(sepertinya) Ini (bukan) sebuah fase dimana kita sedang tidur

Posted on May 4, 2012

0


Masih jelas terasa kalau 4 hari yang lalu, kota ini masih berhibernasi. Darimana saya tahu kalu ia sedang berperilaku seperti itu? Dari gejala-gejala yang ditunjukan pastinya! Apa itu? Hal apa lagi yang membuat Jakarta menjadi tentram? Jauh dari hamparan lampu merah yang menyesaki arena balap (arena yang terkadang, karena factor aspalnya, membuat orang tersadar. Kalau itu bukanlah sirkuit!)

4 hari yang lalu. Saat itu, saya sengaja untuk menaiki angkutan umum menuju daerah Blok M karena ada sebuah keperluan. Sambil duduk dekat pintu dan mendengarkan lagu dari mp3 player, entah lagu apa yang bermain itu, saya lupa pastinya. Tapi yang masih dapat saya ingat adalah: SAYA BERARGUMEN SENDIRIAN DALAM PERJALANAN ITU. Sebuah monolog yang sengaja saya ciptakan dialogis, lebih tepatnya.

“Apa yang sekiranya membuat kota ini begitu gemerlap dimata orang-oang dari daerah lain?”

Sampai suatu waktu, bis yang saya naiki dari daerah Cawang atas itu memasuki Jl.Gatot Subroto. Dan tepat sebelum patung pancoran, argumen pertama saya itu terjawab dengan sendirinya.

 

“Oh, gedung-gedung ini rupanya! Dan yang pasti mereka (para pendatang itu) bermimpi sambil berjalan kaki menuju stasiun atau terminal yang membawa mereka ke kota ini. Kota petaka!”

Tapi pihak yang satu lagi berpendapat lain

“Apa salahnya mereka bermimpi? Mimpi kan tidak berbahaya buat orang lain? Jadi kenapa kamu mencoba untuk menenggelamkan mimpi orang lain? Toh mereka itu orang-orang yang mimpinya tidak muluk-muluk. Hanya ingin mereparasi nasib di ibukota! Apa itu sebuah kesalahan?”

Dan sayapun langsung tersentak dengan asumsi pihak itu tadi. Kalau dicermati, sangatlah benar! Sekarang, apa wewenang saya untuk membatasi mimpi-mimpi orang? Toh kalau diperhatikan, hidup kita berawal dari sebuah mimpi yang bertemu dengan belasan mimpi lainnya, kemudian tersimpulkan menjadi rencana. Dan rencana itu yang membuat mimpi menjadi bisa dinikmati oleh kelima indra kita. Dari mimpi menjadi kenyataan? Mimpi yang menjadi kenyataan? That’s the point!

Jadi intinya: KITA HIDUP DI ALAM MIMPI.

Mimpiku, mimpimu bermuara pada sebuah ladang mimpi yang luas. Ladang dimana mimpi-mimpi yang lainnya sudah berjejalan dan kita tambahkan oleh beberapa hektar mimpiku dan beberapa hektar mimpimu. Ada beberapa hektar mimpiku yang bertransformasi menjadi beberapa hektar mimpimu. Dan mimpimu akan menyerupai mimpiku yang beberapa hektar itu.

Sering kita sekedar berkata (bahkan ada yang sampai berpikir)

“Mimpi apa aku semalam?”

Hal ini berarti dalam mimpi siang hari yang kita laksanakan dalam keadaan sadar, kita memimpikan sesuatu di malam harinya. Dimana kondisi kita bermimpi pada malam hari itu biasanya dalam keadaan tidak sadar karena faktor kondisi tubuh. Sehingga kita sering menyebutnya sebagai mimpi. Namun, siapa tahu kalau dalam keadaan tidak sadar itu, kita justru sedang berada dalam kenyataan?  Dan begitu kita terbangun oleh sengatan matahari, pada fase fase itulah kita sebenarnya sedang memulai mimpi. Mimpi siang hari adalah mimpi yang perlu perjuangan. Perjuangan untuk melanjutkan mimpi kita di siang hari selanjutnya. Dan menyia-nyiakan kenyataan pada malam hari karena kondisi tubuh kita yang terforsir untuk menenun mimpi di siang hari.

Selang 4 hari kemudian! Hari ini. Ada yang hal yang terpaparkan.

Namun apakah itu? Faktakah? Mimpikah? Saya pribadi masih ragu, kalau saya berkata ini adalah mimpi.

Karena bukan sekali dua kondisi ini saya lihat disini, kondisi ini adalah setiap! Ketika hujan lebat menghujam, kalian pasti sudah paham apa yang terjadi dengan Jakarta? Parasnya yang biadab menyeruak dari sela gorong-gorong dan memaksa debit air melebihi kapasitas sebuah tempat yang disediakan (atau kapasitasnya yang sengaja dibuat kurang?)

Namun, banjir adalah sebuah teman karib yang selalu muncul dadakan dan kita selalu dapat memakluminya. Jika sampai muncul pertanyaan:

“Kenapa ia (banjir) selalu muncul dadakan?”

Jawaban yang adalah:

“Karena ia teman karib kita.”

Warga Jakarta yang sudah bisa mengakrabi banjir akan merasa nyaman kala temannya itu hadir dalam volume yang, sebenarnya, tidak normal. Tapi karena unsur karib itu tadi, maka beberapa orang akan selalu berkata:

“Ah yang ini sih belum seberapa, bahkan yang beberapa waktu lalu lebih dari ini. Kalau ini sih udah biasalah” Seloroh macam inilah yang biasanya saya perhatikan akan selalu muncul di TV ketika ada berita tentang banjir. Dan saya yakin (tanpa harus memaksakan indra pengelihatan saya tertuju ke layar) pernyataan itu muncul dari orang yang bermukim di daerah rawan banjir, bukan yang tinggal di apartement, mansion atau tempat singgah yang sedemikian rupa. Sekali lagi yang sedemikian rupa itu adalah tempat singgah, bukan pemukiman! Kuharap kita paham letak perbedaannya.

Dan saat itu kondisi saya adalah berteduh bersama sekitar 6-8 orang mengalami nasib serupa, di sebuah halte daerah cikini. 2 orang diantaranya adalah pengamen, yang usianya masih cukup muda. Tak lama kemudian, kedua pengamen itu mulai bernyanyi dan bertindak seakan tak peduli kepada angin yang membawa bulir air yang membuat mereka terlihat kuyup. Setelah meka selesai bermain lagu itu, mereka menyetop sebuah metro mini untuk mempertanggung jawabkan hasil bernyanyi di halte barusan. Sambil mengamati kedua orang tersebut yang melewati sekawanan air yang tumpah dari awan, tiba-tiba terbesit sebuah doa untuk Jakarta sore hari itu.

“Selipkanlah sejumlah fakta yang sejujur-jujurnya, Jakarta. Selipkan barang seribu dantara puluhan mimpi yang bergumam di tiap petak yang terasnya tergenang. Sebenarnya aku cukup paham kondisimu, kamu sungguh ingin berteriak dan memaki. Betul kan, wahai fakta? Namun jeritanmu itu terkelabuhi oleh bunyi klakson produksi pabrik. Bahkan halilintar pun tak terdengar karena euphoria pesta dalam ruang kedap suara.

Aku hanya berharap kepadamu: Janganlah engkau murka wahai fakta. Tolong berikan mereka sedikit waktu untuk membuka mata dan sejenak  mengembalikan pikiran yang masih mengawang karena mimpi. Bila perlu, sadarkan mereka lewat mimpi. Karena aku tak punya kapasitas itu. Tolonglah!”

 

Selamat musim hujan. (khususnya untuk Jakarta)

——-

Saya sangat rindu pada beberapa buku dan seluruh lagu karya “The Mars Volta” dalam album: The Bedlam In Goliath. Akan saya habiskan banyak waktu untuk kalian! Dan satu lagi, “Asilos Magdalena”, akhirnya saya mengerti maksud pembuatanmu. Untuk salah seorang teman saya yang sudah mau menerjemahkan lagu itu, terima kasih banyak.

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi
21 September 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized