Cerita pendek: “Petak toilet dan sejenak waktu berharga”

Posted on May 4, 2012

0


Perkenalkan nama saya Endi…

Apa? Nama lengkap saya?

Ah, kalian tidak usah taulah. Toh pentingnya apa buat kalian? Kita kenal sajapun tidak. Toh kalau kita saling kenal, buat apa juga mengetahui nama panjang? Paling paling Cuma berakhir “Oh.. ” Jadi saya putuskan untuk memperkenalkan diri saya kepada kalian sebagai Endi. Seorang pria berusia 34 tahun kelahiran Tangerang yang meimilki sedikit janggut. Entah karena faktor hormonal atau mungkin saja hukum karma, rupanya laki-laki dikeluarga kami tidak ada yang memiliki jenggot lebat layaknya para habib tampan yang, hampir setiap bulan, fotonya pasti ada di perempatan jalan protokol Ibukota.

Ayah saya sudah meninggal 11 tahun silam, itupun dengan muka yang klimis sekali. Tanpa kumis! Kakak saya perempuan maka maklum sajalah kalau dia tidak berkumis, karena ibu sayapun tidak berkumis. Begitu pula 3 adik-adikku yang semuanya laki-laki, mereka juga tidak berkumis. Ya meskipun kabar terkhir yang saya dengar, adik saya  yang paling kecil masih berumur 11 tahun. Jadi wajar sajalah kalau dia belum berkumis, mungkin untuk masalah jembut saja dia belum punya.

Jujur saja saya iri jika melihat foto habib di perempatan itu, dengan wajah yang terlihat cerah, sorban dan baju gamis putih ia sudah tampak gagah apalagi ditambahi jenggot dan kumis. Pasti semakin kentara bahwa ia adalah utusan tuhan yang sanggup memberikan pencerahan dizaman yang serba berkarat ini. Tapi yang disayangkan para peserta tabliqnya juga orang-orang dari golongan yang terkena karat, yang mengakibatkan disfungsi otak dalam tahap yang cukup serius.

Coba bayangkan saja! Oh maaf, tidak usah dibayangkan! Silahkan saja lihat ulah mereka secara langsung dijalanan ibukota setiap malam minggu. Kalau sekedar membuat macet sih tidak terlalu menyebalkan, karena tanpa kehadiran merekapun Jakarta memang ditakdirkan untuk macet. Yang suka mambuat orang-orang bermobil menjadi kesal adalah kelakuan mereka yang merubah fungsi peci sebagai helm untuk kemudian gagah-gagahan menyetop kendaraan dengan atribut yang mereka bawa, apapun atribut itu. Mulai dari bendera sampai sarung, pasti akan optimal ditangan mereka. Optimal dalam hal memberhentikan kendaraan ataupun menutup akses jalan guna kepentingan mereka yang egois.

Kenapa saya katakana egois? Sebab itu adalah ego pribadi ataupun golongan, tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain yang haknya juga sama  dengan mereka dalam menggunakan jalan. Pernah ada kasus dimana mobil ambulance dari sebuah rumah bersalin lewat dengan sirine yang meraung, dari bunyi sirine ini saya yakin kalau kondisinya cukuplah darurat. Tapi akibat perubahan akses jalan oleh kelompok-kelompok tersebut, rumah sakit yang seharusnya tinggal berjarak 400 meter lagi harus berubah menjadi 1200 meter karena obil tersebut dipaksa memutar setelah supirnya adu urat leher dengan koordinator tabliq tersebut.

Pertanyaan saya, apakah habib-habib itu tidak mengimbau pesertanya? Atau pesertanya saja yang sudah goblok terus ngotot? Kalau toh jawabannya opsi kedua, saya sudah tidak kaget lagi, karena bagi saya. Habib tersebut adalah orang yang cukup bijak, namun terkadang penyampaiannya dikemas dengan cara yang tidak pas. Sehingga para fanatik itu menjadi semakin menjadi-jadi tingkat kekolotan & ketololannya. Saya sendiri yang beragama islam, merasa terganggu akibat segelintir ummat Muhammad SAW tersebut. Apalagi mereka yang beragama lain? Entahlah, saya tidak paham betul apa isi Al-Quran dan Hadist, tapi saya punya keyakinan bahwa junjungan kami tersebut akan sedih jika mengetahui ulah ummatnya yang seperti itu.

*****

Saya sama sekali tidak pernah merasakan duduk dibangku perkuliahan secara formal, tapi saya pernah beberapa kali diajak teman tongkrongan saya untuk hadir dikelasnya. Pelajaran apa, saya sudah lupa, yang pasti ruangan itu cukup besar jika dibanding rumah kontrakan yang saya huni bersama dan 4 orang kawan saya dibilangan kampung melayu dan tentu saja ruangan itu disertai 4 buah AC yang ampuh membuat saya enggan beranjak. Saya diajak kesana untuk dipelihatkan wanita mana yang ditaksir oleh teman saya itu. Cantik memang tapi entah kenapa saya tidak naksir, mungkin karena saya tahu diri. Bahwa pemuda macam saya pasti tidak akan diliriknya. Kehadiran sayapun mungkin tidak akan direspon oleh mba yang pakai baju rumbai-rumbai itu.

Setelah kelas itu selesai, akhirnya tiba saya diseret oleh teman saya itu kekantin kampusnya. Oya, teman saya ini namanya Albert. Dia adalah drummer yang mengajak saya untuk mengisi kekosongan posisi gitaris dibandnya, karena sang gitaris tersebut sedang sekolah di luar negeri untuk 2 sampai 3 tahun kedepan.

“Gimana sob,ceweknya? Cihuy gak?” Celetuk Albert sambil menyulut rokoknya dengan rokok semangat, sesemangat saat ia mengambil rokok dari tangan saya

 “Oh, jadi itu yang namanya Lony?

“Iya! Cakep kan? Cocoklah sama temen lo ini. Dia tuh smart terus tampangnya judes-judes nantang gitu men! Ah, pokoknya selera gue banget deh”

“Wah, lo harus berpikir lagi deh, Bert”   Sahut saya cepat

Sembari terperanjat kemudian merubah sikap duduknya Albert merespon dengan responsif

“Mikir apaan? Emangnya kenapa, sob? Emang kenapa sama Lony?”

“Ya lo harus mikir sisi gak enaknya juga, Bert. Inget tuh! Jangan lo pikirin yang enak-enaknya duluan! Kalau tau-tau Lony naksir sama gue, figur asing yang terlihat cool karena gue pendiam. Gimana?” Jawab saya sembari membenarkan letak jaket yang melorot akibat posisi duduk yang tidak benar.

“Wah, kampret lo! Gue kira lo mikir apaan! Setan!”   Albert memaki sambil melemparkan bungkus rokok yang digenggamnya.

Sembari menghindari objek terbang yang tidak diinginkan kearah saya barusan, namun berujung pada kegagalan, akhirnya kami menuntaskan hari dengan tawa yang cukup keras. Sampai tiba diposisi sebuah pernyataan dari Albert yang membekukan dimensi saya

“Sampe mimpipun, gue masih kepikiran sama Lony, sob! Ah, emang gokil tuh cewe”

*****

Jujur saja, beberapa kali saya mengalami mimpi yang mengingatkan saya kepada sebuah kejadian atau seorang sosok. Dan ini sepertinya bukan hanya terjadi pada saya. Jika saya diperkenankan bercerita, sosok yang paling saya benci yaitu ayah saya kerap beberapa kali hadir dalam mimpi untuk meminta maaf. Entah maaf untuk peristiwa yang mana, saya sudah terlalu banyak menuai sakit hati akibat perlakuan ayah disaat saya masih kecil.

Pekerjaan ayah saya adalah seorang Debt Collector, salah satu contoh Debt Colector yang mati akibat penyakit aneh yang tiba-tiba merenggut nyawanya, diagnosanya adalah jantung. Tapi saya tidak percaya! Tapi biarlah saja dia mati, toh seminggu sebelum dia mati ia sudah sama sekali tidak terlihat seperti orang hidup. Sorot matanya itu menandakan keenggan ia untuk hidup dan berharap akan datangnya sebuah kematian. Meskipun selama seminggu itu, ia tidak berkata apapun selain “iya” dan “tidak”.

Mungkin bagi ayah pada saat itu, kematian adalah sebuah gerbang yang menjadi jalan masuk menuju terlepasnya segala rasa sakit yang telah dicapainya setelah 20 tahun berkarir sebagai Debt Collector. Sehingga ketika ada yang berkata “Turut berduka cita”, saya malah berpikir sebaliknya. Saya makin berduka jika melihat ayah saya masih hidup, meskipun saya membenci ayah saya tapi saya benar-benar tidak tega meihat kondisi terakhirnya. Jika saja orang yang mengucapkan “Turut berduka cita” itu melihat pemandangan yang dihasilkan oleh penderitaan yang ayah saya rasakan dirumah, maka saya berani jamin orang itu akan menguyah lagi kata-kata yang diucapkannya barusan.

Sebagai Debt Collector ia adalah sosok yang disegani, walau tanpa kumis tapi otot yang kekar cukup membuat lawannya terpojok secara mental. Tapi sialnya kelakuan itu sering dibawa kerumah dan Ibulah yang menjadi sasarannya. Saat itu saya masih berusia 9 tahun dan saya melihat sendiri ibu diperlakukan layaknya binatang hanya karena kemeja yang hendak dipakai untuk menagih pada hari itu terkena kuah mie rebus. Padahal ayah sendiri yang meminta dibuatkan mie rebus pagi itu. Ibu ditendang kemudian kuah mie tersebut juga disiram kemukanya. Untung saja ibu sempat menutupi dengan kedua tangan dengan gerakan menangkis layaknya petinju, sehingga hanya menyisakan bekas luka pada kedua tangannya.

Adegan penyiksaan itu akhirnya selesai setelah saya menggedor pintu rumah tetangga untuk meminta pertolongan. Dan setelah ayah tahu bahwa saya meminta pertolongan kepada tetangga, giliran saya yang menjadi amukan kemarahan di hari-hari berikutnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pergi dari rumah setelah saya tamat SMP. Dan memilih kerja serabutan namun tetap menggantungkan impian saya kepada musik. Sehingga meskipun saya hanya sebagai session man untuk artis-artis pendatang baru, saya masih bisa merasakan hidup dalam mimpi sekalgus mengirimi sebagian penghasilan saya kepada Ibu. Meskipun nyatanya mimpi itu tidak cukup indah, tapi saya sudah cukup bangga bisa menjalaninya.

Pada saat saya kecil itu saya sering merasa bahwa ayah saya tidak memiliki waktu untuk bermain bersama anaknya. Selalu ada saja gangguannya. Rata-rata gangguan itu datang dari kawannya ketika ayah sedang makan siang, minum kopi di pagi hari maupun menjelang tidur malam. Semua itu datangnya dari satu sumber: perintah bosnya! Tak peduli kapanpun, ia harus siap siaga. Padahal diwaktu itu telepon masih merupakan barang yang langka dan telepon genggam adalah sebuah benda yang tidak terpikirkan oleh orang-orang dipetak kumuh seperti kami.

Dan ketika Albert berkata bahwa ia sering memikirkan Lony Didalam mimpi, maka itu jelas saja membekukan dimensi saya akan kebutuhan sebuah waktu yang berharga. Dimana waktu berharga itu bisa didapatkan? Kondisi teknologi saat ini semakin cepat saja berputarnya, embel-embel “tergerus arus informasi” adalah sebuah momok bagi sebagian besar orang. Baik dikota maupun di desa. Sehingga orang-orang saat ini sangat bisa mentolerir gangguan-gangguan yang dating pada saat-saat tidak tepat.

Misalnya saja dokter yang ditelpon untuk segera menangani bedah pasien pada saat ia sedang menikmati pizza pemberian istrinya yang terdapat diruangannya, atau mungkin email yang datang bertubi-tubi saat kita sedang berlebaran. Bahkan ketika kita sedang beribadahpun, pesan yang dibawa oleh fasilitas pesan singkat mengatakan bahwa ada 20 menit akan diadakan rapat yang lokasinya masih diberitahukan menyusul. Sehingga dimana lagi waktu berkualitas itu bisa didapatkan? Jangankan untuk waktu bersama orang yang kita sayangi, keperluan akan waktu berkualitas bagi diri sendiri saja tidak terpenuhi. Apalagi untuk berbagi waktu dengan orang lain?

Tapi satu tempat pelarian yang bagus adalah toilet! Karena disanalah ide-ide segar banyak dilahirkan, khususnya bagi para seniman. Biasanya para seniman (atau orang yang memplokamirkan dirinya sebagai seorang seniman) itu hanya berbekal 1 batang rokok, koran ataupun bacaan lainnya. Maka lahirlah sebuah karya kosmis yang menggemparkan. Itu kalau seniman, lain lagi jika pegawai bank atau profesi lainnya. Setidaknya mereka pasti membawa satu persoalan untuk direnungkan didalam toilet tersebut dan mendapat sedikit pencerahan setelahnya. Seakan ia sukses berbicara dengan Tuhan. Mungkin saja, Tuhan akan datang seiring dengan terbuangnya sisa kotoran dalam tubuh mereka.

Dan diera cyber media ini, waktu untuk berada toilet adalah sesatu yang sakral. Jauh melebihi kebutuhan untuk bersosialisasi terhadap orang-orang, melihat kondisi lingkungan disekitar atau bahkan bahkan untuk bercerita dan memohon kepada zat yang maha berkuasa atas diri kita. Maka pemikiran saya yang datang berikutnya adalah, ketika kita berhadapan langsung dengan toilet, maka bersujudlah!

——-

Ide ini datang pada waktu gue ngobrol dengan salah seorang teman dan secara tidak sengaja obrolan tersebut menyinggung tentang quality time. Karena gue orang Indonesia yang besar di pulau Jawa, gue mau tau apa konsep quality time menurut penafsiran teman gue yang berasal dari negara lain itu dengan latar belakang budaya yang sudah pasti berbeda. Dan rupanya premis gue selama ini tidak terlau melenceng dengan apa yang disampaikan oleh teman gue itu. Ya, meskipun itu tidak selamanya benar tapi gue cukup puaslah. 

Tulisan ini dibikin dalam kurun waktu yang gw pikir cukup singkat (baca:maksa), 3 jam. Karena gw cukup memaksa otak gw untuk menulis ide yang gw dapet beberapa hari sebelumnya. Karena gue lagi merasa jenuh menulis review konser, review album ataupun interview. Dan satu lagi karena faktor nyamuk di kamar yang memaksa gw untuk bertindak cepat menumpahkan ide. Jadi sekali lagi gw mengaku upaya gw untuk membuat cerpen agak sedikit memaksa, mohon maaf kalau hasilnya blangsak. Ane masih nubie gan! Silahkan dikomentari 😀

“Chrisye – Pelangi” lagi doyan dengerin lagu dengan aransemen piano yang tidak umum, dan lagu ini adalah salah satunya. Terpujilah Yockie Suryoprayogo 🙂

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

26 Oktober 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized