Disaat pencerah itu bernama puisi

Posted on May 4, 2012

0


Puisi adalah hasil gabungan gaya-gaya kemahiran didalam menari dengan kata, tapi juga penyerahan kepada tradisi sastra (bahasa). ~Nirwan Dewanto 

Sebelumnya, ini ada sedikit oleh-oleh dari ‘Sebuah Hari Untuk Goenawan Mohamad’ silahkan melanjutkan membaca, kalau ingin dilanjutkan.

Bagi saya, pengalaman pertama merupakan sebuah hal menuntun kita pada sekeranjang realita. Setelah jantung kita berdegub cukup agresif, setelah kelenjar keringat tiba-tiba membasahi tangan kita yang dingin, setelah perut yang mendadak terasa mulas atau mual, setelah sejuta pemikiran yang kita ciptakan ternyata menguap sirna dan ternyata menyisakan sepercik realita saja yang bahkan jauh dari dugaan kita. Setidaknya itulah deskripsi pengalaman pertama untuk saya.

Dan kali ini, untuk kali pertamanya kalinya saya dengan sengaja menghadiri acara yang berjudul ‘Sebuah Hari Untuk Goenawan Mohamad’. Ini jelas pengalaman pertama, untuk sebuah sesi pembacaan puisi. Tapi ekspektasi saya sudah tidak terlalu tinggi karena secara tidak langsung saya pernah menghadiri beberapa acara yg didalamnya melibatkan pembacaan puisi. Sehingga saya sudah ada gambaran untuk suasana yang kelak akan tercipta pada saat yang dinanti.

Ketika hilal yang setiap tahun membuat para ulama maupun ahli hisab dan rukyat terlihat kerepotan dalam upaya mencarinya, dan ini berarti puasa akan segera tiba. Memasuki bulan puasa saya merasa bersyukur. Kenapa? Meskipun saya bukan tipe orang yang religius (dalam artian ketika bulan puasa berlomba-lomba meningkatkan tensi beribadah, tapi selepas 29 atau 30 hari berpuasa kembali kepada jalur lambat) tapi saya mensyukuri bulan ramadhan karena saya bisa benar-benar menikmati waktu tanpa terburu, mengamati dengan detil kemana perginya menit. Dan benar, saya suka itu!

Ini minggu awal puasa, berarti tidak sampai sebulan yang lalu adalah waktu yang, bagi saya, terasa memuakkan! Kenapa? (Sebelumnya,terserah ini mau dibilang sombong atau apapun) saya cukup penat dengan situasi yang mengharuskan saya geluti. Saya bekerja disebuah majalah yang membahas tentang musik, ini berarti ruang kerja saya adalah musik. Dan musik itu identik dengan konser. Jujur, saya cukup muak dengan menghadiri konser. Konser yang bagi saya hanya sekedar seremonila belaka yang tanpa makna.

Memang, jika dibandingkan beberapa orang, pengalaman saya dalam menonton konser tidak ada apa-apanya. Namun saya berani mengatakan bahwa konser yang paling membuat saya terkesan sampai detik ini hanyalah: Iron Maiden dan Melancholic Bitch. Sisanya memang istimewa, tapi hanya membekas cerita saja. Meskipun sebenarnya saya masih menggenggam erat beberapa nama yang masuk dalam daftar wajib menyaksikan, tapi hal tersebut terdengar agak mustahil jika hanya mengandalkan promotor untuk mendatangkan mereka ke Indonesia.

Ada sedikit cerita menarik ketika saya menghadiri konser Iron Maiden di Bali. Salah seorang teman saya yang berdomisili di Bandung, tega-teganya membeli tiket di festival A dan tiket pesawat PP untuk menyaksikan bentuk supremasi New Wave of British Heavy Metal. Dan itu dia ungkapkan dengan bangganya kepada saya melalui fasilitas FBC (Facebook Chat) –sekedar mengingatkan FBC itu bukanlah ormas seperti FBR, FPI atau varian F lainnya, sehingga FBC tidak butuh panji dan peci SNI untuk membuat kericuhan dijalan raya selepas sukses membuat lalu lintas semakin padat dengan dogma- Setelah selesai menyombongkan diri, ia langsung mengeluarkan statement yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

“Ya, meskipun gue tau kalau sebenarnya cuma sejam dua jam aja kita menjadi bagian dari sejarah. Selesai itu, kita balik lagi menuju realita. Kalo lo mah enak nonton gak bayar!”

Darisini saya sadari bahwa konser atau pertunjukan (yang sifatnya menghibur) merupakan wahana pelepas penat atau wadah aktualisasi diri. Dan hal itulah yang saya perlukan. Wahana pelepas penat atau wadah aktualisasi diri. Kepenatan saya selama ini adalah menyaksikan konser dengan tata lampu yang eksotis, suara yang menggelegar, figur-figur ternama diatas panggung dan beragam tipuan murah yang diciptakan. Meskipun sampai detik ini saya masih suka keluyuran ke beberapa konser, tapi sebagian konser yang saya datangai bukanlah pertunjukan yang saya ingin nikmati. Bukan.

Spasial itu bermakna kesunyian

Tiba pada suatu hari dimana, saya membolak-balik booklet tentang program komunitas salihara Juli-Agustus 2011 –yang saya sendiri lupa, kapan saya mendapatkan booklet tersebut. Kalau saya tidak salah ingat, brosur itu saya ambil diacara Blues 4 Freedom yang diadakan pekan lalu di halaman teater kecil Taman Ismail Marzuki- singkat kata, saya menemukan agenda menarik yang akan terlaksana dalan tempo cukup dekat. Kurang lebih, seperti inilah tulisannya:

‘Sebuah Hari Untuk Goenawan Mohamad’

Rabu, 03 Agustus 2011

Terbuka untuk umum

Pendaftaran selambatnya 02 Agustus 2011

16.00 WIB Ceramah

Penceramah: Nirwan Dewanto

18.00 WIB Buka Bersama

19.30 WIB Pembacaan Karya

Pembaca Karya: Najwa Shihab, Niniek L. Karim, Amarzan Loebis, Laksmi Pamuntjak, Iswadi Pratama dan Sitok Srengenge

20.30 WIB Peluncuran dan Penandatanganan Buku

Tanpa pikir panjang lagi, langsung saya telpon beberapa nomor yang tertera dihalaman belakang booklet. Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, ada respond an terjadilah komunikai diantara kami. Ternyata saya masih bisa mengikuti acara tersebut keesokan harinya. Sekedar catatan, beberapa acara yang diselenggarakan oleh komunitas salihara memerlukan harga tiket yang sudah ditentukan. Sehingga ketika saya tanyakan apakah acara ini gratis atau berbayar, dan ia jawab gratis. Saya cukup terkejut. Karena bagi saya ini acara bagus dan kenapa tidak memungut bayaran? Ini artinya, acara ini akan benar-benar keren!

Benar saja, setelah saya tiba (meskipun terlambat) saya benar-benar mendapatkan apa yang saya cari. Saya disini tidak akan membeberkan isi ceramah Nirwan Dewanto secara frontal. Tapi apa yang Nirwan Dewanto ucapkan (dan berhasil saya rekam) selama lebih dari 60 menit itu benar-benar membuat saya tersenyum puas, layaknya anak kecil behasil merobohkan orangtuanya dengan rengekannya. Saya mendapatkan apa yang saya cari, sejenak kesunyian (kesepian). Dan itu saya dapatkan dalam sesi pertama rangkaian acara yang saya bilang bagus itu tadi.

Disesi ini, Nirwan Dewanto berdiri sendirian di hadapan ratusan pasang mata yang berjajar diagonal disebuah ruang teater yang didominasi kegelapan dengan penerangan bertemperatur warna tungsten yang dipusatkan pada si penceramah itu, penceramah yang juga mengenakan kemeja berwarna hitam. Melalui slideshow yang ia sajikan, beberapa puisi nampak jelas dengan font berwarna putih. Disana tertulis beberapa nama penyair seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang dan beberapa nama lainnya. Saya pribadi bukan seorang yang bisa menyelami dengan benar apa makna dibalik secarik puisi, tapi berbicara tentang Chairl Anwar saya punya pengalaman tersendiri mengenai sebuah puisinya yang berjudul ‘Kawanku dan Aku’.

Kawanku dan Aku

Kami sama pejalan larut

Menembus kabut

Hujan mengucur badan

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata…?

Kawanku hanya rangka saja

Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali

Hilang tenggelam segala makna

Dan gerak tak punya arti.

 

(5 Juni 1943, Chairil Anwar)

Darisini saya belajar, bahwa puisi merupakan hal yang sengaja ditabrakkan atau menceraikan batas realitas. Dan keindahan itu saya dapatkan jika hasil ceraian kata itulah yang bercerita. Kurang lebih itulah pengalaman awam saya mengenai puisi. Dan seperti yang dikatakan oleh Nirwan Dewanto (dan saya sangat menyetujuinya)

“Kalau pelukis itu melukis dengan unsur-unsur yang tidak mengandung arti yaitu cat, penyair melukis dengan sesuatu yang tidak mungkin lagi berpisah dari arti yaitu kata. Kata itu punya arti yang sudah dibekukan, namun sipenyair itu telah mencabut kata itu dari kamus dan meletakakkannya pada suatu montase sehingga kita tidak pernah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan.”

Ide Negatif dan Avant Garde

Terlepas dari apa yang disampaikan oleh Nirwan Dewanto selama 1 jam lebih dan konsensus saya terhadap sebagian besar poin yang ditekankan oleh beliau, saya hanya menggaris bawahi 2 hal saja. Ide Negatif dan Avant Garde. Dalam kesempatan kali ini, Nirwan Dewanto lebih membandingkan puisi Goenawan Mohamad dengan Sapardi Djokodamono dan Chairil Anwar. Berikut ini rician singkat tentang apa itu ide negatif, ide positif dan avant garde yang saya dapat dari pernyataan Nirwan Dewanto

  • Ide negatif:

Contoh ide negatif dalam puisi Chairil Anwar

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

(Derai-derai cemara, 1949)

  • Ide positif:

Terdapat dalam karya-karya Pramoedya (kita harus terlibat pada pembangunan manusia, kita harus terlibat pada perjuangan kelas)

  • Avant garde:

Mengambil unsur bebasnya. atau dari situs serba tahu (wikipedia) Avant Garde is the adjective form is used in English to refer to people or works that are experimental or innovativeparticularly, with respect to art, culture, and politics.

Dari sini saya mendapatkan pencerahan bahwa hal tersebut adalah alasan utama saya mengagumi sebuah karya sastra (dengan segala kebodohan yang terus terang saya utarakan). Sebelumnya, pada kesempatan kali ini saya datang sebagai sosok yang tidak terlalu tertarik dengan seorang Goenawan Mohamad (tapi jelas saya mengaguminya). Bahkan sampai sekarang saya bukan sosok yang terlalu tertarik untuk menyelami Goenawan Mohamad. Tapi saya adalah penganut sebuah paham yang saya dapat dari ‘Pak tua yang membaca kisah cinta’ (sebuah novel karya Luis Sepulveda), dengan alasan apa saya membenci atau sinis terhadap seseorang karena toh saya tidak mengenalnya secara keseluruhan, meskipun dia itu adalah teman baik saya.

Saya pernah menyimak beberapa karya Goenawan Mohamad, me-follow account twitternya, bahkan saat awal kuliah saya tidak pernah absen membaca catatan pinggir (meskipun saat ini hal tersebut sudah sangat jarang saya lakukan) Tapi hal ini tidaklah sebesar perhatian saya kepada karya-karya Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Anata Toer ataupun Chairil Anwar. Namun ketika Nirwan Dewanto memaparkan beberapa contoh puisi Goenawan Mohamad, kesan yang saya terima ketika pertama kali saya membaca Chairil Anwar kembali timbul (meskipun dengan kadar yang berbeda). Dari sini saya mulai kembali tertarik untuk menambati ide-ide yang ingin disampaikan oleh Pria kelahiran Batang 29 July 1941 ini. Terlebih lagi ketika sesi pembacaan puisi oleh nam-nama yang telah disebutkan tadi, itu benar-benar pengalaman pertama yang membuat ketagihan. Dan saya berjanji akan kembali melakukan dengan tingkat ekspektasi rendah. Puisi.

Seperti yang sebuah hal yang ingin saya ungkapkan sejak lama, namun belum ketemu kata-kata yang tepat. Dan untungnya saya hadir dalam acara ‘Sebuah hari untuk Goenawan Mohamad’ saya bisa mengatakan alsan saya menyukai puisi adalah seperti yang diungkapkan oleh Nirwan Dewanto: 

Dalam salah satu teori linguistic ada konsep penanda, tinanda (sesuatu yang ditandai) dan realita (Ferdinand De Sausure) dalam percakapan sehari-hari hubngan antara penanda, tinanda dan realita itu lurus (jelas). Misalnya kita menujuk kuda, ya yang kita maksud adalah binatang yang kita sebut kuda. Atau dalam bahasa Inggris ‘horse’ dan dalam bahasa jawa ‘jaran’. Semua ini sebenarnya cuma perjanjian saja, dari dulu kita sudah janji kalau kita menyebut kuda untuk binatang itu. Sehingga kalau kita menyebut kuda, kita akan menunjuk arti dan binatang kuda itu. Nah, penyair memutus ini semua dengan cara membuat montase. Dalam puisi modern, hubungan “alamiah” antara penanda, tinanda dan realita itu hilang.

Dan diacara ini saya benar-benar mendapat pencerahan tentang sesuatu yang saya cari. Ketika Najwa Sihab membacakan ‘Misalkan Kita di Sarajevo’ dengan penuh haru, ketika Iswadi Pratama membacakan ‘Asmaradana’ dengan suaranya yang pekat, ketika  Nyak Ina “Ubiet” Raseuki membacakan sebuah puisi dengan diiringi tabuhan gendang, ketika saya mulai mengetahui sosok asli Laksmi Pamuntjak. Dan ketika Goenawan Mohamad menyetujui perkataan Nirwan Dewanto yang menyimpulkan bahwa puisi dan penyair, tidak ada hubungannya. 

Bahkan selepas acara, saya masih melihat dengan jelas sebagian dari kecerahan itu. Ugoran Prasad, Sapardi Djoko Damono, Sitok Srengenge merekalah sebagian itu.

*****

Berikut ini beberapa statement menarik dari Nirwan Dewanto yang saya setujui betul:

  • Komunikasi itu adalah suatu kata yang menyesatkan. Kenapa? Karena didalam komunikasi, subyek yang satu kelihatannya berhubungan dengan subyek yang lain secara berimbang pdhl sebenarnya tidak. Didalam mass media, komunikasi adalah penghambaan. Komunikasi adalah penyerahan diri kedalam seperangkat jargon. Dan penyair dengan menggunakan daya negatifnya berusaha melakukan subversi thdp kom. Dgn mlakukan praktek anarkisdi dalam puisi. Sub versi didalam puisi. Subversi ini juga berarti ‘sub’ – ‘version’ dipermukaan ditinggalakan dan mereka pergi kebawah tanah untuk mencari sub version, itu yg dilakukan oleh penyair.
  • Puisi itu suatu paradox. Dia dgn kata-kata ingin mencapai kesunyian. Ingat, kata-kata itu punay konotasi dan ia ingin mencapai kesunyian dgn kata-kata? Atau kalau secara senirupa ia ingin mencapai kekosongan tapi dengan rupa. Lalu bagaimana kalau peralatannya tidak memungkinkan? Kalau kata-kata itu terlalu cepat terbang sendiri dan tidak mampu mengatakan kekosongan atau sunyi? Ada dua jalan:  pertama adalah si penyair yang berubah sebagai pengujar puisi memperlebar celah diantara kalimat dan celah itu adl void, emptiness (kekosongan). Kalau celah itu kurang mencerminkan kekosongan maka penyair menggunakan kata ‘tak ada’.
  • Puisi ini kehilangan arti. Arti itu bukan makna. Arti itu adalah sesuatu pengertian. Tapi makna adalah sesuatu yg lain. Makna adalah ketika kita berhasil menghayati (contoh) sebuah bangunan puisi atau ketika berhasil menghubungkan antara satu unsur dgn unsure lain, itulah makna. Seperti misalnya menghayati kekosongan atau menghayati sunyi dalam sebuah puisi.
  • Puisi ini permainan imaji. Meskipun permainan imaji ini sebenarnya bisa didapat dari kehidupan sehari-hari, contohnya film kartun. Tapi puisi ini tidak mengandung sesuatu, tidak mengandung cerita dan pusat. Jadi betul-betul bermain dengan imaji. Tidak ada perspektif. Dengan kata lain anda mencoba menggambar seperti anak-anak dan bebas dari gaya tarik bumi.
  • Puisi adalah hasil gabungan gaya-gaya kemahiran didalam menari dengan kata, tapi juga penyerahan kepada tradisi sastra (bahasa).

*****

——-

Sebenernya masih ada beberapa ide lagi yang pengen gw tulis, tapi deadline akhir-akhir ini bikin gw gak bisa berkembang! Karena batas 2000 karakter dan gw sedang belajar memampatkan ide kadalam 2000 karakter saja. Adaptasi ini sangat menyita waktu. makanya gw paksain nulis ini dalam tempo sekali jadi biar gw bisa membiarkan ide gw liar tak terpangkas.

“Pantera – Revolution is My Name” Ini adalah salah satu nama yang masuk dalam daftar wajib menyaksikan. Tapi apadaya, mereka tinggal kenangan. 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

04 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized