HAL SUBSTIL, KARYA SENI dan KEPEKAAN

Posted on May 4, 2012

0


Artists use lies to tell the truth while politicians use them to cover the truth up.” ~V for Vendetta

In the same way an artist uses an illusion (lies) to give the observer an accurate perspective (truth), does Scripture use an illusion (lies) to give the reader an accurate perspective (truth). ~ Austin Garrett Ward 

Pagi itu pukul 07.30, saya mendadak baru terbangun akibat suara TV di ruang tengah yang melebihi batas toleransi saya. Saya kemudian beranjak menuju remote yang digenggam ayah saya, untuk kemudian mengkandaskan sedikit-demi sedikit volumenya setelah itu membuka koran langganan keluarga. Ya, terlepas dari problematika keluarga atau varian masalah personal lain, saya menemukan sepenggal intro yang bagus ketika membuka lembaran harian kompas, yang kemudian mengukuhkan tekad saya untuk mencari tahu tentang Garin Nugroho lewat rubrik Persona di Kompas, Minggu, 18 September 2011.

Banyak yang bertanya, apa yang kau cari Garin?

Ha-ha… Sebenarnya dalam seni modern spesialisasi menjadi ciri pencarian kesenian kita. Tetapi, saya tidak bisa mengabaikan bahwa seni kita berasal dari upacara. Bahkan hidup kita ini upacara. Tidak dikenal istilah seniman. Petani kita bisa jadi pematung atau penari. Spesialisasi adalah cara kita melakukan penjelajahan, tetapi upacara adalah konsep dan keterampilan. Seni itu berati medium upacara untuk mendialogkan sesuatu…

Kenapa anda bergerak dari film, kemudian seni pertunjukan dan sekarang seni visual? Anda seperti mengaburkan soal-soal spesialisasi yang anda sebut tadi?

Begini. Spesialisasi adalah alat untuk mendalami pengetahuan dan keterampilan. Dan, keterampilan memerlukan proses terus menerus dalam upacara semua orang akhirnya belajar tentang spesialisasi. Ada yang special berdoa, ada yang mengukir, ada yang menekuni keterapilan-keterapilan lainnya. Anda tahu kan sutradara seperti zhang Yi Mou atau teman saya dari Thailand, mereka bergerak disemua bidang kesenian. Jika mereka memilih film atau seni instalasi itu hanya persoalan bahasa.

Akhirnya, saya tiba pada beberapa jawaban Garin yang berhasil menerjemahkan alasan saya selama ini: “Kenapa saya menyukai seni atau kesenian, apapun itu bentuknya?”

Anda melihat sekarang dunia kesenian justru bergerak kea rah gaya hidup, bukan?

Pascareformasi, Cuma seniman yang tidak mampu merumuskan hak dan kewajibannya. Maka mereka menjadi kelompok yang tidak mendapatkan hak. Politisi bahkan buruh, kini punya jabatan. Itu sebagian juag menunjukan kebobrokan Negara. Negara ini dilahirkan oleh para seniman. Pancasila dirumuskan oleh curator seni terbaik Indonesia, Soekarno dan ahli sonata seperti Muh. Yamin. Sekarang selera seni bangsa ini rendah, maka praktik politik pun rendah.

Maksud anda para politikus kita jauh daridunia kesenian?

Bangsa ini tidak pernah menghargai kebudayaan dan seniman. Orang menganggap tidak perlu ke museum Karena tidak ingin menjadi perupa. Membawa anak ke museum bukan untuk mencetak mereka menjadi seniman. Anak harus kemuseum agar memiliki rasa tentang ruang, memiliki kesadaran ruang. Sehingga kalau dia terpanggil menjadi politikus, ia akan membangun bangunan yang memiliki kaki lima, ruang ramah public. Kalau ia bersentuhan dengan tari, ia akan memiliki kesadaran tentang kebutuhan ruang public.

Apa yang harus para politisi itu lakukan sekarang?

Kita tidak memiliki pemimpin yang susastra, kita tidak memiliki rasa terhadap sesuatu yang substil tentang kehidupan. Maka mereka menjadi wacana tak berguna. Omong kosong kalau membaca sastra orang menjadi seniman. Orang membaca sastra agar memiliki referensi rasa yang substil terhadap bahasa, kehidupan, penderitaan orang. Para pemimpin kita lahir dari duni atanpa peferensi seni.  Seni dan kebudayaan itu cara berpikir, berkreasi dan bertindak terhadap segala aspek kehidupan, baik itu politik, teknologi dan ekonomi. Para pemimpin yang lahir dari bangsa yang mengapresiasi seni, memiliki sensitivitas tinggi terhadap kehidupan.

Saya sama sekali tidak berniat untuk meracuni anda dengan perspektif saya mengenai produk atau barang seni. Tapi sebelumnya, saya hanya ingin sekedar mengingatkan kembali bahwa SUBSTIL itu berasal dari sebuah kata dalam bahasa Inggris, ‘SUBTLE’ yang memiliki pengertian: ‘Imperceptible to the senses or the mind (tak terlihat oleh indra atau pikiran)” http://www.thefreedictionary.com/subtle

Kembali ke barang seni, Karya seni atau apapun itu namanya, secara tidak sadar anda juga sudah mengoleksi varian berhala itu bukan? Buku panduan bercinta dari India, Novel, Cerpen, Majalah, Foto, CD, Kaset, Kamera, Action Figure, Lukisan, Poster, Stiker, Barang-barang koleksi lainnya, sampai ke keping DVD bajakan dengan alur cerita kegemaran anda. Itu semua tak ubahnya berhala yang dikategorikan sebagai produk seni. Tapi yang pasti, barang-barang tersebut dihasilkan melalui banyak referensi rasa tentang hal-hal substil dalam kehidupan penciptanya.

Dari jawaban Garin diatas, saya mendapatkan alasan logis kenapa saya senang atau menyenangi seni. Karena di dalam seni saya mendapatkan sosok pemimpin, setidaknya banyak figur yang saya idolakan disana. Bagaimana dengan anda, mungkin ada sosok yang anda idolakan dalam beberapa bidang seni? Sebagai contoh, saya pikir, semua orang punya sosok penyanyi/musisi idola, terlepas dia adalah Doddy (kangen band) sekalipun. Karena menurut penggemarnya Doddy menciptakan lagu yang mewakili perasaan substil mereka akan kisah cinta, meskipun bagi saya pribadi lagu-lagu ciptaan kangen band tidak asik untuk dimainkan dalam nada dasar apapun.

Ya, saya tidak membicarakan selera disini. Sah-sah saja anda mengidolakan siapapun, tanpa harus menyebutkan embel-embel ‘Guilty Pleasure’ sebagai mukadimah penutup malu. Sayapun mengidolakan Peterpan karena beberapa lagunya, jauh sebelum Ariel sukses menunggangi 2 selebriti itu dalam berbagai pose. Kalau buat saya: “Persetan untuk orang yang menggunakan embel-embel ‘Guilty Pleasure’ ketika mengakui seleranya.”

Karya seni sebagai (lebih dari sekadar) “barang” seni

Saya tidak akan menjabarkan apa itu seni, darimana datangnya atau siapa-siapa saja yang patut dijuluki pencipta seni. Definisi itu bisa anda dapatkan dari Wikipedia ataupun beragam bentuk referensi lainnya. Yang ingin saya perkarakan adalah seni sebagai (lebih dari sekedar) barang seni. Ya, barang. Barang itu berarti benda yang bisa dikenakan menurut kehendak yang punya.

Mencoba memperkarakan hal ini sama halnya mengulang pertanyaan saya ke beberapa teman, tentang: ‘Apakah musik itu hanya sekedar hiburan semata? Tidak bisa melakukan sebuah perubahan?’ dan resume jawaban yang didapat adalah: ‘Ya. Meskipun ada juga yang bertutur tentang perubahan lewat lagu, tapi fungsi utama lagu adalah hiburan. Lagu tidak bisa merubah apapun, hanya sekedar penyemangat dan pengingat saja. Lagu tak ubahnya media untuk menyampaikan aspirasi atau beragam bentuk pendapat yang ingin dikemukakan’

Tapi sudahlah, tak usah berpanjang lebar memperkarakan hal tersebut. Saya ingin sejenak mengok ke belakang tentang peran seni dan nasibnya sebagai barang. Mungkin ada yang sudah baca ulasan awam saya tentang pementasan teater Mastodon & Burung Kondor? Disana saya kutip sebuah adegan dimana Jose Karosta diberi sebuah pertanyaan untuk pengikutnya;

“Jadi, apakah menurutmu karya seni itu lebih berharga dari sepotong roti?”

“Untuk siapa? Kalau kau tanyakan kepada orang yang kelaparan tentu ia akan memilih sepotong roti daripada karya seni” sahut Jose Karosta saat ia dihadapkan oleh salah satu pertanyaan dari koleganya

Sekedar mengingatkan, Mastodon dan Burung Kondor adalah naskah yang  garapan (alm) W.S Rendra dan dipentaskan pada tahun 1973. Ya benar, usia teks itu hampir 4 dekade. Tapi yang buat saya kagum adalah, pada tahun tersebut W.S rendra sudah merasa bahwa sebagian besar orang di Indonesia menyingkikan barang seni dari kehidupannya. Dan selain itu, ada falsafah di Indonesia yang mengukuhkan pendapat saya bahwa barang seni adalah benda yang sangat tidak apa-apa jika disingkirkan di Indonesia oleh sebagian besar orang Indonesia.

Menurut falsafah jawa (yang sudah dijadikan pondasi falsafah Indonesia), kebutuhan pokok itu adalah “Sandang (pakaian), Pangan (makanan), Papan (tempat tinggal)’ benar kan? Sekali lagi saya menemukan sebuah penyebab kenapa orang jawa itu harus terlihat heboh ketika berpakaian, karena yang diprioritaskan adalah Sandang (pakaian) bukan Papan (tempat tinggal) ataupun Pangan (pakaian).

Dan pangan pun (yang sebenarnya ada diposisi kedua) harus terbentur oleh sebuah falsafah lagi: ‘Mangan ora mangan sing penting ngumpul (makan gak makan asal kumpul)’ Nah, posisi makanpun dalam kebutuhan pokok dikesampingkan setelah berkumpul. Entah berkumpul untuk tujuan apa, untuk berembuk cara mencari kebutuhan akan Sandang tersebut atau sekedar untuk menjunjung tinggi rasa kesetiakawanan yang didasarkan atas derita akibat kelaparan. Sehingga hasil akhir yang saya lihat adalah kesetiakawanan itu timbul setelah derita melanda, sedangkan sebelum diterpa bencana, mungkin saja kita tak mengenal tetangga kita yang ternyata berasal dari Indonesia tepatnya pulau Jawa.

Lantas dimana kebutuhan sebagian besar orang Indonesia tersebut  akan seni? Ya tentu saja setelah Sandang, Ngumpul, Pangan dan Papan. Itupun belum lagi daftar kebutuhan (yang konon) adalah pokok, dan saya sendiri tidak mengerti.Tapi untungnya landasan bangsa kita, Pancasila, itu dirumuskan oleh oleh para seniman (seperti yang telah dijelaskan oleh Garin diatas), dan tentu saja yang tidak hanya datang dari pulau jawa saja.

Sebagai contohnya adalah sepenggal perjalanan kisah hidup Chairil Anwar (seorang pendekar puisi asal Sumatera Utara) Dia lebih berat membeli buku sastra daripada membeli makanan untuk bertahan hidup, atau obat untuk menyembuhkan penyakit raja singa yang dideritanya. Terdengar konyol mungkin, tapi disini ia memberikan contoh bahwa masih ada orang Indonesia yang menggangap bahwa karya seni itu (bukan sekadar) “barang” seni.

Untuk memahami puisi-puisi Chairil Anwar atau pujangga lainnya sekelas W.S Rendra, tidaklah dibutuhkan intelektualitas tinggi atau kemampuan semiotika tingkat wahid. Tapi memiliki referensi rasa yang substil terhadap bahasa, kehidupan, penderitaan orang itu sudah cukup. Intinya dibutuhkan kepekaan untuk memahami hal-hal yang substil tersebut. Meskipun sesungguhnya kehidupan itu bukanlah sesuatu yang bersifat substil, tapi tak jarang kita tidak merasa peka terhadapnya.

Sekali lagi saya deklarasikan, inilah sebabnya saya lebih menyukai kesenian: karena di dalam seni saya mendapatkan sosok pemimpin, setidaknya banyak figur yang saya idolakan disana. Figur yang memberikan contoh dengan memiliki banyak referensi rasa yang substil terhadap bahasa, kehidupan, penderitaan orang lain. Singkat kata figur yang lebih peka terhadap bangsa ini daripada pemimpin, politisi, presiden di negara ini. Tak heran jika Iwan Fals pernah diusulkan untuk menjadi Presiden RI, meskipun pada akhirnya itu hanya sekedar celoteh sang camar saja.

Garin sendiri sudah menjelaskan kenapa sosok politisi yang kemudian menjelma menjadi pemimpin di Indonesia saat ini banyak mengumbar wacana tidak berguna? Karena mereka tidak memiliki rasa terhadap sesuatu yang substil tentang kehidupan. Karena orang membaca sastra agar memiliki referensi rasa yang substil terhadap bahasa, kehidupan, penderitaan orang. Silahkan cerna kembali pendapat Garin Nugroho di atas.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak ingin mencemari anda mengenai kesenian itu sendiri, saya hanya berbagi alasan logis yang dikemukakan oleh Garin Nugroho dalam rubrik Persona di Kompas, Minggu, 18 September 2011. Persoalan anda tidak menyukai seni atau menganggap seni itu tidak lebih berharga daripada sepotong roti, itu adalah hak anda. Tapi cobalah untuk menumbuhkan kepekaan terhadap hal-hal substil yang ada dan terjadi di sekitar kita. 

——-

Foto diatas gw dapet di daerah fatmawati, gak tau orang dengan misi apa. Oya, orang di mobil itu memainkan lagu-lagu daerah (kalau tidak salah Sumatera Utara) dengan volume yang cukup keras, cukup untuk menarik perhatian jalanan padat saat itu. Entah pemimpin yang dimaksud itu siapa, tapi apakah dia memiliki rasa terhadap hal-hal substil dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Gw pikir tidak, karena buat gw itu cuma ulah dari orang stres di ibukota.

Tulisan ini gw salin juga di blog pribadi http://somedayorsomehow.multiply.com/ silahkan mampir kalau berkenan 😀

“Epica – The Last Crusade (A New Age Dawns Part I)” denger sendiri aja deh, cihuy pokoknya nih lagu 😀

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

19 September 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized