas membaca. Tapi pemikiran saya tidak ingin dicampuri dulu oleh artikel tentang Katy Perry dalam bentuk apapun). Berikut adalah foto kedua biduan tersebut (what do you think?)

Katy Perry
 
Janis Joplin
 

Dokumentasi Katy Perry

http://www.youtube.com/watch?v=QUGv2hUwBHw (Katy Perry “California Gurls”)

http://www.youtube.com/watch?v=NQv5V2Ljfa4 (Katy Perry “Hot N Cold” – YouTube Live ’08 )

http://www.youtube.com/watch?v=9Z0JHD_XCeg&feature=related (Katy Perry – Peacock (Live on Letterman)

http://www.youtube.com/watch?v=Xi7mI_CHo1w&feature=related (Katy Perry chats the tour, the single Hot N Cold and Madonna) 

http://www.youtube.com/watch?v=XBdI6w9DQMw&NR=1&feature=fvwp (Katy Perry Sings in Times Square)

Dari kelima video itu, (tapi sebelumnya, kenapa hanya 5 video? Pertama karena saya tidak terlalu tertarik dengan musiknya dan saya pikir kelima video itu cukup mewakili tentang judul diatas) saya tidak bermaksud membedahnya berdasarkan teori-teori yang diajarkan dalam ilmu perkuliahan yang saya geluti seperti: semiotik atau analisis sejenis yang kemudian akan meluas pada teori-toeri tentang perkembangan dunia sosial lainnya. Karena saya pikir ini bukanlah perkuliahan. Sekali lagi saya hanya ingin berbagi pandangan saya dalam tulisan ini, dan masukan dari anda akan sangat berarti.

  1. Untuk video pertama? Saya pikir cukup merepresentasikan kesan keluguan dari seorang gadis yang terjebak dalam candy world. Dan pertanyaan selanjutnya “Kenapa Snoop Dog, yang pada akhir video Ia menyerah kepada pasukan Katy Perry?” Dan saya pikir ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat sayang jika mendapatkan jawaban: “Sekedar lucu-lucuan aja”. Karena saya yakin, dalam adegan ini bermaksud menyampaikan sesuatu.
  2. Di video kedua tampak beberapa lelaki yang, menurut pengelihatan saya, jauh dari kesan maskulin. Meskipun intro musiknya cukup penuh distorsi, mengarakterkan musik yang jauh dari kesan feminim.  Ketika memasuki beberapa bait pertama, tampak para cameo yang menghiasi bagian awal video tersebut turun dan melangkah pergi melalui “jalan depan”, persis ketika Katy Perry sedang bernyanyi. Yang ingin saya tanyakan: kenapa ada sosok Darth Vader yang memegang sapu dan sosok mirip John Lennon memegan tulisan “Free Hugs” yang ditulis di atas kertas karton?
  3. Video ketiga saya hanya ingin mengomentari kostumnya yang sangat atraktif. Dengan konsep show yang tertata. Menurut saya ini keren!
  4. Video keempat, saya melihat sosok yang tanpa make up. Dan jauh dari kesan yang tergambar dalam ketiga video sebelumnya, sangat berbeda. Cobalah perhatiakan lagi foto diatas
  5. Dan dalam video terakhir ini. Saya mencoba menyoroti kinerja tim Katy Perry. Atau orang-orang yang bekerja di belakang layar.

Setelah poin terakhir diungkap, muncul sebuah pertanyaan. Latar belakang kehidupan seorang Katy Perry? Apakah ia seorang yang dihasilkan dari sebuah ajang pencarian bakat? Atau memang sudah terlahir dengan bakat? Tapi bagi saya  Katy perry adalah sosok yang diciptakan untuk menaklukan industry. Dia adalah model wanita yang baru dalam Industri hiburan. Karena saya melihatnya Ia adalah stereo type sebuah golongan tertentu. Coba perhatikan dari wajahnya, Ia memiliki mata yang cukup besar jika dibandingkan dengan sebagian besar perempuan di Amerika. Kemudian menuju ke warna rambut, bibir dan yang pasti bentuk tubuh. Bentuk tubuh Katy Perry saya katakan lebih berisi jika dibandingkan dengan beberapa role model pendahulunya dalam bidang yang sama. Sebut saja queen of pop, Madonna, kemudian Britney Spears, Christina Aguilera, Beyonce dan berpuluh-puluh nama lainnya hingga ke yang paling dekat, Lady Gaga. Mereka semua punya bentuk tubuh yang hampir sama, namun tidak dengan Katy Perry. Ini layaknya sebuah pergerakan baru dalam penyosokan wanita. Dan wajah yang innocent itu memberikan celah bagi kaum-kaum minoritas, dalam hal ini saya mencoba bicara tentang kaum gay, lesbian atau bias gender. Karena dalam video yang kedua,Hot n Cold, beberapa model awalnya adalah pria yang memiliki sisi feminim yang dominan.

Jika saya amati dari sudut pandang seorang laki-laki normal, sosok Katy Perry adalah sosok yang cukup menyegarkan (seperti yang saya bilang di awal tadi). Diluar dari tata busananya yang jelas seksi, dan bentuk tubuhnya yang terbilang berbeda dari wanita pada umumnya. Perpaduan itu didukung oleh ekspresinya wajahnya yang seperti malaikat yang tersesat. Singkat kata ia berhasil menambah perbendaharaan kategori wanita seksi (dari penampilan), dimata lelaki.

Dengan hal ini saya mencoba menyimpulkan bahwa Katy Perry adalah sosok yang berhasil diciptakan untuk menghasilkan segmen baru, atas pertimbangan dari beragam sudut pandang. Dengan segala potensi yang dimilikinya. Dan jujur, saya salut terhadap talent scout yang berhasil menciptakan sosok Katy Perry sehingga menjadi hal yang menuai pro dan kontra. Kenapa talent Scout? Karena ini benar-benar industry hiburan, dan saya rasa butuh lebih dari seorang produser seorang manager atau apalah itu namanya. Mereka membentuk tim yang terdiri dari beberapa orang yang lihai dalam mengembangkan hal-hal yang sanggup diekplorasi kemudian melihat peluang dan berada pada posisi puncak. Ini layaknya sebuah revolusi yang cerdas. Sangat terkonsep dan taktis. Sekali lagi saya tidak membahas dari segi musiknya, baik segi lirik maupun lagu. Tapi lebih kepada penyosokan.

*****

Untuk sosok selanjutnya: Janis Joplin (meskipun sebenarnya saya bisa arahkan persepsi anda untuk mengenal Janis Joplin Secara Lebih jauh, tapi saya mencoba menyesuaikan porsinya dengan Katy Perry. Menilainya dari sosok)

Ini video tentang Janis Joplin

http://www.watchmojo.com/index.php?id=8730

Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin ada yang bertanya kenapa harus Janis Joplin? Sebenarnya ini karena nuansa music yang dimainkan Katy dan Janis masih ada sedikit titik temunya, meskipun itu sangat sedikit. Dan jika ditilik dari karakter vocal atau genre, jelas mereka sangat berbeda. Dan dari fashion? Apa yang ciri seorang Hippie dan seorang Party Goers, sama? Tidak!

Dan yang saya ingin tanyakan dari sosok Janis Joplin, apakah ia seorang role model pada tahunnya? Jika ya, apakah karena kondisi musik belum seruwet saat ini, dimana setiap ada pengkombinasian genre maka muncul sebuah nama baru untuk jenis music yang ia mainkan. Singkat kata, kondisi music saat ini disesaki dengan beragam sub genre. Apakah Ia juga sebuah sosok yang diciptakan oleh Talent Scout? Saya pikir tidak. Kenapa? Karena kondisi dunia music pada tahun 60’an akhir belum seampuh saat ini. Dan artis-artis pada jaman itu adalah artis yang terlahir untuk menjadi seorang role model atas perjuangan sendiri, lihat saja biografi artis-artis pada jaman itu, meskipun pada kurun waktu itu sudah ada tim tapi bukanlah tim yang memiliki visi sejelas saat ini. Dan pada kurun waktu tersebut pergerakan adalah sebuah pemahaman atas konsep dasar. Bukan hanya pemgamatan yang mengambang dipermukaan dan berimbas pada terciptanya sebuah tren yang masif. Dan kondisi tren, semakin hari semakin pandai beradaptasi dengan factor apapun.

*****

Semoga deskripsi (yang kacau) ini dapat menjelaskan, kenapa saya membuat judul tersebut. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan gender disini, sama sekali tidak. Karena banyak juga kaum lelaki yang memiliki kasus seperti ini, Katy Perry dan Janis Joplin saya ambil sebagai contoh kasus saja. Jika ditanya kenapa memilih wanita? Karena naluri saya lebih tertarik untuk mengetahuinya. Masa jeruk minum pulpy? Jangan gila dong! Hahaha.

Semoga kita baik-baik saja. Dan menjadi lebih terbuka untuk menerima masukan

——-

Maaf untuk tulisan kali ini, seperti cukup menyita waktu. Karena saya memaksa untuk membuat hal yang tidak biasa, jadi mohon maaf jika sangat membosankan, alurnya tidak jelas atau bisa dikatakan tulisan yang kacau. Karena saya masih belajar dan butuh banyak masukan dalam bentuk saran maupun kritik dari kalian yang sudah menyempatkan waktu membaca. Terima kasih banyak

Pada kali ini saya terjebak dalam musim hujan, cuaca yang ekstrim (mengutip ucapan seorang presenter sebuah stasiun TV Swasta) dan kemungkinan besar sebuah akhir pekan yang bising. Semoga fisik saya cukup kuat untuk ketiga poin itu, khususnya yang terakhir 😀

“Scott McKenzie – San Francisco” Sedangkan untuk yang lainnya, sepertinya tidak ada yang berubah dalam selera musik saya. Namun yang pasti saya semakin sering memutar lagu dari John Frusciante dan sangat tergoda untuk mendegarkan Cat Stevens. Ada saran untuk music? Silahkan di share, jika berkenan.

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi
08 Oktober 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized