Arena estafet bagi penggemar musik jazz

Posted on May 4, 2012

0


AXIS Jakarta International Java Jazz Festival 2011

4, 5 & 6 Maret 2011, JIExpo, Jakarta

Memasuki usianya yang ketujuh, festival yang kali ini mengambil tema “Harmony Under One Nation In Remarkable Indonesia” kembali menjadikan JIExpo Kemayoran sebagai sarangnya insan jazz dalam melakukan wisata tahunan. Acara yang digelar selama 3 hari berturut-turut ini mendatangkan 40 band Internasional (berasal dari 14 negara, dengan estimasi 280 orang rombongan) dan 110 band Indonesia atau setara dengan 1400 orang musisi. Sedangkan dari segi pengunjungnya sendiri, diperkirakan melonjak hampir 50 % dari tahun lalu dan menembus angka 150 ribu penonton. Dan ribuan pengunjung tersebut akan “dipusingkan” oleh 16 stage dan 4 special show dalam sebuah arena yang siap membuat mereka merasakan sedikit ketegangan pada otot-otot di kaki mereka, khususnya bagi mereka yang jarang berolahraga.

Pengunjungnya (itung ndiri dah!)
Corinne Bailey Rae (ini dia yang bikin hari jumat rame)
Nikita Dompas and His Fellow Musicians (selalu keren deh band ini)
Fourplay (kaya dengerin mp3, gak ada selip2nya)
Simak Dialog (sesuai namanya, disimak aja. jgn diikutin. susah!)

4 Maret 2011

Sebelum beranjak menuju ke inti acara di Kemayoran, ada hal yang menarik pada pagi hari ini. Tepatnya di Eco Park Taman Impian Jaya Ancol, sekitar 100 musisi melaksanakan prosesi penanaman 100 batang bibit pohon langka dari jenis Mahoni dan Eboni. Kegiatan ini mendukung program nasional penanaman satu miliar pohon Indonesia Hijau. Selain Gubernur DKI Jakarta dan beberapa musisi yang menjadi pengisi acara juga turut terlibat. Sebut saja Sandy Sondoro, Bonita, Bob James, George Duke, Ron King, dan Fourplay. Dua nama terakhir merupakan salah satu dari headliner di hari ini, selain Santana dan Corinne Bailey Rae yang dipastikan akan mendatangkan pengunjung dengan jumlah yang tidak sedikit. Namun nama-nama lain seperti Gleen Fredly, Acoustic Alchemy, Dira Sugandi, Roberta Gambarini tidak semerta-merta menjadi pilihan kedua bagi para penikmat musik jazz. Bahkan Barry Likumahuwa Project yang tidak pernah absen dari beberapa tahun lalu masih saja menjadi magnet bagi penonton yang (tetap) didominasi oleh remaja, mungkin karena musik yang diusung Barry memang sesuai dengan kondisi psikologis mereka. Hal mengejutkan datang dari Sondre Lerche, musisi yang terkenal dengan single “to Way Monologue” ini tampil sebagai single fighter dipanggung, dan ternyata hal tersebut justru menuai antusiasme dari penonton. Bahkan berkali-kali ia terlihat tidak percaya akan yang terjadi dalam pertunjukkannya itu. Selain Sondre Lerche, musisi wanita kelahiran Inggris, Corinne Bailey Rae, juga merupakan target pengunjung di hari itu. Sekitar 40 menit tepatnya pukul 23.00 WIB di D2 Axis Hall, antrian panjang menjadi bukti bahwa penyanyi yang sudah memiliki 2 album ini adalah alasan pengunjung yang memegang tiket Daily Show untuk hadir dihari ini. Dan dua jam sebelumnya di lokasi yang sama, Santana yang tampil membawakan sekitar 15 lagu memang dikhususukan bagi pengunjung yang memegang tiket Special Show seharga 750 ribu rupiah.

C-Man (kalo gw gak salah ini dari Medan, main Funknya keren! kayanya cocok buat di acara Blues tahunan yang itu)
Robert Glasper Experiment (kl di regaae jadi dub nih musiknya)
Drew (maaf,kapal miring kapten)
Fariz RM (bergaya ala salamnya abang none)
Indonesia NU Progressive ‘Tribute To Harry Roesli’ (hansip, anak lebah, punk dan ada mumi bermain drum)

5 Maret 2011

Jika pada hari ini segala aktivitas di pulau Dewata dapat dipastikan padam, hal yang bertolak belakang justru tampak di lokasi yang juga akrab disapa Arena PRJ ini. Sejak pukul 5 sore, kemacetan terlihat di gerbang parkir, baik motor maupun mobil, sudah tidak bisa dielakkan lagi. Sehingga tidak jarang, penggunjung yang datang menggunakan mobil memilih untuk memarkirkan kendaraannya di luar area yang seharusnya. Dan hal ini seperti prediksi saya di hari jumat, dimana pada tahun sebelumnya hari sabtu merupakan hari yang menelan paling banyak pengunjung dalam rangkaian festival jazz tahunan ini. Andien, musisi wanita Indonesia yang suara dan penampilannya masuk dalam kategori sexy ini, tentu tidak luput dari serbuan pengunjung. George Benson yang kali ini dimasukan dalam kategori Special Show, tampil membawakan karya-karya musisi jazz legendaris Nat King Cole. Ketika ditemui setelah pertunjukannya yang berlangsung pada pukul 17.30 WIB, George Benson yang mengenakan jas berwarna putih mengatakan bahwa “Kenapa saya tampil membawakan lagu dari Nat King Cole? Karena karya-karyanya ibarat sebuah bahasa universal dalam musik, khususnya yang bergenre jazz. Semua orang yang mengenal jazz pasti mengenal Nat King Cole, bukan?” Pada pukul 20.00 WIB sebuah pertunjukan yang dipenuhi oleh ribuan orang terlihat dari ‘Elfa Secioria and His Legacy Lives On’, pertunjukan ini melibatkan beberapa musisi yang pernah merasakan sentuhan seorang Elfa Secoria dalam karirnya seperti Andien, Titi DJ, Hedy Yunus dan Yovie Widyanto. Robert Glasper yang tampil bersama ketiga musisi lainnya di Hall D1 pada pukul 18.45 WIB, ternyata cukup ampuh untuk membuat penonton terkagum-kagum bahkan cenderung betah untuk menanti eksperimen-eksperimen dalam musik yang dibawakannya. Saya sendiri menjadi korban keunikan musik yang dimainkan oleh Robert Glasper Experiment, sehingga melupakan tugas utama saya disana. Dan sekali lagi, kesempatan untuk menyaksikan legenda woodstock 1969, Carlos Santana, merupakan alasan yang masuk akal untuk menciptakan antrian yang lebih parah dari hari sebelumnya.

Raisa (seger ye?)
Andien (tambah seger? ngeh!)
Peter F Gontha (bapaknya yang punya hajat)

6 Maret 2011

Dibandingkan 2 hari sebelumnya, hari terakhir ini merupakan hari yang paling tenang. Indikasinya jelas, jumlah pengunjung yang tidak terlalu padat sehingga menghadirkan suasana yang pas untuk menikmati suguhan musik yang cenderung easy litening ini. Setelah hari pertama dipenuhi oleh serombongan orang dengan kostum pulang kerja yang butuh hiburan, kemudian dihari kedua disesaki oleh ribuan penduduk Jakarta yang memang berniat berekreasi dalam kota saja. Di hari ketiga ini acara dimulai lebih awal yaitu pukul 15.00 WIB, dan salah satu yang ditunggu oleh penonton adalah Fariz RM, George Benson, Gigi and Ron King Big Band dan beberapa sajian menarik di Dji Sam Soe Jazz Corner. Fariz RM yang tampil dengan Barry Likumahuwa layaknya sebuah momen nostalgia bagi para pengunjung yang menkmati fase remaja di era 80’an, namun tidak berarti yang muda juga tidak bisa terlibat dalam pertunjukan berdurasi satu jam ini. Hal menarik lainnya terlihat dari Indonesia NU Progressive ‘Tribute To Harry Roesli’, dengan balutan kostum yang unik musiknyapun menyiratkan konsep yang matang namun tetap menggelitik seperti tipikal musik-musik yang diciptakan oleh (alm) Harry Roesli. Meskipun tidak menghasilkan jumlah penonton yang mengagumkan, namun decak kagum dan derai tawa terus mewarnai pertunjkan ini. Gigi yang kali ini tampil bersebelahan dengan Fourplay, sehingga mengakibatkan kebocoran suara, juga tampil mengesankan. Bahkan Arman berkata bahwa sebenarnya Gigi sudah ditawari berkali-kali untuk tampil dalam Java Jazz, namun ia merasa belum menemukan konsep yang pas sampai akhirnya dijodohkan dengan Ron King yang hadir dengan pasukannya.

Bagi anda yang melewatkan pagelaran tahunan kali ini, ada baiknya anda menyimak twit terakhir dari @JavaJazz2011, account yang terus menerus membombardir info seputar Java Jazz ini menuliskan:

“Mark your dates, Jakarta International Java Jazz Festival 2012 – 2, 3, 4 March 2012 http://t.co/rv8jJvI

Hal ini ibarat sebuah peringatan dini bagi anda untuk menyisihkan uang sekaligus meluangkan waktu untuk serangkaian kejutan dalam festival jazz terbesar di Asia ini. Dan tentu saja, siapkan juga fisik anda sebelum berpacu dalam luasnya area JiExpo tahun depan.

Yang antri mau nonton Santana (katanya sih yg punya itu mobil salah seorang menteri kabinet,tp gak punya otak. gak ngerti dimana tempat parkir? jadi mantri aja,gak usah jadi menteri)
George Benson (padahal hallnya dingin bener! tp dia keringetan? mungkin sejenis pinguin)
Santana (kurang ya mas gitarnya? set dah!)

——-

Tulisan ini dibuat untuk sebuah rubrik di majalah Sound Up (salah satu free magazine di Jakarta) dan Sintetik (salah satu zine lokal kota Malang. Silahkan kunjungi http://majalahsintetik.tumblr.com/ dan download edisi-edisi yang sudah terbit). Tapi kalau gak diterbitkan juga gak masalah sih, toh ada blog pribadi http://somedayorsomehow.multiply.com/ Jadi, dikaryakan saja sarana ini dan silahkan mampir kalau berkenan 😀

“Pink Floyd – Coming Back To Life” ada pendapat menarik dari gitaris gue waktu gue kasih denger ini lagu “Wah, ini Pink Floyd? Kok jadi mayor banget nada-nadanya?” gue jawab “Ini album udah minus Roger Water, jadi nuansa kelamnya berkurang drastis” trus temen gue cuma manggut-manggut. Padahal kalo disimak lagi lirik dan nada-nada pembangun melodinya, ini lagu bisa bikin nangis. Mau bertaruh?

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

13 Maret 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized