Kepakkan angan

Posted on May 4, 2012

0


Begitu hujan selesai,gw langsung pindah duduk ke teras sambil meletakan beberapa item di meja depan. Trus masuk lagi ke kamar buat ngambil gitar yang gw pinjem dari eggy (habisnya gak lo pake-pake sih, gw pinjem lama nih! Daripada mubazir di kamar lo? Haha). Gw duduk di teras depan rumah dengan niat membaca sebuah artikel dari majalah produk paman sam yang sudah lama menjadi tolok ukur para insan musik di berbagai negara, sehingga proses akulturasi ini sudah tidak bisa terelakan lagi. (Jujur salah satu satu obsesi gw adalah bisa terlibat dalam team dari majalah itu). Majalah ini gw beli tanggal 9 maret 2010, bertepatan di hari itu ada sebuah show bulanan di kantor majalah ini. Dengan menyerahkan uang 35rb di depan gerbang, gw dapet majalah edisi bulan ini (maret) plus pertanyaan yang sifatnya sedikit menodong dari security kantor majalah ini yang langsung bertanya “Bintang apa Heineken?” responsif gw jawab “Produk lokal aja, Bos.” Dan masuklah gw kesana sendirian ditemani majalah ini, kamera dan voucher untuk menukarkan sebotol minuman yang harganya sudah termasuk dalam paket hemat ini. Gak lama terlalu lama bengong disana, ternyata ada teman-teman yang gw kenal pas di Malang. Dan malam itu cukup terhibur oleh penampilan dari Souleh & Soulehah,terlepas dari lagu-lagu yang mereka bawakan yang sebagian karya the doors.

Alasan gw datang ke tempat ini,soalnya gw emang butuh tempat penjernihan pikiran. Setelah 3 hari berkutat sama ribuan orang yang mengklaim dirinya puas menyaksikan pesta jazz tahunan kebanggaan negeri ini, dimana dalam schedulenya terlihat beberapa nama yang tenarnya bukan gara-gara unsur “1-2-4 or 1-4-5” (gw pikir anak musik cukup paham arti angka-angka ini). Yah, whatever! Gw bener-bener gak ada maksud buat membuat sekat di musik. Tapi untuk sebuah pengklaiman genre sebagai sebuah judul acara, apa pantes nama-nama yang beda genre dari judul acara disajikan? Kalo dijawab pantas, mengingat nama besar mereka & fans-fans mereka yang siap meluncurkan uang berapa saja untuk sekedar berteriak histeris ketika sang artis naik panggung. Apa bedanya sama komersil? Lo pikir aja sendiri,capek gw denger alas an kalian. Saran gw,mending ganti tuh judul acara! Bikin judul lain yang gak usah mengklaim sebuah genre dalam music,kalo masih ada beberapa unsur pengisi acara yang basicly bukan dari genre yang digembor-gemborkan. gw rasa orang indonesia gak miskin ide kalo cuma buat memberi sebuah nama.

Fine,balik maju lagi. Setelah gw sedikit mereview otak gw ke beberapak hari lalu. Dan untuk hari ini. Gw sangat terhibur sama sebuah lagu karya Jimi Hendix. The Wind Cries Mary. Lagu ini dirilis pada tahun 1967. Tahun-tahun spektakuler bagi seorang musisi, mengingat nama-nama legendaries berkutat di tahun yang sama. Lagu ini terlalu sering dinyanyikan ulang oleh berbagai musisi seperti, John Mayer, Jamie Cullum, Richie Sambora, dan lain-lain (khususnya para gitaris-gitaris kenamaan). Tapi, gw selalu menyukai versi asli dari sebuah lagu. Sehebat apapun aransemen ulang dari para pengagumnya,gw tidak bermaksud mendiskreditkan keahlian mereka dalam merombak sebuah lagu. Kenapa gw suka versi asli? Karena unsur utama dari lagu adalah suara,bunyi yang gak cuma bisa didengar dengan telinga. Kalo lo mau,hati pun bisa turut merasa apa arti dibalik lagu ini. Dan proses penciptaan inilah yang selalu membuat gw takjub tiap kali mendengarkan karya asli sebuah hasil seni. Tidak sekedar mencampur birama,tempo,part-part lagu,atau unsur-unsur lain dari sebuah lagu. Tapi perasaan.

Setelah merelakan selembar kertas yang berasal dari kematian pohon,untuk gw cemari dengan tinta berpola. Lirik & chord “The Wind Cries Mary” akhirnya tampak dalam lembaran putih itu. Dan ketika gw lagi asik menikmati lagu itu dari mp3 player diiringi petikan gitar dari jari & mulut yang fals ini. Tiba-tiba muncul 2 buah kupu-kupu yang terbang di halaman,tepat di atas bunga-bunga yang dipelihara oleh ibu. Sekilas gw nikmati kupu-kupu itu bermain dicerahnya cuaca selepas hujan deras yang datang dan bermukim dalam hitungan jam di hari ini,hari besar umat hindu. Gak lama gw melihat mereka beterbangan,tiba-tiba gw pengen menyalurkan hobi gw membekukan waktu. Dan bergegas gw masuk lagi ke kamar, buat ngambil kamera dan mengeksekusi makhluk itu bentuk 2 dimensi. Sayangnya gw gak dapet moment pas kupu-kupu itu lagi berdua,cuma dapet satu. Itu juga biasa banget. Gak ada yang special dari foto-foto gw tadi. Tapi ntar gw upload deh,biar cerita ini bukan sekedar “Hoax” (menurut kata kaskuser. Haha)

Kupu-kupu itupun akhirnya hilang,melanjutkan perjanan dengan sayapnya. Dan gw? Masih diam di teras sambil memandang iri kepada dua makhluk yang memiliki sayap,mereka bisa bebas terbang sekehendak insting mereka. Satu hal menarik yang mengingatkan gw pada sebuah film ‘The Motorcycle Diary’, kata-kata terkahir dalam film itu “Let The World Change You and You Can Change The World.” Dan suatu saat nanti,gw pasti akan menyusul makluk itu terbang melalui cara gw. Melakukan perjalanan bersama akal dan hati,sebuah perjalanan yang membuat gw bisa menjadi seorang VRIJE DENKER.

Dari pikiran,dirubah malam harinya kedalam bentuk teks.
Dan saya masih terhambat di kota yang sama.
 

kupu-kupunya. (bneran caur kan fotonya?)
 
 
tanaman lain dekat tkp. (ada bunga ungu kecil. kliatan kan? haha)
 
 
kertas (lirik & chord ‘The Wind Cries Mary’), mp3 player & korek.

——————
Agung Rahmadsyah
Bekasi
17 Maret 2010
Advertisements
Posted in: Uncategorized