Gantilah Kata Galunggung dengan Merapi.

Posted on May 4, 2012

0


Mungkin saja? Tidak ini kepastian! Ini sudah pasti yang ke-entah-kalinya saya melihat dan mengamati tingkah orang Indonesia yang mendadak ingin beropini atau sekedar terlihat eksis. Kenapa saya bilang entah? Karena sudah terlalu sering, menurut sepengelihatan saya. Mungkin saya yang cenderung apatis atau sinis? Terserah. Saya tidak mengerti dan tidak mau peduli. Saya tidak mengerti karena, saya merasa butuh berpendapat yang tidak seragam dan tidak peduli dengan ulah kalian yang seragam. Kita berbeda dengan kalian. Setiap kali saya melontarkan statement yang melawan arus, setiap kali itu pula saya menerima sentilan dan kritikan. Kalau kalian punya sebuah pembelaan atas dasar simpati atau bahkan empati, kenapa saya tidak bisa menerbitkan jenis pembelaan serupa atas dasar berpikir bebas? Karena buat saya ide dan pemikiran itu sifat yang sangat bebas, tanpa pengekangan.

Pernah di suatu waktu, ketika Indonesia merayakan hari jadinya yang ke 65 di bulan Agustus lalu, saya melakukan chat lewat fasilitas yang tersedia di facebook bersama teman yang berada di bandung. Saat itu kami membahas status orang yang mendadak nasionalis, dan berujung pada keasikan untuk menebak hal apalagi yang memperlihatkan sifat kelatahan sebagian besar masyarakat Indonesia. Mungkin saja, kalau ada upacara agama dalam rangka memperingati Dirgahayu RI, tempat-tempat peribadatan sudah sesak oleh ratusan ribuan kepala. Dan saya berani jamin, dari ribuan kepala itu Cuma terbagi dalam 3 golongan:

  • golongan yang mengerti dan mengamalkan esensinya
  • golongan yang mencoba mencari esensinya
  • golongan yang ikut serta meramaikan sebuah momen.

Golongan terakhir adalah mayoritas dari (sekitar) 238juta penduduk di Indonesia. Dan saya mencoba menciptakan sebuah golongan lagi: golongan yang mengerti namun tidak mengamalkan esensinya. (Mungkin hal ini dikarena sumpek melihat ulah Golongan yang terakhir! Hahaha) Tapi menurut saya sisi negatif dari gologan yang keempat ini adalah menciptakan munculnya sebuah golongan baru: golongan yang tidak mengerti dan tidak mengamalkan esensinya. Ini yang paling parah! Golongan Jahiliyah

Jujur saja, status saya pada waktu itu juga memiliki kaitan dengan tema dirgahayu, tapi saya menyoroti dari hal terkecil: ejaan kata “Indonesia”, bukan “Endonesia”. Karena selama ini saya masih sering menjumpai orang-orang yang berteriak “Endonesia” entah saking semangatnya atau memang dia tidak mengeri? Yang pasti hal itu  memprihatinkan, buat saya pribadi. Dan sekali lagi, sebuah bukti nyatanya terulang pada saat Java Rockin’ Land 2010 awal bulan Oktober. Saya lupa pastinya siapa yang mengucapkan, yang pasti dia musisi yang cukup tersohor. Pada waktu itu seluruh penonton diminta kerelaannya untuk bersimpati untuk korban Wasior, dan ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kesalahan tata cara mengeja yang menjadi kebiasaan selama puluhan tahun kembali diperlihatkan. Saya sendiri cuma tersenyum kecut melihat hal itu. Sesungguhnya kalau saya sanggup naik ke panggung, akan saya porak porandakan seremoni empati dangkal tersebut. Tapi ratusan ribu watt itu telah sukses merasuki otak ribuan jamaah music rock.

Kali ini yang jadi sorotan adalah bencana alam yang melanda Indonesia: Wasior, Mentawai dan Merapi. Sampai sejauh ini masih 3 ini yang terekspose, diluar banjir yang melanda Jakarta dan pembalakan kayu di hutan Indonesia yang menyebabkan disfungsi ekosistem. Diluar beberapa bencana yang akan datang melanda Indonesia dalam waktu yang tidak bisa diprediksi dan sebagian besar bencana tersebut sukses diciptakan oleh tangan manusia sendiri. Lantas mereka sibuk berpaling menyalahkan alam yang tidak bersahabat bahkan Tuhan yang terdapat di kitab suci mereka?

*********

Pagi ini saya terbangun oleh dering telepon saya yang merupakan potongan lagu “Berhenti di 15”. Memekakan telinga! Dan begitu saya lihat,ternyata dari Ibu saya. Dan ternyata lagi, beliau mengabarkan kalau kakak saya yang pertama baru saja memiliki seorang putra, setelah sebelumnya putri. Mengacu pada perkataan ibu saya yang menyebutkan waktu lahirnya pukul 07.30 WIB, berarti itu 60 menit lebih awal dari waktu ketika ibu saya menelpon yang mengakibatkan saya terbangun karena kebisingan yang diciptakan ring tone. Hahaha.

Doa saya semoga anak dari pasangan itu gak terlalu nakal. Soalnya cowok sih, kalau nakal wajarlah. Asal dia bertanggung jawab! Itu baru cowok. Setelah doa itu terkirim melalui sebuah servis untuk pesan singkat, saya bergegas bangun dan melanjutkan aktivitas. Sampai akhirnya tiba di sebuah aktivitas yang lama saya tunggu momennya: Menamatkan sebuah majalah! Disana ada sebuah rubric yang membahas tentang keefektifan memblokir beberapa situs internet, judul rubriknya: BLOKIR INTERNET: How Far Can You Go? Jujur saja, ini sebuah karya anak bangsa di bulan Oktober.

Lepas dari aktivitas itu, saya mulai aktivitas lainnya dan ketika itu pula televisi mulai dinyalakan oleh adik sepupu saya. Yeah, the war has just begun! Dan tepat. Langsung menuju kasus Mbah Marijan yang posisi meninggalnya sedang bersujud saat wedhus gembel melanda. Beberapa prediksi yang berlandaskan spekulasi langsung mencuat, berdasarkan posisinya dan waktu bencana itu datang melanda. Posisinya seperti yang sudah disebutkan tadi, beliau sedang bersujud. Dan waktunya adalah waktu maghrib. Dan prediksi yang sangat masuk akal adalah beliau meninggal karena terkena musibah wedhus gembel, saat solat magrib di kamarnya.

Tapi saya berpikir iseng! Kenapa gak menganalogikan Mbah Marijan dengan malin kundang? Apa yang mengarang legenda malin kundang itu yakin kalau si malin itu dikutuk ibunya? Bisa saja dia terkena musibah yang sama dengan mbah maridjan? Begitu pula sebaliknya. Mbah Marijan terkena kutuk entah oleh siapa. Nyi Roro Kidul mungkin? (Pikiran Nyi Roro Kidul ini muncul karena saya melihat kadar mistis yang masih tinggi. Sampai-sampai pada sebuah talkshow di sebuah saluran TV membahas tema ini sebagai fenomena meletusnya Merapi)

Tapi ya sudahlah, secara pribadi saya juga turut berduka atas meninggalnya sosok pejabat Merapi tersebut. Semoga arwahnya bisa tenang dan begitu pula kondisi merapi untuk waktu yang akan datang. Redamlah amarahmu Merapi, kalau mau kau lontarkan saja Laharmu itu di kota-kota. Seperti yang di analogikan Iwan Fals dalam lagu “Tolong Dengar Tuhan”. Silahkan simak lagu itu dan gantilah kata Galunggung dengan Merapi. Kondisinya yang digambarkan oleh Iwan Fals, menurut saya sudah mewakili perspektif korban. Silahkan mencoba berempati dari sana.

——-

Begitu saya melihat Mbah Marijan, saya langsung teringat oleh Thich Quang Duc. Meskipun hampir sama cara meninggalnya karena sebuah keadaan yang panas, tapi dalam proses meninggalnya kedua sosok itu sangat berbeda . Menurut saya Mbah Marijan meninggal karena beliau bertanggung jawab atas posisinya sebagai juru kunci Merapi dan mengemban petuah sang petinggi Keraton, bukti nyata sebuah kesetiaan dan loyalitas. Namun untuk kasus Thich Quang Duc, ia meninggal sebagai bentuk protes di Saigon, Vietnam, pada tahun 1963 dengan cara membakar diri. Bagi yang belum mengenal siapa itu Thich Quang Duc, silahkan akses situs yang saya sertakan dibawah ini.

“God Bless – Biarkan Hijau” Silahkan simak lagu ini. Bukti bahwa rocker gaek yang peduli akan lingkungan. Pertanyaan saya selanjutnya, “Apakah kita harus menunggu uzur untuk berteriak? Sedangkan semangat dan masa muda dihabiskan untuk urusan pribadi?” Saya harap saya mampu konsisten berbuat sesuatu yang vokal, sampai suatu saat nanti saya berakhir pada sebuah huruf konsonan: “L” (Dalam sebuah kata yang terdiri dari 4 huruf, dengan awalan “A”). Dan saya menaruh atensi besar terhadap orang-orang yang vokal.

——-

 

 

Thích Quảng Đức (Thich Quang Duc) 

Ini merupakan sebuah foto yang dibawa oleh fotografer Malcolm Browne dan sukses merubah tatanan dunia disaat itu.

————————-

Agung Rahmadsyah

Malang

29 Oktober 2010

 

Advertisements
Posted in: Uncategorized