Sinner’s prayer

Posted on May 4, 2012

0


Dan waktu menunjukan pukul 22.30 ketika gue memutuskan untuk kembali berbaku hantam dengan pekatnya layar monitor. Masih ada 4 ditambah 1 format yang harus ditransisikan kedalam aksara. Apa itu? Rutinitas yang menyesatkan! Kenapa gue bilang menyesatkan? Karena itu yang gue rasakan. Kenapa gue bisa merasa seperti itu? itu gak penting buat gue jelaskan. Yang pasti semakin bertambahnya hari, gue semakin merasa kalau hidup ini cuma serangkaian upacara yang gak bisa gue dapatkan maknanya. Persis ketika gue masih mengenakan seragam. Ini gak jauh dari kewajiban tak bernada.

Ketakutan demi ketakutan terus digumamkan dalam benak. Entah siapa yang memulainya? Peristiwa apa yang menyulut? Gue lupa dan terus beranjak menuju ke dalamnya. Sesekali mendongakkan kepala untuk menghela nafas, sesekali tertunduk untuk terisak. Dan seringkali memandang lurus untuk sekedar berjalan saja. Jalan yang gue sendiri gak menginginkan untuk ditapaki. Tapi itulah alasan gue untuk terus berjalan, karena gue hidup. Kehidupan yang memilih gue dan apakah alasannya. Gue gak ngerti. Yang pasti gue gak ditanya apakah gue ingin dilahirkan atau tidak sebelum gue tertanam dalam rahim. Dan apakah kita harus mencari tahu? Dengan cara apa? Berserah diri-kah? Berpetualang-kah? Bertanya-kah? Berdakwah-kah? Atau kegiatan yang menggunakan imbuhan “ber” yang lain? Dan gue hanya berjalan, tetap berjalan. 

Gak lain, ini hanya tentang kegalauan individu saja. Gak lain, ini hanya pertanyaan tak bermutu. Gak lain, ini adalah pikiran gue. Gan gak lain, kalian tetaplah kalian. Yang memiliki kesibukan akan hidupnya masing-masing. Dan gue cuma bagian dari sepersekian persen yang memendam pertanyaan tentang untuk apa kehadiran gue disini? Apakah ini penyesalan? Gue gak mau berpendapat. Apakah ini rengekan? Terserah bagaimana kalian memandangnya. Dan apakah gue menyerah? Jauh dari itu! Lantas? Bukanlah hal yang krusial untuk disimak. 

Dan entah apa yang membuat gue terbesit untuk memutar lagu “Sinner’s Prayer” sebuah lagu yang dimainkan oleh 2 musisi blues; Ray Charles & B.B King. Ketika selama ini skeptis begitu terdogmakan dalam otak, ternyata masih ada ruang dalam hati gue untuk menyimak nada-nada melankolis yang menghanyutkan menina-bobokan sudut lain. Gue bukan ahli semiotic yang bertugas membedah makna dalam setiap hal-hal bisa disinyalir sebagai tanda. Gue gak mahir menerka-nerka tanda yang sebenarnya itu hanyalah sebuah tanda saja, titik. Berpikir hal yang lebih kompleks dari rasional, bukanlah kegiatan yang harus diperhatikan dan menyebabkan tersitanya perhatian. 

Sebab kita hanyalah sebilah batu yang hanya diingat jika ada orang ceroboh yang tersandung. Dan bagusnya, saat ini orang semakin berhati-hati, sehingga daya untuk mengingat seseorang akan berkurang kapasitasnya. Sungguh menyenangkan menjadi orang yang berhati-hati. Dan kalau tiba saatnya gue harus menyerah terhadap kehati-hatian tersebut, gue pasti akan mengalah. Tapi alangkah indahnya jika gue gak sempat berhadapan dengan “saatnya” itu.

——- 
“Well if I’ve done somebody wrong. Lord, please! Have mercy if you please.” 
by: Ray Charles & B.B King. 

Jujur gue merindukan seseorang saat ini, sejak hari dimana secara tidak sengaja gue mendengarkan lagu “La Vie En Rose” versi: Louis Amstrong, dalam sebuah film.
——-
Agung Rahmadsyah

Bekasi

24 Juni 2010
Advertisements
Posted in: Uncategorized