Kualitas sebuah konser musik bukan diukur dari kuantitas sampah yang ditinggalkan

Posted on May 4, 2012

0


Java Rockin’ Land

22 – 24 July 2011

Carnaval Beach Ancol, Jakarta

Meskipun pada minggu itu tensi konser di Jakarta sedang memuncak, tapi Java Festival Production tetaplah lambang yang terkokoh dalam penyelenggaraan sebuah festival. Salah satu agenda ritual tahunan yang sudah memasuki kali ketiganya ini tidak saja meninggalkan impresi tersendiri bagi para puluhan ribu penontonnya, tapi juga meninggalkan sampah yang disebabkan oleh kurangnya kepekaan para pengunjung akan hadirnya sebuah tempat sampah.

PADAHAL jika mau diperhatikan, jarak antar tempat sampah yang disediakan oleh pihak penyelenggara tidaklah terlalu jauh. Belum lagi aspek kesiapan lainnya, seperti: pemberian kerikil di area panggung utama guna mengantisipasi becek karena hujan, toilet umum yang semakin tertata. Singkat kata, pihak penyelenggara sudah lebih siap dan baik daripada tahun lalu. Namun masalah sampah tetap saja sama. Ini berarti kesalah terletak pada puluhan ribu penonton yang hadir. Gembar-gembor go greendan say no to plastic bag terdengar cukup nyaring akhir-akhir ini, tapi nyatanya itu hanya kicauan saja.

Jumat, 22 Juli 2010

Ketika pagi hari saat saya terhubung oleh dunia maya dan mendapati kabar dari akun @JavaRockingland mengenai perpindahan jadwal 30 Seconds to Mars, saya langsung memprediksi acara ini akan memakan tenaga dan waktu yang lebih. Karena trio asal amerika yang semula dijadwalkan bermain pada pukul 23.00 WIB ternyata diundur menjadi 00.45 WIB atau ditunda selama 90 menit waktu normal (belum lagi persiapan teknis). Sehingga saya putuskan untuk membulatkan hitungan menjadi 120 menit, dan ternyata benar.

Mekipun begitu, saya tetap sengaja tiba awal karena Seringai bermain diwaktu yang cukup pagi, 16.30 WIB. Dan setiba disana saya dapati keempat personilnya sudah asik “mengompori” massa dengan lagu-lagu yang bersifat subversif. Sebenarnya tidak ada hal yang spesial dari band yang (tampaknya) sudah  menjadi langganan acara ini, namun daya magis yang dimiliki band ini tetap saja ampuh menarik penonton dan turut mengepalkan tangannya ketika melantunkan anthemnya ‘Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)’. 

Penampilan yang beruntun dari PAS, Sheila on 7 dan juga trio indie rock asal California, We Are Scientists, membuat penonton hanya terkonsentrasi antara panggung Simpati dan GG Inter Music. Barulah pada pukul 22.15 WIB, massa mulai tersedot ke BNI dome stage, dan diatas panggung itu saya melihat Om Bagus, Den Coki dan Mas Eno cukup “kewalahan” menghadapi jumlah massa yang membludak. Tiba pada headliner hari ini, 30 Seconds to Mars (need more than 2 hours to get to ancol) yang ternyata performa livenya termasuk kategori biasa saja. Band ini memang mampu membuat tanah bergetar, tapi untuk ukuran pengoptimalisasian sound output, band ini masih harus memakan banyak jam lagi. Bahkan saya berani memegang legenda musik metal asala jepang, Loudness, akan lebih optimal, andai saja mereka ditaruh pada panggung utama tersebut.

Sabtu, 23 Juli 2011

Rencana yang terlintas pada kepala saya di hari ini adalah: menjadi penonton! Bayangkan saja Power Slaves, God Bless, Jasad, dan Power Metal digabung dalam 1 hari. Apa yang sejatinya akan terjadi? Jika anda adalah pemuja musik berdistorsi, pasti anda akan mengalami ejakulasi dini. Sosok legenda musik keras berpadu dalam satu area dengan beberpa penerusnya seperti Kelelawar Malam, BIP, Gigantor, Burgerkill. Belum lagi nama Ed Kowalcyzk dan The Cranberries yang sudah jelas dinanti.

Kalau Seringai tampil pagi di hari pertama, maka dihari kedua ini Power Slaves yang membuka hajatan musik rock ini. Membawakan lagu-lagu andalannya seperti ‘Malam Ini’, ‘Impian’ dan lagu baru mereka ‘Indonesia’, Heydi yang tampil mengenakan kaos bertulikan “Lagu Kok Dieja” terlihat puas dengan respon yang dia dapat. Beranjak panggung sebelahnya, God Bless benar-benar menghegemoni penonton. Meskipun stamina menurun tapi mereka tetap tampil beringas. Sebut saja ketika mereka menggaungkan lagu ‘Kehidupan’ maupun ‘Rumah Kita’, gelagat mereka tetap seperti rombongan 5 pemuda berusia 28 tahun.

The Cranberries, saya berani bilang bahwa penonton yang menanti band asal irlandia ini lebih banyak ketimbang headliner hari sebelumnya. Sebab formasi ini adalah format reuni dari band yang terbentuk 22 tahun silam dan sempat vakum selama 6 tahun. Lagu-lagu andalan mereka seperti ‘Dream’,’ Zombie’, ‘Animal Instinct’, ‘Linger’ adalah beberapa aspek yang menyibukkan penonton untuk berkaraoke masal.  Dan pada penghujung hari ini, konsentrasi saya terpecah antara Burgerkil atau Power Metal untuk saya nobatkan sebagai band penutup hari yang tanpa cela ini.

Minggu, 24 Juli 2011

Ini hari terakhir dan juga hari yang paling sepi dibanding kedua hari sebelumnya, sebab selain hari minggu (yang berarti esok adalah hari paling dikutuk oleh pekerja yang memiliki office hour) satu penyebab lainnya adalah sebuah acara di salah satu pusat kota yang punya daya tarik lebih besar, karena legenda yang disana benar-benar legendaris. Tapi sudahlah, hari ini ada sosok yang cukup “mengganggu” saya. Mereka adalah Step Forward, band hardcore legendaris kota Jakarta dengan vocalis wanita bersuara lantang yang sudah menghilang dari peredaran selama (lebih kurang) 4 tahun. bahkan Gitaris dan Drummernya lebih sering terlihat bersama band lain. Ricky membuat musik rock oktan tinggi bersama Seringai dan Fajar lebih mengeksplorasi permainan kalem ala Alexa.

Dan di hari terkahir ini Raja Singa, Betrayer dan Roxx mencoba “berebut” penonton dalam pembukaan yang berkisar pada pukul 15.45 WIB. Namun nyatanya Betrayer masih cukup diminati, entah karena merasa kangen atau faktor ruangan yang ber-ac? Entahlah. Yang pasti disaat Edane “mengacak-acak” panggung utama pada pukul 16.30, selang 15 menit kemudian Sir Dandy (yang dinobatkan oleh Soleh Solihun sebagai musisi folk slebor) berhasil membuat penonton terpingkal. Tapi rasanya Sir Dandy tidaklah adil, bayangkan saja:  ketika ia menyanyikan lagu ‘Anggur Merah’, ia membagi-bagikan buah anggur. Ketika menyanyikan lagu ‘Sex Drugs’ ia melemparkan puluhan kondom kearah penonton, tapi kenapa dilagu ‘Gibson atau Epiphone’ ia tidak membagikan salah satu dari 2 jenis gitar itu?

Frente, Good Charlotte, Happy Mondays dan Hellowen adalah headliner yang diserahkan untuk menarik sekaligus memusatkan massa pada hari terakhir ini rupanya tidak bisa berbuat banyak ketika laju hujan tidak lagi terbendung pada kisaran pukul 22.00 WIB. Dan hanya menyisakan beberapa die hard fans dengan kaos seragam warna hitam bertuliskan: ‘HELLOWEEN’. Sebelum saya menutup hari ini dengan band asal Malang, The Morning After yang tampil di Seggara Stage, saya hanya ingin mengabarkan bahwa X3 Special Project itu adalah project trio gitaris dari tiga band metal bandung (burgerkill, beside & forgotten) yang memadupadankan musik egosentrismenya dengan unsur musik lainnya, dan hal ini terlampau bermartabat jika hanya dikomparasikan dengan serbongan bule yang membawakan salah satu hits dari boyband cenat cenut Indonesia.

——-

Tulisan dan foto diatas adalah hasil reportase untuk majalah Sound Up. Namun sangat tidak menutup kemungkinan ketika dicetak dan beredar nanti, akan ada penambahan atau pengurangan karena beberapa faktor yang menjadi pertimbangan. Itu biasa terjadi dalam dapur redaksi. Untuk itu saya menerbitkan versi orisinalnya disini.

“Omar Rodriguez Lopez – Warnung Vor Einer Heilgen Nutte” gw sebenernya bingung kalau disuruh milih lagu favorit di album ini, semuanya gw rasa bercerita. Kenapa untuk kali gw rasa, bukan gw pikir? Karena gw gak pernah tau apa yang sebenernya ingin disampaikan oleh one of my favourite smartest fucker, kalau gak gw tanyakan langsung kepada si pembuatnya dan ia memberikan jawaban yang jujur. Tapi biarkan sajalah, toh gw menyukai kondisi berpikir dan menafsirkan secara bebas seperti ini. Dan gw menafsirkan kalau ini adalah interpretasi suara alam semesta yang bukan cuma berisi bumi saja. Tapi setidaknya secuplik ulasan dari anak lelaki usia 18 tahun asal Connecticut, Kevin Dill, cukup membantu tentang bagaimana (cara) memahaminya.http://dtkevin.wordpress.com/2009/02/06/review-despair-omar-rodriguez-lopez/ Terlebih lagi, ia akhiri dengan kalimat yang tepat:

I strongly recommend avoiding this album, it’s 40 minutes of your life you won’t be able to take back.

Tapi kalau penasaran (baca: bandel), silahkan simak disini: 

http://omardigital.rodriguezlopezproductions.com/track/warnun-vor-einer-heilgen-nutte

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

06 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized