Ulasan? Review? Soal subjektifitas saja sebenarnya! Tapi, …..

Posted on May 4, 2012

6


Tulisan Reno Nismara, salah seorang wartawan di rollingstone.co.id, yang mengulas tentang konser Dream Theater sedikit membuat saya gerah sekaligus geli. Gerah karena dia menyebut bahwa Dream Theater adalah band cover Metallica & Pink Floyd yang buruk, geli karena membaca feedback yang didapat dari pembaca yang terjebak oleh jebakan murahan. Cheap and dirt, receh!

Oya, sebelum saya menyatakan kegerahan maupun kegelian saya. Perkenankan saya untuk sedikit mengutip dari sumber yang (menurut saya) bisa dijadikan pijakan tentang makna sebuah ulasan atau review. Ulasan tentang apa? Terserahlah. Saya merasa gerahnya terhadap ulasan konser Dream Theater, dan konser grup band adalah bagian dari musik. Jadi saya persoalkan ulasan music. Bukan buku, makanan, fashion, film ataupun produk lain yang sifatnya bisa dikonsumsi secara masal.

Image

Dua posisi

Setelah membaca dan memahami definisi dari Wikipedia tersebut, saya teringat dengan perbincangan dengan.

  1. Wendi Putranto (Wartawan Rolling Stone Indonesia)
  2. PM & Ruly (personel The Brandals)

Waktu itu saya sedang mengerjakan skripsi, dan saya sengaja mengunjungi Rolling Stone Head Quarter untuk mewawancarai Wendi Putranto. Disesi itu saya sempatkan bertanya tentang objektifitas sebagai jurnalis musik. Lebih kurang, Wendi berkata seperti ini:

“Kalau gue sih menilai objektif dengan subjektif itu gampang. Gue ada rumusan dari dosen jurnalistik waktu kuliah dulu, dia bilang objektifitas itu adalah sesuatu yang diterima melalui seluruh panca indera kita. Pokoknya sesuatu yang masuk ke panca indera lo adalah objektif. Dan itu menjadi subjektif setelah diolah dengan otak lo. Jadi segala rangsangan yang lo terima, seperti gambar, suara, teks. Itu sifatnya objektif, karena mereka tidak mengalami proses lagi. Dan begitu udah masuk dan lo tuliskan lagi, itu namanya subjektif, karena lo udah mencapurkan dengan persepsi lo.

Dalam musik, meskipun relasi sangat erat, bukan berarti lo gak bisa objektif. Objektif disini berarti lo harus bersandar sama 5W 1H dan berdasarkan fakta, bukan opini. Kecuali kalau lo nulis review, itu gak ada yang objektif. Semua review itu selalu subjektif.

Sebenernya tujuan objektif, bukan menjadi objektif itu sendiri. Lo bersikap objektif tujuannya untuk melindungi pembaca lo, biar mereka gak terpengaruh selera pribadi lo. Dalam artian, lo harus mempertanggung jawabkan nilai-nilai yang lo tulis. Jadi ada sebuah guidance biar tulisan lo gak ngaco, bukan sebuah gossip, bukan sebuah upaya menghasut orang lain untuk melakukan sesuatu. Dan aktifitas jurnalistik pasti yang lebih didahulukan adalah objektifitas, karena pemilahan antara fakta dan opini sudah cukup jelas.”

Kurang lebih, hal itulah yang menjadi landasan saya setiap melakukan kegiatan jurnalistik. Saya pikir benar juga kalau segala informasi yang diterima dengan panca indera kita kemudian diolah dengan otak dan dikerjakan kembali, akan menjadi sebuah perspektif yang berwujud subjektifitas. Sekarang pertanyaannya adalah sampai sejauh mana kadar subjektifitasnya?

Baiklah kita mulai dengan ulasan, saya coba berikan contoh hasil ulasan saya terhadap album DGNR8 dari BRNDLS (ejaan baru dari The Brandals). http://somedayorsomehow.multiply.com/journal/item/40/DGNR8  Saya menulis ini untuk salah sebuah majalah gratisan di Jakarta, tanpa motif apapun! Saya melakukannya karena saya suka. Bahkan ketika saya bertemu dengan manajer BRNDLS di Hard Rock Café (saya lupa acara apa, tapi yang pasti itu ada konfrensi pers sebuah musisi yang menurut saya tidakpenting), dia berkata (kurang lebih) seperti ini: “Eh, lo beli CD-nya? Kenapa beli? Bilang aja sih, stok masih banyak”

Dan seperti yang saya bilang tadi, saya melakukannya karena saya suka. Jadi saya tidak sedikitpun merasa menyesal ketika dia berkata seperti itu. Oya, dan disana saya juga bertemu dengan gitaris BRNDLS yang akrab dipanggil dengan PM. Disana PM juga memberikan komentar atas hasil ulasan saya, kurang lebih seperti ini:

“Iya, bener lo gung. Sekarang coba lo pikir deh, nada blues itu kan gitu-gitu aja. Sekarang kalau dimainin lagi, apa bedanya sama 3 album brandals sebelumnya? Nah disitu yang gue dan anak-anak gak mau kejebak. Untungnya ketemu sama produser yang keren, jadi eksplorasi hal lain diluar pola bermusik. Sound misalnya atau hal-hal baru yang belum sempet kita ulik sebelumnya.”

Selang beberapa bulan, saya kembali bertemu dengan BRNDLS di Hard Rock Café tentunya dalam acara yang berbeda. Sesaat sebelum mereka memulai pertunjukan, saya terlibat percakapan dengan Rully Annash (drummer) di ruang tunggu yang terletak di lantai 2 tentang sedikit teknis bermain drum. Waktu itu saya berkomentar soal perangkatnya yang terlihat ribet, dan kurang lebih seperti inilah respon dari Rully:

“Sekarang lo bayangin gung, gue selama 3 album sebelumnya gak pernah tuh yang namanya recording pake metronome. Pokoknya hajar bleh! Nah di album ini gue langsung kaya shock gitu. Jadi gue harus workshop dulu selama beberapa waktu biar terbiasa, udah gitu pake beginian lagi (sembari menunjuk laptop yang didalamnya sudah beroperasi sebuah software, entah apa)? Awalnya emang resek sih, tapi sekarang udah biasa. Malah gue ngerasa kalau itu jadi peningkatan buat gue, kalau emang pengen professional.“

Dalam review tersebut saya menulis kalau The Brandals menjadi lebih dewasa dan semakin liar. Namun, setelah membaca beberapa review maupun komentar dari beberap orang, ternyata tidak sedikit yang berkata The Brandals jadi cemen. Haha, rasanya ingin terjungkal saja tiap ada yang bilang seperti ini. Terlebih lagi yang me-review adalah orang yang tidak pnya pengalaman dalam dunia musik sebagai pelaku.

Baiklah, disini saya akan mulai dengan sisi subjektif saya. Posisi dimana saya sebagai seorang pelaku musik atau lebih tepatnya orang yang pernah melakukan atau berbuat sesuatu bersama musik. Entah itu baik atau buruk, yang pasti saya pernah bereksperimen dengan musik. Meskipun pada akhirnya saya katakan dengan lantang bahwa saya tidak sukses dengan musik yang saya proklamirkan. Tapi setidaknya saya tidak secemen orang yang hanya bisa berkomentar, tanpa sebuah pembuktian. Itu baru namanya cemen.

Gerah!

Mohon maaf sebelumnya, saya sering menyebut beberapa band ini hanyalah sebagai contoh kasus karena mereka adalah band yang saya ikuti dan amati perkembangannya. Dan ini bukan bukti kefanatikan saya terhadap band-band tersebut ataupun karena faktor kedekatan personal, tapi saya pikir ini adalah esensi dari review. Nanti saya jelaskan.

Baiklah, lanjut ke contoh kasus BRNDLS tadi. Saya cuma bertanya, cemen dari mana? Coba kalian beli dulu CD-nya, kemudian putar di CD player. Jangan di komputer! Sebab komputer itu groundnya cukup besar, jadi noise bisa memengaruhi kualitas suara yang dikeluarkan. Atau kalau ingin mendengarkan di komputer, gunakanlah headset atau earphone. Biar bisa terdengar detail.

Nah, disinilah letaknya posisi penikmat dan pengamat! Menurut saya, tugas pengamat itu adalah mengamati setiap detail dari hal yang diamati, sedangkan penikmat tugasnya sekadar menikmati tanpa kewajiban mengamati apa yang terjadi. Sebab yang namanya mengamati pasti lebih menguras tenaga, dan kegiatan mengamati itu layaknya seorang penguntit atau sering kita sebut stalker ketika sedang bercanda dalam situs jejaring social. Tapi sialnya kegiatan mengamati itu bukan sebuah hal bisa dilakukan sambil bercanda!

Saya masih ingat ketika saya melakukan interview BRNDLS pertama kali, mantan editor saya berkata: “Apa si Eka itu udah bisa nyanyi?” Ya, saya akui kalau suara Eka Annash itu tidak enak! Sember malahan! Sangat jauh jika dibandingkan Glenn Fredly atau Ipang Lazuardi. Tapi saya yakin baik Glenn maupun Ipang juga akan kewalahan jika dihadapkan dengan musik seperti The Brandals.

Disinilah letak kesalahan mantan editor saya, seleranya terhadap kategori seorang penyanyi bagus itu dipukul rata kesemua penyanyi. Bahwa penyanyi itu harus seperti ini, ini dan ini. Meskipun saya tahu kalau dia itu bercanda, tapi kalau dia berkata demikian kepada orang lain dan orang tersebut menganggapnya itu sebagai sesuatu yang serius karena keluar dari mulut seorang jurnalis musik. Bagaimana ceritanya?

Ketika saya di Malang untuk pertama kali di tahun 2005, saya mendapat info mengenai seorang rapper yang akrab dipanggil Irung dari band yang bernama CCCC pernah mendapat predikat vokalis terbaik dalam sebuah festival yang cukup bergengsi di kota itu yang bernama Indiecaholic. Disamping Irung, Norman (Gitaris) dan Ryan (Bassist) juga menyabet gelar best player dalam kategorinya. Kalau dua orang itu sih saya tidak heran, sebab skillnya mereka itu sungguh bukan main tidak warasnya. (Mohon dikoreksi kalau info ini salah)

http://www.youtube.com/watch?v=XV4eJOZcED0&feature=relmfu

Sudah lihat sendirikan seperti apa Irung itu? Bagaimana dengan kualitas suaranya? Hahaha! Kalau boleh jujur, saya akan berkata busuk! Tapi apa kategori vocalis itu harus selalu bersuara merdu? Tidak! Sesuaikan dengan visi dan kebutuhan bandnya, saya pikir itu sudah cukup dan bahkan menjadi bagus! Irung adalah salah satu bukti nyata voaklis yang sesuai dengan visi dan kebutuhan band.

Atau boleh saya sebut satu nama lagi? Arian 13. Siapa yang tak kenal vokalis grup band rock oktan tinggi ini, jika anda adalah seorang scenester musik Indonesia. Bahkan kalangan hipster pun sudah mulai kenal dengan namanya, gara-gara memiliki kegemaran yang sama; mengoleksi piringan hitam. Untungnya Arian tidak larut dalam balada fixie maupun lomography yang entah bagaimana kabarnya hari ini.

Menurut pengamatan saya, kasus Arian 13 tidak jauh berbeda dengan Irung. Sudah beberapa kali saya berada di area backstage ketika SERINGAI melakukan pertunjukan. Tapi apa yang terjadi? Saya rupanya bisa terpingkal-pingkal karena Arian. Selain celotehannya yang brengsek maupun suaranya yang menyerupai pak raden, rupanya ketika SERINGAI tampil live Arian tak jarang hanya sekadar berteriak-teriak saja tanpa menggelontorkan lirik seperti yang terdapat di booklet.

Apakah hal-hal seperti itu adalah sebuah kesalahan? Haha! Goblok sekali anda kalau anda menganggap kalau itu sebuah kesalahan. Yang bisa menggangap itu sebuah kesalahan hanyalah 3 juri di ajang Indonesian Idol, AFI, maupun Tarung Dangdut.

Nah, sekaranglah saatnya saya mengungkapakan kegerahan itu. Begini rekan jurnalis musik, kritikus musik, musikus, professor musik atau apapun itu namanya. Saya selaku orang yang pernah menjalani keduanya (musisi dan jurnalis), meskipun keduanya berakhir dengan ketidaksuksesan, ingin menceritakan bagaimana feel-nya ketika berhadapan langsung dengan apa yang disebut proses kreatif itu dan faktor-faktor teknis termasuk juga kendala.

Seringkali ketika kita mengagumi sebuah lagu, kita bertanya:

Gimana ya caranya ini orang/band bikin lagu kaya gini?

Siapa atau apa yang menginspirasinya?

Beda konteks ketika musisi yang bertanya, kurang lebih pertanyaanya akan berkisar seperti ini:

Bisa ya progresi chordnya canggih bener?

Kepikiran aja lagi bikin beat kaya begitu?

Soundnya mantap! Nodongnya gimana nih?

Routingnya gimana nih, distorsi duluan atau equalizer ya?

Yang mixing siapa nih?

Ini orang baca buku apa ya?

Dari sini saja sudah terasa bagaimana bedanya, ya kan? Bukan saya membeda-bedakan, tapi ini memang beda. Ini persoalan perspektif seorang pelaku dengan pengamat atau penikmat.

Saya jadi ingat ketika saya sedang berada di Jogja pada akhir bulan Maret tahun ini, dan bertemu dengan seorang penulis yang tampan nan dermawan; Nuran Wibisono. Pada kesempatan yang singkat itu beliau bercerita tentang dedengkot hair metal asal Jogja, Sangkakala, yang sedang menyelesaikan albumnya dengan proses analog.

Nuran bercerita dengan deskriptif tentang tingkah personel, lokasi rekaman, kejadian yang terjadi selama proses rekaman ataupun referensi Sangkakala. Tapi ketika saya coba mencari tahu tentang teknis proses rekaman analog itu. Karena saya sendiri belum pernah merasakannya, bahkan melihatpun saya tidak pernah. Nuran terlihat mulai kesulitan untuk menjelaskannya, bahkan dia sendiripun berkata bahwa ia tidak mengerti dan itu segera saya pahami karena posisi Nuran sebagai penggemar musik dengan idolanya yang tingkat keakrabannya sudah mendekati kategori teman tapi mesra.

Beda cerita ketika saya bertanya hal serupa kepada Gio, yang saat ini bertindak sebagai produser dialbum terbaru Nidji. Gio menjelaskan dengan detail bagaimana prosesnya, sebab dia sendiri masih mengalami kejadian itu dan lebih dari mengalami, dia terlibat di dalamnya sebagai operator rekaman. Dia juga menceritakan apa kelemahan & keunggulan analog maupun digital, dan versinya jauh leih bijak ketimbang seorang yang fanatik ketimbang bentuk analog maupun digital.

Atau pernah disuatu kesempatan saya juga pernah memberi respon dalam tulisan salah seorang pendiri jakartabeat, karena dalam artikelnya itu beliau seperti menganggap bahwa bermusik itu tidak usah terlalu mementingkan kemampuan yang mumpuni dan proses rekaman itu tidak perlu memikirkan hal-hal yang melulu teknis. Untuk porsi-posrsi tertentu, saya memang setuju. Namun jika untuk urusan mendokumentasikan karya, atau bahasa mulianya mengabadikan. Saya rasa, saya harus menentang anggapan itu.

Saya jadi teringat ketika saya hendak melakukan proses rekaman untuk sebuah lagu dari band saya di Malang. Norman (Gitaris CCCC) mengingatkan saya untuk mengganti senar terlebih dahulu sebelum melakukan proses rekaman. Lantas saya bertanya kepada pemuda yang berkampung halaman di papua ini:

“Emang itu perlu?”

Dengan tegas, ia berkata kurang lebih seperti ini:

“Ya perlulah! Itu adalah karya yang bakalan kamu simpan untuk beberapa tahun mendatang. Mungkin saja anak cucu kamu juga mendengarnya. Nah, kalau mereka denger pas lagu dimana senar kamu mati, mengganggu apa gak? Harusnya bunyinya gini tapi jadi gitu”

Atau cerita lain ketika saya berkunjung ke rumah Meng (Float) untuk bersilaturahim baru-baru ini, pada kesempatan itu saya sempat bertanya tentang proses albumnya. Disana saya bertanya tentang berapa nominal yang dibutuhkan untuk membuat album dengan proses rekaman yang sesuai khitahnya. Ketika dia menyebutkan nominalnya, saya cukup terkejut. Lantas apakah ia menempuh jalan tersebut atau mungkin ada solusi yang lain? Saya tidak akan menceritakan disini, kita tunggu saja album Float dengan formasi baru ini beredar di toko-toko kaset.

kembali ke urusan gerah, singkat cerita saya menjadi merasa gerah ketika ada orang yang mencampurkan opininya terhadap sebuah kejadian, dimana orang tersebut diposisikan utusan untuk melakukan aktivitas jurnalistik. Ingat gerah disini hanya sekadar gerah saja, bukan marah ataupun geram. Mungkin lebih tepatnya menyerupai gemes, tapi dengan kadar distori yang cukup tinggi. Ketika membaca tulisan Reno di web RSI, jujur saya agak sebal dan ingin bertanya apakah ia sudah pernah mencoba memainkan lagu Dream Theater yang berjudul “Overture 1928” atau mungkin lagu-lagu dari Dream Theater yang lain? Atau baiklah kalau dia mengganggap DT itu band cover version yang buruk dari Metallica dan Pink Floyd. Sekarang saya tantang Reno untuk membentuk band, kemudian mengaransemen lagu-lagu dari Metallica dan Pink Floyd untuk kemudian bermain bergantian dengan Dream Theater di depan personel dari Metallica dan Pink Floyd. Kira-kira siapakah yang akan mendapat respon baik?

Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Wendi Putranto di atas, sudah cukup menjelaskan bagaimana kita harus bersikap ketika posisi kita adalah awak media yang bertugas aktivitas jurnalistik. Tapi saya disini ingin menambahkan beberapa hal yang mungkin bisa saya bagikan ketika saya melakukan aktivitas tersebut. Bukan berarti saya ingin mengajari Reno atau siapaun yang merasa tersentil dengan tulisan saya kali ini, saya akui bahwa saya ini bukan siapa-siapa. Bukankah sudah saya tulis bahwa saya hanyalah seorang yang pernah menjalani keduanya (musisi dan jurnalis) dan berakhir dengan ketidaksuksesan? Dan lagi saya juga sangsi, apakah masih ada yang membaca sampai baris ini? Mungkin 2 paragraf awal sudah ditinggalkan karena bosan atau tidak penting? Itu semua sah sah saja, toh saya menulis ini cuma untuk mengisi blog pribadi saya.

√ Cobalah untuk berempati terhadap subjek.

Berempati disini bukan bersikap seperti menghadapi korban bencana alam Wasior ataupun kerusuhan di Bima, tapi berempati disini lebih kepada karya ataupun musisinya sendiri. Saya pernah membaca disebuah buku yang berjudul “Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar” karya Luwi Ishwara (salah seorang wartawan senior harian Kompas), dimana ia berbagi tips untuk melakukan wawancara yang baik. Tapi menurut saya, tips ini bisa digunakan dalam konteks yang lain yang lebih luas.

Poin-poinnya antara lain adalah:

  • Terbuka dan memberi perhatian: Tidak harus menyukai setiap orang yang anda wawancarai. 
  • Orang akan bicara lebih bebas jika merasa senang. Caranya: mendengarkan secara sungguh-sungguh, memosisikan mereka sebagai teman

√ Kalau bukan selera, lekas tingalkan

Ini hanya sekadar saran dari saya bagi para penulis yang rajin memelihara blognya. Begini, seperti yang sudah kita ketahui bahwa yang namanya ulasan atau review itu sifatnya sangat subjektif. Dan yang namanya subjektif itu pasti erat kaitannya dengan selera, kalau bukan selera tapi masih coba dibicarakan apa jadinya? Contoh kasus: Ngobrolin bola sama cewek yang doyan naik sepeda, bikin males apa gak? Si cowok gak nyaman, cewek apalagi. Nah, kurang lebih seperti itulah rasanya menjadi jurnalis ketika harus mereview apapun yang bukan seleranya.

Tapi kalau yang namanya jurnalis, atau bahasa halusnya insan media tapi bahasa sesungguhnya kuli tinta (mungkin sekarang sudah bergeser jadi kuli blackberry, ipad, laptop, android, atau ipod). Tidak bisa menghindar dari tugas ini. Nah itu sebabnya jika disebuah media ada bagian-bagian tersendiri, misalnya bagian politik, ekonomi, olahraga, lifestyle, dan lainnya. Sesorang yang ditugaskan kesana mau tidak mau harus mengunyah semua hal yang terjadi diranahnya, tanpa peduli apakah dia suka atau tidak. Lantas, kalau bukan seleranya bagaimana?

Nah, mungkin ini yang dihadapi Reno ketika mengulas konser Dream Theater. Mungkin saja ini bukan ranah Reno, tetapi Rolling Stone menugaskannya untuk mengulas konser tersebut karena faktor-faktor tertentu. Yang sepatutnya dijaga oleh Reno sebaiknya dia melaporkan ada hal apa saja yang terjadi selam konser, mengenai opini tentang Dream Theater adalah band cover Metallica & Pink Floyd yang buruk, menurut saya akan terdengar lebih bombastis jika itu meluncur dari mulut Jokowi atau Adrie Subono kemudian dikutip oleh Rolling Stone. Itu sebabnya kenapa di awal tadi saya sebut opini itu sebagai cheap and dirt, receh!

Geli!

Kalau untuk urusan ini, saya lebih kasihan kepada si pembaca saja. Yang sudah capek-capek emosi, tapi tersalurkannya hanya lewat feedback. Disana ada sebuah feedback yang menurut saya tepat menggambarkan kondisi orang-orang fanatic yang member komentar. Seperti apa feedback itu? Ini dia: “Sensi banget lo kaya putting!”

Haha, menurut saya komentar itu sudah sangat menggambarkan kondisi orang yang sibuk memberikan komentar di halaman itu. Mungkin pada awal tulisan ini saya terlihat emosi? Ya sedikit, tapi sudah saya bilang bahwa saya sama sekali tidak terjebak oleh jebakan receh ini. Pada awal tulisan ini tadi, saya hanya memosisikan diri sebagai sesorang yang pernah berjibaku dengan lagu-lagu dari Dream Theater. Lagu-lagu yang menurut paradigma teknik bermusik, adalah contoh apik untuk mengaplikasikan teori yang didapat.

Mungkin saja orang yang memberikan komentar di halaman web RSI itu memiliki pengalaman yang hampir sama seperti saya, tapi sayangnya mereka belum tau kapan harus meluapkan emosinya atau kapan harus menahan emosinya. Perkenankan saya mengutip ucapan dari Jerinx, ia pernah bekata:

“Hal yang tidak penting kalau terus dibicarakan, itu akan membuatnya menjadi terlihat penting”

Jadi, kalau kalian adalah fans Dream Theater (khususnya yang menyaksikan pertunjukannya di MEIS secara langsung) dan menganggap hasil ulasan dari Reno Nismara itu tidak sesuai dengan apa yang saksikan. Anggap saja bahwa hal tersebut bukanlah hal yang penting, tidak usah digubris. Selesai toh urusannya?

Lantas kalian menganggap saya juga merespon tulisan Reno di dalam blog pribadi saya? Ya jelas! Ini halaman pribadi saya, saya boleh menulis apapun disini. Saya boleh menulis bahwa SBY adalah badut imperialis ataupun menganggap Iran dan Korea Utara adalah pahlawan, itu jelas otoritas saya dalam blog ini. Andapun boleh berbuat sedemikian rupa, jika anda merasa itu perlu. Tapi saya tegaskan kembali, bahwa secara personal saya tidak ada urusan apa-apa dengan wartawan rollingstone.co.id yang bernama Reno, toh sudah saya jelaskan panjang lebar di atas untuk apa saya menulis ini.

Singkat kata konteks saya menulis ini adalah saya hanya ingin mencoba mengajak sebagian dari kita untuk memandang dari beragam perspektif. Sehingga kita tidak menjadi orang yang picik. Saya tidak usah sebut contoh orang-orang picik, sebab itu hanya akan membuat mereka terlihat penting.

Sekian, terima kasih.

——-

Akhirnya setelah hampir 3 bulan tidak menulis, akhirnya menulis juga. Sekaligus pindahan ke “rumah yang baru”. Memangnya ada apa dengan “rumah yang lama”? Tidak ada apa-apa sebenarnya, hanya ingin terlihat rapi saja. Rumah ini untuk aksara, rumah yang satunya untuk memandang citra. Sederhana saja, biar gak makin semrawut seperti persoalan hidup kita:)

“Payung Teduh” semua lagu dari album Dunia Batas. Ini seperti saya menemukan mutiara dalam sekam, rasanya menyejukkan. Dan sayapun menjadi tenang atau bahkan teduh? Entahlah, yang pasti ini menyenangkan. Sampai tulisan ini selesai saya buat, berarti sudah hampir 6 jam kuartet ini menemani saya.

——-

Agung Rahmadsyah

Jakarta

4 Mei 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized