Happy Bonfire Night, Everyone!

Posted on May 4, 2012

0


Sebentar, mungkin ada yang ingat dengan topeng dalam gambar ini?

Ya, itulah topeng yang dipakai seseorang dengan inisial V dalam film ‘V for Vendetta’.

V for Vendetta

Film yang saat ini masih memegang peingkat pertama dalam daftar, film yang paling sering saya saksikan. Pertama kali melihat film ini, benar-benar tidak disengaja. Cuma sekedar ingin meluangkan waktu bersama teman karena saya sudah mati gaya untuk minggu itu, dan akhirnya memutuskan untuk ke bioskop sajalah. Niatnya hanya membuang waktu! Tidak lebih. Sampai akhirnya tiba ke sebuah adegan dimana tokoh V itu berbicara dengan seorang wanita yang bernama Evey, setelah mengkandaskan beberapa orang dengan sepenggal jurus beladirinya.

Evey Hammond: Who are you?

V: Who? Who is but the form following the function of what, and what I am is a man in a mask.

Evey Hammond: Well I can see that.

V: Of course you can. I’m not questioning your powers of observation, I’m merely remarking upon the paradox of asking a masked man who he is.

Dari sini saya berpikir kalau ini bukan film “sembarangan” dan akhirnya saya memutuskan untuk konsentrasi ke film, daripada niat awal saya, sekedar membuang waktu. Singkat kata, selama fase liburan (pertengahan tahun 2006) itu saya relakan jumlah waktu yang terbuang untuk film ini sebanyak 5 kali. 1 kali bersama teman saya, dan sisanya saya pergi sendiri. Karena saya merasa film ini sarat akan makna dan unsur filosofi yang dominan. (Karena film ini pulalah, saya menjadi cukup selektif untuk menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan layar besar terbentang di depannya dan di dominasi bangku yang tersusun diagonal. Dan saya juga gak segan-segan untuk pergi menonton sendirian, asal saya mengerti apa yang akan saya saksikan.)

Saya rasa suda cukup saya membual, karena saya tidak menulis untuk resensi film ini. Sudah lewat masanya! Tapi satu hal yang akan saya ingat dan akhirnya saya mendedikasikan film ini sebagai film favorit saya sepanjang masa adalah sebuah adegan yang membuat saya berangkat utuk mencari tahu lebih tentang siapa itu “Guy Fawkes”? Saya mendengar nama itu setelah tokoh Evey menyebut namanya di opening film ini. Walaupun sekilas, namun saya menyaksikan adegan serupa sebanyak 5 kali dengan fasilitas Dolby Stereo. Belum lagi saya putar ulang di beragam format lain, baik itu DVD,VCD maupun novel grafisnya. Total waktu yang saya habiskan untuk karya ini? Entah! Secara pribadi, saya enggan mengkalkulasikan pengorbanan untuk hal yang berarti apalagi sangat berarti. Loyal? Mungkin lebih tepat ini Kepuasan. Karena untuk kepuasan, semua tidak akan pernah terbuang percuma. 

Evey Hammond: [voiceover] Remember, remember, the Fifth of November, the Gunpowder Treason and Plot. I know of no reason why the Gunpowder Treason should ever be forgot… But what of the man? I know his name was Guy Fawkes and I know, in 1605, he attempted to blow up the Houses of Parliament. But who was he really? What was he like? We are told to remember the idea, not the man, because a man can fail. He can be caught, he can be killed and forgotten, but 400 years later, an idea can still change the world. I’ve witnessed first hand the power of ideas, I’ve seen people kill in the name of them, and die defending them… but you cannot kiss an idea, cannot touch it, or hold it… ideas do not bleed, they do not feel pain, they do not love… And it is not an idea that I miss, it is a man… A man that made me remember the Fifth of November. A man that I will never forget.

Saya hanya sebuah alasan untuk mencari tahu tentang siapa itu Guy Fawkes, apakah dia nyata atau fiktif? Dan ternyata, dia itu fakta. Guy Fawkes adalah tokoh yang hidup dalam alam realita.

*******

Guy Fawkes, who is he?

Berdasarkan ucapan Evey “I know his name was Guy Fawkes and I know, in 1605, he attempted to blow up the Houses of Parliament. But who was he really? What was he like?” Dia adalah orang yang berusaha meledakan gedung parlemen di tahun 1605. And then, next question is: “Why he attempted to blow that building?”

Pertanyaan ini dijawab oleh tindakan V setelah ia meledakkan Old Bailey

V: …A building is a symbol, as is the act of destroying it. Symbols are given power by people. A symbol, in and of itself is powerless, but with enough people behind it, blowing up a building can change the world.

Okay, that’s clear enough, isn’t it? Hey, wait! The next question! I need an answer for this question “But who was he really? What was he like?”

Baiklah, pertanyaan kedua (What was he like?) sepertinya tidak saya coba jelaskan, karena hasil yang saya dapat setelah berselancar di dunia maya tidak mengacu pada sebuah persona, melainkan beberapa. Dan akhirnya saya putuskan untuk memasang foto yang versi di bawah ini. (Kenapa? Saya coba samakan berdasarkan ilustrasi penangkapan Guy Fawkes yang saya dapatkan dari Wikipedia. Semoga saja tidak melenceng jauh,haha. Mohon maaf sebelumnya)

Ilustrasi tertangkapnya Guy Fawkes
Guy Fawkes (Guido Fawkes)

Tapi pertanyaan pertama (Who was he really?) sebenarnya juga sudah sangat jelas untuk sekedar mengetahui, siapa itu Guy Fawkes. (berdasarkan sumber:http://en.wikipedia.org/wiki/Guy_Fawkes)

Guy Fawkes (13 April 1570 – 31 Januari 1606), juga dikenal dengan nama Guido Fawkes (nama ini dia gunakan saat ia terlibat sebuah perang di Spanyol) Dia berangkat menuju Spanyol dengan tujuan mencari dukungan untuk gerakan katolik di Inggris, tapi tidak berhasil. Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan Thomas Wintour dan kembali ke Inggris. Melalui Thomas Wintour, Fawkes diperkenalkan kepada Robert Catesby, orang yang berencana mengguilingkan King James I karena alasan mengembalikan kejayaan katolik ke puncaknya.

Sebenarnya Guy Fawkes hanya salah satu dari 13 nama yang menjalankan konspirasi “Gunpowder Plot” yang bertujuan meledakkan gedung parlemen Inggris pada waktu itu, namun Guy Fawkes-lah yang dipercaya menjadi eksekutornya.

Hanya 8 orang konspirator yang terilustrasi. kurang: Everard Digby, Robert Keyes, Ambrose Rookwood, John Grant dan Francis Tresham

Konspirasi ini akhirnya gagal karena Guy Fawkes tertangkap tepat pada tanggal 5 November 1605, tanggal dimana memang diplih sebagai hari pengeksekusian. (Tanggal ini sengaja dipilih sebagai bentuk protes. Karena kaum anti-Katolik di Inggris menetapkan bahwa tanggal 5 November adalah sebuah hari libur perayaan Thanks Giving, namun keputusan ini akhirnya dicabut pada tahun 1859)

Pada saat tertangkap, Guy Fawkes tidak mengaku tentang identitasnya. Bahkan ia mengaku bernama John Johnson ketika pertama kali ia diinterogasi, namun setelah 2 hari mengalami penyiksaan, akhirnya ia mengakui identitasnya dan teman-temannya ikut terseret dalam eksekusi hukuman gantung di bulan Januari 1606. Termasuk otak konspirasi ini, Robert Catesby.

Setelah itu di Inggris dan negara persemakmurannya, setiap tanggal 5 November diperingati Guy Fawkes Night atau Bonfire Night. Dengan cara menyalakan kembang api atau membakar boneka yang dikonstruksikan menyerupai Guy Fawkes. (Info yang terakhir saya baca, boneka Wayne Rooney turut serta dilarung dalam seremoni ini)

******

That’s Why… but, why?

Sebenarnya kenapa saya susah payah mencoba menceritakan kisah dari negeri Inggris? Masalah nanti akan muncul pendapat yang berkata kalau: “Anda tidak nasionalis!” Terserah! Saya tidak hidup dari celoteh kalian, kawan. Saya hidup atas tindakan saya sendiri dan setiap tindakan itu sudah saya pikirkan terlebih dahulu.

Saya ingin mengadopsi semangatnya, dan tidak hanya sekedar seremonial belaka. Meskipun konteks yang diperjuangkan para konspirator itu mengindikasikan kesalahan pola pikir. Tapi tujuan pergerakannya sama sekali tidak patut diragukan, menghancurkan simbol yang berisi tirani. Dan itu ditransformasikan dengan baik oleh tokoh V, yang diciptakan oleh ALan Moore.

Remember, Remember

the fifth of November,

the gunpowder treason and plot.

I know of no reason

why the gunpowder treason,

should ever be forgot.

Happy Bonfire Night, Everyone. 

——-

Sekedar mengulang info, V for Vendetta beredar dalam bentuk Graphic Novel karya Alan Moore (writter) & David LLoyd (illustrator) sebelum akhirnya diangkat untuk menjadi sebuah film oleh James McTeigue, yang berperan sebagai Sutradara.

Alan Moore
David LLoyd
Graphic Novel

Dan berikut adalah tokoh V yang dikonstruksi dalam 2 media (graphic novel & film), saat memberikan wejangan setelah ia berhasil menyabotase BTN. (namun lebih tepatnya bercerita dan beragitasi daripada memberi wejangan)

Kiri: V (dalam novel grafis) Kanan: V (dalam film)

V: Good evening, London. Allow me first to apologize for this interruption. I do, like many of you, appreciate the comforts of every day routine- the security of the familiar, the tranquility of repetition. I enjoy them as much as any bloke. But in the spirit of commemoration, thereby those important events of the past usually associated with someone’s death or the end of some awful bloody struggle, a celebration of a nice holiday, I thought we could mark this November the 5th, a day that is sadly no longer remembered, by taking some time out of our daily lives to sit down and have a little chat. There are of course those who do not want us to speak. I suspect even now, orders are being shouted into telephones, and men with guns will soon be on their way. Why? Because while the truncheon may be used in lieu of conversation, words will always retain their power. Words offer the means to meaning, and for those who will listen, the enunciation of truth. And the truth is, there is something terribly wrong with this country, isn’t there? Cruelty and injustice, intolerance and oppression. And where once you had the freedom to object, to think and speak as you saw fit, you now have censors and systems of surveillance coercing your conformity and soliciting your submission. How did this happen? Who’s to blame? Well certainly there are those more responsible than others, and they will be held accountable, but again truth be told, if you’re looking for the guilty, you need only look into a mirror. I know why you did it. I know you were afraid. Who wouldn’t be? War, terror, disease. There were a myriad of problems which conspired to corrupt your reason and rob you of your common sense. Fear got the best of you, and in your panic you turned to the now high chancellor, Adam Sutler. He promised you order, he promised you peace, and all he demanded in return was your silent, obedient consent. Last night I sought to end that silence. Last night I destroyed the Old Bailey, to remind this country of what it has forgotten. More than four hundred years ago a great citizen wished to embed the fifth of November forever in our memory. His hope was to remind the world that fairness, justice, and freedom are more than words, they are perspectives. So if you’ve seen nothing, if the crimes of this government remain unknown to you then I would suggest you allow the fifth of November to pass unmarked. But if you see what I see, if you feel as I feel, and if you would seek as I seek, then I ask you to stand beside me one year from tonight, outside the gates of Parliament, and together we shall give them a fifth of November that shall never, ever be forgot.

“Swami – Bongkar” Karena lagu ini sangat cocok untuk anthem turun ke jalan.

Andaikan kita punya mental seperti tokoh V dan berhasil membuatnya menjamur seperti ini

A massive attack

maka Quote terbaik dalam film ini (versi saya) tidak hanya sekedar menjadi igauan belaka.

V: People should not be afraid of their governments. Governments should be afraid of their people.

Ini link yang menyajikan quote-quote menarik dalam film ini, silahkan kunjungi (bila berkenan) http://www.imdb.com/title/tt0434409/quotes

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

5 November 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized