“They came to kill the unborn in the womb”

Posted on May 4, 2012

0


IRON MAIDEN : THE FINAL FRONTIER WORLD TOUR 2011

20 Februari 2011, Garuda Wisnu Kencana, Bali

Iron Maiden

Jauh sebelum hebohnya warga tionghoa “memerahkan” suasana untuk menyambut kedatangan kelinci emas di tahun 2011, para penggemar musik di Indonesia sudah terlebih dahulu “kebakaran jenggot” dalam mempersiapkan diri mereka menyambut momen berharga dalam hidupnya. Legenda musik heavy metal, Iron Maiden, dipastikan bermain di Indonesia pada tanggal 17 dan 20 februari 2011 di dua tempat yang berbeda, Jakarta dan Bali. Ironisnya, berita ini sudah ramai diperbincangkan sejak bulan September 2010 bahkan pada tanggal 14 November 2010, sejumlah 3000 tiket pre-sale yang dijual di Jakarta juga ludes terjual. Bagi sebagian orang, menyaksikan Iron Maiden merupakan sebuah Ibadah yang wajib dilakukan minimal sekali dalam hidupnya. Namun bagi saya, Iron Maiden adalah kemegahan purba yang tetap menakjubkan di antara jutaan produk futuristik.

Seakan haram untuk melewatkan seremonial keberhasilan perjuangan Tim Original Production selaku Promotor, saya segera memastikan kehadiran dalam salah satu konser musik yang ambisius. Dan akhirnya, Bali menjadi lokasi untuk menjadi saksi band legendaris yang ditukangi oleh Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (bass), Dave Murray (gitar), Janick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar) dan Nicko McBrain (drums). Meskipun saya sempat bimbang atas pilihan tersebut, karena memperhitungkan lokasi awal di Jakarta adalah Gelora Bung Karno –area ini tidak pernah dipakai sebagai area pertunjukan sejak konser Kantata Takwa di tahun 1990, dan akan menjadi sejarah ersendiri apabila Iron Maiden berhasil melaksanakan konser disana— namun hal ini segera kandas dipernghujung tahun 2010, karena sebuah hal yang berkaitan dengan sepak bola, sehingga lokasi pertunjukan di Jakarta akhirnya dipindah ke Pantai Carnaval Ancol. Setidaknya hal ini membuat saya bisa bernafas lega atas pilihan saya, dimana Bali merupakan lokasi keempat dari total 62 lokasi yang akan dikunjungi oleh Iron Maiden dalam konser mereka yang bertajuk “The Final Frontier World Tour 2011”. Konser ini dimulai pada 11 Februari di Moscow, Russia dan akan berakhir pada 6 Agustus di London, Inggris.

Kedatangan Iron Maiden di Bali pada tanggal 18 Februari 2011, sukses mengecoh wartawan dan penggemarnya yang sudah stand by di area VIP II Bandara Ngurah Rai. Rombongan yang membawa sekitar 60 orang dan mengangkut sekitar 25 ton peralatan konser ini meninggalkan Jakarta pada tanggal 18 Februari 2011 pukul 13.10 WIB, dengan nomor penerbangan PV 666 ini ternyata keluar melaluiBase Off Angkatan Udara. Sedangkan pesawat “Ed Force One” jenis Boeing 757-200 milik Astraeus yang terlihat mencolok dengan tulisan “IRON MAIDEN” di badan pesawat, dan artwork mascot mereka  pada bagian belakang, langsung diarahkan ke Non Public Area.

Ed Force One
Ed Force One
Ed Force One
Ed Force One
Loading
Loading
Equipment

Bagi para penganut metal garis keras, rangkaian konser Iron Maiden di Indonesia ibarat pekan yang pantang dilewatkan. Sehingga ketika saya menginjakkan kaki di GWK sekitar pukul 16.00 WITA, terlihat beberapa orang yang sering terlihat di Jakarta mengkhususkan diri datang ke pulau Bali untuk mengikuti rangkaian konser. Dan bukan Bali namanya jika sepi dari wisatawan asing, bahkan untuk konser inipun rombongan yang datang dari berbagai negara juga semakin memadati area. Namun ada 2 alasan yang beredar dari penonton, ada yang beralasan menonton konser untuk menghabiskan waktu dan kubu yang sengaja datang untuk menyaksikan band kesayangan mereka. Dan pasukan kaos hitam yang sejak siang hari memborbardir are Lotus Pond memiliki misi yang lebih religius, yakni menghayati setiap lagu yang akan dilantunkan oleh band yang terbentuk di Inggris pada tahun 1975.

Tata lampu, sound system, dan dekorasi panggung yang megah adalah ciri konser ini. Hal ini terlihat semenjak pukul 20.00 ketika penonton yang terbagi 2 kelas, Festival A dan Festival B, ini disuguhkan aksi band pembuka, Rise To Remains. Band yang terbentu sejak tahun 1996 ini, mewarisi tahta dari dinasti Dickinson yang juga berperan sebagai Leader-nya. Austin Dickinson, setidaknya itulah salah satu personil yang penonton ketahui dari band ini, berperan sebagai vokalis band yang ber-genre Metalcore. Tampil dihadapan ribuan penggemar band ayahnya, Austin Dickinson beserta keempat temannya Ben Tovey (gitar), Joe Copcutt (bass), Pat Lundy (drum), dan Will Homer (gitar) tampil menggebu sebanyak 6 lagu. Dan sebagai gantinya, penontonpun tak kalah heboh menyambutnya. Meskipun hampir sebagian besar yang hadir disana adalah penggemar metal yang sudah cukup gaek namun mereka masih bisa menikmati suguhan dari kelima pemuda itu.

Setelah lampu di panggung padam otomatis ini menjadi pertanda berakhirnya pertunjukan dari Rise To Remains, dan seketika itu pula ribuan orang yang hadir disela bebatuan besar itu respon berteriak “Maiden, Maiden, Maiden, Maiden” teriakan itu adalah teriakan yang senada dengan yang saya amati dari sebuah DVD Dokumenter Iron Maiden berjudul: “Flight 666”. Hal ini seakan menjadi kunci otomatis bagi saya untuk memainkan ulang memori akan adegan pembuka DVD yang dgarap oleh Sam Dunn dan Scott McFadyen pada saat mereka mendokumentasikan tour Iron Maiden “Somewhere Back In Time World Tour 2008”. Tapi yang terjadi di Bali kali ini adalah adalah rangkaian tour yang terbaru, sehingga Iron Maiden membuka pertunjukannya dengan lagu dari album terbaru mereka “Satelite 15…. The Final Frontier” kemudian dilanjutkan dengan lagu “El Dorado”. Lagu yang terakhir adalah lagu yang mengantarkan mereka sebagai pemenang Grammy Award 2011 dalam kategori “Best Metal Performance”.

Dari sekitar 16 lagu yang dimainkan oleh Iron Maiden, sukses menjadi ajang karaoke masal yang menghadirkan kenangan tersendiri bagi ribuan orang yang hadir disana. Hal ini terlihat sangat jelas ketika Iron Maiden memainkan lagunya yang ketiga “2 Minutes To Midnight”, tenaga penonton seakan dipacu menuju batas maksimal dengan teriakan yang menggaung di lokasi konser. Namun penonton masih terlihat tidak sebanding dengan Bruce Dickinson yang tampil sangat prima melalui penguasaan panggung yang tak kenal lelah, berlari-larian dan terus melompat. Padahal ia juga berperan sebagai Pilot dalam penerbangan 666 ini, bahkan ketika lagu “The Trooper” dimainkan, Bruce berganti kostum menyesuaikan dengan karakter Eddie di artwork lagu ini, mengenakan kostum pasukan kerajaan Inggris dan membawa bendera Inggris, Bruce tampil seperti rocker yang kelebihan energi. Padahal usia rata-rata personil Iron Maiden sudah mencapai setengah abad, wow! namun satu-satunya personil yang mampu mengimbangi keberingasan Bruce Dickinson adalah Janick Gers, personil yang tampak paling muda ini juga terus memainkan perkakasnya dengan tindak-tanduk seperti orang yang mendapatkan suntikan tenaga dari tiap orang yang hadir di GWK malam itu.

Memang penonton yang hadir di GWK itu mendapatkan suntikan yang berbeda dari penonton di Jakarta. Selain ungkapan rasa kagum dari Bruce Dickinson atas lokasi konser yang eksotis karena dikelilingi oleh bebatuan raksasa, hal lain yang menjadi alasan utama adalahofficial merchandise Iron Maiden dijual ditempat ini. Menurut info yang saya dapatkan, Iron Maiden gagal mendapatkan izin untuk menjual merchandisenya ketika mereka tampil di Jakarta, sehingga T-shirt “The Final Frontier World Tour 2011” langsung terjual habis. Meskipun untuk mendapatkan 1 buah kaos memerlukan nominal sebesar 400 ribu rupiah, hal ini tidak menjadi alasan untuk memiliki artefak prestisius tersebut.

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, setelah melewati estafet lagu-lagu lawasnya seperti “The Evil That Men Do”, “The Talisman”, “Hallowed Be Thy Name”, “Blood Brothers” dan “Fear Of The Dark”. Maskot Iron Maiden, Eddie The Head, yang sudah menemai Iron Maiden sejak tahun 1980 melenggang keluar pada lagu “Iron Maiden”. Sontak saja, kehadiran robot setinggi 3 meter dengan visual yang cukup menyeramkan namun tetap menakjubkan, menghadirkan kegemparan tersendiri bagi penonton. Eddie terlihat sibuk berjalan-jalan di atas panggung dan bermain dengan beberapa personil Iron Maiden, bahkan ia sempat melayangkan tangannya ke pipi Janick sebelah kanan sehingga membuat gitaris ini terlihat sedikit menahan sakit. Dan untuk kedua kalinya, Janick mendapatkan sedikit kesialan ketika memasuki sesi encore, tepatnya pada lagu “The Number of The Beast” Janick yang sedang berlari kearah Dave Murray terpeleset cukup keras. Sehingga membuat Dave Murray, Adrian Smith dan Steve Harris mengamati apa yang terjadi dengan temannya itu namun tanpa kehilangan konsentrasi atas lagu yang ditulis oleh Steve Harris setelah mendapatkan inspirasi dari film Damien: Omen II. Namun kekhawatiran rekan-rekannya itu terbayar tuntas setelah Janick, yang terbaring cukup lama, melahap bagian solonya dengan sempurna. Pertunjukanpun diakhiri dengan lagu “Running Free”, sebelum 6 punggawa New Wave of British Heavy Metal ini berpamitan dan melanjutkan perjalanannya menuju Australia esok hari.

Bruce Dickinson
Steve Harris
Janick Gers
Adrian Smith
Dave Murray

Seperti yang dikatakan oleh Adrian Smith ketika diwawancarai oleh Faster Louder mengenai perasaannya ketika menang dalam ajang Grammy Award: “I don’t know that it’s that important to us, the Grammys, but it’s kind of nice to get that recognition. As a band, we just do what we do.” Iron Maiden telah membuktikan hal itu dengan selama kurang lebih 36 tahun dalam konsistensi yang terekam sebanyak 15 studio album tanpa sedikitpun memiliki asa pada penghargaan apalagi sampai menghilangkan identitasnya. Hal ini tentu bertolak belakang dengan kondisi musik di Indonesia belakangan ini ramai akan berbagai macam penganugerahan dari tiap-tiap instansi, dan lagi persoalan dari band yang menggadaikan identitasnya dengan sebuah alasan industry (pasar). Dan saya sendiri menafsirkan kehadiran Iron Maiden adalah sebagai pembunuh bagi band-band yang masih bermimpi menjadi besar namun harus menjual identitasnya.

Up The Irons!

——-

Tulisan ini dibuat untuk sebuah rubrik di majalah Sound Up (Salah satu free magazine di Jakarta) dan Sintetik (salah satu zine lokal kota Malang. Silahkan kunjungi http://majalahsintetik.tumblr.com/ dan download edisi-edisi yang sudah terbit). Tapi kalau gak diterbitkan juga gak masalah sih, toh ada blog pribadi http://somedayorsomehow.multiply.com/ Dikaryakan saja sarana ini 😀

“Iron Maiden – 2 Minutes To Midnight” sampai sekarang masih merinding tiap dengar bagian solonya, masih terbayang Bruce teriak: “Scream for me, Bali. I can’t fucking hear you! Scream for me Bali!” dan sialnya posisi gue saat itu ada di media pit. Kemudian dilema melanda antara ingin crowd surfing dengan melanjutkan bertugas, sehingga akhirnya gue putuskan untuk sing along 😀

  • Foto konser dhibahkan dari seseorang yang memanggil dirinya dengan nama, Ryant. Seorang fotografer handal yang pastinya, silahkan buktikan di http://www.ryantmbek.com/

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

03 Maret 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized