Sesi perbincangan singkat dengan: Dhany Brada Wijaya (Hocuspocuz)

Posted on May 4, 2012

0


“Idealisme itu bukan berada dikeadaan setara, tapi mencari posisi seimbang”  ~Dhany Brada Wijaya

Minggu sore disebuah bulan yang masih rapat akan terpaan hujan, saya harus menepati janji pada band asal kota Malang yang sudah berkarya selama kurang lebih 7 tahun namun tidak diketahui pergerakannya di kota asalnya dalam beberapa kurun waktu terakhir.Band yang terdiri dari 5 orang perconil ini: Hanif [vocal], Nyi [vocal], Rama [drum], Deka [bass] dan Dhany [gitar] baru menyelesaikan beberapa karya baru dan mengalami pergantian personil yang cukup krusial -Deka masuk menggantikan Pentol pada posisi bass-

Perkenalan saya dengan band ini sebenarnya dimulai sejak tahun 2006, namun keakraban itu mulai tercipta di tahun berikutnya. Waktu itu band saya [yang saat ini dibiarkan terbengkalai] berada dalam sebuah ajang bersama beberapa band asal kota Malang lainnya dalam fase live audition untuk dicari 6 band yang mewakili regional Jawa Timur, kita sebut saja langsung apa nama ajang itu: “L.A. Lights Indiefest 2007”. Setelah itu saya mulai menaruh kekaguman atas etos kerja keras mereka, yang [menurut pengamatan saya] tergolong dalam kategori: gigih. Harapan saya, semoga kalian tidak hanya sekedar ingin eksis belaka. Karena bagi saya, tutur kata kalian lewat lirk dan musik yang kalian sajikan itu adalah hal yang cukup eksotis.

Sesi perbincangan kali ini hanya diwakili oleh Dhany [gitar] dan Atam [manager], karena -mungkin- personil yang lainnya sedang enggan melawan hujan. ‘Sunday Morning Call’ karya Oasis yang mengalun dari sebuah speaker di tengah ruangan sebuah kafe dikota Malang, menutup sesi perbincangan panjang ini. Meskipun setelahnya kami masih melanjutkan obrolan, tapi toh tidak semua perbincangan harus disalin bukan? Off the record, sajalah.

Pergerakan kalian di kota asal kalian, malang, tidak terlalu terlihat. Tapi kalian berapa kali mengikuti beberapa acara yang secara tidak langsung mewakili malang di kota-kota lain. Apakah kalian merasa tidak berada dirumah kalian sendiri?

Kalau merasa tidak disupport atau tidak merasa dirumah sendiri, tentu bukan. Tapi saya pikir karena segmentasi genre. Genre dikota ini terkotak-kotak,sangat terkotak-kotak. Aku sendiri kalau ditanya genre,bingung mau jawab apa. Soalnya genre yang dibawa hocuz pocuz itu campur-campur. Sedangkan di malang itu cenderung yang punk ya punk,yang hardore ya hardcore.

Nah,kalau sekarang ditanya genre kalian itu apa?

Tuh kan! [tertawa] Sekarang kalau bicara genre itu kan ibarat membicarakan jenis kelaminnya musik anda, nah garis besar musiknya Hocuz Pocuz itu rock. Tapi rock yang kaya gimana? Rock sendiri kan banyak. Dan kenapa musik rock? Karena musik rock itu terdapat kebebasan dan tidak membatasi apa-apa. Sekarang kalau musik rock mau dimasukkan unsur blues, ya bisa. Dimasukin jazz ya ada jazz rock.

Dimasukin dangdut?

Nah, lek iku tambah mlebu maneh! (nah,kalau itu tambah masuk lagi) [tertawa]

Sebelumnya, kalian terbentuk tahun berapa?

Akhir tahun 2004.

Oh, jadi kalian bermusik sudah hampir 7 tahun? Dan kalian merasa kalau musik di Malang itu terkotak-kotak sejak kapan? Baru-baru ini atau sudah lama?

Sejak kami memutuskan berkecimpung di musik indie. Dari situ kami cari “apa sih indie itu?” setelah cari-cari di internet dan baca-baca, akhirnya kita tahu kalai indie itu bukan genre tapi pergerakan. Jadi indie itu tidak mempermasalahkan gene, tapi lebih menekankan gimana caranya bergerak dengan semangat independent. Bukan bagaimana membuat lagu yang bisa mudah diterima?

Tapi pernah kepikiran untuk membuat lagu yang seperti itu? Lagu yang ingin diterima masyarakat luas.

[tertawa] sangat pernah. Tapi akhirnya ya kami gak ngurusin yang seperti itu. Mungkin pertama-tama kami bermain musik buat keren-kerenan,buat mencari pamor. Tapi setelah lama-lama diselami pergerakan indie,akhirnya kami sadar kalau musik itu harus membawakan misi.

Apa misi itu? Apakah yang terdapat dalam jargon kalian: “BELIEVE IN IDEALISM”

Kurang lebih seperti itu. Tapi yang aku sadari itu misalnya,kenapa aku dikasih kemampuan untuk bermain gitar. Padahal aku gak pernah les. Bukannya aku mau sombong lho,tapi aku merasa ini pasti ada alasannya kenapa aku diberi kemampuan untuk bermain gitar sama yang maha segalanya. Misi itu lebih ke gimana cara kita bikin lagu yang bisa berguna buat semua yang mendengarkan.

Kalau gak salah, kalian baru menyelesaikan beberapa karya terbaru dan juga ada pergantian personil pada posisi bass. Apakah ada perbedaan dengan karakter Hocuz Pocuz setelah pergantian posisi itu?

Setelah kehilangan pentol (bassist terdahulu Hocuz Pocuz), kami sempet bingung mau cari pengganti yang seperti apa. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk mencari bassist yang memiliki soul untuk penggantinya,bukan ke teknik. Sebenarnya pergantian personil itu juga pernah terjadi sebelumnya, jadi bukan hal yang baru lagi dalam tubuh Hocuz Pocuz. Intinya tiap personil itu pasti punya pengaruh, sehingga perbedaan warna pasti ada,tapi ciri khasnya tetap. Kami tetap bermain musik rock. Kurang lebih seperti kopi,karakter kopi itu kan pahit,mengandung kafein terus berwarna hitam. Nah tinggal gimana cara kita aja meraciknya,bisa dicampur susu, ditambah creamer atau apapun biar rasanya variatif.

Untuk jargon ‘Believe In Idealism’, bisa dijelaskan kenapa memilih itu?

Yang pertama kali memberikan trigger tentang ‘Believe In Idealism’ adalah Dhany, tapi dia tidak menganjurkan kalau ini dijadikan jargon dari Hocuz Pocuz. Dia mungkin mendoktrin kami secara gak langsung selama kurang lebih satu tahun ini, dan selama intu pula kami sering membahas tentang idealisme. Akhirnya kami melewati banyak diskusi yang meyita banyak waktu, dan melibatkan banyak orang juga bukan hanya personil saja. Dan setelah itu kami memutuskan bahwa believe in idealism adalah jargon kami. Tapi bukan berarti berarti ‘Believe In Idealism’ adalah punya Hocuz Pocuz. Tapi itu menjadi pemacu kita untuk ‘Believe In Idealism’ dan mungkin mengajak orang lain juga untuk percaya pada idealisme, kita harus percaya harus yakin. Kalau orang memiliki keyakinan pasti akan mencoba sekuat tenaga mereka. Itu yang mau kita tularkan kepada orang lain.

Ok, yang barusan itu kan lebih kekonteks ‘Believe’. Untuk konteks ‘Idealism’-nya sendiri seperti apa?

Sebelum masuk ke pembahasan idealisme, pasti orang-orang akan menganggap kalau idealisme berhubungan dengan konteks orang yang kaku,kolot dan sejenisnya. Tapi coba mengambil idealisme dari kata dasarnya, ideal atau sempurna. Dan ideal menurut tiap-tiap orang itu pasti standarnya berbeda, ideal dalam band aja ibisa berbeda dari sudut pandang manager dan playernya. Belum lagi dalam kehidupan tiap orang yang beragam profesi dan pekerjaannya.

Ok, tapi kalau bicara soal sempurna, orang-orang yang beragama pasti setuju kalau kesempurnaan itu cuma punya tuhan. Terus buat apa mencari kesempurnaan? Kan udah jelas kalian bukan tuhan yang maha sempurna.

Nah, sekarang coba putar konteks kesempurnaan itu buat motivasi diri kita. Bohongilah diri kita sendiri dengan terus berusaha mencari kesempurnaan. Kita harus mencari tahu, menambah kemampuan diri sendiri. Kalau kita terpentok sama pertanyaan yang barusan diajukan tadi terus jadinya males untuk “mencari kesempurnaan”, ya itu orang bodoh namanya. Jadi kita sebenarnya ‘Believe In Idealism’  itu menumpukan pada kekuatan ‘Believe’-nya, sedangkan ‘Idealism’-nya buat patokan yang jauh disana agar kita gak lelah mencari dan terus berusaha.

Dan konteksnya ‘Believe In Idealism’ ke karya kalian?

Oya, yang perlu diinget itu idealisme itu gak diam, idealisme itu bergerak. Idealisme itu bukan berada dikeadaan setara, tapi mencari posisi seimbang. Jadi seimbang itu misalnya berat disebelah sini jadi yang sebelahnya harus ditambahin biar seimbang (sembari meniru posisi timbangan dengan kedua tangan).  Kalau idealisme itu diam,sangat gampang didapat. Kami gak mau munafik ya, tiap musisi itu butuh diapresiasi atau kasarnya butuh duit. Tapi keinginan kami untuk menyampaikan karya original kami lebih besar dari keinginan untuk mendapatkan apresiasi itu. Meskipun resikonya membuat kami tidak mendapat tempat, bahkan dikota kami sendiri. Jadi kita gak mengecam kondisi di kota malang, kalau musik kami gak bisa diterima disini yaudah kita coba ketempat lain bukannya malah mencaci kondisi. Kalau ditempat lain diterima, berarti ya malah bagus. Yang penting luwes dan berpikiran tebuka. Jadi idealisme itu gak kolot. Kesimpulannya begitu [tertawa]

Wah, menarik nih! Kesimpulannya idealis itu gak kolot. Bisa diperjelas lagi?

Iya, kalau menurut kami idealis itu pasti punya beberapa pilihan. Misalnya dia gak bisa pakai cara A, dia bakalan pakai cara B, C, D dan lainnya. Tapi kalau orang yang gak mau kalah, yang gak punya beberapa pilihan atau cara lain itu bukan orang idealis itu orang egois. Menurut kami egois dan idealis itu hampir mirip, tapi perbedaannya adalah orang-orang yang idealis adalah orang yang memiliki toleransi yang besar. Ambil contoh mahasiswa atau segelintir orang yang bergabung di berbagai LSM dan mengadakan demo-demo anarkis, merusak sarana publik yang mana sarana itu didapat dari rakyat. Dan sebagian lagi berkata: “Kita butuh mahasiswa atau orang-orang yang idealis seperti itu” taicoba kita pikir lagi. Apa mereka itu orang-orang idealis? Orang-orang yang merusak sarana publik? Itu buat kami bukan idealis, tapi egois! Mereka hanya bisa menuntut dan berseteru. Dan saya yakin kalau Indonesia masih dipenuhi dengan orang-orang yang seperti itu maka Indonesia tidak akan mengalami kemajuan dalam kurun 5-10 tahun kedepan. Orang idealis adalah orang yang membuat perubahan. Jadi intinya idealisme adalah melakukan perubahan, dengan jiwa toleran.

Wow! Ok, ini sangat menarik! Sekarang bayangkan kalau posisi kalian tiba pada titik dimana realitas itu menjadi sangat kompleks, katakanlah 5 atau 10 tahun kedepan. Kalian mungkin akan berkeluarga dan memiliki kehidupan pribadi yang tidak seleluasa kalian saat ini. Seberapa yakinnya kalian untuk tetap bermain musik yang seperti ini atau setidaknya tetap berada pada ‘Believe In Idealism’?

Intinya kita akan tetap melakukan sebuah perubahan, bahkan tanpa nama Hocuz Pocuz sekalipun. Karena kita gak tau, mungkin saja Hocuz Pocuz akan bubar karena sebagian besar memiliki orientasi dengan kehidupan pribadinya. Tapi bukan berarti kami akan berhenti untuk melakukan perubahan dengan cara apapun, bukan hanya musik saja. Hocuz Pocuz sendiri menganggap kami bukan sekedar musik saja, mungkin porsi musik di Hocuz Pocuz itu hanya 10% sisanya bahan pembicaraan kami diluar musik. Kebetulan untuk saat ini kami bisa bergeraknya dimusik, jadi sementara ini kami bergerak disini. Kalau misalnya suatu saat nanti ada jaln lain selain musik, ya kami akan berjalan dijuga disana. Tapi pastikan kita harus membuat perubahan.

Terakhir kalian sempet ikut Hard Rock Battle Band Competition yang di Bali, apa yang kalian dapat setelah mengikuti itu? Denger-denger masuk 5 besar?

Ya syukurnya kami dapet nomer 4. Nomor 1 Navicula dia yang mewakili ard Rock Bali, nomor 2 SID, Nomoer 3 TolBentol, Nomor 4 Hocuz Pocuz, Nomor 5 Chocolatino. Diacara itu kami dapat pelajaran baru, kalau penonton disana itu mendengar musik gak menjustifikasi genrenya dahulu. Kalau musiknya asik buat dia, dia akan menikmati kalau gak yaudah diam saja. Mereka gak nge-judge berdasarkan genre, tapi soal selera. Mereka saling analisa, saling mengkritik, saling memuji sesuai dengan selera. Kalau bisa dibilang, suasananya bukan kompetisi tapi saling mengapresiasi band yang tampil. Bahkan sampai di Sound Man-nya saja, mereka patut dicontoh. Mereka gak bakalan lepas tanggung jawab, kalau kita belum bilang “Ok”, bahakan mereka bisa memberi saran kalau sound itu bagusnya gimana, kurangnya seperti apa. Dan itu mungkin gak ada di Malang.

Apa kalian ingin menularkan pengalaman tersebut ke Malang?

Sangat ada. Tapi kalau misalnya diterapkan langsung dengan cara-cara yang kurang benar, mungkin akan jadi hal yang mengejutkan juga bagi teman-teman di Malang. Kami mungkin akan membaur dengan metode sama-sma belajar.  Intinya balik lagi ke mental teman-teman di Malang atau dmanapun, perlu membangun mental-mental apresiasi dan membuka wawasan. Kalau misalnya ada anak-anak underground, terus pas nonton musik reggae. Tolong hargai mereka, meskipun gak bisa menikmatinya. Mereka juga pembuat karya. Kalau atmosfer apresisi itu udah bisa diterapkan, kita bakalan saling support, gak ada sikut-sikutan antar komunitas. Mungkin yang diterapkan kedalam diri kita kalau ingin dihargai orang atau band-band lain, ya kita harus menghargai orang lain lebih dulu. Dan yang penting kita tulus, jangan kita menghargai orang lain tapi dengan harapan orang lain juga akan mengahargai kita. Kalau toh misalnya itu terjadi sama kita, yaudah gak apa apa. Anggap aja itu bukan rejeki kita, mungkin diwaktu yang lain kita baru dapat.

Hal apa yang kalian paling ingin kampanyekan?

Buatlah sesuatu yang baik. Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang berguna bagi orang lain

——-

Sebetulnya ini adalah percakapan sejak bulan Mei 2011, fase dimana gw masih sering berkeliaran di kota Malang. Kota yang menurut gw sangat tepat untuk menikmati waktu untuk bersantai karena disana waktu berjalan sangat lambat. Pernah disuatu saat saya berbincang dengan salah satu gitaris dari band yang menanungi gw untuk membuat kebisingan -dia juga berasal dari daerah yang sama dengan saya- dan perbincangan itu dilakukan menjelang waktu wisuda kami yang juga bersamaan.

[Dan gw yakin ini bukan kebetulan, karena gw gak pernah percaya sama yang namanya kebetulan. Buat gw, kalau lo percaya sama kebetulan maka lo gak yakin akan adanya tuhan. kenapa? Karena tuhan itu maha merencakan. Dan tuhan sama sekali tidak butuh keajaiban untuk menciptakan suatu, apalagi sekedar ‘rasa membutuhkan keajaiban’ yang sering kita butuhkan ketika bermain monopoli dengan dadu. Sehingga kalau ada orang yang berkata: “Kebetulan aja saya ini …. ….” gw menilainya sebagai orang yang gak mengerti atau orang yang coba merendahkan hati, tapi apapun alasannya buat gw itu salah.]

“Rey, kira-kira lo bakal kangen malang gak?” begitu tanya saya.

“Ya pastilah sob! Lo disini berapa tahun coba? Kalau buat gw, ini adalah fase yang paling berharga. Dari gw lulus SMA yang gak ngerti apa-apa, trus sampai jadi sarjana gini. Pasti ada ceritalah.”

Baiklah dan kini gw akui, gw mulai merasa kangen sama Malang. Tapi yasudahlah, gak usah bermenye [dihkan] – menye [dihkan], gw cuma ingin mengucapkan selamat ulang tahun simbol kota malang, Arema. Semoga kalian [Arema] tidak menjadi dogma yang mendoktrin sebagian besar populasi dikotamu, jadilah kritis jangan fanatik. Jangan jadikan keindahan kotamu diisi dengan varian pikiran picik ala developer dan investor dari antah berantah yang berada di Jakarta ataupun Bandung, dan kini juga coba melanda Bali dengan rencana Bali International Park. Atau yang akhir-akhir cukup ramai di twitter dengan format #TolakBIP tapi gerakan itu bukan hanya sekedar untuk menjadi trending topic belaka dengan alasan lucu-lucuan saja. Coba simak disini tentang beritanya:  http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/08/10/tolak-bip-saatnya-moratorium-bali-selatan.html

“Ximena Sariñana – No vuelvo mas” ya betul, ini lagu pop dan berbahasa Spanyol. Terus kenapa? Beberapa bulan lalu [bahkan sampai sekarang] gw cukup intens dengerin Rammstein yang mengandalkan lirik berbahasa jerman, meskipun sampai sekarang gw tetep gak ngerti sehingga lebih sering merepotkan salah seorang teman yang berasal dari Hamburg untuk menerjemahkannya. Dan untuk urusan bahasa spanyol, gw serahkan kepada seorang teman yang berasal dari ibukota Peru. Hahaha! Secara gak langusung gw mulai tertarik sama cewe ini ketika mendengarkan lagu ‘Las Flores Con Limón’ dari proyek solo album Omar Rodríguez-López yang ke 13, SOLAR GAMBLING. Jujur aja, gw langsung jatuh cinta pas dengerin suara orang ini dilagu itu. Buat gw, suara cewe ini ini adalah titik temu antara Bjork dan Nelly Furtado,namun dikemas dengan aksen khas spanyol -aksen terseksi di bumi-. Tapi cinta gw harus kandas, ketika mengetahui kalau dia sudah memiliki kekasih yang bernama Omar Alfredo Rodríguez-López, yang tidak lain adalah gitaris mega-eksentrik dari salah satu band terkeren abad ini: The Mars Volta. Setelah Janis Joplin, Bjork, Sinead O’connor dan Joss Stone. Ximena Sariñana Rivera, gw nobatkan jadi idola dalam kategori wanita dengan suara yang sanggup meluluh lantahkan persendian dikaki 😀

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

14 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized