Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk [lebih dari sekedar pameran foto bersejarah dan collectible items]

Posted on May 4, 2012

1


-WASIAT PEMIMPIN-

Persaudaraan – Perbedaan – Kesetaraan – Kemerdekaan

Entah siapa yang memberikan wasiat tersebut (atau bahkan kapan) saya tidak pernah tahu, tapi saya pikir pesan yang terdapat dalam boks katalog pameran ‘Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk’ ini merupakan pondasi utama dalam bernegara di Indonesia. Dan semakin kesini poin-poin tersebut terasa semakin pudar, kecuali poin yang terakhir (itupun saya melihatnya hanya sekedar seremonial tahunan saja: sebatas memperingati hari kemerdekaan. Sisanya? Cukup anda nilai sendiri sajalah)

Kurang lebih sejak tahun 2005 saya mulai akrab dengan berbagai kegiatan di GFJA (Galeri Foto Jurnalistik Antara), karena pada waktu itu saya baru masuk kuliah dan (baru pula) mengenal fotografi secara sadar. Awalnya saya datang ketempat ini disebabkan oleh rekomendasi beberapa orang teman, karena menurut mereka ditempat inilah ilmu itu akan berkembang. Meskipun sampai detik ini peran saya hanya sebagai penikmat atau pengunjung saja, tapi kenikmatan yang saya dapat di GFJA selalu menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Karena itulah, sebisa mungkin saya sempatkan hadir dalam setiap kegiatan yang diadakan di Galeri yang terletak dikawasan Pasar Baru –Jakarta Pusat.

Dan pada tahun 2011, GFJA kembali menggelar pameran foto yang bertema peringatan kemerdekaan. Padahal ditahun 2009, saya masih ingat betul pameran yang berjudul ‘Merdeka Merdeka’ (pameran foto dan media cetak dari era perjuangan sampai 6 bulan merdeka) dibuka oleh salah satu wartawan legendaris Indonesia, (alm) Rosihan Anwar. Meskipun pada tahun ini saya terpaksa melewatkan pembukaan pameran karena ada liputan, seperti biasa (dan selalu) saya tetap terkesan dengan foto-foto yang ditampilkan di GFJA. Pameran yang berjudul ‘Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk’ ini semakin mengukuhkan opini lama saya, bahwa sejarah yang (terpaksa) saya pelajari dibangku sekolah merupakan produksi pemimpin yang berkuasa dengan bebagai racikan kurikulum yang diubah tiap tahunnya.

Sedikit bercerita tentang dasar opini saya, setidaknya selama kuliah saya sudah membaca beberapa versi sejarah tentang perjalanan bangsa ini, meskipun mungkin ini tidak ada apa-apanya dengan apa-apa saja yang sudah kalian baca. Tapi saya senang bisa mengetahui beberapa figur dan peristiwa yang tidak tercium oleh sejarah, diantaranya adalah:

  • Mas Marco Kartodikromo, seorang pelopor jurnalisme Indonesia yang dibuang dan wafat di Boven Digoel. Kalau anda pernah mendengar nama Tirto Adhi Soerjo dan harian Medan Prijaji, Mas Marco merupakan sosok penting dalam perkembangan koran pertama di Indonesia (yang dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri) tersebut.

Atau

  • Misbach, seorang haji dari Solo yang namanya hampir lenyap dari peredaran dunia pergerakan nasional hanya karena ia mengagumi Karl Marx. Padahal ia melawan siapa saja yang mencoba berdamai dengan pemerintahan belanda melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak

Atau

  • Tan Malaka (salah seorang pimpinan PKI) yang mengecam tindakan bodoh pemberontakan PKI tahun 1926 yang dipimpin oleh Muso.

Atau

  • D.N Aidit yang terlihat membenci Bung Hatta dalam pledoinya mengenai pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.

Atau (yang lebih popular)

  • Pramoedya Ananta Toer yang tidak diberikan bekal apa-apa dalam proses terciptanya tetralogi Pulau Buru. Hanya berbekal imajinasi dan daya ingat yang luar biasa, cerita itu disiarkan secara lisan diantara para tahanan politik di pulau itu.

Apakah hal-hal itu kita dapatkan dalam buku sejarah semasa sekolah? Ah, tapi tak usahlah kita menginventarisir tentang apa saja sejarah yang ditulis ulang, sampai sekarangpun usaha itu masih terasa lajunya. Kalau belakangan ini anda melihat beredarnya buku yang penulisnya mengklaim ia adalah orang kesekian dalam sebuah peristiwa sejarah. Bagi saya itu hanyalah sebuah usaha mendompleng popularitas saja, tidak lebih. Dan sampai saat ini saya tetap muak akan sejarah yang gencar beredar dikalangan mainstream, bahkan saya bersikap cenderung ogah memperhatikan. 

***

Tiba pada hari itu, 23 Agustus 2011, saya menyempatkan diri untuk datang ke GFJA dengan niatan “sekedar mengisi absen dibuku tamu” dan melihat sekilas perihal pameran, tidak lebih. namun rupanya, niatan saya itu luluh setelah mata saya terpaku pada sebuah foto yang terpasang didekat meja yang diatasnya terdapat buku tamu tersebut. Disana saya melihat bung karno memangku seorang gadis kecil dan dibelakangnya ada sosok yang mengenakan kacamata dan tersenyum dengan maksud menyembunyikan kelicikan yang ada diotak. (sampai saat ini saya masih berasumsi bahwa orang difoto tersebut itu adalah Soeharto, presiden kedua RI)

Darisini saya yakin kalau foto-foto yang dipamerkan ini tidaklah foto yang sering saya lihat dibuku-buku ataupun google images, tapi ini adalah stok foto yang langka. meskipun ada beberapa foto yang sudah pernah saya lihat sebelumnya, tapi itu tidak lebih dari 20% dari total foto yang dipamerkan. Contoh nyata selain foto penyambut pameran itu, apakah anda pernah melihat foto Che Guevara yang mengunjungi Candi Borobudur tahun 1959?

Foto-foto yang dipamerkan disini merupakan karya Mendur bersaudara (Frans dan Alex) dan juga rekan seperjuangan mereka yang tergabung dalam Indonesian Press Photo Service (IPPHOS). Foto-foto yang berjumlah (lebih kurang) 66 foto ini merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi sejak tahun 1945-1950, semenjak proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur (17 Agustus 1945) sampai pertama kali perayaan kemerdekaan di Istana Merdeka / Rijswijk (17 Agustus 1950). Peringatan kemerdekaan kita yang pertama setelah 5 tahun tersingkir dalam pemerintahan di pengasingan, di Yogayakarta yang penuh dengan pergolakan. Pergulatan menuju ke penyerahan kedaulatan RI.

Sekedar informasi, foto-foto dalam pameran ini dicetak diatas plat aluminium, dengan alasan bahwa kondisi foto aslinya cukup parah. Jadi jika dicetak diatas kertas foto ataupun kanvas, maka hanya akan memperparah kondisinya sehingga semakin tidak nyaman untuk dilihat. Teknik ini merupakan teknik fotografi pertama yang menciptakan foto diatas plat. Dan untuk biaya cetak diatas aluminium ukuran 20 R, nominalnya mencapai 6 angka ‘0’ dibelakang koma. kalau anda ingin mengestimasi biaya yang dikeluarkan untuk mencetak fotonya, tinggal kalikan saja 60 foto (itupun ada yang ukurannya 2 samapai 4 kali 17 R). Setidaknya hal inilah yang disampaikan kepada saya oleh seorang yang lebih sering menghabiskan harinya di GFJA.

Satu lagi hal yang patut anda perhatikan dalam pameran ini adalah: Katalog. Bundel yang terkemas dalam kotak berwarna merah, terdiri dari 66 foto yang dipamerkan dan sebuah booklet yang didalamnya terdapat tulisan dari 5 tokoh pers Indonesia (Adam Malik, Yudhi Soerjoatmodjo, Soebagijo I. N, Ambul Hakim, dan Rosihan Anwar). Kelima tulisan tersebut menceritakan persepektif yang berbeda-beda dan info yang terdapat didalamnya benar-benar tidak pasaran (atau bahkan memang sengaja tidak tersiarkan secara massal)

Katalog yang masuk dalam kategori sangat layak dimiliki ini, hanya dibanderol dengan harga 50 ribu rupiah (dan seluruh hasil penjualan katalog akan disumbangkan kepada veteran). Dengan begitu apa yang kurang dari koleksi ini? Bagi saya pribadi, ini merupakan penuturan sejarah melalui pengaatan dan disalurkan lewat tulisan dari beberapa orang yang mumpuni dan juga ladang amal bagi kita untuk para veteran (kita tahu sendiri tentang kondisi mereka saat ini, yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah) Setidaknya kita memberikan sebagian dari apa yang kita miliki, dan rasanya itu tidak sebanding dengan apa yang mereka berikan kepada bangsa ini dan generasi sesudahnya.

***

Berikut ini adalah rekaman gambar yang saya abadikan melalui kamera pocket dan handphone, saat saya mengunjungi GFJA tanggal 23 Agustus 2011. Semoga bisa membangkitkan keinginan anda untuk menyaksikan pameran yang terbuka gratis untuk umum sampai dengan tanggal 19 September 2011:

Foto yang menyambut akan anda di meja tamu

“Presiden Soekarno meninjau tempat pengungsian di Solo (1948)”

“Dr. Douwes Dekker (Setiabudi) bersama Soekarno (dan para pengungsi dari Belanda) di Jogja, 3 Januari 1947”

Salah satu sudut pameran (1)

(Saya pikir) Ini poster

“Djogjakarta mendjadi termasjhur oleh karena djiwa kemerdekaanja. Hidupkanlah terus djiwa kemerdekaan itu. Soekarno, 28/ 12 ‘ 49”

Kurator: Oscar Motuloh

“Djuga wanita sanggup memikoel sendjata”

“We Fight For Democracy. We Have Only To Win”

Dynamite duo

Salah satu sudut pameran (2)

Postcard yang terpajang di etalase

Ini dia Che Guevara yang mengunjung Borobudur 1959

“Presiden Soekarno dan rombongan tiba di Istana Rijswik (sekarang merdeka) disambut dengan hangat oleh rakyat dan meriah”

“Upacara penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda yang diwakili oleh Lovink kepada Pem. R.I.S yang diwakili oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. dan penurunan bendera Belanda Merah Putih Biru dan penaikan bendera Merah Putih. tgl 27/12/1949 di Istana Rijswijk Jakarta”

Salah satu sudut pameran (3)

Harga katalog

Katalog (1)

Katalog (2)

Katalog (3)

Katalog (4)

Katalog (5)

——-

‘Titiek Puspa – Puspa Dewi” beneran horor nih lagu! Dapet banget nuansanya, ngelebihin dari Lingsir Wengi. Mancep bet dah!

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

27 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized