Kelompok Bermain Arek Embuh

Posted on May 4, 2012

1


“Ulang tahunnya Militant yang besok 12 12 12, pas kiamat.” Seloroh Gilang ketika saya dan Tedja baru saja menghela nafas seusai menamatkan sepiring nasi goreng di Gang setan (nama sebuah daerah di Surabaya) pada tanggal 7 Desember 2011, beberapa jam setelah kami bertiga (Saya, Gilang dan Tedja) menyaksikan salah satu influence kami Mr.Big di Grand City, Surabaya. Atau sama dengan 5 hari menjelang ulang tahun Militant Express yang kelima.

Pada tulisan kali ini saya (Agung Rahmadsyah) ingin sedikit bercerita sedikit tentang Militant Express demi mengingat apa yang sudah kami lakukan selama 5 tahun ini, dan cerita ini akan saya sampaikan dengan semaksimal mungkin mengurangi tingkat subjektifitas saya selaku personal di dalam maupun luar band. Sebab saat ini saya menulis mewakili Militant Express, sebuah band yang (pada akhirnya) berisi  5 orang. Tapi kami sendiri lebih suka menyebutya sebagai kelompok bermain, ketimbang sebuah band. 

Sebenarnya cerita ini tidak terlalu menarik untuk disimak, sekali lagi kami jelaskan, kami membuatnya dengan motivasi untuk mengingat apa yang pernah kami lakukan. Begitu pula dengan segala bentuk karya kami, semua itu semacam artefak atau prasasti yang tidak didesain untuk dinikmati secara masal. Mungkin ini terdengar semacam onani yang hanya memuaskan satu pihak saja, tapi kalaupun ada pihak lain yang suka akan karya kami itu hanya semacam bonus bagi kami.

Menarik ke masa sekitar 5 tahun silam, sebelum kami berkumpul dan akhirnya terpisah lagi, nama Militant Express bukanlah nama yang pertama kali kami pakai untuk kelompok bermain ini. Nama pertamanya adalah Zyclon B, ide ini berasal dari saya. Karena pada waktu itu saya sedang gencar-gencarnya mencari tahu tentang pembantaian yahudi di Auschwitz, dan Zyklon B sendiri adalah sebuah pestisida yang konon digunakan untuk menyukseskan peristiwa holocaust tersebut.

Terdengar seram memang, tapi tujuan kami jelas bukan mengangkat sebuah teka-teki konspirasi yang sudah usang apalagi hanya sekadar terlihat semata. Alasan saya memilih nama itu adalah karena kami butuh nama band dan pada waktu itu hanya nama itu yang terlintas dikepala saya dan dengan segera diamini oleh keempat orang lainnya: Adrian Tedja, Gilang Andika Gupta, Yogi Sucandraw & Danial Sofyan.

Ya, pada waktu formasi kami adalah Gilang (Vocal), Dani (Gitar), Tedja (Gitar), Agung (Bass) & Yogi (drum). Dan seminggu setelah nama itu disepakati oleh kami berlima, pada tanggal 19 Desember 2006 kami mendapat panggung pertama di acara yang digagas oleh Program Studi Bahasa dan Sastra, Universitas Brawijaya (waktu itu masih belum menjadi fakultas). Dimulai darisinilah perjalanan kami dimulai.

Chaotisch Voorstadium 

Layaknya kegiatan band-band baru pada umumnya, latihan dan briefing adalah langkah utama yang kami lakukan. Mencari pertunjukan juga termasuk dalam daftar kegiatan kami. Modal awal kami adalah lagu dari The Brandals, The S.I.G.I.T, Jet, Slash’s Snakepit, Jimi Hendrix, bahkan Alter Bridge. Tampak absurd mungkin, tapi ya itulah kami. Terbentuk dari kepala dan influence yang berbeda, akhirnya kami memutuskan memainkan musik dari kingdom rock. Tanpa sibuk memikirkan genus apalagi spesiesnya.

Sebelum menuju langkah selanjutnya, kami ingin mengutarakan alasan kami membentuk Zyclon B. Pada waktu itu saya dan Gilang adalah teman satu fakultas dan juga satu kelas di Universitas Brawijaya, saya yang berasal dari Bekasi dan Gilang yang berasal dari Banyuwangi ternyata memiliki selera yang sama dalam beberapa hal, khususnya musik. Perbincangan untuk membentuk band akhirnya dimulai darisini, ketika kami semua merasa jenuh dengan band kami masing-masing.

Singkat cerita, akhirnya saya membawa Yogi seorang pemuda asala Sidoarjo yang bisa bermain drum dan Gilang membawa mahasiswa teknik asal Jember, Tedja. Sedangkan Dani merupakan sobat karib Gilang sejak SMA (yang aslinya adalah Bassist), diajak bergabung oleh kami untuk menemani Tedja didepartemen Gitar sembari ia mencari pelabuhan untuk permainannya yang cenderung jazzy. 

Dari nama Zyclon B ini, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba membuat lagu. Lagu yang pertama kami buat sampai saat ini tidak kami rekam, dengan alasan lagu tersebut mirip sekali dengan lagu milik vox. Padahal waktu itu kami baru mendengar vox pada kisaran tahun 2007, atau lebih kurang satu tahun setelah lagu itu kami ciptakan. Dan berhubung kami adalah band yang cukup tahu diri, sehingga lagu tersebut sengaja tidak kami lanjutkan chemistrynya. Bahkan sampai detik ini, tidak pernah kami ungkit-ungkit di studio. Mungkin kami sendiri sudah lupa bagaimana cara memainkannya, kecuali jika kami melihat stok dokumentasi yang kami miliki.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya 2 buah lagupun tercipta. Kedua lagu itu adalah ‘Motor Butut’ dan ‘Kick You Down’, dalam proses pengerjaannya Dani sudah menemukan tambatan hatinya pada sebuah band jazz yang pada akhirnya namanya cukup tenar di café-café kota Malang. Selamat kawan, kami turut senang! Kedua lagu tersebut direkam dengan formasi awal Zyclon B, tapi minus Dani. 

Setelah selesai kami merekam 2 buah materi tersebut, segera saja kami mencari nama untuk EP (Extended Play) ini. Singkat cerita, pada waktu itu saya sedang menunggu perkuliahan dimulai sembari membaca majalah tempo yang selalu dipajang ditempat fotocopy Ruang Kuliah Bersama, tepatnya membaca rubrik ‘Catatan Pinggir’ (atau biasa yang disingkat caping) Saya ingat pada waktu itu Goenawan Mohammad sedang membahas salah satu pujangga idola saya, Chairil Anwar. Disana Chairil Anwar menuliskan (lebih kurang) seperti ini: dalam seni, “tenaga hidup” itu selalu muncul sebelum keindahan, tenaga itu berupa Chaotisch Voorstadium (Tahap pendahuluan yang kacau/galau) 

Berdasarkan artikel ini, saya kembali lemparkan ide dan alasan mengenai nama EP tersebut kepada Gilang dan Tedja. Entah seperti apa detail kesepakatannya, akhirnya Chaotish Voorstadium kami pilih sebagai nama EP kami. Tentunya dengan harapan sesuai dengan yang diungkapkan oleh Chairil Anwar didalam caping (yang saya sendiri lupa itu edisi apa).

Menuju Militant Express

Kami masih ingat betul, panggung pertama kami diluar kota adalah di Jember. Tepatnya di acara Inagurasi sebuah fakultas di Universitas Negeri Jember. Gilang dan Tedja sudah berangkat terlebih dahulu bersama Dipta (manajer). Sedangkan saya dan Dani menyusul menggunakan sepeda motor, Yogi datang paling akhir dengan menggunakan Bis Kota. Diacara tersebut kami mendapatkan bayaran pertama kami sebesar 50 ribu rupiah. 

Jelas saja jika diukur secara materi, nominal tersebut jauh dari apa yang kami keluarkan untuk sekadar dapat bermain sekitar 5 lagu di Jember. Tapi karena kami sudah lebih dulu terkontaminasi oleh Eka Annash (Vocalist The Brandals) pada sebuah kesempatan, maka motivasi untuk mencari uang seperti tidak pernah ada dalam kamus kami. Kata-kata Eka Annash yang menjadi pegangan kami adalah “Music is for soul, not for sale” 

Nama Zyclon B tidak berlangsung lama, mungkin hanya sekitar 1 ½ tahun, dan konflikpun mulai terjadi. Yogi yang pada waktu itu kami ketahui memiliki band lain, menjadi sebuah masalah bagi kami. Akhirnya kami memutuskan untuk menyelesaikan persoalan ini dan Yogi memilih untuk hengkang dan fokus di bandnnya. Posisi Yogi akhirnya diganti oleh Robby, seorang mahasiswa angkatan 2007 dari Sumbawa. Dan nama Militant Express, akan dimulai dari sini.

Kembali ke masalah nama, kami memepertimbangkan kembali nama Zyclon B karena factor MC yang sering salah eja. Dan itu membuat kami muak! Akhirnya kami memutuskan utnuk mengganti nama. Waktu itu masa liburan semester, salahsatu tugas kami adalah memikirkan nama. Dan kali ini saya mengusulkan nama Militant Express kepada Tedja dan Gilang, dan akhirnya disepakati. Tentunya setelah menimbang faktor spelling itu tadi.

Bicara soal filosofi nama, sebenarnya tidak ada yang makna yang teramat filosofis. Nama ini terbentuk ketika saya sedang berada disebuah perjalanan dengan kereta Matarmaja menuju Malang, saat itu kereta sedang berada di Semarang dan saya secara tidak sengaja melihat seorang penjual kopi mengenakan kaos PSIS bertuliskan “Militan SNEX” dan langsung saja saya simpan kata Militan itu kemudian saya sambungkan dengan Express. Langsung saja tanpa banyak basa-basi, ketika itu pula saya sms Gilang dengan melontarkan Militant Express sebagai usulan nama dari saya.

Setibanya saya di Malang, akhirnya kami bicarakan perihal nama tersebut dan kami putuskan bahwa nama Zyclon B diganti dengan nama Militant Express. 

Tapi sampai saat ini kami tidak setuju ketika kata ‘Express’ jika dianalogikan dengan kereta. Kata Express disini lebih mengarah kepada Expression (Ekspresi) maksudnya adalah kami (Militant Express) ingin membuat sesuatu dengan semangat bebas berekspresi dalam ranah musik tanpa memandang batas genre. Jika banyak yang mengeluhkan font kami yang condong ke era psychedelic, tapi musiknya jauh dari era tersebut. Sebenarnya itu salah satu tujuan kami, kami hanya ingin bersikap militan dalam berekspesi. 

Kembali Ke Lima Orang Personel

Rinciannya kami lupa, tapi itu adalah tahun 2008 dan menjelang sebuah ajang yang bernama L.A Lights Indiefest, akhirnya Robby resmi menjadi Drummer Militant Express yang menggantikan posisi Yogi. Darisini cerita kami mulai memasuki tahap baru. Beberapa lagu tercipta, kami mulai mencoba mengikuti beberapa ajang (entah itu festival mapun parade) yang diselenggarakan oleh beberapa pihak dan tentunya hal tersebut juga diikuti oleh beberapa kejadian lainnya. 

Diluar terciptanya 2 buah lagu bersama Robby, yaitu: ‘OD’ dan ‘Gotta Go’. Nama Militant Express juga sudah tidak terasa awam dibeberapa telinga kawan kami, karena kami memiliki beberapa pihak yang (entah dengan senang hati atau tidak)mendukung keberadaan kami di kota itu.  Meski kami semua bukan penduduk asli Malang, tapi kota ini sudah seperti rumah. 

Jujur saja sejak awal kami berdiri, kami sudah cukup pesimis untuk berkarir dikota ini tapi kami terlalu bodoh untuk membenci kota yang sudah mempertemukan kami. Maka langkah yang kami ambil adalah mencoba memperkenalkan musik kami kewilayah lain dengan label Malang sebagai asal muasal kami. Meskipun sampai saat ini kami tidak seberhasil band-band lainnya, tapi langkah itu kami ambil karena dikota inilah semuanya terjadi. Sebuah penghormatan? Bukan, ini lebih kepersoalan mewakili perasaan cinta kami terhadap kota ini saja.

Setelah Robby masuk, ada sebuah nama lagi yang masuk kedalam tubuh Militant Expres yaitu Andres Bonifacio pada posisi gitar. Ia lebih akrab disapa Rey. Ia adalah salah seorang gitaris asal Bekasi yang juga merupakan teman saya karena pernah bertemu disebuah organisasi, kemudian menjadi akrab dengan Gilang dan Tedja. Sehingga ia diajak bergabung dalam Militant Express karena Gilang melihat semangat yang sama dalam tubuh Rey. Setidaknya itulah alasan Gilang kepada saya ketika saya bertanya “Kenapa Rey lo ajak gabung di Militant?” Karena saya tahu bahwa Rey juga memiliki sebuah band yang bernama The Sensitive Guys, sebuah band tock yang berisi 3 manusia tampan.

Keputusan Gilang yang terkesan sepihak itu membuat saya sedikit merasa tersinggung, tapi itu bukan alasan utama saya (Agung Ramhadsyah) untuk hengkang dari Militant Express pada pertengahan tahun 2009. Keputusan saya hengkang pada waktu itu lebih kepada persoalan passion. Waktu itu saya sedang memiliki hasrat menggebu terhadap dunia jurnalisme, sehingga saya menyibukkan diri untuk mengikuti beberapa seminar jurnalistik (baik itu fotografi maupun penulisan) sehingga saya merasa saya harus fokus terhadap jurnalisme dan mengesampingkan musik untuk beberapa waktu. 

Karena saya tidak ingin mengganggu laju Militant Express yang waktu itu sedang cukup hingar, maka saya putuskan untuk keluar dari kelompok yang saya turut bentuk ini. Cukup sedih memang, tapi untungnya kami bukan tipe orang melodramatis, sehingga kami masih didominasi pikiran yang realistis. Kami tetap berada dijalur kita masing-masing. Tapi saya pribadi tetap mengikuti performa Militant Express dari perspektif penikmat dan pengamat, bukan pelaku.

Pada tahun 2009-2010, Militant Express seperti sedang berada diatas angin. Jadwal manggung cukup padat, bahkan sampai membuat kelompok ini merasakan kejenuhan karena rutinitas panggung. Berbekal 4 orang personel asli dan 1 orang additional pada posisi bass (yang lebih sering diisi oleh Firdaus Ramadhan) Militant Express berada pada posisi kejayaan. Jangan bandingkan kejayaan ala band-band besar, tentu kejayaan disini adalah versi kami sendiri. Karena disanalah kami benar-benar merasa sukses mendekati mimpi kami didunia musik.

Sama seperti Dipta, Fadhila Imaniar pada waktu itu diganjar menjadi manager Militant Express karena kami ingin mengikuti sebuah ajang yang sama, L.A Lights indiefest. Mungkin istilah kurang tepatnya adalah manager by accident. 

Dalam pengelolaannya duet Daus dan Dhila memang terlihat lebih kredibel ketimbang Dipta yang “Colo” (entah apa bahasa indonesianya) tapi rupanya hal ini juga membuat personel Militant Express dibuat manja dengan segala kesigapan duo tersebut. Hal ini saya dapati ketika pada awal tahun 2010, saya berada di Malang untuk melihat Militant Express bermain sebuah ajang pencarian bakat. 

Sekali lagi, berdasarkan pengakuan Gilang, Rey dan Tedja ditambah pengamatan saya pribadi, Militant Express benar-benar menikmati karirnya sebagai band pada periode 2009-2010. Cukup banyak cerita yang kelak bisa mereka bagikan kepada kawan maupun kerabat mereka nantinya, dan itu menjadi bekal yang bernama pengalaman. 

Selaku orang yang pernah ikut mendirikan band ini, disatu pihak saya senang atas apa yang sudah dicapai oleh Militant Express. Tapi saya merasa lebih prihatin atas progress Militant Express dari segi karya (yang hanya membuat 1 lagu yang berjudul ‘Analogi Suasana’ dalam kurun waktu 1 tahun) 

Maka pada pertengahan tahun 2010 saya bertanya kepada Gilang ‘Apakah saya boleh bergabung dalam kelompok ini? Tapi sebelumnya apa visi kelompok ini masih sama, ketika kami membentuknya pada 12 desember 2006?” dan jawaban yang saya terima ternyata masih tetap sama. Dan dengan segera saya putuskan untuk kembali bergabung dan panggung pertama kami adalah koalisi nada 3. Sebuah acara yang digagas oleh Eko Marjani penggiat music yang berasal dari kota Sampit. Formasi pada waktu itu Gilang (Vocal), Tedja (Gitar), Rey (Gitar), Robby (Drum) dan Agung (Bass).

Sebelum saya bergabung, sebenarnya Robby juga sudah menyatakan pengunduran diri pada tahun 2010. Begitu juga dengan Dhila dan Daus yang tidak bersedia membantu, karena ada kesibukan lain yang lebih diprioritaskan. Tapi yasudahlah itu toh hak mereka. Lagipula mereka sudah sangat banyak membantu dan kami hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang mereka berikan kepada Militant Express selama ini. 

Setelah Robby menyatakan pengunduran dirinya dan kami berjalan tanpa drummer, akhirnya kami benar-benar serius untuk mencari drummer. Kali ini bukan untuk additional. Sampai akhirnya setelah beberapa kali mencoba drummer diantaranya adalah Eko, Jono dan Bagus. Akhirnya nama Kribil yang benar-benar cocok bagi kami. Kribil bergabung pada akhir tahun 2010.

Mengenai cerita bergabungnya Kribil kedalam Militant Express sebenarnya cukup singkat. Waktu kami semua bertugas untuk mencari drummer, dan saya bercerita kepada Darmo bahwa Militant Express membutuhkan drummer yang bisa bermain Reggae. Dan darmo malah balik bertanya “Gue ada sih, temen kos gue. Dia anak Jakarta, bisa main Reggae. Tapi emangnya Militant mau jadi reggae?”  mendapati pertanyaan seperti itu saya hanya bisa mengiyakan karena saya penasaran atas rekomendasi Darmo barusan.

Akhirnya setelah kami mencoba Kribil untuk berlatih bersama Militant Express selama 3-4 kali, kami memutuskan untuk menjadikan Kribil sebagai Drummer Militant Express. Sebenarnya alasan kenapa waktu itu kami mencari drummer yang bias bermain reggae adalah biasanya drummer yang bisa bermain reggae (dan tidak kaku) adalah orang yang sudah pernah mencoba beragam genre. Setidaknya blues, rock dan jazz, meskipun tidak sampai khatam. Dan orang yang tidak terpatok pada sebuah genre itulah yang kami cari, selain itu ia juga memiliki referensi yang luas dan terbuka terhadap hal yang baru. Ini kriteria utama kami pada saat kami mencari drummer pada waktu itu.

Setelah kami kembali pada formasi berlima, langkah awal yang ada dibenak kami adalah kami harus membuat lagu boleh mencari gigs. Sehingga pada akhir tahun 2010 ada beberapa teman yang bertanya “Emang Militant sengaja gak manggung dulu ya? Latian mulu kayanya?” sebenarnya bukan. Sekarang musisi mana yang yang tidak mau manggung? Tapi ini adalah keputusan kami, kami tidak akan manggung jika belum ada karya baru. Hukuman mungkin lebih tepatnya.

Kami Memutuskan Vakum dan Berpisah

Memasuki tahun 2011, Saya, Gilang dan Rey memasuki fase krusial pada masa kuliah. Fase itu bernama skripsi. Tapi disela-sela itu kami juga masih menyempatkan untuk berkumpul, entah itu hearing, latihan maupun sekadar bercanda tanpa arah. Atau mungkin melakukan perjalanan yang diawali tanpa rencana dan berakhir tanpa bencana. Apapun itu yang penting kami harus benar-benar menikmatinya. Dan rupanya, formula tersebut terbukti dengan beberapa lagu yang berhasil kami ciptakan, meskipun materi tersebut belum sempurna aransemennya apalagi merealisasikan untuk merekamnya.

Lagu-lagu yang kami ciptakan pada formasi ini adalah: ‘Lucid Dream (Instrumental)’, ‘Stay High’, ‘Snowy’, sebuah lagu yang banyak terinspirasi permainan rock padat ala Them Crooked Vultures dan Incubus, sebuah lagu yang didesain sebagai lagu stoner rock, dan sebuah lagu instrumental yang terkesan mellow karena permainan Tedja yang terasa seperti korban perkosaan setan blues. Oya, ada sebuah lagu lagi ciptaan Rey dan Gilang yang hanya direkam dengan gitar akustik dan harmonica. Lagu tersebut berjudul ‘Little Angel’ dan bisa didengar di Myspace.

Dua diantara beberapa lagu tersebut sudah sempat kami perkenalkan kebeberapa teman dan komentar yang didapat juga beragam, lagu itu adalah ‘Snowy’ dan ‘Stay High’ Namun, apapun komentar yang kami dapat, kami akan tetap menghargainnya. Sebab bagi kami, ketika kami sudah berani memperkenalkan karya keranah publik, maka kami sudah harus siap dengan segala konsekuensinya.

Setelah mengakhiri tahun 2010 dan memulai langkah di tahun 2011, akhirnya perbincangan kami tiba dikuartal pertama tahun 2011, dimana Saya, Gilang dan Rey semakin dekat dengan sebuah kata Wisuda. Sehingga perbincangan dalam tubuh Miltant Express kali itu lebih mengarah kepada keberlangsungan kelompok bermain ini pada masa depannya. 

Dari beberapa perbincangan, akhirnya kami memutuskan untuk vakum dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Kami tidak pernah menyatakan bahwa Militant Express bubar. Paling hanya ketika kami merasa sumpek ketika ditanya “Militant gimana nih kelanjutannya?” maka kami akan jawab sekenanya. Antara lain adalah “Buyar!” sebab itu jawaban paling ampuh untuk mengentikan pertanyaan yang dipastikan akan mengembang.

Kami menyatakan untuk vakum karena sebuah alasan, kami belum merekam beberapa materi yang sudah kami ciptakan. Tapi kami juga tidak bisa berjanji bahwa materi itu akan selesai kapan, atau bahkan tidak akan pernah selesai? Kami benar-benar tidak tahu. Kami menganggap bahwa menjaga semangat itu lebih penting ketimbang realitas yang dipaksakan. Seperti ketika kami menjaga semangat terbentuknya Zyclon B yang yang tanggal lahirnya kami deklarasikan sebagai tanggal Lahir Militant Express.

Momen terakhir kami bermain bersama adalah ketika Militant Express didaulat oleh Produa FM Malang untuk bermain selama 2 jam di acara musik-musik indie. Disana kami hadir dengan formasi lengkap; Gilang (Vocal), Tedja (Gitar), Rey (Gitar), Agung (Bass) dan Kribil (Drum). Setelah itu kami merencanakan untuk melakukan farewell gig di Bali, tapi terpaksa tanpa kehadiran Rey karena kendala keluarga. 

Pada tanggal 06 Desember 2011, tepat sehari sebelum kami menyaksikan Mr.Big dengan formasi awal. Kami sempat berada dalam sebuah studio dikawasan Universitas Brawijaya untuk berlatih selama 1 jam. Dan sesi kali ini juga tanpa kehadiran Rey. Tapi kehadiran Kholis adalah kebanggan tersendiri bagi kami. Karena secara tidak langsung, Kholis merupakan satu-satunya orang diluar tubuh Militant Express yang mengikuti perkembangan kami. Baik sengaja maupun tidak disengaja.

Sekali lagi ucapan Gilang pada malam tanggal 7 Desember 2011 itu menjadi trigger untuk berbuat sesuatu di tahun 2012, tanggal 12 Desember. Karena itu bertepatan dengan ulang tahun Miltant Express Yang keenam. Kalau toh nyatanya tidak terjadi apa-apa, anggap saja kami meleset. Atau bahasa yang sering kami ucapkan adalah “Luput!” 

Yang namanya kelompok bermain itu esensinya adalah bergembira, bukan? Dan itulah alasannya kenapa kami memilih memosisikan diri sebagai kelompok bermain bukan sebagai band. Sebab jika hanya mengerucutkan diri sebagai band, maka sumber kegembiraan kami akan jadi sempit. Toh kami juga sering melakukan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan bermusik secara bersama-sama, dan pastinya kami senang ketika melakukannya entah hasilnya akan seperti apa. 

Dan selama kami masih bisa mengotrol dan menikmati permainan tersebut, maka kami akan tetap bermain. Meski nyatanya saat ini kami memang terpisah karena faktor realita, namun setidaknya kami sudah membuat sedikit cerita tentang apa itu Militant Express. Dan secara sadar, kami nyatakan bahwa kami sungguh senang. Senang bisa membuat cerita bersama kalian dan menjadi bagian dari cerita kalian.

Terima kasih.

Berikut adalah beberapa dokumentasi dalam bentuk foto yang mewakili era dan kegiatan kami selama (lebih kurang) 5 tahun.

Zyclon B (formasi pertama)

Zyclon B (formasi kedua)

Militant Express (formasi pertama)

Militant Expres (formasi kedua)

Militant Express (formasi ketiga)

Militant Express (formasi keempat)

Militant Express (formasi terakhir)

Express World!

Militant Express

Advertisements
Posted in: Uncategorized