Mastodon dan Burung Kondor [buah pengklasifikasian si burung merak tentang kondisi sang garuda]

Posted on May 4, 2012

0


Aku memberi kesaksian

Seandainya kiamat terjadi di negeri ini

Maka itu akan terjadi tidak dengan petanda bangkitnya kaum pengemis

Atau munculnya bencana alam

Tetapi akan terjadi dengan petanda

Saling bertempurnya mastodon-mastodon

~WS. Rendra

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan penonton yang hadir ketika naskah ini pertama kali dipentaskan pada tahun 1973, dan terlebih lagi sipemilik naskah juga turut beradu peran dalam alur dan cerita yang ia reka dan mainkan. Dan melalui pengamatan amatir saya sebagai penikmat seni Teater, meskipun masa-masa itu sudah lewat hampir 4 dekade, tapi pesan yang dituturkan masihlah berhubungan dengan problematika diusia Indonesia saat ini.

Dari beberapa sumber yang saya baca, naskah ‘Mastodon dan Burung Kondor’ merupakan salah satu masterpiece (alm) WS. Rendra. Dan setelah saya –dengan sadar dan sengaja- meluangkan waktu selama 3 jam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, akhirnya saya mengerti bahwa naskah yang hanya dipentaskan kehadapan umum pada tahun 1973 ini memang benar-benar radikal dan revolusioner.

Entah apa yang terdapat dibenak seorang Willibrordus Surendra Bawana Rendra ketika mementaskan di Sport Hall Kridosono – Yogyakarta (24 November 1973 ) oleh Bengkel Teater, Gedung Merdeka – Bandung (7 Desember 1973), dan Istora Senayan – Jakarta (15 Desember 1973), saya benar-benar tidak bisa memprediksi, karena benak seorang Rendra itu terlalu keren untuk diterawang melalui pikiran awam saya. Selain pada saat itu WS Rendra berperan sebagai sutradara sekaligus pemeran utama, rupanya naskah ia buat juga menjadi salah satu penyebab terjadinya aksi massa di Jakarta 15 Januari tahun 1974, atau yang dikenal dengan Malari (Malapetaka limabelas Januari). Meskipun sampai saat ini opini itu masih sebatas konon, karena belum ada data yang menyudutkan naskah itulah penyebab kesadaran rakyat untuk menentang penanaman modal oleh Jepang 37 tahun silam. Tapi setidaknya jaminan dari petinggi militer pada saat itu untuk tetap melanjutkan pertunjukan adalah bukti bagaimana ber-“bahaya”-nya pesan dalam naskah ini, bahkan sampai saat ini naskah ini masih membuat saya berdecak kagum atas pola pikir seniman ini.

Aspirasi Demonstran (1)

Aspirasi Demonstran (2)

Padre Alfonso dengan 2 Burung Kondor

Penari Latar

IDEOLOGI PEMBANGUNAN Vs TINDAKAN REVOLUSIONER Vs PENYADARAN KEBUDAYAAN DARI LUAR SISTEM

“Jadi, apakah menurutmu karya seni itu lebih berharga dari sepotong roti?”

“Untuk siapa? Kalau kau tanyakan kepada orang yang kelaparan tentu ia akan memilih sepotong roti daripada karya seni” sahut Jose Karosta saat ia dihadapkan oleh salah satu pertanyaan dari koleganya

Jose Karosta, Kolonel Max Carlos dan Juan Frederico merupakan tokoh inti dari naskah ini. Meskipun peran Profesor Topaz (pengaggas revolusi dari kalangan mahasiswa) dan juga Fabiola Andrez (mahasiswa fanatik dari salah satu provinsi yang memproduksi ratu kecantikan dan pemasok bibit-bibit unggul pemilik pinggul dan dada yang aduhai) tidak kalah penting dalam urusan menambah tanda-tanda kehidupan dicerita ini.

Meskipun cerita ini berlatar belakang sebuah negara di Amerika Latin, tapi masalah yang terkandung didalamnya cukup bersinggungan dengan apa yang terjadi di Indonesia pada era Orde Baru mapun revolusi yang terjadi di dataran Arab saat ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan konteks ini masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Bukan tidak mungkin, tapi memang iya sangat mungkin. Karena sang Sutradara, Ken Zuraida (istri WS Renda) mengatakan bahwa naskah ini kembali dipentaskan dalam rangka mengenang 2 tahun meninggalnya Willy dan juga menggambarkan kondisi Indonesia menjelang usianya yang ke 66 tahun

Disini colonel Max Carlos merupakan sosok yang mengamati (baca: memata-matai) perilaku mahasiswa yang menyimpang dari programnya: Pembangunan Semesta Berencana. Sementara Juan Frederico dan para rekan revolusionernya dyang berada dibawah asuhan Profesor Topaz merupakan penggagas gerakan: Revolusi Semesta Berencana. Sedangkan bagaimana denagn sosok Jose Karosta?

Menurut pengamatan awam saya, Jose Karosta merupakan figur ceriman WS Rendra. Selain karena pada tahun 1973, Rendra sendiri yang memerankan sosok ini, inidikasi ini mengarah pada sikap yang dipilih Jose Karosta: penyadaran kebudayaan dari luar sistem. Bahkan sebagai pengagum dewi kesenian, ia tidak terkecoh ketika Fabiola (yang diutus oleh Juan Frederico) datang menggodanya. Ia malahan sempat mengatakan bahwa Fabiola itu bau mesiu dan Jose Karosta juga berkata:

Seorang fanatik akan bertindak ekstrim dan seorang ekstrimis yang sedang berjuang akan berlabel gerilyawan, tapi jika sudah menang ia akan menjelma menjadi diktator.

Jose Karosta beserta kolega

Jose Karosta (depan)

Hernandez (kiri), Fabiola Andrez (tengah), Juan Frederico (kanan)

Juan Frederico beserta koleganya

Kolonel Max Carlos (1)

Kolonel Max Carlos (2)

Kolonel Max Carlos sedang mendikte salah satu dosen di kampus Juan frederico & Jose Karosta

Fabiola Andrez sedang berusaha merayu Jose Karosta

Jose Karosta sedang diamankan (baca: diculik) oleh kelompok Juan Frederico

Kelompok Juan Frederico sedang merayakan keberhasilan revolusinya (1)

Kelompok Juan Frederico sedang merayakan keberhasilan revolusinya (2)

HAKEKAT MORAL BERBANGSA MELALUI KONTEKS 2 HEWAN

Mastodon disini digambarkan dengan jelas dalam ‘Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon’, sedangkan Burung Kondor terdeskripsikan melalui ‘Sajak-Burung-Burung Kondor’.  Burung Kondor tidak lain menggambarkan kondisi rakyat yang sampai saat ini masih hidup dalam batas kemiskinan, sedangkan Mastodon adalah penguasa yang semakin mambuat sekat dengan rakyatnya. Masalah yang masih sangat relevan dengan kondisi tanah air kita saat ini.

Meskipun naskah ini tergolong filosofis dan mengandung tingkat kritik yang tinggi, namun unsur humornya tidak lantas lenyap. Hal ini dapat dilihat ketika Kolonel Max Carlos (yang diperankan oleh Awan Sanwani ) memparodikan bagaimana “berwibawanya” seorang pimpinan militer ketika ia berpidato,Tetapi realitanya, rombongan anak buah meresponnya lebih dari sikap istirahat ditempat, bisa dibilang lesehan ditempat. Kontan saja ini menuai gelak tawa para penonton yang tebagi menjadi 4 kelas dalam pertunjukan yang berlangsung selama 4 hari berturut-turut (belum dihitung dengan gladi resik).

Berikut ini adalah 2 judul puisi yang mengklasifikasikan siapa saja yang berada dalam kategori Burung Kondor dan siapa saja yang merupakan Mastodon:

Sajak-Burung-Burung Kondor

Angin gunung turun merembes ke hutan,

lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,

dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.

Kemudian hatinya pilu

melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh

yang terpacak di atas tanah gembur

namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,

berumah di gubug-gubug tanpa jendela,

menanam bibit di tanah yang subur,

memanen hasil yang berlimpah dan makmur

namun hidup mereka sendiri sengsara.

Mereka memanen untuk tuan tanah

yang mempunyai istana indah.

Keringat mereka menjadi emas

yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.

Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,

para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,

dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir

dari parit-parit wajah rakyatku.

Dari pagi sampai sore,

rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,

menggapai-gapai,

menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,

di dalam usaha tak menentu.

Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,

dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,

dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.

Beribu-ribu burung kondor,

berjuta-juta burung kondor,

bergerak menuju ke gunung tinggi,

dan disana mendapat hiburan dari sepi.

Karena hanya sepi

mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.

Di dalam marah menjerit,

bergema di tempat-tempat yang sepi.

Burung-burung kondor menjerit

di batu-batu gunung menjerit

bergema di tempat-tempat yang sepi

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,

mematuki batu-batu, mematuki udara,

dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

Djogja, 1973 (Potret Pembangunan dalam Puisi)

Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon

Pembangunan telah dilangsungkan

Di tanah dan di air sedang berlangsung perkembangan.

Aku memberi kesaksian

bahawa di sini

langit kelabu hambar dari ufuk ke ufuk.

Rembulan muncul pucat

seperti isteri birokrat yang luntur tatariasnya.

Sungai mengandung pengkhianatan

dan samudera diperkosa.

Sumpah serapah keluar dari mulut sopir teksi.

Keluh kesah menjadi handuk bagi buruh dan kuli.

Bila rakyat bicara memang bising dan repot.

Tetapi bila rakyat bisu itu kuburan.

Lalu apa gunanya membina ketenangan kuburan,

bila ketenangan hanya bererti kesesakan peredaran darah?

Aku memberi kesaksian

bahawa negara ini adalah negara pejabat dan pegawai.

Kebudayaan priyai tempoh dulu

diberi tambal sulam

dengan gombal-gombal khayalan baru.

Bagaikan para pengeran di zaman pra ilmiah

para pengeran baru bersekutu dengan cukong asing,

memonopoli alat berproduksi dan kekuatan distribusi.

Para pedagang peribumi hanya bisa menjual jasa

atau menjadi tukang kelentong.

Boleh menjadi kaya tetapi hanya mengambang kedudukannya.

Tirani dan pemusatan

adalah naluri dari kebudayaan pejabat dan pegawai.

Bagaikan gajah para pejabat

menguasai semua rumput dan daun-daunan.

Kekukuhan dibina

tetapi mobiliti masyarakat dikorbankan.

Hidup menjadi lesu dan sesak.

Ketenangan dijaga

tetapi rakyat tegang dan terkekang.

Hidup menjadi muram, tanpa pilihan.

Aku memberi kesaksian

bahawa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

falsafah mati

dan penghayatan kenyataan dikekang

diganti dengan bimbingan dan pedoman rasmi.

Kepatuhan diutamakan,

kesangsian dianggap derhaka

dan pertanyaan dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

kerana nalar dicurigai dan diawasi.

Aku memberi kesaksian, bahawa:

Gajah-gajah telah menulis hukum dengan tinta yang munafik.

Mereka mengangkang dengan angker dan perkasa

tanpa bisa diperiksa,

tanpa bisa dituntut,

tanpa bisa diadili secara terbuka.

Aku bertanya:

Apakah ini gambaran kesejahteraan

dari bangsa yang mulia?

Aku memberi kesaksian

bahawa gajah-gajah bisa menjelma menjadi mastodon-mastodon.

Mereka menjadi setinggi menara dan sebesar berhala.

Mastodon-mastodon yang masuk ke laut dan menghabiskan semua ikan.

Mastodon yang melahap simen dan kayu lapis.

Melahap tiang-tiang listrik dan filem-filem import.

Melahap minyak kasar, cengkih, kopi, dan bawang putih.

Mastodon-mastodon ini akan selalu mebengkak

selalu lapar

selalu merasa terancam

selalu menunjukkan wajah yang angker

dan menghentak-hentakkan kaki ke bumi.

Maka mastodon yang satu

akan melutut kepada mastodon-mastodon yang lain.

Matahari menyala bagaikan berdendam.

Bumi kering.

Alam protes dengan kemarau yang panjang.

Mastodon-mastodon pun lapar

dan mereka akan saling mencurigai.

Lalu mastodon-mastodon akan menyerbu kota.

Mereka akan menghabiskan semua beras dan jagung.

Mereka akan makan anak-anak kecil.

Mereka akan makan gedung dan jambatan.

Toko-toko, pasar-pasar, sekolah-sekolah

masjid-masjid, gereja-gereja

semuanya akan hancur

Dan mastodon-mastodon masih tetap merasa lapar

selalu was-was.

Tak bisa tidur.

Yang satu mengawasi yang lain.

Aku memberi kesaksian

seandainya kiamat terjadi di negeri ini

maka itu akan terjadi tidak dengan petanda bangkitnya kaum pengemis

atau munculnya bencana alam

tetapi akan terjadi dengan petanda

saling bertempurnya mastodon-mastodon.

Djogja, 1973

Para pemain

Para pemain dan musisi pendukung

——-

Ada catatan tersendiri dari Putu Wijaya tentang pesan yang pernah disampaikan oleh (alm) WS. Rendra kepadanya:

Pertama, Rendra mengajarkan dirinya untuk mempertimbangkan tradisi. Kadang, katanya, tradisi ini diterima begitu saja, padahal ada yang tidak perlu. Kedua, berani melawan. Artinya berani melakukan interpretasi, reposisi dan sebagainya. Ketiga, mengajarkan tidak pernah menyerah. Keempat, dia mengaku selalu diingatkan oleh Rendra, bahwa jika tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini, lalu apa artinya kehadiran dia. Kelima, dia mengajarkan untuk kritis.

(sumber: http://celebrity.okezone.com/read/2009/08/14/33/248159/ws-rendra-ajarkan-putu-wijaya-jangan-menyerah)

‘Kantata Takwa – Kesaksian” lagu ini pertama kali gw denger melalui Iwan Fals, dan gw baru tahu kalau ternyata lagu ini adalah karya keroyokan dari Kantata Takwa. Silahkan simak videonya disinihttp://www.youtube.com/watch?v=ejnvCxW6YRk 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

29 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized