Ternyata kondisi cuaca berbanding terbalik dengan kadar distorsi

Posted on May 4, 2012

0


Silahkan tanyakan saja kepada puluhan ribu penonton yang menyesaki Pantai Carnaval Ancol pada tanggal 8-10 Oktober 2010. Apa yang terjadi dengan alas kaki mereka (khususnya dihari pertama)? Yang pasti dalam festival ini semua mendapat pelajaran berharga bahwa “Sesungguhnya beginilah seharusnya kondisi konser yang menampilkan attitude rock” mengutip perkataan salah seorang dari pihak penyelenggara acara. Selain membutuhkan pengurasan energi karena jumlah stage dan  lokasinya yang cukup kompleks, acara ini diselimuti kadar distorsi yang sudah masuk dalam taraf ‘Peak’. Inilah Java Rockin’ Land 2010, The Biggest Rock Festival in South Asia, dan kali ini ia telah memasuki usia yang kedua. Can you handle it?

Jumat, 8 Oktober 2010

Sekitar pukul 16.00 saya memasuki arena konser ini dan langsung timbul 2 buah pertanyaan dalam benak “Apa yang menjadi alasan font Iron Maiden dipilih sebagai tulisan pada tiap booth? dan satu lagi “Apakah hujan akan turun dihari ini?” pertanyaan kedua langsung terjawab sekitar 30 menit kemudian. Tanpa basa-basi awan yang kelabu itu memuntahkan ribuan galon air dalam bentuk yang tercerai berai selama 1 jam kedepan. Namun kondisi ini tidak menyurutkan niat pengunjung yang pada hari itu datang untuk menjadi saksi hidup The Smashing Pumpkins. Selain headliner pada hari itu, 10 stage yang tersedia bukan menjadi tantangan mudah untuk menaklukan hasrat dan menyalurkannya, sebut saja: /rif, Data Rock, Raksasa, Steve Fister, The Brandals, Pas, BIP, Noxa, Pure Saturday, The Flowers siap menggelitik birahi pengunjung yang belum punya tujuan pasti di hari itu untuk memfokuskan sebagian indranya ke satu titik. Perhatian khusus saya tujukan untuk para penggemar Billy Corgan, yang ikhlas mengantri untuk mengabadikan dirinya bersama sang idola yang telah dikonstruksi di area photo wall. Meskipun bagi sebagian besar orang, menyaksikan The Smashing Pumpkins pada saat ini lebih layak disebut sebuah konsep ketimbang sebuah band yang memiliki ego personil, karena ego The Smashing Pumkins dikendalikan dalam kepala plontos sang frontman. Selain dekorasi panggung yang cukup absurd dan  kharisma ke-dewa-annya di atas panggung untuk menguasai pemujanya, bukti sebuah sikap arogan juga dipertunjukan di hari itu. Dan itu bukanlah hal yang menarik bagi sebagian besar penggemar fanatiknya, pertunjukan The Smashing Pumpkins diakhiri dengan perasaan yang mengganjal. Tanpa encore dan tanpa basa-basi! Tapi ada satu penampilan yang patut dicatat dan tanpa cacat pada hari itu adalah legenda music indie Indonesia, PAS yang tampil dengan Richard Mutter. Sangat Impresif untuk  sebuah lagu yang berjudul Jengah!

Sabtu, 9 Oktober 2010

Mungkin ada pemikiran bahwa Roxx adalah salah satu band yang perlu diselamatkan pada hari ini dari teror cuaca ekstrim di Jakarta, sehingga Gudang Garam Dome Stage terasa cukup Sesak pada pukul 17.30 sampai 60 menit kedepan. Dan 2 penampil selanjutnya pada berada pada area yang sama ternyata cukup menjadi magnet baru di hari itu Indonesia Nu Progressive dan The Experience Brothers. Dashboard Confessional, Arkarna dan STEREOPHONICS adalah pentolan pada hari itu. Meskipun Arkarna tidak diposisikan untuk berada 1 panggung dengan Dashboard Confessional dan STEREOPHONICS. Tapi kondisi ini tidak menyurutkan Ollie Jacobs untuk membangkitkan romantisme era 90’an, dengan tembang-tembang andalan seperti: ‘Life is Free’, ‘Insomnia’, ‘Stoned’, ‘So Little Time’, meskipun sebagian besar orang yang berkumpul di sebuah stan minuman beralkohol berpendapat, hamper senada “Kenapa ini (Arkarna) sih?” namun saya segera menyadari, mungkin karena posisi mereka yang cukup berdekatan dengan Tebs Stage yang berikan BURGERKILL pada waktu yang bersamaan dengan Arkarna. Dan untuk pertunjukan selanjutnya, hampir di waktu yang bersamaan juga terjadi pengondisian massa antara 2 nama: STEREOPHONICS & GIGANTOR. Tapi siapa dulu segmennya? Buat sebagian besar pengunjung di hari kedua itu dan dapat terlihat secara kasat mata, panggung paling besar di selatanlah yang disesaki oleh ribuan kepala pengunjung. Namun untuk para metalheads mereka lebih memilih hijrah ke panggung yang berisikan GIGANTOR, dan ternyata lebih dari sekedar menarik untuk meniliknya!

Minggu, 10 Oktober 2010

Cuaca cerah dan cenderung terik pada hari ini, tidak menyurutkan penonton datang tepat pukul 15.45  untuk menyaksikan Seringai yang untuk kali ini didominasi kemeja pantai yang menurut sang frontman Arian 13, menambah kesan “Sangar” bagi band Metal ini. Tapi kondisi ini malah membuat penonton tersenyum geli. Sekedar info: Diantara 10 stage, Free Your Soul Yamaha Stage patut diwaspadai pada kali ini. Nama-nama seperti Besok Bubar, Konspirasi, Getah, Purgatory, Dead Squad siap menggempur headbangers pada hari terakhir ini. Dan sebagai puncak acara rock prestisius ini, The Vines, Wolfmother, Mutemath dan Stryper tampak sengaja dipasang berselingan seakan siap menghantam tanpa jeda. Craig Nicholls (The Vines) yang dari sore terlihat cukup akrab dengan beberapa fansnya dibelakang panggung dan bersedia untuk melakukan sesi foto bersama nampaknya memang punya kepribadian sebagai seorang rockstar. Hal ini ditunjukan dengan memorakporandakan gitarnya dan drum set di Langit Musik stage. Yeah! That’s a rare show. Sebelum penampilan Stryper, beberapa musisi seperti Otong (Koil), Dedi (Andra and The Backbone), dan Bagus (Netral) mengajak penonton untuk sejenak mengheningkan cipta atas bencana alam yang menimpa Wasior, Papua, yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan 2 jam sebelumnya, pada pukul 19.30, Wolfmother yang menyisakan Andrew Stockdale sebagai pejuang awal, ternyata tidak menyurutkan minat penggemarnya untuk terhanyut dalam konsep psychedelic rock yang cukup unik dengan memaksimalkan penggunaan instrument secara teknis. ‘Riders On The Storm’ dan ‘Baba O’ Riley’ ternyata tidak luput dari perhatian penonton yang dari awal sibuk berteriak sejumlah lagu yang menjadi hits band asal Australia ini.

Untuk kali ini, secara tidak resmi, Dead Squad didaulat sebagai band penutup “The Biggest Rock Festival in South Asia” dan seketika itu pula saya teringat celoteh seorang teman ke arah saya ketika hujan turun dengan bengisnya di hari pertama. Ketika kami sama-sama berteduh dekat stage yang berada tepat samping pantai, dan kemudian ia berteriak ke arah saya dengan berkata: “Lollapalooza!” Saya tidak mengerti pasti maksudnya berteriak seperti itu, tapi semoga saja ia berteriak dengan harapan agar festival ini berjalan sepesar Lollapalooza! Atau setidaknya Java Rockin’ Land akan terus berseri dan lebih memperhatikan line up yang tertera, karena ajang ini terlanjur menasbihkan sebuah genre kedalam nama acaranya.

******

Berikut ini beberapa foto yang berhasil didapat.

Special thanks to: Ade Irawan dan Tony Santana (yang bersedia saya minta artworknya,haha. thanks man!)

Kondisi penonton dihari pertama (FYI: booth yang menjual payung dan jas hujan adalah no 1 chart saat itu)
Mungkin saja ada Adrian Smith atau Steve Harris disalah satu booth itu!
apakah ini indikasi kalau penonton sudah bosan menunggu STRYPER?
Silahkan hitung sendiri laju kecepatan para metal heads saat NOXA beraksi!
Craig Nicholls (The Vines) konstruktif di bawah, namun destruktif di atas panggung. nice!
Dan saya tidak mendapat foto close up The Smashing Pumpkins!
Pure Saturday yang tampil santai namun tetap dinanti
Tata cahaya panggung gelap dan STEREOPHONICS yang bersinar
Arkarna yang terbalut distorsi? Here they are.
Daud (The Experience Brothers) yang berulah layaknya (alm) John Bonham pada malam hari itu
Tampak lepas, karena Ini bukan kali yang pertama dalam tahun ini bagi Dashboard Confessional tampil di hadapan publik Indonesia
“Gue gak peduli kalau ada produser sinetron yang ada disini” ucap Tony (Noxa) sembari berulah seperti ini. Sikap yang layak ditiru untuk menyoroti kondisi pertelevisian Indonesia! SALUTE
Leo dan Eugene cukup piawai mengimbangi Boris dan Njet. Dan The Flowers siap bikin “oleng”para rajawali dan rajawati
Eka (The Brandals) yang seperti baru saja pulang perang atau pulang panjat pinang?
Dipo (Gigantor) menggunakan gitar yang sealiran dengan musiknya.
3 personil Seringai yang tampil ‘Sangar’ karena kostumnya! “TI.. FA.. TIFATUL!”
Patut dipertanyakan kepada Rezanov (Gribs) apa yang terjadi dengan dirinya sebelum naik panggung. (sebuah bra di stand mic dan darah segar mengalir dari mulut)
PAS + Richard Mutter = over dosis penonton!
Wolfmother formasi Cosmic Egg.

——-

Tulisan dan foto diatas adalah hasil reportase untuk majalah Sound Up. Namun sangat tidak menutup kemungkinan ketika dicetak dan beredar nanti, akan ada penambahan atau pengurangan karena beberapa faktor yang menjadi pertimbangan. Itu biasa terjadi dalam dapur redaksi. Untuk itu saya menerbitkan versi orisinalnya disini, hahaha. Silahkan dikritisi.

“Iron Maiden – The Nomad” kenapa berasa menjadi ustad tiap kali mendengarkan lagu ini? Ustad yang selalu berdoa kepada Allah untuk  mendapatkan petunjuk dari konser Iron Maiden tahun depan di Indonesia (meskipun kejelasannya masih diragukan, tapi saya sangat berharap positif). Dan mengutip perkataan yang bagus dari Katy Perry, seperti yang tertera di majalah Rolling Stone edisi Oktober (akhirnya saya tuntaskan juga rubrik ini, haha) : “Seandainya saya berdoa untuk sebuah situasi, namun saya tidak memahaminya secara rasional, saya membiarkan jiwa saya berdoa untuknya”. Mari terapkan ini untuk kedatangan Iron Maiden! Up The Irons

——-

Agung Rahmadsyah
Malang
18 Oktober 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized