Terima kasih pak! (sebuah wejangan sore dari bapak pemilik warung)

Posted on May 4, 2012

1


“hasta la Victoria siempre” (Sampai kemenangan abadi nanti!)

Mendadak gue teringat serangkaian kata itu. Kata yang terlontar dari mulut seorang Ernesto Guevara Lynch de La Serna kepada seorang guru wanita, menjelang ia menghadi ajal dihadapan peluru pada Oktober 1967 dalam sebuah negara yang diyakini itu adalah Bolivia! Ironisnya belakangan ia menjadi tokoh pop, padahal hal yang diyakininya jauh dari perspektif populer.

Insiden ini terjadi saat sore hari. Ketika gue memutuskan untuk keluar dari rumah, setelah selesai memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM). Kayanya gue gak perlu cerita berapa lama mengurusnya, berapa biaya yang keluar untuk itu, apakah disana masih ada calo/perantara. Silahkan datang dan rasakanlah busuk dan buruknya birokrasi di Negara ini. Bagaikan sebuah luka yang secara sengaja dibiarkan menganga, semakin lama banyak belatung yang saling berebut untuk mendapatkan sari pati dari sebuah koreng. Banyak belatung yang sudah gendut dan terlihat seperti sudah mati karena mereka hanya diam saja, mungkin mereka sudah nyaman disana. Tapi masih lebih banyak belatung-belatung muda yang sangat gesit mencari celah untuk merasakan sensasi koreng yang menganga. 

Kemeriahan belatung dalam koreng itu hampir membuat si pemilik tubuh apatis untuk memberikan obat, karena celah yang ada itu tertutupi. Dan itulah analogi yang gue dapat simpulkan. Lo gak bakalan ikhlas waktu lo terbuang disuatu tempat, bukan? Karena sebuah pepatah yang sangat dipegang oleh setiap Instansi dalam negeri adalah: “waktu adalah uang”. Maka etos kerja mereka adalah, semakin besar anda menyerahkan uang maka semakin hematlah waktu anda. Ingat waktu adalah uang, saudaraku sebangsa dan setanah air. Jayalah oknum-oknum negeriku!

Gak ada yang menarik untuk gue ceritakan lagi tentang apa yang terjadi disana. Cuma dua hal yang bisa gue dapet.

1. Siapkan investasi yang melebihi kriteria pemerintah. Kenap gue bilang investasi? Karena lo gak mungkin berurusan dengan perangkat pemerintahan itu setiap hari. Dan wajar saja jika itu adalah investasi. Investasi disini bukan hanya sekedar materi, tapi juga relasi. Semakin banyak relasi maka akan semakin mudah kalian mejadi bagian dalam system itu

2. Perangkat adalah bidak, dan posisi kita adalah bidak lainnya. Hitam-putih! Apakah kita rela bidak-bidak itu memperalat kita yang posisinya berseberangan? Sekali lagi, hitam-putih! Mungkin kalian menyadari dalam diri, bahwa itu tidak benar. Tapi kembali mengigat kapasitas kalian, apakah kita bisa berbuat sesuatu? Bisa! Ingat factor relasi. Kalian adalah orang-orang yang bersosialisasi, bangunlah relasi dengan bidak yang sealur dengan kalian. Dan bertindaklah sesuatu untuk mematahkan system itu. System yang seperti apa? System yang dilacurkan oleh oknum! Apakah kalian ikhlas Negara ini dilacurkan oleh rakyatnya? Menurut gue, itu sama saja dengan seorang anak yang melacurkan ibunya. Masih ikhlas?

Dan gue sebagai orang yang sadar akan kapasitas itu, maka gue mencoba menulis ini. Gue harap bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki rasa ketidak ikhlasan tersebut dan melakukan sesuatu yang berguna untuk waktu yang akan datang. Kalau boleh gue berkata secara muluk, biarkan kita menjadi martir jika amunisi selanjutnya dapat menghancur leburkan benteng itu. 

Ok, terlepas dari kejadian itu, gue berencana untuk menepati janji menonton sebuah band cutting edge ibukota. Tapi begitu gue keluar rumah untuk membeli rokok di sebuah warung depan komplek, ternyata volume kendaraan di jalanan menuju provonsi DKI Jakarta, lagi lucu-lucunya! Dalam masa pekembangan, yang menurut iklan-iklan susu balita membutuhkan asam folat untuk pembelahan dan pertumbuhan sel. Waktu itu masih jam 4 sore, bisa lo pikir sendiri mau slesai jam berapa tuh macet! Huh, langsung aja gw merapat ke sebuah warung karena disana gue melihat temen gue. Niat awalnya sih pengen ngobrol, tapi teryata temen gue itu udah ngobrol sama kakak gue. Haha! Berhubung gue gak mau ganggu, Yaudah deh gue merapat ke orang yang jaga warungnya aja.

“Sini gung!” kata si bapak itu (maaf gue gak mau menyebutkan nama bapak ini, soalnya ini berhubungan dengan keselamatan beliau. Haha, gue serius!)

“Iya pak” sahut gue sambil meletakan pantat gue disebuah bangku kayu, khas warung-warung nasi penggir jalan. Gak menariklah buat ngebahas tuh bangku. Apalagi bertanya udah siapa aja yang duduk di itu bangku? 

“Ini nih, mainan bapak” Sambil nepuk-nepuk bahu gue

“Lho, kok mainan sih pak?” Gue merespon cepat ucapan sang bapak.

“Hehe, anak didik maksudnya.” 

Gue sebenernya udah tau maksudnya itu, tapi emang gue pengen bercanda sama itu bapak. Lepas darisana gue mulai ngobrol panjang lebar dengan bapak itu. Dimulai dari mengomentari teman komplek gue yang tiba-tiba datang sambil merokok (tapi si bapak baru sadar, kalo ternyata temen gue itu ngerokok).

“Lho, si …. ngerokok ya?” (sengaja lagi gak gue sebutin nama)

“Iya pak, udah lama kok.”

“Oh, bapak sih baru tahu. Kalo gak salah, Agung ngerokok juga kan ya?” Lanjut si bapak dengan logat sunda yang diracik dengan bahasa Indonesia. 

“Ini pak.” Gue berkata sambil melihatkan rokok yang sudah terbakar dan terselip di antara jari tengah dan jari telunjuk, tangan sebelah kiri.

“(Tertawa) Gak apa-apalah ngerokok. Soalnya bapak gak bisa ngelarang orang buat gak ngerokok, kan bapak juga ngerokok. Bapak juga udah ngerokok selama 60 tahun, Alhamdulillah gak kenapa-kenapa. Tapi jangan sekali-lagi menyentuk narkotik.” 

Jujur gue kaget, “Gila udah 60 tahun ngerokok?” Gue tahu dampak buruk dari rokok, tapi buat sebagian orang, hal itu diletakan pada posisi sekian dalam urutan prioritas. Dan gue termasuk salah satu orang yang mengambil cara itu dan gue yakin itu bapak gak boong. Berdasarkan hampir hilangnya gradasi warna dari hitam ke putih dalam helai-helai rambut bapak itu, bahkan di kumisnya pun terlihat pemandangan serupa. Semuanya memutih.

Mulai dari perbincangan tentang rokok, sampai hal-hal yang berkaitan dengan dunia jurnalistik. Emang gue sering denger kalo bapak ini adalah seorang yang pernah bergelut dalam dunia ini, tapi gue baru tau kalo ini bapak pernah bekerja di kantor berita Indonesia pada akhir tahun 50’an sampai meletusnya peristiwa G30 S PKI. Pertama-tama, beliau bercerita tentang latar belakang pendidikan yang pernah mengenyam pendidikan formal di Sekolah Tinggi Publistik (STP). Saat ini dikenal dengan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, Lenteng Agung. Sampai bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah karena selisih pendapat dengan dosen.

“Dulu bapak sempet kuliah di STP, kalau sekarang namanya ISIP yang daerah Lenteng Agung itu. Tapi gak slesai. Gara-gara berantem sama dosen. Gak ada ijazah-lah”

“Kenapa gitu pak?”

“Ya soal selisih paham, masalah nama doang. Gara-gara menyingkat nama pas ngisi formulir apa gitu, trus dia bilang kalo nama belakang saya rancu dengan singkatan doktorandus. Padahal emang itu form udah gak cukup lagi, makanya saya singkat. Tapi tuh dosen tetep ngotot. Akhirnya saya bilang gini “Pak, ini nama saya. Yang ngasi juga bukan bukan bapak. Mau saya singkat TAI juga gak ada malsah kan sama kepentingan bapak?” ”

“(Tertawa) Trus akhirnya gimana pak?” Sumpah gue ketawa pas itu, dan mikir gila nih orang ekstrim juga tahun segitu sama dosennya.

“Ya bapak disuruh minta maaf, tapi ya bapak gak maulah. Soalnya bapak pas itu udah kerja juga soalnya. Jadi ya bodo amatlah ijazah.”

“Oh gitu pak. Pas kuliah itu, bapak udah kerja dimana?”

“Di kantor berita ANTARA”

“Wah, di ANTARA? Tahun berapa pak?”

“Sekitar tahun 58 sampai 65. Slesai peristiwa PKI itu, soalnya sebagian besar orang disana (ANTARA) yang memihak pada Soekarno.”

“Bapak juga?”

Sebenernya gue diwanti-wanti sama ini bapak buat gak certain, tapi gue merasa kalau ini adalah sebuah bagian dari cerita sejarah. Ya, beliau pernah dipenjara di rutan Salemba selama 11 tahun 1 bulan 1 minggu dan 1 hari. Setelah sebelumnya nasibnya diombang-ambingkan di mahkamah luar biasa. Beliau juga bercerita tentang poros PKI pada waktu itu yang terpecah menajdi 2 (Peking dan Moscow), tentang masalah internal PKI sehingga terjadi peberontakan itu, tentang Pramoedya Ananta Toer, tentang teman penjaranya yang pernah berusaha menembak Bung Karno pada saat solat Ied, tentang alasan dia kenapa sampai habis-habis membela Bung Karno, tentang agama, tentang KTP-nya yang diberi tanda “XT” setelah keluar dari penjara, tentang buku-buku, tentang dunia Jurnalistik, dan yang paling penting tentang ia menyikapi kehidupan setelah berbagai pengalaman yang ia lalui dalam hidupnya. Hal yang paling penting menurut dia adalah: Bersedekah, bersabar dan keyakinan.

Gue gak akan menjelaskan secara lebih rinci tentang berangam “tentang” yang gue jabarkan tadi, biarkan ini jadi inspirasi gue dalam menyikapi kehidupan. Sebab gue sendiri masih ragu untuk menentukan jalur hidup sepeti apa yang akan gw lalui nanti, tapi setidaknya ketiga hal itu akan gue amalkan. Sebab ditenga-tengah cerita yang sebenarnya berakhir pada adzan magrib, karena ia harus mempersiapkan menutup warung, beliau berkata:

“Sekarang bapak tantang Agung, bisa gak ngelakuin 3 hal itu tadi? Kalo bapak yang hidupnya susah aja bisa, Agung juga harus bisa.”

——- 
Terima kasih pak, saya pasti akan berkunjung ke rumah bapak. Karena kita berjanji untuk bercerita lebih lanjut tentang dunia jurnalistik yang secara tidak sengaja membawa saya ke berbagai hal yang menyatukan kita lebih lanjut. Saya akan menepati janji sebelum saya kembali ke Malang dan semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lain waktu. Terima kasih pak.

Pas nulis ini, “Seringai – Lencana” sedang lantang bersuara dari balik amplifier. Karena tiba-tiba gue teringat tulisan Arian 13 di majalah Rolling Stone, “Kumpulkan semua lirik dari band yang kalian sukai, dan baca kembali! Jika musik bisa menjadi senjata, sementara amunisinya adalah lirik”. 
——-
Agung Rahmadsyah
Malang
27 Juni 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized