delegasi nalar dalam secarik bara

Posted on May 4, 2012

0


Gw yakin tiap band itu punya pertimbangan tersendiri buat menggubah nada dan menyusun lirik. Dan itu bukan hal yang mudah. Mau genre music apapun,dari bebop sampai trash metal. Tapi dibelakang semua itu,setiap band pasti memiliki sebuah misi yang diemban. Entah ingin sekedar eksis,ingin tenar dan bercita-cita menjadi kaya, ingin meluapkan emosi, ingin menyalurkan bakat, dan banyak lagi alasan-alasan yang bakalan mereka nyatakan ketika ditanya mengenai hal ini. Namun, perhatian gw tertuju pada alasan yang berlingkup, ingin menyampaikan realita kepada masyarakat tentang apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. 

Sepengetahuan gw, banyak cara yang dilakukan oleh musisi yang memilih alasan tersebut sebagai salah satu misinya. Ada yang memilih dengan cara membuat rasa geli, rasa tertampar, rasa tertohok dan rasa tertikam. Apapun itu, itulah cara mereka mengungkapkan realita. Dan gw salut akan hal itu. 

Dan bukan hal yang mudah juga bagi seseorang yang dihadapkan pada jutaan band yang setiap saat selalu menyajikan menu lagunya. Lewat darat, laut dan udara mereka terus melemparkan frekuensi-frekuensi nadanya. Sehingga membuat sebuah disintegrasi antara indra pendengaran dan pusat kontrol nalar kita. Akibat cara yang singkat namun berada pada kondisi pop akut, membuat kuping ini jadi lebih tumpul dibanding sebilah pisau. Salah kita? Ya! Kalau alasan kalian mendengarkan music sebagai penikmat. Tapi kalo sebagai pendengar, itu lain cerita. Sebab mendengar lain dengan menyimak. Dan penikmat selalu menyimak sebuah hal dari perspektifnya, dari awal sampai akhir dan mengalami perkembangan setiap saat (meskipun itu bisa mengakibatkan pendiriannya berubah akan suatu hal).

Dan ini sebuah lagu yang menyusun rangkaian amarah dalam secarik kertas yang membuat kita untuk menyuruh otak ini berpikir dan membuat telinga ini terbiasa akan nada-nada yang sedikit rumit. Dan menurut gw ini bukan barang pop, meskipun kondisi yang berkembang saat ini memaksa aroma pop menyusup masuk. Tapi pesan yang terkandung, jelas sebuah paparan alternatif bagi kita yang ingin membuka mata mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Dan bagi yang tidak ingin membuka mata, itu pilihan kalian. Tapi jangan pernah salahkan keadaan jika tiba-tiba menemukan diri kalian dalam kondisi tersungkur!

Seringai – Citra Natural

hey sayang, mengapa engkau cemas?
tak usah menjadi sesuatu yang bukan dirimu.
termakan dan terbuai (dengan segala citra emas)
nilai diri, mengapa jadi ragu?
biarkanlah, tak perlu frustasi

tercitra
cantik apa adanya
terbuai
cukup percaya diri 
tercitra
cantik apa adanya
terlena
indah, pancarkan isi

hey sayang, citra di layar kaca
tak berarti (tak berarti) dibanding tampil natural
semua ini terjual, pluralitas tak berharga
bayang semu dan tidaklah kekal
ah sudahlah, tak perlu depresi
 

Seringai – Citra Natural (video clip) 

Seringai (myspace) 

Terus perhatikan lagu itu,kawan. Gw pikir kalian udah paham maksudnya. Jadi kalo ada seseorang yang ingin sekedar moshing karena genre music mereka? Ada baiknya,pesannya udah nyampe ke otak lo. Biar semangat kalian gak luntur setelah mereka mencabut jack dari gitarnya dan beranjak meninggalkan panggung. 

——————
Agung Rahmadsyah
Bekasi
23 Februari 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized