Joko Widodo: Bukan cerminan pemimpin melodramatis

Posted on May 4, 2012

1


Salah satu ikon kota solo ini bukanlah sosok yang mengumbar citra artificial seperti pemimpin di Indonesia pada umumnya, ia bergerak berdasarkan sebuah tujuan; kesejahteraan rakyat. Meski perawakannya terkesan meragukan, tapi keyakinan akan utopia dibangun dari pengalaman masa kecil dan tema kritik sosial khas musik rock yang  menemaninya sejak usia belasan tahun.

Text: Agung Rahmadsyah

Photos: Herka Yanis Pangaribowo

Pada masa bakti 2005-2015, bersama wakilnya F.X. Hadi Rudyatmo, Joko Widodo melenggang dengan perolehan suara lebih dari 90%. Hal ini dikarenakan langkah yang dilakukannya terbilang  progresif; ia mampu merelokasi pedagang pasar hampir tanpa gejolak, merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka dengan masyarakat. Kali ini POPULAR menemuinya di rumah dinasnya di kawasan Loji Gandrung dan berbincang tentang apa yang ada di benak pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961

Image apa yang ingin diciptakan oleh solo? Apakah sesuai tag line nya “Spirit of Java”?

Image yang ingin diciptakan oleh Solo adalah kota karnaval dan seni pertunjukan. Karena kita di sini (Solo –red) punya potensi seni pertunujkan. Di sini kan ada ISI (Institut Seni Indonesia), belum lagi seni pertunjukan di kampung sampai di keraton yang beragam. Kalaupun toh kota ini dijuluki kota karnaval dan pertunjukan, landasan kami masih tetap kepada kebudayaan lokal.

Jadi itu latar belakang tag line “Spirit of Java”?

Ya, karena kami sadar kalau potensi di Solo itu besar. Cuma manajemen produknya belum digarap secara professional, misalnya cara pengemasan, pembangunan brand, pembangunan positioning dan diferensiasinya. Intinya sama seperti memperlakukan sebuah produk, semuanya harus dibangun. Kalau gak, ya akan seperti dulu.

Yang dulu itu seperti apa?

Ya kalau dulu itu setiap tahun adanya cuma pawai pembangunan. Namanya juga itu terus, gak ada temanya. Kalau sekarang kan setiap event yang diselenggarakan pasti ada temanya, setiap tahun ganti tema, kemudian produknya juga diperhatikan. Dulu waktu saya pertama kali jadi Walikota, di Solo hanya ada 6 event pertahun sekarang sudah ada 48 dan acara itu dibuatkan calendar event yang versi cetak dan digital.

Jadi intinya ke masalah pengelolaan?

Iya betul, manajemennya harus baik. Misalnya pertunjukan gamelan, kalau monoton kan pasti sangat membosankan gak akan ada yang lihat. Nah, dari sana kita mengelola manajemennya mulai dari panggung, lighting dan segala aspek yang mendukung pertunjukan tersebut sehingga menjadi baik. Kotapun juga begitu, sebagai sebuah produk kota harus dikelola dengan baik.

Pemikiran seperti itu didapat dari mana?

Begini, saya kan 23 tahun berada di ekspor produk-produk kayu. Jadi ketika saya ke luar negeri dan melihat kondisi disana, khususnya kebudayaan, kemudian saya sadar bahwa Indonesia punya potensi untuk seni pertunjukan tapi kembali kemasalah manajemen itu tadi. Tidak ada perhatian kesana, atau mungkin ada perhatian tapi usahanya masih sangat kurang. Kalau kita lihat The Rio Carnival, kan hanya seperti itu saja. Kenapa kita gak bisa? Jujur saja, itu yang membuat saya tergelitik untuk membangun di Indonesia.

Seperti apa sosok Jokowi ketika kecil sampai remaja?

Saya waktu kecil itu nglidik. Nglidik itu gak bisa diam karena penasaran, motivasi utamanya sih bermain (tertawa). Jadi saya itu lahir di bantaran sungai kali anyar, saya diarea itu sampai usai SD. Dari sana saya banyak belajar tentang pengalaman hidup, tentang susahnya jadi orang kecil, orang miskin itu seperti apa.

Masuk usia remaja dan fase kuliah, seperti apa bentuk kenakalan Anda?

Karena saya hidup prihatin sejak kecil, saya memutuskan untuk tidak nakal. Karena itu jelas buang-buang waktu. Saat masuk kuliah, kemampuan ekonomi orangtua sudah tergolong minus. Karena itu saya memacu diri agar cepat lulus. Paling cuma rambut gondrong saja, biasalah kalau itu.

Rambut gondrong dan musik rock? Bagaimana perkenalan Anda dengan musik itu?

Perkenalan dengan musik rock dimulai masa SMP. Kalau saya pulang bersama teman-teman lewat depan Manahan, didekat sana Terenchem berlatih. Jadi saya dan teman-teman selalu menyempatkan lihat mereka latihan seusai pulang Sekolah. Terenchem itu band extreme rock pertama di Solo.

Jadi pertama kali mendengar malah band Indonesia?

Oh jelas, dari sana akhirnya saya mulai berkenalan dengan musik-musik seperti Led Zeppelin, Sepultura, Napalm Death, Lamb of God, Deep Purple, Metallica saat masa kuliah. Tapi saya bukan anak band, cuma senang mendengarkan dan mengoleksi kaset.

Apa yang membuat Anda tertarik dengan musik itu?

Bagi saya musik rock itu semangat, kedua mendobrak dan yang ketiga liriknya berisi kritik yang pedas, asal melihatnya dengan benar. Jadi saya suka musik rock karena disana ada pesan-pesan yang memberikan semangat untuk mendobrak. Coba bayangin kalau saya senengnya musik mellow? (Tertawa)

“Saya suka musik rock karena disana ada pesan-pesan yang memberikan semangat untuk mendobrak”

Anda menanggapi persoalan kesejahteraan khususnya dari segi pendidikan dan kesehatan dengan memberikan kartu serupa ATM kepada masyarakat kota Solo, terinspirasi dari mana tindakan atau sistem seperti itu?

Jadi waktu dulu saya pertama menjadi walikota, setiap hari didatangi 30-40 warga yang mengeluh soal keluarga atau saudaranya yang sakit dan tidak bisa melanjutkan pendidikan karena persoalan biaya. Setiap hari itu datang ke kantor, siapa yang gak terenyuh? Kalau misalnya setiap hari dihadapkan persoalan yang serupa, saya gak kerja dong. Akhirnya kami ciptakan sistem seperti itu, untuk soal pendidikan ada kartu Silver, Gold dan Platinum. Begitu juga dengan kesehatan. Sistem itu muncul dari permasalahan yang saya temui di lapangan.

Apa keuntungannya membuat sistem seperti itu?

Buat saya, sistem seperti ini manajemen & kontrolingnya mudah. Karena berlandaskan nama dan alamat si pemilik, dan ini yang pegang itu rakyat jadi gak bisa diselewengkan. Saya bisa kontrol langsung ke titik yang tidak bisa diprediksi, tapi kalau budget itu sangat mudah diselewengkan. Karena kalau budget itu hanya dianggarkan, tapi keseringan sistemnya gak dibangun. Jadi sangat mudah diselewengkan.

Kendalanya menerapkan sistem itu ketika pertama kali?

Waktu saya masuk, tunjangan untuk kesehatan itu hanya 1.4 Miliar Rupiah pertahun dan itu habis dalam waktu 2 bulan, untuk menyelesaikan masalah-masalah orang yang datang ke kantor. Akhirnya setelah sistem ini dibuat, anggaran untuk kesehatan bisa sampai 19 Milliar Rupiah pertahun. Jadi yang paling penting itu, dibangun dahulu sistemnya baru dicarikan dananya ke investor. Kalau ada yang bilang tidak mungkin, buktinya kok saya bisa?

Jadi menerapkan sistem ini benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi?

Iya, benar! Saya punya pengawalaman ketika saya ke Dubai Sembilan tahun lalu, waktu itu saya datang kesana untuk urusan usaha. Dan disana perizinan itu sangat cepat, hanya 1 jam. Terserah mau percaya atau tidak. Dari sana saya cari tahu bagaimana sistemnya dan siapa yang membuat sistem itu? Rupanya kantor itu membayar orang Jerman untuk menyiapkan sistemnya. Sebenarnya saya ingin membuat secepat itu, tapi nanti bisa shock semua (Tertawa)

Tidak bisa dibuat secepat itu apa karena faktor SDM yang belum memadai?

Oh, jangan salah. PNS kita itu pendidikannya sudah mulai akrab dengan titel Master, artinya mereka itu orang yang berilmu semua. Tapi ini ke persolan kepemimpinan dan manajemen. Tantangannya adalah, apakah si pemimpin itu bisa mengarahkan mereka dengan sebuah sistem yang baik. Kalau bisa, maka dipastikan akan berkembang, tapi kalau gak bisa ya gak heran kalau jalan ditempat atau bahkan mundur.

Sepertinya Anda memanfaatkan posisi sebagai walikota?

(Tertawa) Betul! Sekarang saya benar-benar memanfaatkan posisi sebagai Walikota, memanfaatkan disini dalam konteks menuju kearah yang lebih baik. Contohnya saya sekarang menarget 3000 Surat Izin Usaha Perusahaan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) harus dilempar ke usaha kecil dan usaha mikro dan itu gratis. Jadi sekarang yang aktif kantornya. Kalau persoalan izin usaha-usaha kecil saya delegasikan.

Selain aspek yang berhubungan dengan masyarakat tadi, apakah anda juga mengontrol aspek yang lain juga?

Iya, saya mengatur sendiri izin mendirikan mall, hiper market, supermarket, mini market. Dari 15 izin yang masuk untuk mendirikan mall dan saya hanya beri 1, hiper market ada 8 izin hanya saya beri 1, mini market ada 180 saya beri izin 12.

Alasannya?

Karena mereka (mall, hiper market, super market, mini market) tidak berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Solo. Asal tau saja, pasar daerah itu kontribusinya hampir tiga kali lipat, dari 7.8 Miliar rupiah pertahun sekarang menjadi 19,2 Miliar rupiah pertahun. Hotel itu hanya 10,5 Miliar Rupiah. Mall itu tidak ada kontribusi, cuma pertamanya aja. Begitu kok diurus? (Tertawa)

Pertimbangan apa yang membuat Anda harus mengontrol sendiri izin usaha seperti mall dan hiper market?

Pertama karena tata ruang dan yang kedua kompetisi. Karena yang namanya pasar tradisional itu pemiliknya bisa ratusan bahkan ribuan orang, tapi kalau mall pemiliknya hanya satu. Ini juga menyangkut masalah distribusi aset. Jangan sampai kepemilikan hanya ada disatu orang atau golongan, negara juga begitu.

“Jangan sampai kepemilikan hanya ada disatu orang atau golongan, negara juga begitu”

Jadi Ini kepersoalan ekonomi rakyat?

Iya. Sekarang coba dipikir, kalau rakyat ekonominya sudah bergerak secara mandiri, daerah itu pasti dinamis. Terus tujuannya memersulit itu apa? Cuma menandatangani kertas saja kok ruwet? Jadi pemikiran ini dilandaskan karena pengalaman saya yang mengalamai sendiri keruwetan itu.

Setelah anda menjadi Walikota apakah itu membuat ruang gerak anda di ranah publik menjadi terbatasi?

Gak juga. Saya masih suka nonton wayang, makan di warungnya PKL, belanja ke pasar. Dan saya gak pernah pakai pengawalan atau sampai diikuti banyak mobil, pokoknya seperti orang lain lah. Kalau lampu merah ya berhenti, kalau macet ya kena macet. Saya gak mau kebiasaan pejabat yang gak bener itu saya ikuti.

 “Kalau lampu merah ya berhenti, kalau macet ya kena macet. Saya gak mau kebiasaan pejabat yang gak bener itu saya ikuti.”

——-

Ini materi mentah dari kerjaan gue, sementah-mentahnya. Belum kena edit sama sang editor. Dan ini kerjaan gue terakhir di kantor ini 🙂

 
Dan saya mengucapkan terimakasih khusus kepada:

  • Tomi Hernawan: Seorang Metalhead (heart) yang merangkap seorang produser radio cihuy kota Solo. Btw, dia sedang merampungkan sebuah proyek keren! Can’t wait, mas bro!
  • Herka Yanis Pangaribowo: Fotografer spesialis jurnalistik yang karyanya sudah sering melenggang di berbagai media massa dan juga kantor berita nasional.

“Mishka – Coastline Journey” lagu uye dari film uye! uyeee… 

——-

Agung Rahmadsyah

Jakarta

13 Februari 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized