Terus buatlah jarak. Maka kami akan hadirkan neraka

Posted on May 4, 2012

0


Tadi siang, sebelum berangkat buat liputan cobra starship di tennis indoor, hujan turun cukup deras di daerah rumah gw. Padahal gw janjian jam 3 mau ke kantor buat ngambil materi band yang mau di interview hari jumat. Huh! Minggu ini cukup padat ternyata dan sifatnya lumayan dadakan. Cukup membuat gw untuk menghela nafas dan bersiap menganiaya seseorang yang berulah konyol di jalanan Jakarta, sayangnya kesempatan itu belum ada sampai sekarang. I’m waiting, waiting for the punch.

Sambil menunggu hujan reda, gw sempet-sempetin dulu buat ngaskus. Haha. Begitu masuk kaskus, di hot thread ada hal yang menarik. Judul thread-nya “Kebiasaan-kebiasaan Bagus di Amerika Yang Patut Kita Contoh gan (pic++)”. (Ntr gw kasih linknya)

Disana ada 7 point yang emang bagus untuk ditiru. Tapi yang menjadi alasan gw untuk berulah lagi di notes ini adalah point ke 2. “Persamaan Nasib di Jalan”. Disana ditulis, “Jabatan atau pangkat tidak berlaku di jalan. Mau gubernur, walikota, administrator county, jenderal bintang empat sekalipun kalau jalanan macet ya ikut terkena macet. Di Amerika jarang terlihat mobil pejabat lokal dikawal oleh polisi sambil membunyikan sirene. Hanya polisi, pemadam kebakaran dan ambulans yang dalam keadaan darurat (emergency) boleh membunyikan sirine dan harus diprioritaskan. Kendaraan apapun dan milik siapapun harus minggir.” 

Wow! Kl di dengar, alangkah demokratisnya jalanan disana? Gak ada pengkastaan. Begitu gw baca point ini, gw langsung inget sama beberapa hal (yang pasti kalian pernah alami). Ada 2 hal yang langsung membuat gw teringat akan kontrasnya kondisi kita dengan point tadi. Dan dua-duanya terjadi waktu gw masih kuliah di malang (sampai sekarang aslinya gw jg masih tercatat sebagai mahasiswa sana, tapi jaraklah yang membuat gw gak bisa merasakan sejuknya kota yang sekarang sudah berubah jadi rentetan ruko. Haha) 

Pertama (gw lupa tahun berapa tepatnya) adalah disaat wakil presiden yusuf kala ingin mengunjungi sebuah perguruan tinggi swasta di daerah landungsari. Gw yang waktu itu dari arah landungsari mau ke kampus, merasakan macet yang aneh. Ada apa nih jam segini macet? Lagian kenapa macetnya disini juga? Biasanya gak pernah macet nih daerah sini! Sambil menunggu dengan bertanya-tanya dalam hati dan akhirnya gak sabar, gw putuskan untuk bertanya kepada orang yang berkendara dari arah yang berlawanan. “pak, ada apa sih?” dan si bapak menjawab, “itu, wapres mau lewat. Padahal orangnya masih ada di kota (ada beberapa orang yang menyebut alun-alun malang sebagai kota)”. Setelah bapak itu beranjak, gw langsung mengumpat. “anjing! Orangnya dimana, macetnya udah nyampe mana? Sumpah, kontol nih orang!” dan Cuma itu aja yang bisa gw lakukan sabil menunggu, yaitu meng-um-pat! 

Setelah puas gw mengumpat, gw langsung teringat sama lagunya iwan fals yang berjudul bung hatta. Ini adalah tokoh nyata yang dipilih iwan fals untuk dijadikan lagu, kalau diperhatikan dalam lagunya iwan fals hamper gak ada nama orang yang merupakan tokoh nyata untuk dijadikan sebuah judul lagu. Tapi ini, bung hatta. Ada apa dengan dia? (mending dengerin sendiri deh lagunya dan simak liriknya) dari lagu itu, gw bisa mengambil kesimpulan kalau bung hatta itu orang yang bersahaja dan gak macem-macem. Figure pemimpin yang udah langka jaman sekarang. Posisi dia sama yusuf kalap pada waktu itu sama. Sama-sama wakil presiden. Tapi apa kondisinya? Jelas beda dong. Dulu mobil kan jarang banget, tapi sekarang? Lo Tanya aja tuh sama mahasiswa yang sering berdiri di pinggir jalan sambil bawa-bawa alat kaya tripod dan mereka asik ngintip dari sana sambil nyatet. Setau gw itu dari ilmu tata kota. Nah, coba lo tanya deh berapa jumlah mobil yang lewat dalam 5 menit? Brani taruhan sama gw? Kl jumlahnya kurang dari 100, lo potong tuh kupingnya yusuf kala! Gw tulus, ikhlas dan ridho. Haha.

Balik lagi ke Mohammad Hatta. Figur yang oleh seorang virgiawan listanto ini, digambarkan sesuai dengan apa yang dibutuhkan rakyat. Dan kepergiannya meninggalkan pilu yang mendalam, setidaknya bagi iwan fals. Dan itulah alasan gw berpikir kesana. Bayangin kalo seorang mohammad hatta melewati sebuah daerah, apa yang sekiranya akan dilakuakn oleh orang-orang? Gw yakin jawabannya, pasti orang-orang rela menunggu lama untuk sekedar memberi salam hormat kepada beliau. Dan apa yang dilakukan oleh mohammad hatta? Beliau pasti akan membalas salam hormat itu dengan menebar senyum dan sikap ramahnya, meskipun sembari berlalu diatas mobil yang ditumpanginya. Tapia pa yang terjadi dengan wakil presiden kita sebelum boediono ini? Orang-orang dipaksa menunggu lama, sekali lagi, DIPAKSA! Sehingga timbul rasa terpaksa yang menyebabkan pertanyaan-pertanyaan ini mengalir tanpa filter di benak gw. “Siapa sih orang ini? Apakah sehebat itu dia sampai harus membuat kepentingan ribuan orang terbengkalai? Seandainya bung Hatta hidup di saat ini, apa dia rela melihat penerusnya berulah demikian terhadap golongan yang susah payah dibelanya, rakyat?”

Kalau gw perhatikan, inikah yang diinginkan pemerintah Indonesia sekarang? Mengabaikan kepentingan rakyatnya? Sebelumnya, ada yang pernah nonton “Looking For Fidel”? Itu sebuah film documenter yang dibuat oleh seorang jurnalis amerika serikat yang pergi ke cuba, untuk membuat film pendek tentang Fidel Castro dan sebuah permasalahan di cuba, yaitu imigrasi. Disana diceritakan beberapa imigran gelap dari cuba yang tertangkap di amerika serikat, duduk bersama Fidel Castro. Dan terjadi sesi tanya jawab. Sebelumnya Fidel Castro sudah melakukan upaya diplomatis yang alot dengan amerika serikat, sehingga para imigran ini berhasil dibebaskan dan dikembalikan ke Negara asalnya. Dan pertanyaan utama fidel castro adalah, “apa yang menjadi alasan kalian untuk melarikan diri dari cuba?” dan sebagian orang menjawab, karena alasan ekonomi. Fidel Castro pun memahami jika alasan itu yang dipilih, karena cuba adalah salah satu negara yang masuk daftar hitam negeri paman sam. (untuk lebih jelasnya, lo liat aja sendiri filmnya. Gak asik kalo di certain, haha) Yang menjadi perhatian gw, ada sebuah scene dimana Fidel Castro keluar dari mobil hanya untuk sekedar melambaikan tangan kepada ribuan orang yang tumpah ruah di jalanan. Padahal pas itu, dia lagi asik ngobrol dalem mobil. Wow! Takjub gw. Seorang Fidel Castro, tokoh revolusioner cuba yang menjadi motor gerakan penggulingan rezim batista di tahun 60’an, rela menghentikan perbincangan demi membalas sambutan dari rakyatnya yang sudah dibelanya sampai ia berumur lebih dari 80 tahun. Sebuah sikap yang mencerminkan kalau dia itu seorang figure pemimpin yang benar-benar bisa memimpin.

Sedangkan disini? Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apa yang sedang terjadi? Saah satu contohnya adalah pembangunan pagar istana Negara nominalnya sangat menakjubkan. Dan terpikir oleh gw, apa yang ingin diciptakan oleh pemerintah sekarang? Apakah sebuah jarak terhadap rakyatnya? Gak cukupkah pagar gedung MPR/DPR RI, yang notabene wadah yang berfungsi menampung dan menyalurkan pendapat rakyat, diciptakan sedemikian bengis dan akses masuknya yang sangat rumit bagi rakyat tanpa koneksi? 

Ya, teruslah ciptakan jarak dengan rakyatmu. Niscaya cepat atau lambat, neraka ini akan hadir tepat di hadapan kalian. Jangan heran kalau nanti kalian melihat para penjaga yang kalian sewa akan lari tunggang langgang kebingungan sembari meninggalkan anda yang siap masuk dalam amukan massa. Sabar, tunggulah saatnya tiba. Teruslah pertebal jarak kalian! Tapi jangan bilang kalau saya tidak pernah mengingatkan kalian akan bahanya kondisi ini, kondisi dimana neraka akan tepat berada di depan kedua mata kalian!

—Mosi tidak percaya, sebuah lagu dari Efek Rumah Kaca menemani gw menulis ini. Sementara masih cukup banyak kerjaan yang belum gw selesaikan, otak gw lagi-lagi beranomali. Dan sekarang saatnya gw mencoba berkompromi dengan otak yang tidak bisa dikendalikan ini.—

sumber:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3669279 
http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/06/kebiasaan-kebiasaan-bagus-di-amerika/
——————

Agung Rahmadsyah
Bekasi
24 Maret 2010
Advertisements
Posted in: Uncategorized