Suatu malam di seberang KFC daerah Kebayoran

Posted on May 4, 2012

0


Sebenernya hari ini (Selasa, 27 Maret 2010) gw cukup males buat kemana-mana, soalnya malem sebelumnya terjadi sebuah penculikan oleh kawan lama yang mendadak berada di Jakarta dan keesokan harinya langsung bertolak menuju tempat perantauannya. Berhubung kami masih meiliki sikap kekeluargaan dan rasa tenggang rasa yang tinggi (tai banget bahasanya!), gw kembali mengorbankan rasa kantuk untuk sebuah momen bersama ketiga kawan itu. Intinya sih kita smua terkena sindrom tidur segan melek pun ragu. Tapi kalau udah kumpul, beda cerita. On terus! Haha

Okay, karena hari ini udah ada janji buat interview The Brandals. Gw terjang aja tuh ngantuk, daripada besok-besok tambah ribet lagi ngatur jadwalnya. The Brandals slesai latian jam 22.00, tapi gw datang lebih awal (kurang lebih) 60 menit dari jadwal mereka selesai latian. Soalnya gw gak ikut meeting sampai slesai, takut macet. Eh ternyata jalanan berkata lain. Tibalah gw disana dalam tempo yang cukup singkat. Dan benar, The Brandals masih latian. Gak masalah deh, gw nunggu aja sambil leyeh-leyeh. (Sebelumnya gw sempet bingung nyari tuh studio, sampai terpaksa harus puter balik. Soalnya gangnya agak meragukan gitu. Intinya sih gw nyasar! Haha.) 

Sambil nunggu The Brandals slesai latian, gw ngobrol-ngobrol sama bapak manajer yang bernama Ade dan seorang wanita yang belakangan diketahui bernama meli (Haha! Kaya di berita-berita buser! Orang ini adalah tambatan hati sang gitaris dari band yang mau gw interview.) Setelah memutuskan untuk pindah ke teras atas karena kami memiliki hasrat yang sama akan sebuah momentum penghisapan tembakau, trus kami bercerita tentang apa saja. Dan ternyata si Manajer itu tidak aware sama band yang bernama Pasto. Pas salah satu personilnya, Rayen, lewat sambil nenteng hardcase guitar dan menyapa kami yang sedang ngobrol sambil merokok di teras depan. 
Bang Ade Tanya ke gw:
“Itu siapa ya? Kaya sering liat gw.”

Gw jawab:
“Lah, itu personil pasto bang. Band yang dua cowok pada nyanyi itu.”

Di timpal lagi sama bang Ade:
“Oh, iya sih. Pantesan kok gak asing mukanya.”
Kemudian kami tertawa. (sambil melanjutkan perbincangan yang kurang lebih membahas kekurang pahaman kami terhadap band-band di Indonesia sekarang.) Banyak banget man, dan semua pengen tenar! Kacau.

Selesai melunaskan beberapa batang, kami memutuskan untuk kembali ke bawah sambil menunggu The Brandals slesai latian. Waktu menunjukan pukul 21.40, dan tersisa 20 menit lagi sisa waktu The Brandals untuk menghabiskanwaktu di studio. Gak lama dari pukul itu, mungkin sekitar 5 sampai 10 menit kedepan. Datanglah orang bertubuh gempal berpakaian hitam dan menggunakan celana jeans ¾ yang turun sambil membawa kardus yang didalamnya berisi bagian dari drum (gw lupa itu pedal or snare) beserta 2 tas yang cukup merepotkan untuk dibawa. Setelah gw liat mukanya, kok kaya pernah liat. Wah, ternyata Khemod (drummernya Seringai). Nah lo, ini berarti Seringai mau latian disini juga? Dan benar saja, gak lama setelah itu turunlah satu persatu personil seringai. Sammy yang menenteng hardcase bass dan sebuah hardcase kecil (mungkin bersi efek), Arian yang tidak membawa apa-apa kecuali sebuah botol whiskey kecil yang terbuat dari besi dan diletakan di jaketnya, dan terakhir Ricky yang membawa hardcase berwarna coklat muda (gw yakin itu pasti berisi SG ;salah satu jenis dari guitar pabrikan Gibson; ). Soalnya pas slese latian, ada video klip “AC/DC – Rock and Roll Train”. Di video klip itu, Angus Young memainkan Gitar yang sama dengan gitar andalan Ricky, tapi beda warna. Angus Young pakai Gibson SG berwarna hitam. 
Dan kemudian Ricky berujar:
“Anjrit! SG item.” 

Dan kemudian disambar oleh Sammy: 
“Emang bedanya apa sama gitar lo?” 

Ricky kembali menjawab: 
”Beda sound kayunya. Kalau yang merah, suaranya lebih rock n’ roll, kurang metal. kalau yang item tuh baru, Metal.”
Gw sih gak ngerti karakter kayu, tapi dalam hati gw ngomong: “Gila kurang metal apa sound lo? Udah berat banget gitu! Tapi gak apa-apalah, toh lo juga yang punya hak mengendalikan music Seringai mau dibikin kaya gimana. Dan gw fans kalian. Haha.”

Pukul 22.00 gak terasa udah lewat dari 20 menit yang lalu, saat satu persatu personel The Brandals keluar dari studio. Pertama Eka, disusul Tony (yang buru-buru keatas karena harus memindahkan mobil yang agak menghalangi jalan), Rully, Radit, dan PM diposisi terakhir (kluar sambil ngomong ke gw: “kaya kenal nih?” Gw jawab: “Gw fans lo kali! Masa tega gak ngenalin fans sendiri?”). Seringai udah kumpul, sekarang keluar lagi The Brandals. Mendadak jadi ramai deh ruang tengah itu, mana di Studio A, Pasto lagi latian. (Trus tiba-tiba gw mikir, kalau dibikin gigs dadakan di KFC seberang, pasti bakalan seru nih. 24 jam ini tuh warung! Haha, ngaco-ngaco dikit bolehlah?)

Sesi interview mungkin dimulai hapir pukul 23.00 dan berakhir sekitar 20 menit kemudian. Karena para raut wajah personil The Brandals udah pada lesu (pulang kerja langsung latian! Besok pagi mreka kerja lagi. Pegel juga?) setelah selesai interview trus pindah ke teras buat ngobrol-ngobrol gak berkiblat. Ada yang ngomongin band, ada yang ngumongin kaskus, gak taulah. Gw pendengar aja sambil sesekali menimpali kalo diajak ngobrol. Dirasa cukup, para personil The Brandals meninggalkan tempat itu secara serentak. Dan gw masih belum mau pulang, males bgt di rumah. menghabiskan beberapa batang di teras atas sendirian, trus gw mikir “Kenapa gw gak kebawah aja? Nungguin Seringai slesai latian trus ngobrol-ngobrol deh.” Yaudah, langsunglah gw menuju bawah dan larut dalam putaran jam dinding sambil menunggu pukul 24.00, karena seringai slesai latian jam sgitu.

Gak lama gw nunggu, datanglah seorang yang terlihat tergesa-gesa dan bingung trus masuk ke lorong dan akhirnya bertanya ke gw: 
“Seringai latian disini ya? (sembari menunjuk sebuah pintu yang terletak disebelah kanan)”

Gw jawab:
“Bukan mas, yang disebelah sana tuh! (sambil gw arahkan telunjuk ke pintu di ujung lorong)”

Trus orang berjalan dan gak sampai membuka pintu yang barusan gw tunjuk, akhirnya diamemutuskan untuk menunggu saja. Dan duduk di dekat gw. Setelah gw liat, kok kaya pernah liat tapi dimana ya? Akhirnya gw inget dan bertanya sama itu orang:
“Mas Felix ya?”

Orang itu respon jawab:
“Iya.”

Gw sambar langsung:
“Gw agung dari sound up. Waktu itu pernah ketemu di bandung, acara festive sound. Mas jadi LO-nya Camera Obscura kan?”

Dia jawab lagi:
“Oh, iya iya. Lo ngapain di sini? Mau interview Seringai juga?”

Gw jawab:
“Oh, gak. Tadi gw habis interview Brandals. Males balik aja makanya gw nunggu disini, skalian pengen ngobrol-ngobrol aja kalau seringai udah slesai latian.”

Dia jawab lagi:
“Oh, gitu? Gw mau interview Seringai buat Jakarta Post nih. Tadi sore baru dikabarin dan besok harus udah jadi. Gila!”

Gw jawab:
“Buset? Pr juga tuh deadline!”
Dan tertawalah kami, menertawakan deadline yang terkadang gak tepat waktu. Sambil menunggu Seringai slesai latian, keluarlah personil pasto dan ternyata temennya Felix. Ngobrollah mereka, dari pada bengong akhirnya gw baca Rolling Stone Edisi 100 Immortals (tapi gw gak yakin juga sama judulnya. Pokoknya gitulah) ternyata disana banyak musisi yang namanya belum gw tahu dan kolom tentang musisi itu ditulis oleh musisi yang terinfluence darinya. Sebagai contoh: John Mayer menulis tentang Jimi Hendrix, Eltohn John menulis tentang Stevie Wonder dan Marilyn Manson menulis tentang The Doors.

Lumayan lama juga sih nungguin Seringai slesai latian, tapi Rolling Stone itu cukup membantu membunuh waktu. Akhirnya satu persatu personil Seringai menampakkan diri. Dan sesi interview Seringai oleh Harian The Jakarta Post itu akhirnya dimulai. (Intinya sih gw pengen liat cara menginterview jurnalis yang sudah berkarir cukup lama, soalnya gw masih butuh banyak belajar sama orang yang seperti mas Felix. Mungkin dengan mengamati gw bisa belajar sedikit demi sedikit.) Dan selama sesi interview itu berlangsung gw cuma duduk ditangga sambil ngerokok (berhubung ini shift terakhir, jadi bebas mau ngerokok di ruang tengah.) dan mengamati sesi interview itu berlangsung dan sering kali tertawa karena ucapan yang terlontar dari mulut para personil Seringai yang kocak dan spontan. Mostly, interview itu membahas tentang DVD Seringai “Generasi Menola Tua”, tapi gak menutup kemungkinan juga menyeret ke hal-hal lain.

Selesai sesi interview, akhirnya suasana menjadi lebih gawat. Dengan cara bercanda para personil Seringai dan perkataaan mereka yang memang berbobot. (mengingat smua personil Seringai memang bekerja di bidang media). Setelah cukup lama bertukar informasi, akhir kami memutuskan untuk balik kandang. Dan inilah saat yang bikin gw kaget. Seringai patungan buat bayar studio! (Gila band sekelas Seringai masih patungan buat bayar studio? Ini keren! Udah mreka latian cuma berempat, tanpa membawa tenaga tambahan. Sekarang bayar studio patungan? Wah, makin ngefans gw sama band ini.) 
Dan akhirnya gw pulang dan sempat berpamitan sama sang dewa drum di band itu. Yang sudah terlihat lelah sembari menunggu Arian keluar. Malam yang cukup menyenangkan! Setelah cukup sering bertemu dan berbincang dengan band-band mencari tenar yang terjun ke industry pop Indonesia. Malam ini, 2 band independent yang cukup mencengkram scene musiknya membawa angin dalam pikiran gw untuk membangun idealis itu lagi.

——-

Hari ini (29 April 2010), 3 orang teman gw ulang tahun. Gw pengen ngucapin selamat buat kalian dan pesan gw “terus berusahalah mejadi diri sendiri, para temanku”: Depe (Gw belum pernah ketemu orangnya sama sekali, tapi cukup akrab di dunia maya. Mungkin sesi ke jogja besok, bisa ketemu. Haha, kemarin gagal gara –gara alasan konyol temen gw. ), Mas Ian (Orang yang terus setia berada di kantor), Haikal (Teman Sma, yang lebih dari sekedar teman. Kurang lebih 8 tahun udah kita saling kenal bersama saudara-saudara kita yang lain.) 

Dan satu lagi, Ibunda tercinta! Selamat ulang tahun bu, semoga sehat selalu. Agung gak bisa ngasi apa-apa karena apapun itu gak mampu membalas kebaikan Ibu. Mungkin satu hal yang belum tercapai adalah melihat agung lulus? Okay, tahun ini adalah tahun terakhir agung berada di kampus untuk membuang uang semester yang di ganjar oleh sebuah transkrip. Semoga gak ada halangan! Dan tadi gw putuskan untuk resign dari kerjaan ini dalam tempo 2-3 bulan lagi. Setelah itu,focus mengerjakan skripsi. Walau mungkin gw masih akan cukup sering untuk tektok jakarta-malang.

Lagu dari “Incubus – Make A Move” mengingatkan gw sama projek bersama Tedja yang sampai saat ini belum terlaksana, karena terhambat factor vocalist. Bikin Band yang mengcover lagu khusus Incubus. Tenang ja! Insyaallah bulan agustus, kita udah bisa merealisasikannya. Haha! Gw kangen suasana studio dan ngulik lagu! Militant Express? I am ready to meet you.
——————

Agung Rahmadsyah
Malang
29 April 2010
Advertisements
Posted in: Uncategorized