Bicara soal punk, tanpa kehadiran seonggok punk (tapi bertebaran semangat punk)

Posted on May 4, 2012

0


Jujur saja saya tidak membaca pamphlet tersebut ketika berniat menghadiri acaranya. Saya cuma tahu kalau di ruang rupa akan diadakan diskusi tentang punk pada hari sabtu sore, sudah sampai disitu saja infonya. Dan rupanya salah seorang pembicara juga merasa “dijebak” ketika dia mengetahui bahwa ini adalah sebuah diskusi yang membahas tentang persoalan punk di Aceh.

Kenapa saya sebut persoalan? Karena jawabannya sudah ada! Dan kita (khususnya untuk yang memiliki pikiran terbuka) sudah tahu. Beda kasus kalau ini disebut dengan permasalahan, yang kita harus mencari tahu terlebih dahulu untuk kemudian dicari jawabannya.

Sebelumnya, saya menulis ini bukan karena berniat mengulas acara ini sehingga bias membawa perspektif baru untuk siapapun yang membaca tulisan ini. Bukan juga karena “hardikan” @samacksamakk yang mewajibkan saya menulis review, setelah saya tweeting tentang acara ini.

Tapi ini lebih kepersoalan keinginan pribadi saja, mungkin saja motivasinya kurang lebih sama ketika Herry Sutresna posting “Making punk a treat again” di blog pribadinya tanggal 25 desember 2011, yang kemudian disebarluaskan oleh pihak jakartabeat.net pada tanggal 4 januari 2012.

Ini tulisan Herry Sutresna (atau yang lebih dikenal dengan Ucok Homicide); salah seorang pembicara yang saya sebutkan diawal, yang merasa terkena jebakan betmen 

http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/analisis/item/1377-making-punk-a-threat-again.html

Sebelumnya saya ingin membagi 2 tulisan di jakartabeat yang (juga) membahas tentang punk di Aceh, dimana kedua penulisnya juga dihadirkan sebagai pembicara di ruang rupa.

Fathun karib 

http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/analisis/item/1375-when-the-punks-and-skins-go-marching.html

Hikmawan Saefullah 

http://jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/analisis/item/1376-punk-vs-syari%E2%80%99at-islam?-tentu-tidak.html

Bagi saya, kedua pembicara ini memiliki bentuk wajah yang tidak asing. Slahkan koreksi jika saya salah. Fathun Karib terlihat seperti Ruben Onsu, tapi versi Jantan. Dan Hikmawan Saefullah terlihat seperti Henky Kurniawan versi intelek. Maaf, ini hanya kesan pertama saya ketika melihat anda-anda sekalian. Selebihnya? Tentu tidak ada unsur mocking di sini.

Salah seorang pembicara lagi adalah Philips Vermonte, si pendiri jakartabeat.net. Tulisannya? Kalian cari sajalah sendiri. Banyak tulisan orang ini! Salah satunya juga pernah saya sanggah, mengenai persoalan musisi yang tidak usah terlalu pusing memikirkan kemampuan bermusiknya.

Sebuah topik receh, everyday politic dan sila kedua

Sebelumnya, saya paling tidak suka jika ada orang yang ditengah-tengah diskusi melontarkan kata: “ah, debat kusir!” Kalau toh memang anda tahu ini akan menjadi debat kusir, kenapa anda tidak terlebih dahulu meninggalkan sesi diskusi? Apa yang membuat anda rela menjadi seorang kusir terlebih dahulu? Berarti anda adalah seorang kusir yang terlibat perdebatan dengan para kusir lain,kan? Dan tololnya lagi, anda adalah seorang kusir yang meninggalkan kudanya untuk pasrah dikendalikan oleh kusir lain. Haha, how fool you are!

Biasanya orang yang punya pendapat seperti ini adalah orang yang tidak bisa berpendapat dalam sebuah diskusi. Entah itu karena faktor takut atau memang dia dilahirkan hanya sebagai spectator saja. Yang pasti orang seperti itu hidupnya tidaklah mengasikkan!

Untungnya saja saya tidak menemukan orang yang melontarkan ungkapan ini pada acara diskusi ini. Singkat kata, puluhan orang yang hadir disini adalah orang yang asik. Meski suasana diskusi terasa begitu syahdu, akibat minimnya sanggahan atau pertanyaan. Tapi saya yakin bahwa orang yang hadir di ruang rupa pada waktu itu adalah orang yang tahu batas waktu, atau mungkin terburu waktu? Ah, entahlah.

Kalau saya tidak salah ingat, hanya ada 5 pertanyaan yang dijawab bergantian oleh 4 orang pembicara. Setelah sebelumnya 4 orang pembicara, kenyang berpendapat tentang persoalan ini. Bahkan saya melihat ekspresi Ucok yang terlihat enggan membahas persoalan ini, karena toh ini hanya persoalan remeh. Izinkan saya mengutip ucapan favorit salah seorang teman yang apabila dia menemui persoalan yang tidak berarti, maka ia akan berkata: “yaelah, begini doang mah receh!”

Sebenarnya saya ingin berkata dalam sesi diskusi ini bahwa membahas persoalan punk di Aceh sama recehnya seperti melibatkan pemikiran kita saat kejadian Satpam Vs Suster ngesot. Tapi sebelumnya, saya hanya ingin berkata kepada Sunarya (satpam Apartemen Galeri Ciumbuleuit) yang dengan sukses mendaratkan sepakkan ke muka Mega Tri Pratiwi (Suster Ngesot), sehingga mengakibatkan sebuah giginya patah. “You are rawk, Mr. Sunarya!”

Saya suka sekali istilah “receh” yang dilontarkan teman saya sejak SMA. Itu seperti mendeskripsikan segala pemberitaan yang diulas habis-habisan oleh media mainstream Indonesia. Sebut saja mulai dari kasus Nurdin Halid sampai kasus Sandal jepit. Kasus yang seolah diciptakan oleh pihak yang berkepentingan atau bertujuan untuk membubarkan sebuah Negara yang bernama Indonesia. Mungkin terkesan muluk-muluk jika membubarkan Negara Indonesia, tapi sebenarnya ini lebih pelik lagi karena menyerang sila kedua dari pancasila.

Masih ingatkah anda pada isi sila itu? Saya tidak akan menyinggung, apakah anda mengamalkannya?

Ya, disana Philips Vermonte mengungkapkan sebuah istilah yang menggantikan istilah low politic. Yaitu: everyday politic. Singkatnya, everyday politic adalah isu-isu remeh yang digulirkan oleh sebuah oknum untuk dikonsumsi secara massif melalui medium media mainstream guna mengalihkan fokus massa. (silahkan dikoreksi, jika saya salah)

Tapi diacara yang sama, Ucok terus menerus menyinggung beberapa kasus kemanusiaan seperti di Mesuji, Papua dan Bima. Kenapa ini tidak diperhatikan? Jika boleh saya tarik kesimpulan, kenapa segelintir punk di Aceh digunduli perhatiannya sampai sedemikian rupa sedangkan di Bima orang diberondong ketika sedang duduk-duduk tidak dapat perhatian yang setimpal?

Bicara soal kebebasan berekspresi? Ucok berpendapat bahwa pada tahun 2010, terdapat 58 gigs yang dilarang di Bandung. Atau izinkan saya sajikan satu lagi berita receh: http://ddhongkong.org/polisi-tangerang-razia-celana-pendek

Apakah anda memang tipe orang yang suka sama hal-hal receh seperti ini? Kalau jawabannya iya. Silahkan konsumsi berita-berta yang berseliweran di televisi, koran atau apapun namanya. Maka niscaya anda akan menjadi receh, cepat atau lambat!

Menjadi punk

Ada pendapat menarik ketika Philips menyebut sosok yang paling punk adalah Muhammad! Ya, rasul terakhir versi umat muslim itu disebut sebagai sosok yang paling punk karena sikapnya dimasanya. Sex pistols lahir diingris karena ia melawan kemapanan situasi Inggris dikala itu. Muhammad toh juga melawan kemapanan kaum kafir Quraisy dan menjungkirbalikkan berhala yang dianggap oleh masyarakat kala itu sebagai tuhan.

“Coba bayangin, gimana gak pusing tuh orang kafir sama ulahnya Muhammad?” ucap Philips sembari menyimpulkan senyumnya

Kalau punk itu lebih dari sekadar fashion, lifestyle, music, atau hal-hal receh lainnya. Maka ada satu yang harus dijaga. Spirit punk! Anggap saja spirit punk itu adalah semangat perlawanan dengan tindakan-tindakan kongkritnya, maka tidak salah jika Philips menganggap bahwa Muhammad itu sebagai punk. Dan secara pribadi saya bangga punya imam yang juga seorang punk! Maka sayapun pasti akan mengikutinya jejaknya sebagai punk. Punk yang tidak perlu hal-hal receh yang mengidentikkan bahwa saya adalah seorang punk.

Saya jelas bukan anak punk. Mendengarkan punk saja jarang sekali, jika tidak boleh menyebut tidak pernah. Jadi saya tidak akan membicarakan tentang: bagaimana menjadi punk yang baik dan benar. Tapi jika anda ingin menjadi seorang punk dalam tingkat spirit, cukup ingat saja secuplik tulisan yang terdapat dalam Making punk a treat again karya Herry Sutresna berikut:

Karena penerimaan tidak terletak pada kata-kata, namun pada pembuktian dari hari ke hari di mana komunitas terlibat dalam pergulatan masyarakat dalam membangun pilar-pilar kehidupan bersama. Berkoar-koar berteriak didepan masyarakat tentang bagaimana hebatnya punk, tidak membuat kalian menjadi punk dan kemudian diterima di luar sana. Buatlah band, buat gigs, rilis rekaman kalian, buatlah zine dan media kalian sendiri, berjejaringlah, jaga teman kiri-kanan dan keluarga kalian, bangun kemandirian komunal, organisirlah komunitas kalian, bergabunglah dengan mereka yang tidak beruntung di hidup ini, lawan otoritas yang menindas tanpa pandang bulu, bersenang-senanglah dengan passion kalian. Meski di luar sana kenyataan tak sesederhana itu, tapi paling tidak; at least those are things that make you punks. Berhentilah mengemis legalitas dan penerimaan. Respect is not a gift, its something you earn.

Niscaya kita bisa menjadi punk, tanpa harus memikirkan hal-hal receh. Semoga Indonesia Jaya dan hiduplah Indonesia raya.

——-

“Dari Kompas apa BIN nih?” ucap Ucok ketika dimnta foto bareng oleh salah seorang yang mengaku wartawan Kompas. Hahaha! legend bener nih celetukannya. Ngakak gw, asli. Parah!

“Imanez – Tequila Sunrise” gara-gara muter lagu ini 2 hari berturut-turut, gw jadi kangen light the spliff. Uyeee 😀

——-

Agung Rahmadsyah

Jakarta

15 Januari 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized