Main-main jadi bukan main (book review)

Posted on May 4, 2012

0


Penulis: Budiarto Shambazy, Denny Sakrie, dan Eddy Suhardy.

Penerbit  KPG, November 2010

TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA ITU DILARANG” Tanpa perlu komado untuk otak kita –khususnya yang pernah mengalami libur lebaran— pasti langsung mahfum kalau jargon itu adalah milik group lawak asal Jakarta, Warkop. Celakanya, siapa orang di Indonesia yang tidak mengalami libur disaat lebaran? Sehingga saya pribadi merasa kasian kepada petugas perlintasan pintu kereta api, karena selain mereka tidak bisa merasakan euphoria mudik, mereka juga tidak bisa menikmati menu wajib tiap lebaran selain ketupat dan opor.

Jika diperkenankan berbicara tentang Warkop, saya akan memulai saat perkenalan ketika masih kelas 2 sd, mungkin. Karena saya tidak ingat kapan pastinya, yang jelas saya belum akil baliq pada saat itu. Tapi ada satu hal membekas dari perkenalan itu, yaitu sebuah sapaan yang meluncur dari mulut Indrodjojo Kusumonegoro (Indro) –Bahkan sampai saat ini, setiap Indro menunaikan adegan tersebut saya sontak terpingkal atau setidaknya tersenyum geli— Adegan tersebut dapat ditemukan dari sebuah kaset Warkop dengan episode Ingin Melek Hukum. Tapi dimana saya harus mencari bentuk fisik yang saya sendiri sudah mulai kelimpungan mencarinya dirumah? Menuju lapak kaset bekas atau ke toko-toko kaset modern? Sepertinya sudah tidak mungkin.

Untunglah pada bulan November tahun 2010, buku yang diberi judul ‘Main-Main Jadi Bukan Main’ telah resmi diterbitkan dan disebarluaskan. Sebuah judul yang identik dengan judul dalam film Warkop. Namun bagi anda yang merasa Warkop bukanlah bagian dari hidup anda, buku yang diterbitkan oleh Penerbit KPG ini tidak ada baiknya untuk disimak apalagi dimiliki untuk koleksi. Sebab mengutip pernyataan Indro yang dilansir dari hasil interview oleh detikhot.com “Kita mencetak 6 ribu saja, nggak terlalu banyak. Kita berharap secepatnya habis terjual.” Jadi sepertinya sudah cukup jelas buku ini ditujukan untuk siapa?

Dengan tebal 312 halaman, buku ini akan membawa anda pada sebuah wajah lain dari Warkop. Layaknya melihat koin dari sisi yang lain, meskipun secara visual koin hanya terdiri dari dua sisi, tapi apakah pernah kita melihat secara detail kedua sisi tersebut? Dan hal inilah yang ingin diceritakan oleh hasil karya keroyokan dari Budiarto Shambazy, Denny Sakrie, dan Eddy Suhardy –Meskipun sebenarnya ada beberapa nama lagi yang ikut menyumbang yakni Johannes Soerjoko, Arianto Yoegiyo, Frans Sartono, Dahono Fitrianto, Mohamad Sobary— dan hasil keroyokan tersebut akhirnya masuk ke dua tangan editor yang pernah terlibat langsung dengan Warkop, Rudy Badil dan Indro.

Rupa-rupanya hasil keroyokan ini sangat tak percuma, karena memiliki alur yang ringan sehingga mudah untuk dipahami meskipun terkadang membuat kita sedikit tidak percaya dengan apa yang dituturkan dalam buku yang menyertakan bonus berupa CD audio berisi lawakan Warkop ketika mereka masih berempat. Apakah anda percaya kalau Wahjoe Sardono (Dono) pernah membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Teritorial TNI, tersenyum getir karena tidak kuasa mengimbangi argumennya pada saat diskusi informal tentang situasi politik di kampus UI Depok pada tahun 1999? Atau Nanu Mulyono (Nanu) dan Kasino Hadiwibowo (Kasino) yang rupanya menjadi biang keladi rusaknya tiap lagu di tangan Warkop? Layaknya sebuah biografi, buku ini masih menyisakan setumpuk cerita seru lainnya. Namun ada satu peringatan bagi yang merasa menjadi fans berat warkop, ada baiknya anda hindari halaman 106! Karena foto koleksi pribadi Denny Sakrie hanya akan membuat anda mengumpat.

Singkat kata, membaca buku ini layaknya menelusuri sekaligus mempelajari sejarah industri hiburan tanah air selama kurang lebih 3 dekade yang dimulai dari tahun 70’an. Bagi masyarakat Indonesia yang terlahir dalam salah satu fase diantara 3 dekade tersebut, buku ini sangat saya rekomendasikan. Namun untuk yang tidak pernah mendengar Warkop atau tidak tertarik karena menganggap tayangan Warkop itu identik dengan eksploitasi erotisme. Ada baiknya anda menyimak perkataan Dono di halaman 189-190:

“Paling susah kalau melawak di televisi. Gue terus terang bingung, karena audiens kita itu enggak jelas kan. Bisa anak-anak balita, remaja, atau pemuda dn juppies atau manusia sukses atau manula yang sudah setengah jompo. Jadi, kalau maujadi jagoan melawak, ya kudu kuasai bahan yang cocok dengan situasinya. Mulai dari komedi slapstick yang kalau di film pakai backsound kwaang-kwaang, sampai bercanda otak berisi usik kritik politik.”

Ada sedikit pertanyaan dari saya. Apakah anda selalu terbahak ketika acara komedi layar kaca saat ini — yang penuh dengan unsur slapstick bermandikan Styrofoam— berlangsung? Dan muncul pertanyaan selanjutnya, coba sebutkan bagian mana dalam tayangan komedi itu yang membuat otak anda sedikit bekerja terlebih dahulu sebelum terbahak? 

——-

Tulisan ini dibuat untuk sebuah rubrik di majalah Sintetik (salah satu zine lokal kota Malang) edisi ketiga, silahkan berkunjung ke:http://majalahsintetik.tumblr.com/ dan downloadlah saja edisi-edisi yang sudah terbit. Btw, disana banyak tulisan dari orang-orang baik hati yang sudah bersedia menyumbang buah pikirannya. Dan kalau ada yang mau nenyumbang tulisan, silahkan saja. Pintu terbuka lebar 😀

“Flowers – Buang badan” Intronya yang menjerumus blues ditambah lirik pembukanya: Udah dibilang jangan pake hati,sebelumnya janji gak pake perasaanDan sejujurnya ini adalah lagu dengan tema percintaan yang terkesan sombong tapi optimis. Jujur saja, kita (Indonesia) sangat miskin amunisi lagu cinta yang berani. Lagu ini direkomendasikan buat (mengutip The Brandals) anda para pecinta yang terlunta-lunta.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

02 Januari 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized