Ketika itu menjadi masif?

Posted on May 4, 2012

0


Bukan kali pertama bahwa kegiatan selingkuh itu menyenangkan buat saya! Ini sudah yang kesekian kalinya saya menggiring otak ini untuk jauh-jauh meninggalkan hubungan utama saya saat ini (skripsi) guna menyalurkan hasrat bercinta dengan yang lain, karena sebuah alasan: “saya sangat menikmati elegi cinta yang terealisai dengan langkah berargumen dalam perspektif saya dengan segala kemungkinan.” Dan saya tipe orang yang tidak focus dalam berbuat sesuatu, apalagi sesuatu yang saya perbuat itu sangat tidak mengena dalam faktor egoisitas. Saya akan bersenang-senang sendiri, persetan dengan orang lain! Kalau kalian mau bergabung, silahkan bergabung tidak usah bermalu-malu. Dan itu sebuah sifat dasar yang saya miliki dan belum berniat saya reparasi.

Hari ini tidak ada cerita yang patut dilontarkan, hanya sebuah kunjungan dari teman saya di malam hari. Yang, saya sendiripun kaget, karena orang itu sudah mengepung saya ketika saya selesai memberikan konfirmasi atas agresinya .

“Baru bangun lo?” mendadak suara itu keluar dari teras

Sembari men-sinkronkan realitas dengan kondisi lelap di ruang tamu, saya menyahut:  “Lah, lo udah disini aja? Barusan gue bales sms lo. Sorry tadi gue tidur.”

 

Waktu itu bertepatan dengan adzan isya dan saya telah terpejam selama 3,5 jam. Cukup puas untuk mengembalikan energi yang terkuras selama 2 jam pada siang harinya di sebuah tempat yang sangat menghabiskan keringat.

Kemudian kami berbincang soal yang sama, mungkin melanjutkan perkembangan bahan perbincangan kami seminggu yang lalu (tidak perlu dibahas apa yang jadi bahan perbincangan, karena saya enggan bicara ke orang-orang yang apatis menyikapi hal ini) Sampai akhirnya dia pulang dan saya tanpa sengaja memperhatikan televise. Ada sebuah Grand final sebuah acara yang konsepnya mengadopsi dari luar negeri: INDONESIA MENCARI BAKAT. Acara televise yang didesain sebagai ajang pencarian bakat ini memang bukan sesuatu yang baru, karena pelopornya sudah sukses lebih dulu beberapa tahun. Sampai akhirnya sebuah kondisi terpaparkan bahwa acara dan stasiun televisi itu …… (silahkan berpendapat entah kalian mau menyebutnya apa) Mau tahu apa yang saya coba bicarakan? AFI di Indosiar.  Kemana acara itu sekarang? Sebelum jawab pertanyaan saya barusan, silahkan jawab pertanyaan saya berikut ini: Apa kabarnya Indosiar? Silahkan jawab dengan persepsi anda. Tapi saya akan memberikan satu clue tentang sebuah kondisi: “Areal pemakaman” Kondisi apakah itu? Dan jujur saya berpesta diatasnya!

Mungkin itu pukul 23.00 WIB, kurang atau lebihnya saya yakin tidak terlalu jauh dari angka yang diebutkan barusan maksimal berkisar 30 menit untuk perkiraannya. Dan ketika itu si pembawa acara, yang saya pribadi sangat enggan mencari info tentang dia karena saya sama sekali tidak peduli, memberikan sebuah data yang cukup digembar-gemborkan: 1.524.830 angka apa itu? Menurut data yang disebut MC itu, yang saya sendiri masih bertanya faktakah atau fiksi, deretan angka itu adalah “Jumlah sms yang masuk ke dari pemirsa yang tersebar di seluruh nusantara” kurang lebih kalimat inilah yang dibisikan melalui miliaran plasma yang tersebar di seluruh Indonesia. Mencoba meyakinkan bahwa acara itu adalah sebuah standarisasi baru dalam ajang serupa, ajang penghasil komoditi baru. Saya akan sebut mangsa baru dalam pertarungan industry yang tidak fair. Industry hiburan yang minim edukasi dan peran social, hanya mementingkan laju rupiah yang terinternalisasi.

Malam itu Klantink  berhadapan dengan Putri Ayu di grand final. Jujur saya pernah menykasikan acara ini beberapa bulan sebelumnya karena saya penasaran oleh music yang dibawakan klantink dan tentunya Titi Sjuman. Kesan pertama ketika menyimak acara itu sudah tercemar dengan hadirnya Rianti Cartwrigt, meskipun secara kasat mata dia sangat menyegarkan suasana. Tapi kalau diperhatikan, dia hanya bisa mengucapkan apa yang ada dibenaknya tanpa memperhatikan posisinya sebagai dewan juri sekaligus komentator. Sebuah statement tidak bermutu sering keluar dari mulutnya yang membuat kita teringat oleh seniman-seniman import adegan ranjang yang berkeliaran dengan rapih di lokasi hiburan malam Ibukota Indonesia. (Mungkin karena mempertimbangkan faktor demografis orang Indonesia yang sangat gemar bermimpi di alam imaji tanpa berusaha mewujudkannya di lokasi realita. Dipilihlah sosok seperti itu. Dan sialnya Rianti yang didapuk, padahal menurut saya Rianti terlihat cerdas dibidangnya, bukan sebagai dewan juri. Ini sebuah contoh nyata pelacuran profesi dan atau profesinya sebagai pelacur? Silahkan disikapi sendiri. Dan saya bukan sedang membicarakan tentang siapa itu Rianti, karena saya sama sekali tidak menaruh atensi kepadanya)

Klantink

Putri Ayu

Sekali lagi, ini bukan perkara Rianti yang dijadikan komoditi (karena ini sudah terlalu mustahil diperhatikan dari persektif yang berbeda) yang saya coba permasalahkan, tapi Klantink dan Putri Ayu. Mereka sama-sama seniman (dikerucutkan lagi: musisi) yang berbeda sumber, begitu pula dari segmentasi musiknya. Secara kasat mata ini persaingan antara pengamen dengan penyanyi seriosa. Sudah jelas kan? Dari perspektif saya, tujuan acara itu adalah mengeneralisasi segment itu untuk kepentingan massif. Okay, let’s straight to the point, menciptakan sebuah tren baru. Tren yang hanya sekedar tren tanpa ada upaya melihat proses pergerakannya, dan sayangnya bumi pertiwi ini disesaki oleh orang-orang yang berpikir seperti ini. Berpikir instan tanpa memperhatikan esensi. Dengan munculnya idola baru dari ajang pencarian bakat, saya berani menjamin, akan terbit pula ide-ide serupa untuk mengikuti tren. Hanya sekedar menilai pasar sebagai tolok ukur. Misalkan saja klantink yang menang, maka berbondong-bondong musisi akan menjelma seperti “klantink” kategori kw, bahkan tidak mustahil para musisi yang sudah mapan akan mengadopsi gaya “klantink” dalam permainannya. Singkat kata menjadi palsu untuk meraih pasar yang baru? Bagi saya itu ide buruk dan busuk! Dan saya selalu siap mengambil langkah untuk menuntaskan dari akarnya, dengan cara memenggal kepala orang yang berpikiran seperti itu agar ide mereka yang bersemayam dalam otak tidak menyebar ke kepala orang lain. Semoga saja saya berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran seperti itu. Did you said: “I’m in heaven” But we’ll serving hell into your life and your death, and then you can’t recall heaven in your mind. 

Meskipun niat baik program ini adalah memberi kesempatan bagi bakat-bakat yang kurang mendapat tempat, tapi setidaknya sistem sms itu yang perlu diperhatikan porsinya. Harapan saya adalah data yang menyentuh angka 1,5 juta itu fiktif dan pemenangnya dipilih berdasarkan kapabilitas yang berlandaskan bakat. Bukan hasil polling. Semoga saja, semoga.

——-

Saya tidak mengikuti perkembangan 2 finalis itu. Dan saya enggan berspekulasi yang akan terjadi nanti. Silahkan liat sendiri kelanjutannya di panggung sandiwara. Saya hanya ingin mengucapkan: “Selamat bersandiwara bagi kalian, para pemeluk sekte ajang pencarian bakat. Semoga kalian sanggup berakting dan cukup tangguh”

“The Panas Dalam – Partai Kucing” Cuma ingin menertawakan objek yang dijadikan objek sorotan sang emperor, Pidi Baiq.  Salam jari kelingking! Saya siap terbujur kaku untuk negara perserikatan ini. Hahaha.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

25 Oktober 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized