Membicarakan penonton?

Posted on May 4, 2012

0


MEW akan melaksanakan show di Indonesia (lagi). Sebenarnya sudah beredar cukup lama, kurang lebih 2 bulan yang lalu. Saya sendiri mendapat info ini dari status yang dibuat oleh sebuah situs (jurnallica.com), bagaimana dengan anda? Jangan-jangan masih belum tahu kalau lokasinya juga dipindah?

Okay, let’s straight to the point. MEW direncanakan akan hadir kembali untuk melangsungkan pertunjukan di Indonesia, setelah pada tahun 2009 publik Jakarta harus berdesak-desakan di Pantai Carnaval Ancol dalam agenda Java Rockin’ Land. Dan kali ini public Surabaya yang menjadi sasarannya, dan lapangan kenjeran sebagai lokasi dilaksanakannya.

Infonya: http://www.facebook.com/event.php?eid=167853879903043

Cara dapatkan tiket masuk:

  • Tukarkan 6 stiker dari pembelian Coca-Cola di kantin sekolah (1 botol gelas/PET/ kaleng = 1 stiker)
  • Atau bawa 3 botol plastik PET Coca-Cola / Coke Zero / Teman Imut 250ml / Teman Seru (350ml / 425ml / 500ml) di lokasi Music Tour.
  • Harga istimewa khusus pelanggan Telkomsel ( Simpati, Kartu As, dan Halo ) dapat membeli tiket masuk event coca cola Soundburst dengan hanya membeli produk coca cola senilai Rp. 5000 dan produk/content (starter pack,wallpaper, games, atau NSP) dengan menghubungi *933*100# atau harga tiket normal 15 ribu

15 ribu perak! See? Harga ini sudah saya perkirakan semenjak 3 hari sebelum tanggal 24 November. Tanggal dimana band saya (Militant Express) bermain di sebuah café kota malang untuk sebuah break session karena rasa iseng semata. Tidak ada yang menarik dalam saat itu, dan teman-teman yang hadir malam itu dan pastinya mereka itu asik, bisa kami temukan dimana  saja tanpa harus merapat ke café yang menampilkan music easy listening. Tapi begitu tiba dimenit-menit terakhir kami disadarkan kalau 10 botol bir bintang sudah menjadi sesaji. That was nice! Hahaha.

******

“Paling Cuma main 3 lagu!” begitu ucap saya kepada beberapa teman yang berada 1 meja di malam itu.

Dan teman saya menimpali dengan perasaan tidak percaya “Ah, sing genah ae. Masa Cuma 3 lagu? (Ah, yang benar saja. Masa Cuma 3 lagu?)”

“Sekarang pikir aja 3 tutup botol coca cola, ibaratkan saja 1 botol seharga 5000 Rupiah. Berarti Cuma butuh 15 ribu buat menonton MEW dan beberapa band lain. Paling mulainya siang sampai malem. Yaudah, mentok 5 lagu.” Ucap saya sambil memasang kuda-kuda siap bertaruh atas pernyataan saya barusan, hehehe. (waktu itu saya belum dapat info, band apa saja yang akan mengisi acara itu. Yang pasti saya dengar band nasional yang akan turut serta bukan hanya sejumlah jari di tangan)

Perbicangan berlanjut dengan spekulasi-spekulasi yang kurang mendasar. Hanya bermodal feeling dan beberapa pengalaman saja, saya beranikan mengemukakan pendapat. Mulai dari lokasi acara yang menurut saya sangat tidak ‘oke!’ cuaca yang sedang tidak menentu sampai membahas tukang cendol. Tidak pentinglah intinya! Dan akhirnya tiba pada sebuah percakapan dimana salah seorang teman saya berpendapat.

“Yo budal ae lek aku! 15 ribu iso nonton MEW, masio aku gak weruh lagune (ya saya berangkat saja! 15 ribu bisa nonton MEW, biarpun saya gak mengerti lagunya)” Dan dia menyelesaikan percakapannya dengan tawa khasnya yang beruntun, dan turut serta membuat kami tertawa juga. Bangsat memang orang itu! Reza namanya.

Dari statement dia barusan semakin menegaskan bahwa mental menonton konser merupakan hal yang penting diperbincangkan.

******

Sebenarnya hal ini sudah ingin saya permasalahkan semenjak lama, jauh sebelum artikel yang ditulis oleh Erix ‘Endank Soekamti’. Waktu tepatnya saya lupa, tapi yang saya ingat adalah saya membaca sebuah artikel di blog Seringai yang tertera dalam myspace mereka. Artikel lama sebenarnya, tapi kontennya masih sangat mencerminkan kondisi sampai saat ini. Artikel itu ditulis oleh Eben “Burgerkill’, sebuah reportase tentang insiden di sebuah lokasi di kota Bandung pada tahun 2008. Ini berita lengkapnya:http://www.myspace.com/highoctanerock/blog/358939443

Artikel yang ditulis oleh Erix dalam rubric Soundwaves majalah Rolling Stone Indonesia, –entah edisi bulan apa saya juga lupa, yang pasti tahun 2010– membicarakan beberapa kasus penonton yang datang ke konser dengan niat yang tidak jelas. Sampai-sampai dia memberikan ciri-ciri orang yang yang tidak memiliki niat menonton sebuah konser, diantaranya adalah:

  • Datang ke konser dengan menggunkan helm
  • Menggunakan atribut band lain, padahal band tersebut tidak ada dalam list penampil. (Poin kedua itu nampaknya, anda sudah cukup paham kasus ini seperti apa. Perlu disebutkan contohnya? Slank dan Iwan Fals. Konser apa yang tidak mengibarkan bendera mereka? Coba sebutkan! Saya jamin tidak sampai 10 detik anda sudah mulai bingung mencari 3 nama konser tersebut. Tapi saya tidak memandang bahwa Slankers dan Oi adalah penyebab utama konser yang berakhir rusuh. Hal ini bisa terjadi oleh fan base siapa saja, yang berisi segelintir orang yang lebih tepat disebut oknum)

Sisanya Erix lebih condong menceritakan pengalamannya bagaimana membuat kamties (sebutan bagi para fans Endank Soekamti) menjadi kalem di dalam konser, meskipun datang berbondong-bondong dengan atribut yang tidak kalah menyeramkan dibanding dengan modern darling. (Emang modern darling atributnya serem ya? Mendingan liat sendiri aja deh,hehe)

******

Sudah baca artikel yang ditulis oleh Eben? Terlihat siapa yang kurang waspada. Ya,sekali lagi saya sebut oknum. Dan kali ini berasal dari pihak keamanan,bukan dari pihak penonton. Dan seringkali music-musik cadas atau masyarakat meyebut (metal,rock dan sejenisnya) sangat identik dengan kerusuhan. Sehingga stigma ini semakin meluas jauh sebelum kronologis konser yang diceritakan oleh Eben ini diungkap.

Tapi sebuah ceita baru terjadi, sebuah konser ungu di beberapa tempat pada tahun 2006, salah satunya di Pekalongan, berhasil mematahkan stigma tersebut. Bahwa bukan hanya music cadas saja yang identik dengan kerusuhan, tapi music cengeng pun bisa. Bahkan sampai memakan korban. Tapi realita itu belum sanggup menjungkalkan opini bahwa metal,rock dan genre serupa yang mengusung distorsi adalah music yang patut diawasi. Sehingga dari segi perijinan akan lebih diperketat oleh pihak keamanan. Setidaknya inilah opini yang diusung oleh aparat.

Dan semakin hari kegiatan yang mengadakan pagelaran music menjadi hal yang diperhatikan secara berlebihan. Akibat beberapa insiden yang tidak menyenangkan tersebut. Dari beragam aliran,tidak luput dari sorotan yang ketat dari pihak keamanan. Mulai dari metal hingga dangdut.

******

Pernah melihat konser dangdut? Entah saya tidak paham sub-genre yang terkadung dalam dangdut. Yang saya tahu adalah dangdut koplo, itupun setelah teman saya berpendapat bahwa music tersebut sudah mewabah di daerah semarang pada waktu itu, sehingga dia terkena imbasnya. Hahaha, cerita yang menarik. Sampai akhirnya saya menjumpai dengan mata-kepala saya sendiri, apa itu dangdut koplo. Ini dia buktinya:http://www.agungboy.deviantart.com/gallery/?offset=48#/d1o0imw

Mungkin saja ada Barbarian Dangdut, Dangsut Progressive, Art Psychedelic Dangdut, New Wave Of Javanesse Dangdut, Southern Dangdut. Saya tidak mengerti! Yang pasti, saya dan seorang teman lebih suka menyebut dangdut koplo sebagai music predator. Karena mereka siap memangsa genre apapun dan dijadikan dangdut dengan lick dan sinkopasi yang khas: “dung-tak dung-tak. Joss!” kalau tidak percaya,silahkan request lagu. Saya yakin sekali orkes tersebut akan menjadikan lagu seekstrim apapun menjadi dangdut koplo. Ya, DANGDUT KOPLO = MUSIC PREDATOR!

Acara itu terjadi dimalang, opening sebuah tempat rekreasi Wendit Waterpark. Waktu itu saya masih aktif di sebuah Event Organizer sebagai dokumentator. Acara hiburannya adalah music dangdut dan kembang api. sebenarnya saya tidak ada masalah dengan music dangdut,dan sebagaimana biasanya,ini adalaha hal pertaman kali saya mendokumentasikan untuk pertunjukan music dangdut. Dan saya tertarik! Tapi ada beberapa realita yang timbul dalam konser ini.

bapak loreng. siaga bgt itu pandangannya? tapi ada baiknya, siapa tahu yang lagi mau nempel rigging adalah oknum pengacau stabilitas nasional
wah,ini aki-aki brengsek juga! gak tau apa itu ajal udah tinggal 2 gang lagi?
kalau gue gitarisnya,gue gampar pake gitar nih orang! SUMPAH.
lho,eh! devil horns knp ada juga? jangan-jangan ini oknumnya.
pahlawan lokal! tiap acara pasti ada sambutan dari local hero yang pakai seragam.
mati gak lo? anak umur 10 tahun aja udah bisa ngelamun jorok,apalagi dedengkot beruban yang nonton beginian secara langsung.
penontonnya serem! kaya zombie yang mati menahan konak
mereka berkumpul jadi satu! si biduan musik predator
sebelah kiri helm,sebelah kanan kopiah. beda atribut tapi satu tujan,menonton paha secara langsung! gila bet kelakuannya.
eh,ada lagi yang pake helm. takut ilang mungkin?
woy! ngeliatnya biasa aja dong. gak usah sampe nunduk gitu! mata lo cantengan ntar
yaelah,ini lagi. napas udah kaya ikan habis estafet,masih aja doyan nonton musik pengumbar paha? om,fitiing dulu deh buat kafan!

******

Dan jelaslah sudah! Ada 3 aspek yang membuat sebuah acara berlangsung.Pihak penyelenggara, penampil dan penonton. Tapi kenapa saya ingin membicarakan soal penonoton. Kerena 2 organ sebelumnya sudah paham tujuan mereka ada disebuah acara. Pihak penyelenggara jelas bertugas menyelenggarakan acara,mulai dari pra sampai dengan pasca. Membicarakan hal-hal yang akan menunjang jalannya sebuah acara. Aspek apapun itu! Keamanan juga masuk didalamnya,sehingga untuk kasus yang diungkapkan Eben tadi itu mutlak kesalahan pihak penyelenggara. Yang menjual tiket melebihi kapasitas venue dan pihak keamanan yang kuran gsigap.

Penampil? Pihak yang biasanya disebut sebagai entertainer (kenapa entertainer? Karena artist adalah ungkapan yang tepat untuk seniman. Untuk konser di Indonesia belum banyak yang tepat disebut sebagai artist dalam konser,karena konser disini kebanyakan masih bersifat hiburan semata. Dan seni lebih dari sekedar menghibur) Dalam sebuah konser misalnya pasti pertanyaan yang akan diajukan adalah: “yang main siapa?” atau “ada siapa aja?” dan tugas mereka sudah jelas. Sebagai penghibur, jadi ketika ada sebuah konser yang berjalan rusuh mereka harusnya sudah bisa memprediksi langkah apa yang akan diambil. Kebanykan entertainer karbitan tidak mengerti harus berbuat apa jika konser berjalan tidak se”lucu” yang dia harapkan. Malah akan dia terlihat panic dan yang parah meninggalkan panggung sambil histeris sendirian. Dalam contoh kasus music dangsut koplo itu,penampil lebih dikhususkan sebagai daya tarik. Sehingga kemampuan bergoyang yang bikin syahwat mengencang adalah peringkat pertama. Bicara kualitas suara? Bullshit! Kalaupun ada yang memiliki suara merdu itu bukan pertimbangan utama. Dan inilah salah satu yang bisa memprovokasi penonton. Plotnya seperti apa? Silahkan raba sendiri.

Kemampuan mengendalikan massa ada kaitannya dengan durasi mereka berhadapan dengan massa,selain sosok sang entertainer itu sendiri. Contohnya Arian 13 yang pada waktu itu menghentikan sebuah konser di pensi SMA daerah Jakarta timur,tepat pada sebuah lagu saat Seringai bermain. Pada waktu itu ada 2 orang yang tiba-tiba mendadak emosi saat di moshpit dan Arian dengan cepat mengamati tingkah 2 pemuda itu. Lantas memberikan komando untuk menghentikan music kepada Ricky,Sammy dan Khemod. Kemudian Arian berkata: “Kalau mau berantem mending dilanjutkan diluar saja. Bunuh-bunuhanlah kalian diluar sana,biar berkurang 2 orang bodoh di muka bumi!” yeah! statement yang tepat. Dan hal ini juga diterapkan oleh band-band yang mengusung aliran music agresif. Jadi bukanlah tidak mungkin kalau penonton music agresif itu malah terkondisikan,bahkan kemungkinannya sangat besar.

Dan yang terakhir adalah penonton. Ini adalah aspek yang menjadi tolok ukur kesuksesan acara itu. Dari kuantitas maupun kualitasnya. Sekarang siapa yang tidak menjadikan penonton sebagai unsure penting dalam sebuah pertunjukan. Apaun itu! Bioskop,teater,drama musical,dan pastinya pertunjukan music. Yes,you’re the target market. Ada masalah dengan jabatan target market? Jujur saya pribadi sama sekali tidak,karena saya hadir di setiap acara dengan tujuan yang jelas. Jadi kalau hal yang saya dapatkan sebanding dengan apa yang saya berikan. Saya adalah target maket yang jelas,bukan target maket yang masih menerawang dan gamang.

Beberapa konser yang saya datangi pasti sudah saya lakukan sedikit survey,kecuali untuk musik yang tidak menarik perhatian saya. Sebagai contoh saat di Java Rockin’ Land 2010, saya tidak pernah dengar tentang Indonesian Nu Progressive. Sama sekali blank! Tapi saya penasaran,sebab disana tertulis group itu adalah slah satu warisan dari Alm. Harry Roesli. Dan saya yakin itu pasti keren,dan memang terbukti. Saya tidak usah bercerita panjang tentang Group ini,bayangkan saja God Bless berbenturan dengan Krakatau. Itu dihari kedua. Di hari pertama saat Smashing Pumkins bertingkah, saya malah asik menikmati penampilan Aksi Terror di stage seberang yang terbilang sepi. Apa saya bodoh? Mungkin saja kalau posisi saya adalah sebagai penyembah The Smashing Pumpkins yang ortodoks,tapi saya bukan bagian dari mereka. Dan saya enggan berbecek-becekan di hari pertama itu. Lagipula kearoganan Billy Corgan yang sudah bukan mitos lagi adalah salah satu factor saya tidak ikhlas berdesak-desakan seperti ketika saya mengorbankan tugas reportase saya untuk Wolfmother. Dan kearoganan itu dipertunjukan bukan? Lantas apa yang saya dapatkan ketika saya berdesak-desakan di area Wolfmother di hari ketiga? Atmosfer menonton konser yang selama ini saya rindukan ditambah 5 wanita yang juga asik berdesak-desakan untuk melampiaskan ekspresinya akan music keras. Dan “berbaurlah” kami seperti layaknya menonton dewa ares yang menunjukkan kemampuan berperangnya,lantas kami memujanya. Andaikan itu Woodstock ‘69,pasti adegan percintaan sudah banyak terjadi di area itu dan saat itu. Dan sekilas saya melihat Rekti The SIGIT di seberang bersama beberapa orang temannya,tapi saya terus memperhatikan Ian Peres yang saat ini menambah daftar orang yang menginspirasi saya. Musik Wolfmother ini memang mempesona.

******

Beberapa hal yang ingin saya bagikan untuk menonton sebuah konser adalah:

  • Cari tahu siapa atau apa yang mau kita saksikan. Jangan sampai kita datang hanya karena ajakan teman semata. Kalau ini masih okelah,sebagai bentuk solidaritas. Tapi kalau sudah sampai taraf karena kita gak ada kerjaan dan dijadikan alasan utama menonton konser. Mending luangkan tenaga dan waktumu buat bantu-bantu di daerah bencana,itu lebih berguna.
  • Jangan pelit buat mengeluarkan biaya,kalau itu memang layak untuk disimak. Sebenarnya bukan biaya saja,tapi tenaga juga sebagai faktor petimbangan. Tapi di Indonesia,biaya merupakan pertimbangan utama. Sebenarnya hal (biaya) ini bisa diantisipasi dengan menyisihkan sebagian pendapatan atau kata lainnya menabung. Ibaratkan saja konser merupakan sebuah biaya tak terduga. Layaknya anda yang berpacaran (mungkin) sudah menyiapkan biaya aborsi? Tapi saya harap tidak ada biaya untuk aborsi! Karena aborsi itu identik dengan kesuraman,tapi menonton konser penuh dengan keringan dan suka cita. Jadi ikhlaskan uang anda untuk keriangan itu! Asal poin pertama dipahami,saya yakin itu setimpal.
  • Jangan biasakan diri menikmati acara music gratis. Ibaratkan saja kalian bekerja dengan proyek terima kasih. Apa itu enak? Itulah yang harus dipikirkan oleh kita sebagai penonton. Maka jangan salahkan kalau hasil yang didapat kurang maksimal. Ketika kalian mengumpat entertainernya,mereka bisa saja membalikkan umpatan kalian dengan berkata: “Eh,nonton konser gratisan aja bawel!” Mau apa kalau sudah dibegitukan? Rusuh mungkin solusi yang akan diambil oleh penonton yang kecewa. Dan itu solusi tertolol sepanjang sejarah umat manusia. Rusuh gara-gara kesalahan sendiri. Apa bukan goblok namanya? Wahai para perusuh yang otaknya sebesar kemaluan semut
  • Jagalah sikap saat berada dalam konser. Beberapa kali saya melihat orang melontarkan kata-kata kasar yang saya enggan menyebutkannya, “Anjing! Babi! Kontol!” hahaha sering juga kan kalau misalnya nonton konser ada yang teriak-teriak seperti ini? Sebaiknya kita mulai dari diri kita dan teman-teman sekitar saja. Dan bila sampai ada salah satu teman saya yang dipukuli gara-gara ulah mulutnya yang seronok,pasti tidak akan saya lerai. Biarkan dia dipukuli sampai mampus bila perlu. Biar itu jadi pelajaran juga buat yang lainnya. So, watch your language and attitude! Don’t overact,man.
  • Jangan iri sama teman yang bekerja sebagai wartawan. Saya pikir itu resikonya jadi wartawan,khususnya yang berada pada jalur music dan hiburan. Menyaksikan sebuah pertunjukan dan melaporkannya kepada orang banyak,itu pekerjaan. Tapi dilakukan dengan passion! Mungkin ada wartawan musik yang beranggapan jadi pejabat juga enak,tinggal tanda tangan duit ditransfer. Tapi yang saya tanyakan apakah mereka melakukan dengan passion? Passion sebagai oknum? Better kill them all. Jadi tolong dibedakan meliput dengan menonton, kalau meliput itu menyaksikan konser yang dipasrahi sejumlah beban. Sedangkan menonton? Menyaksikan konser yang terserah,kalau mau sambil tidurpun itu hak mereka.
  • Ingatlah ini merupakan hiburan. Sebenarnya saya sendiri kurang sepakat dengan statement saya barusan,tapi tak apalah. Kita masih sampai taraf ini,di Indonesia. Music sebagai hiburan. Jadi kalau sampai ada yang menonton konser tapi tidak terhibur,lebih baik nonton Tony Blank atau pernyataan dari Megawati. Karena itu sama-sama patut sebagai bahan tertawaan. Dan tertawa identik dengan terhibur,bukan?

 ——-

Setidaknya hal diatas udah gue terapin dan gue share ke orang-orang yang open mind aja. Buat orang yang gak open mind,saat ini gue gak ada waktu buat ngomong ke kalian. Sampai kejadian bertutur kepala kalian,barulah akan mendengarkan perkataan orang lain? Pilihan yang tepat buat seorang bebal.

“Geekssmile – Rebeldia” band yang kaya gini lama sudah gue mencarinya! Setelah fase menghilangnya C4 di Malang,akhirnya oase itu muncul di Bali. Dan gue memproklamirkan kalau band ini patut disimak,bahkan lebih untuk disimak. Dimasalkan pergerakannya! Coba perhatikan sepenggal lirik berikut: ‘Biarkan si tua bangka berlindung di balik kemah dogma. Aku berbaris tegap dari barak-barak logika’ sekarang pertanyaan saya,kalian memilih berada di kemah atau barak? sekedar info,kami sudah berada di barak.

 ——-

Agung Rahmadsyah

Malang

30 November 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized