Sesi perbincangan singkat dengan: Iman Fattah (Raksasa)

Posted on May 4, 2012

0


Industri musik sekarang itu  -yang bikin cd, kaset, vinyl- cenderung menutup mata dari industry yang akan kedepan [digital]. Karena mereka gak mau kehilangan pola industri yang sudah mereka bikin ~Iman Fattah

Saya pernah berpikir bahwa pembajakan dalam dunia musik adalah karma yang harus diterima bagi para musisi [kalau anda penganut akut filosofi hukum karma]. Karena bagi saya, musik itu adalah hal yang sangat murah dan bisa didapatkan darimanapun, terlebih lagi saya memiliki pikiran bahwa musisi itu juga membajak! Membajak ide. Sebagai orang yang dianugerahi kemampuan bertutur secara musikal skaligus memiliki daya cipta dan imajinasi yang tinggi, musisi seringkali mendapat ide lagu dari hal-hal yang sangat mudah ditemukan ditengah-tengah masyarakat. Coba buatlah list lagu yang anda pernah dengarkan, pasti ada beberapa judul yang diciptakan dari kejadian sehari-hari. Contoh populernya adalah lagu-lagu ciptaan Dewiq yang sebagian besar merupakan hasil curhatan teman-temannya, kemudian ditransformasikan kedalam bait dan disebarkan melalui media musik. Dan akhirnya, pesannya jadi lebih mudah dicerna masyarakat bukan? Tapi apakah dewiq membayar royalti kepada temannya (karena ia mendapat ide itu dari hasil curhatan temannya)?

Dan akhirnya pikiran saya itu sampai pada realita musik di era digital [yang tidak lain merupakan dampak kemajuan teknologi] yang semakin lama realita itu terasa semakin mencekam bagi para insan musik dunia. Berbagai cara dibuat untuk menstabikan kondisi musik agar tetap berjalan layaknya industry sepatu -sebuah industry dimana tidak semua orang bisa terlibat didalamnya, sehingga sebagian besar orang hanya bisa mengonsumsi- Sebut saja produk yang sudah sering kita dengar: iTunes, atau yang sedang giat dilakukan di Indonesia situs: melon.co.id dan langitmusik.com. Atau bahkan yang sedang digembar-gemborkan sebagai masa depan industri musik: bandcamp.com Teknologi membuat para penikmat musik merasakan kemudahan untuk mengakses melalui dunia virtual, tanpa harus terjebak dalam perasaan bimbang tingkat dewa saat berada di toko kaset. Sebab salah satu kelebihan toko virtual tersebut adalah mereka bisa mencoba lagunya terlebih dahulu –walau sebagian orang lainnya masih suka menikmati kegalauan dalam toko musik, termasuk saya-, singkat kata kehadiran dunia virtual dan teknologi menjadikan hidup terasa semakin mudah. Dan musik bukanlah hal yang resisten terhadap aspek ini.

 

Pada hari kamis 11 Agustus 2011, saya merasakan pencerahan terhadap pemikiran saya tersebut dan perlu me-redefinisi pembajakan. Setelah menyesuaikan waktu dan tempat, saya akhirnya bertemu dengan Iman Fattah. Ya, kalau anda dengar nama Fattah dan mengarah pada bassist grup band rock legendaries, God Bless, anda tidak salah. Iman Fattah merupakan anak dari Donny Fattah, tapi unsur popularitas bukanlah hal yang membuat saya tertarik untuk berbincang dengan seseorang. Toh Iman Fattah juga kurang familiar ditelinga anda bukan? Tapi saya berani jamin, kalau orang ini adalah salah satu musisi terbaik yang dimiliki oleh Indonesia.

Mungkin kalau saya sebutkan film ‘Janji Joni’ dan ‘Kala’ [karya Joko Anwar] atau ‘Rumah Dara’ [karya Mo Brothers], hal tersebut tidaklah asing ditelinga anda atau malah mengarah pendapat pada sebuah kata: Keren [mungkin?]. Terlepas dari apapun pendapat anda terhadap 3 film Indonesia yang bermutu tersebut, saya hanya ingin mengingatkan bahwa Ost.Janji joni [secara tidak langsung] merupakan kompilasi dari band-band indie terbaik Indonesia pada waktu itu. Bahkan bagi saya album itu lebih dari sebuah kompilasi, album itu merupakan titik tolak band-band bermutu yang terlibat dalam album tersebut, sebut saja: White Shoes & The Couples Company, Sore, Goodnight Electric, The Adams, Teenage Death Star, Zeke & The Popo, Ape On The Roof, dan Sajama Cut. Tapi kali ini saya enggan membahas tentang band-band itu, namun lebih mencari tahu tentang film score [atau mengkin lebih dikenal dengan backsound dalam sebuah film]

Saya jelaskan bahwa benang merahnya dari ketiga film tersebut [Janji Joni, Kala dan Rumah Dara] adalah Iman Fattah. Bahkan saat ini, Iman Fattah sedang terlibat dalam sebuah grup band rock yang bernama: Raksasa. Band ini beranggotakan Adrian Adioetomo (Gitar), Pepeng ‘Naif’ (Drummer), Cumi ‘Fable’ (Vocal) dan Bony ‘Dead Squad’ (Bass). Rencananya band ini kan segera merilis albumnya, bahkan untuk single terbaru mereka ‘Insomnia’ sudah bisa didownload pada sebuah waktu sahur minggu kedua dibulan puasa.

Seberapa penting sih pendidikan buat lo? Soalnya kemarin lo sempet tweet tentang pendidikan lo yang terbengkalai dan gue melihat lo cukup menyesalinya, dengan memberikan quote dari John Dewey yang [menurut gue] cukup mewakili perasaan lo.

Ya, seperti yang gue tulis di tweet, gue sangat menyesal. Tapi sebenarnya itu kan pilihan, gue bisa lanjutin lagi kalau waktu itu gue mau. Tapi pendidikan itu bukan berarti lo harus dalam institusi pendidikan yang sah. Kaya yang gue geluti sekarang, music, gue berangkat tanpa pendidikan apa-apa. Gue belajar dari jalanan, kasarannya begitu. Tapi hasil yang gue dapet ternyata, beranilah untuk diajak ngobrol soal bidang ini. Tapi jurusan yang gue ambil pada waktu itu [advertising communication], gue rasa bukan pilhan gue. Makanya pada waktu itu ketika ada pilihan band atau siding, gue lebih milih band. Karena memang timingnya pada waktu itu lebih cocok untuk gue mengembangkan band gue saat itu, tapi setelah gue piker-pikir, hal-hal yang gue jalanin di music industrinya adalah hal yang gue pelajarin waktu gue kuliah. Sekarang kalau lo punya band, sekalipun itu band indie, lo harus promosi. Dan itu gue sadarnya ketika gue menjalani dengan band gue saat itu [LAIN], ternyata ilmu-ilmu ini pernah gue pelajari sekilas waktu kuliah.  Ya singkatnya, gue terlambat sadarnya.

Insutri music itu berkembang mengikuti teknologi, menurut lo kondisi yang ideal dalam menyikapi music era digital itu seperti apa? Soalnya gue menafsirkan kaya, udah gak jamannya lagi mendambakan penjualan fisik.

Maksud gue waktu itu, gue gak bermaksud untuk menomorduakan rilisan fisik. Maksud pesan gue adalah, yang berhubungan dengan teknologi, cara orang untuk berada di Industri musik itu harus beda. Tapi bukan berarti yang lama itu harus ditinggalin. Kaya misalnya orang koleksi vinyl, kaset, cd tapi yang gue lihat itu seperti: ‘ [industry]ini bisa jalan bareng-bareng, tapi sistemnya –mungkin- gak bisa seperti dulu lagi. Bahwa fisik itu adalah hal yang paling menentukan’ sekarang kan bentuk fisik itu adalah barang bukti, sebagai bukti kalau kita punya karya sebagai musisi. Sisanya orang bisa download. Jadi industry musik sekarang itu  -yang bikin cd,kaset,vinyl- cenderung menutup mata dari industry yang akan kedepan [digital]. Karena mereka gak mau kehilangan pola industry yang sudah mereka bikin, kan label-label itu yang membikin kaset, cd, vinyl. Nah, ketika industrinya itu berubah, mereka pasti kehilangan. Makanya mereka kaya berat untuk mengakui bahwa industry mereka sudah harus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Nah, gitu maksud gue, jangan nutup mata dengan pola industry yang baru. Seharusnya mereka bisa jalan berbarengan.

 

Dan tentang gembar-gembor provider bahwa RBT adalah masa depan industry musik Indonesia?

Gue malah gak percaya sama RBT. Bentuk digital kan macem-macem, sebenernya sama kaya varian bentuk format fisik. Orang dulu ngeluarin Vinyl, trus berubah ganti kaset dan terakir CD. Kalau CD mati, tiba-tiba Vinyl naik lagi. Dan digital itu banyak juga variannya ada mp3, FLAC, WMA. Buat gue RBT itu Cuma buat “lucu-lucuan” aja, sekarang kan udah keliatan kalau RBT itu semakin turun. Gue mendukung digital,tapi gak mendukung RBT [tertawa]

Sebagai pelaku industry yang sadar kalau era digital akan segera tiba, lo sendiri menilai seberapa penting rilisan fisik? Dan gimana lo menyikapi tentang persoalan illegal download via internet?

Fisik itu penting, buat gue itu sebagai bukti dari karya lo. Buat gue pribadi, gue lebih suka memperlihatkan cd dan memberikan kepada orang lain, daripada ngasih flashdisc yang berisi lagu-lagu gue. Itu lebih ke factor kepuasan tersendiri aja sih, meskipun intinya juga sama aja. Untuk persolan illegal download, gue gak masalah. Ada sebuah situs yang bagus: questioncopyright.org gue gak bilang bahwa gue itu anti copyright, tapi sebelum kita bicara soal pembajakan dan marketing musik atau segala macem. Kita coba belajar lagi, sebetulnya copyright  tuh apa, industry musik yang seperti ini itu mulai kapan dan atas dasar apa.

Sebelum industry musik yang seperti yang sekarang ini, musik itu udah dinikmati oleh banyak orang. Jadi kalau gue ini melihatnya, sekarang ini tuh cara menikmati musik kan udah berubah. Gak harus cd melulu. Jadi cara orang menjual musik itu juga harus berubah, inilah yang perlu disiati.

Pembajakan itu disini maksudnya, gue beli CD terus gue gandakan untuk tujuan komersial pribadi. Tapi kalau gue beli CD, terus share ke teman, itu bukan pembajakan, tapi namanya file sharing. Dan itu gue dukung, yang gak gue dukung adalah kalau dipakai buat kepentingan pribadi. Pembajakan itu lebih ke persoalan moral sih sebenernya. Toh kalau mau ditindak juga gak begitu juga caranya, nutup 4shared, nutup apalah. Buat gue tindakan pemerintah, ngaco juga tuh.

Dan pendapat lo tentang program pemerintah mengenai pengembangan industri kreatif yang merupakan hal utama dalam menyambut era ekonomi kreatif?

Ah, pemerintah itu mau dimaki-maki kaya apaan juga gak bakalan mempan. Paling gampangnya itu jalanan didepan rumah gue aja masih kacau, apalagi industri musik? Gue bukannya gak memaklumi apa yang mereka lakuin, tapi selama kita jalanin apa yang kita bisa mending dijalanin aja, terlepas itu dapet pemerintah atau tidak. Kalau dapet ya Alhamdulillah, tapi kalu gak ya mending jalanin terus. Itu ajalah pendapat gue kalau soal itu [tertawa]

Lo kan juga terlibat aktif di Industri kreatif. Maksud gw selain bermusik sebagai musisi yang punya band, lo juga terlibat di berbagai hal lainnya. Misalnya lo pernah terlibat scoring film ‘Janji Joni’ dan kalau gak salah yang terakhir film ‘Rumah Dara’. Apa yang lo dapat kesenangan baru disana?

Sangat! Kalau gue boleh cerita dikit, gue pertama kali bersinggungan dengan dunia film itu langsung film yang keren Janji Joni karya Joko Anwar. Darisitu gue sadar kalau ternyata musik itu bukan cuma ngeband, ada scoring film, jingle dan lainnya. Dan menurut gue, scoring yang berhasil itu adalah kalau orang yang nonton gak sadar kalau ada musik disitu tapi dia kebawa sama emosi filmnya.

Jadi lo harus bener-bener  nonton filmnya dulu, baru bikin skema musiknya?

Harusnya seperti itu, kita nonton terus cari moodnya kaya gimana baru kita bikin musiknya sesuai dengan arahan sutradara. Nah, lucunya di film Janji Joni ini gue gak dapet apa-apa. Gue bener-bener cuma baca skripnya terus membayangkan buat musiknya, baru pas pertengahan jalan gue dapet filmnya.

Apa scoring film, bikin jingle dan segala macem itu adalah alternative lo buat eksplorasi diluar band? Biar lo gak jenuh.

Iya, betul. Jadi semuanya ini gak ada jenuh, tapi semuanya juga bisa jadi jenuh. Jadi sekarang itu semuanya akan gue coba, karena itu masih diranah musik juga.

Dan untuk tingkat kesulitannya, apa yang paling sulit diantara ngeband, scoring dan bikin jingle?

Emm, semuanya susah dan semuanya gampang. Soalnya kan kondisinya beda-beda. Kalau misalnya untuk film, kita harus tau mood yang dibutuhin ditiap adegan. Kalau iklan kan paling 15 detik, nah dalam 15 detik itu lo harus padetin semua sehingga pesannya sampai dan sinkron dengan gambarnya. Kalau ngeband kan rata-rata 3 menit, khususnya buat yang diradio-radio dan itu dengan beragam pertimbangan aransemennya lagi kaya gimana.

Lo membuat musik karena pesanan [bikin jingle,scoring] dan juga membuat musik karena keinginan [band], kalau secara pemasukan gue mungkin bisa menebak kalau membuat musik karena pesanan kan duitnya udah jelas ada tapi kalau membuat musik karena keinginan kan belum jelas tuh. Sebenernya lo lebih enjoy dimana?

Dua-duanya gue enjoy, soalnya semua ada tantangannya tersendiri. Misalnya membuat musik karena pesanan klien yang sebenernya gue gak cocok, karena disuruh bikin dangdut. Ya mau atau gak mau, gue harus bikin dan gimana caranya gue harus bikin itu enjoy. Sengak sukanya-gak sukanya lo, loharus kerjain, itu namanya professional. Tapi kalau gue gak suka banget, mending gak usah gue ambil job dari awal. Daripada gue ambil tapi pas ditengah-tengah gue males, gara-gara lo kerjainnya dengansetengah hati? Makanya gue itu cukup selektif kalau buat job made music by order.

Dan untuk Raksasa, apakah itu format band atau sekedar artist collective seperti Melancholic Bitch? Mengingat nama-namanya yang terlibat didalamnya tergolong orang-orang yang cukup sibuk.

Kalau di Melancholic Bitch, Ugo [Vocalist] bilang kalau toh dia gak bisa jadi vocalistnya kan bisa digantiian sama siapa aja asal pesan ceritanya sampai. Tapi di Raksasa, kondisinya gak kaya gitu. Soalnya raksasa itu punya visi yang sama, karena Raksasa itu, meskipun background musiknya kontras banget, ada kecocokan yang gak didapet di bandnya masing-masing. Kalau dicabut satu ya gak udah cocok, karena kita udah punya komitmen sama band ini. Ya meskipun kalau ditanya prioritas, mungkin tiap-tiap orang beda. Kalau lo Tanya ke Pepeng, mungkin dia anggep Raksasa ini side project. Tapi akalu buat gue, raksasa ini main project gue yang sekarang.

Kesulitan apa yang lo dapet ketika berhadapan dengan musisi yang beda genre dan punya nama? Mungkin egonya terlalu besar atau seperti apa?

Untungnya sama sekali gak sulit kalau urusan itu. Kesulitan paling besar kalau di raksasa adalah waktu, ngatur waktunya ribet [tertawa]. Soalnya kalau urusan selera musik kami dipertemukan dengan selera musik rock yang sama, meskipun terpencar diberbagai band. Analoginya pada tahun-tahun segitu, ternyata Adrian Adioetomo, Bony, Pepeng dan Cumi juga mendengarkan apa yang gue dengarkan tapi ditempat yang berbeda. Jadi ketemu pertama itu gara-gara referensi musik di era yang sama, padahal gak kenal-kenal banget sebelumnya. Kaya gue sama pepeng itu baru kenal, sebelumnya Cuma sekedar tahu aja. Tapi pas di studio dan pegang instrument, kok ternyata nyambung. Jadi kalau di raksasa itu, Ian [AdrianAdioetomo] maunya begini, kok gue maunya juag begitu. Chemistrynya dapetlah buat main rock di Raksasa [tertawa]

Di album ‘The Headless Songstress’-nya Tika and The Dissident, lo berperan sebagai produser, bisa certain tentang peran lo disana? Soalnya kan selama ini orang beranggapan bahwa produser itu adalah orang yang ngebiayain rekaman artis, apa lo udah sekaya itu buat mendanai album yang gak pasaran?

Nah ini yang masih perlu dibenerin tentang produser. Produser itu bukan orang yang mendanai. Produser itu adalah orang yang bertanggung jawab mulai dari pre production, production sampai post production. Dari persiapan sebelum rekaman, proses rekaman sampai selesai terus juga harus memberi masukan tentang segala urusan yang berkaitan dengan proyek album band tersebut sampai album itu dirilis. Disitu gue belajar banget untuk bertanggung jawab sama artistnya, dalam hal ini Tika, sehingga gue dituntut harus punya manajemen skill, music skill dan juga psychological skill. Nah poin ketiga ini yang cukup berat, sehingga lo harus mencitrakan diri lo sebagai jalan keluar dari band yang lo kelola ini. Nah gue belajar untuk jadi orang diluar band yang bisa berperan membantu band.

Gimana ceritanya lo bisa sampai produserin Tika, apa ada pertimbangan khusus sebelumnya? Terus gimana sistematika kerja lo dengan Nikita Dompas, yang juga berperan sebagai produser di album ‘The Headless Songstress’?

Gue dan Tika itu udah berteman lama sih, di album pertamanya Tika, gue juga udah ada andil tapi disana kan keroyokan kerjanya. Dan yang meminta dia solo itu juga gue, tadinya kan dia maunya ngeband. Tapi gue bilang kalau mending lo jadi penyanyi solo wanita aja, soalnya jarang di Indonesia yang konsep musiknya kaya lo. Sistematikanya gak strick banget kaya gitu juga sih, pada akhirnya ngerjainnya juga baeng-bareng dengan brainstorming terebih dulu. Gue, Nikita dan TIka itu ternyata cocok meskipun basic musiknya beda-beda

Dan apakah sisi komersialnya itu menjadi landasan pertimbangan dalam memproduseri sebuah artist? Seperti misalnya Krisna Sadrach yang dulu bikin kompilasi metalik klinik sampai beberapa edisi, tapi sekarang jadi produsernya Ungu, ST 12.

Iya, dan gue anggap itu sebagai tantangan lagi. Gue pengen banget memproduseri band pop siapa atau apa gitu. Karena gue tipe orang yang selalu ingin keluar dari comfort zone gue.

Siapa yang menjerumuskan lo untuk bertindak sebagai produser?

George Martin. Dia itu The beatles anggota kelima, kalau gak ada dia, Beatles gak akan segede itu. Orchestra terus nuansa aneh-aneh dari The Beatles, itu dia yang ngerjain. Dia menjembatani ide-ide personil The beatles. Keren tuh orang!

Berada dibawah nama besar orangtua, keberuntungan atau kesialan? Bisa dijelaskannya?

Dua-duanya [tertawa]. Keberuntungannya karena gue banyak belajar dari mereka, secara gak sadar ketika kecil kan gue sering diajak bokap rekaman atau diajak nyokap buat bikin event apa. Dari situ gue udah ada bekal ketika gue putuskan untuk terjun disitu [dunia musik], gue udah gak heran.  Bukan kesialan sih ya, minusnya itu jadi banyak yang berpikiran atau bahkan mencibir kerja gue dengan menganggap bahwa gue memanfaatkan nama orangtua aja. Omongan miring pasti banyaklah. Padahal sih kerja gue itu sama sekali gak diketahui sama orang tua. Gue pernah ditolak sama label, tapi gue diem-diem aja. Gue gak pernah cerita. Meskipun sebenernya kalau gue waktu itu bilang ke nyokap, pasti nyokap bisa melobikan dengan bermacam cara. Tapi ya gue gak mau aja cara kaya gitu, gak suka aja cara –cara kaya gitu. Buat gue, gue cukup belajar dari mereka [orang tua] tapi gue jalankan dengan cara gue. Kalau untuk masalah omongan miring gue sih udah kebal [tertawa] toh bukan mereka juga yang ngasi gue makan, peduli amat gue sama pendapat mereka.

Bisa jelasin lebih lanjut tentang creative pause, di blog lo kan disana tertulis itu cara buat me-disconect. Lo ambil contoh disana, kalau orang muslim creative pausenya itu solat. Dengan dikasih kesempatan 5 waktu buat me-disconnect rutinitas. Kalau buat yang non muslim gimana? Apa harus bertapa atau bersemedi?

Intinya sih disconnect. Kaya misalnya lo udah terintegrasi sama gadget, terus lo disconnect. Gak perlu seharian penuh, cukup beberapa waktu aja. Beberapa jam gitu misalnya. Soalnya dengan gadget kaya gini terus belum ketambahan info-info yang lo dapet dari tv, Koran atau curhatan temen yang tergolong depresi itu semua adalah gangguan. Ibaratnya kalau lo liburan kemana gitu, bali misalnya. Kan enak tuh menikmati liburan, lo keluar dari dunia lo dan lo gak terlalu mikir apa-apa. Karena terlalu banyak info, referensi yang gak lain itu adalah input yang butuh dijadikan output juga. Nah caranya dengan disconnect itu tadi biar lo bisa bikin outputnya, kalau seniman adalah berkarya.

Denger-denger dapet email dari meksiko tentang musiknya Lain, gimana ceritanya?

Kayanya sih dia tau LAIN itu dari youtube, darisana dia ngirim email ke gue tanya tentang gimana cara dapetin CD LAIN. Gue jelasin kondisinya, kalau LAIN itu lagi vakum. Buat gue sih itu Alhamdulillah banget, karena gak nyangka banget musik LAIN direspon sampai kesana. Gue itu berkarya karena gue merasa harus berkarya, bukan karena hal lainnya. Sehingga kalau sampai direspon sampai sana ya jelas bukan tujuan awal gue, dan gue sangat bersyukur akan hal itu.

Jadi lo bukan termasuk orang yang harus keluar negeri dulu baru untuk merintis karir dimusik seperti anggun, mungkin?

Menurut gue, anggun itu salah jalan. Kenapa? Karena cara-cara yang dia ambil itu cara-cara major label, coba kalau dia ambil cara-cara indie. Pasti ada jalanlah ditahun segitu. Nah, Anggun itu mengambil cara-cara yang dicetak oleh industry major label. Bukan Anggun aja sih, banyak juga yang gue dengar kalau musik yang kaya gini itu harusnya kel uar negeri. Gue gak percaya aja! Gue nilai itu cuma omongan orang yang kurang keras berusaha, buktinya white shoes bisa main di SXSW dan banyak band-band Indonesia lainnya yang bisa main ke luar negeri tanpa harus meninggalkan negerinya. Tapi kalu ada band atau musisi Indonesia yang emang karirnya bagus diluar negeri, itu emang berarti rejekinya di ada disana. Jangan bilang kalau disini [Indonesia] dia gak bisa dapet rejeki, dianya aja yang gak liat ada cara lainnya. Basicly gue juga gak cocok sama caranya major label yang gak bener-bener bermusik, infotaintmentlah atau apalah buat mendongkrak promonya. Kalau gak cocok, ngapain diikutin?

Musik itu sifatnya recycle seperti mode, apa pendapat lo?

Kalau recyxle itu gak, tapi referensi itu iya. Kaya misalnya ngambil referensi dari tahun-tahun lama, tapi kan generasinya beda. Kaya gue nih, gue suka banget [Jimi] Hendrix tapi jangan harap gue ngomong soal Woodstock. Gue gak ngerti, karena gue gak hidup dijaman itu. Jadi daripada gue sok tau, mending gue ngomong apa yang gue alamin sekarang aja. Misalnya FPI itu menengangkan atau mungkin mencekam, mending itu yang gue omongin. Kaya misalnya Club 80’s atau White Shoes, mereka itu mungkin ada yang umurnya dibawah gue tapi musiknya gak mencerminkan usianya kan. Musiknya White Shoes kalau dibandingkan sama Indonesia era-era yang dijadikan referensi oleh White Shoes, pasti ada bedanya. Meskipun White Shoes terpengaruh dari musik-musik Titik Poespa, Dara Puspita dan lainnya tapi apasti ada yang mencirikan White Shoes. Gak mungkin sama banget.

Gue tertarik sama statement lo barusan tentang FPI, lo sebagai orang muslim gimana lo melihat FPI? Atau laskar yang berawalan ‘F’ lainnya?

Gue lihat itu sebagai politisasi. Orang kalau menjalankan agamanya secara benar, dia gak bakalan menyakiti orang lain. Kan intinya semua agama itu. Sebenernya gue kasihan sama mereka, kasihan dalam hal kenapa gitu mereka mau aja disuruh ngapain-ngapain yang sarkastik. Bunuh oranglah, ngerusak tempat ibadah. Dan gue yakin kalau itu adalah politisasi, karena dalam agama apapun menyuruh kita untuk berbuat baik.  Gue yang orang islam aja takut, apalagi orang non musilm?

——-

Gak usah diperhatiin si Nazarudin, 2 tahun lagi juga jadi anggota DPR. Sebenernya yang amnesia itu penduduk Indonesia. Makanya,sekarang waktunya untuk menggalakkan gerakan ‘Refuse to Forget’ seperti yang sudah dikenalkan oleh Navicula. Cuma itu resepnya!

“Them Crooked Vultures – Caligulove” gara-gara kemarin iseng ngetweet tentang Joss Stone biar diundang ke Java Soulnation,eh malah jadi ketagihan dengerin band ini. Kok bisa? Soalnya tweet gw,direspon sama seorang teman. Kurang lebih buynyinya seperti ini: “Kenapa harus Joss Stone? Mending Queen Of The Stone Age” nah, saya respon lagi dengan menyebut band Josh Homme lainnya, salah satunya ini. Them Crooked Vultures. Dan khusus lagu ini, sepertinya paling terasa nuansa Led Zeppelin-nya dan kental sekali psychedelicnya. Cuma karakter gitarnya tetep orang geblek ini. Huh! Kapan band ini ke Indonesia? 😀

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

21 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized