No One Here Gets Out Alive (book review)

Posted on May 4, 2012

1


Penulis: Jerry Hopkins dan Danny Sugerman.

Ayyana, April 2010

Menurut Ghaust, fenomena hypenya dokumenter-dokumenter musik metal (Heavy Metal In Baghdad produksi Vice Magazine dan Global Metalnya Sam Dunn) dan fonts-fonts dengan logo blackmetal yang sepertinya menjadi trend fashion baru yang kebanyakan diaplikasikan clothing-clothing premium (lokal dan luar) ke t-shirtnya hanyalah trend belaka. menururt Uri “Ini hanya sementara aja, ntar juga ganti lagi,” sedangkan Edo (drum) lebih skeptis lagi melihat fenomena ini, “Sangat disayangkan jika suatu ciri dari sesuatu yang  bermakna dalam hanya menjadi komoditas dagang dan komersialitas, seperti musik metal/punk,” ujarnya.

Begitulah hasil dari sebuah interview yang dilakukan oleh Aldy Kusumah tehadap band post-metal Jakarta yang terbentuk sejak tahun 2005, Ghaust. Yang saya kutip langsung dari http://thebastardsofyoung.com dan saya pikir mereka benar soal tren dari sudut pandang pengamat. Tapi pertanyaan selanjutnya, apakah mereka sempat atau bisa merasakan juga sebagai sosok yang diproyeksikan untuk hal itu (baca: tren)? Jawabannya ada di sebuah buku yang coba saya bahas berikut ini.

Dalam biografi yang ditulis oleh Jerry Hopkins dan Danny Sugerman ada sebuah hal yang patut digaris bawahi yaitu sosok Jim Morrison dan James Douglas Morrison, hal ini tak ubahnya kasus Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yaitu sebuah alter ego yang tidak terkontrol. Jika Jim Morrison merupakan sebuah contoh sukses proyeksi industri hiburan era 60’an maka James Douglas Morrison merupakan salah satu sosok pembangkang terbaik di generasinya. Hal ini dikisahkan dengan jelas saat ia membuat buku kumpulan puisinya yang ketiga “The Lords and The New Creatures”.

Meskipun buku ini bukan satu-satunya karya yang mengisahkan seorang yang membuat anagram Mr. Mojo Risin dari namanya, namun keabsahan buku ini bisa dipercaya mengingat kedua orang penyusun tersebut. Jerry Hopkins merupakan seorang jurnalis musik lepas yang sebelumnya juga pernah menerbitkan biografi Elvis Presley, dan dalam usahanya membuat biografi Jim Morrison, ia melakukan riset yang memakan waktu 4 tahun. Sementara Danny Sugerman adalah seorang yang dipercaya Jim Morrison untuk menulis kasus Miami yang kontroversial itu.

3 judul utama dalam buku ini juga cukup menjelaskan mengapa kedua penulis ini menggunakan analogi busur dan anak panah. Bagian pertama dalam buku ini merupakan bagian perkenalan yang penting untuk mengetahui latar belakang Jim Morrison yang tumbuh dari anak introvert namun gemar melahap semua jenis buku, terutama sastra dan puisi era renaissance. Sementara di bagian-bagian selanjutnya menjadi jalur yang menakjubkan untuk diamati sekaligus mengasyikkan. Meskipun saya yakin sebagian orang akan beranggapan bahwa ini adalah sebuah pola permainan aneh yang diciptakan oleh seorang pemabuk kelas kakap.

Namun berkaca pada sebuah pernyataan yang Jim ucapkan di halaman awal buku ini, dimana ia sedang menguji batas-batas kenyataan karena rasa keingintahuannya yang besar. Dan buku ini menjelaskan apa saja yang Jim Morrison sudah lakukan dalam kehidupannya sebagai seorang yang berintuisi penyair yang terjebak dalam profesinya sebagai vokalis The Doors sampai akhirnya menjadi legenda dalam music rock.

Seperti sebuah pernyataan yang ia ucapkan di halaman awal buku ini (yang tentunya sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, karena buku ini merupakan edisi terjemahan):

Ketika itu, katakanlah, aku sedang menguji sejauh apa batas-batas

kenyataan itu sebenarnya. Waktu itu aku ingin tahu apa yang akan terjadi.

Semuanya hanya itu: cuma ingin tahu

Jim Morrison

Los Angeles, 1969

——-

Tulisan ini dibuat untuk sebuah rubrik di majalah Sintetik (salah satu zine lokal kota Malang) edisi ketiga, silahkan berkunjung ke http://majalahsintetik.tumblr.com/ dan downloadlah saja edisi-edisi yang sudah terbit. Btw, disana banyak tulisan dari orang-orang baik hati yang sudah bersedia menyumbang buah pikirannya. Dan kalau ada yang mau nenyumbang tulisan, silahkan saja. Pintu terbuka lebar 😀

“Flowers – Buang badan” Intronya yang menjerumus blues ditambah lirik pembukanya: Udah dibilang jangan pake hati,sebelumnya janji gak pake perasaan Dan sejujurnya ini adalah lagu dengan tema percintaan yang terkesan sombong tapi optimis. Jujur saja, kita (Indonesia) sangat miskin amunisi lagu cinta yang berani. Lagu ini direkomendasikan buat (mengutip The Brandals) anda para pecinta yang terlunta-lunta.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

02 Januari 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized