Ulasan showcase Jogja Hiphop Foundation di at america

Posted on May 4, 2012

1


Ki Jarot

Dadi bocah ojo mung mabok wae, ra mikir piye bapak ibune le podo nyambut gawe. Dadi bocah ojo mung mabok wae, ra mikir piye bapak ibune le podo nyambut gawe. Dadi bocah ojo mung mabok wae, ra mikir piye bapak ibune le podo nyambut gawe. Dadi bocah ojo mung mabok wae, ra mikir piye bapak ibune le podo nyambut gawe.

 

Entah pihak mana yang merasa dinasihati oleh Jahanam dan Rotra dalam lagu ‘Gangsta Gapi’ tersebut, tapi ada pantasnya kita melihat diri sendiri sebelum tertawa dengan bugar di refrain lagu ini. Saya (yang bukan pemabuk kelas kakap) merasa tertohok dengan lagu ini karena apa yang saya lakuka pada masa sekolah, apalagi para pemabuk kelas teri yang belum bisa menghasilkan uang sendiri.

Jahanam dan Rotra adalah salah satu kru dari Jogja Hiphop Foundation (JHF) yang datang ke at America, Pacific Place, 27 November 2011. Semua kru JHF yang hadir malam itu memiliki inisial, yang tentunya ada alasan tersendiri dibalik pemilihan inisial tersebut. ‘Jahanam’ terdiri dari: Heri Wiyoso A.K.A Mamox, dan Balance Perdana Putra A.K.A Ngila, ‘Rotra’ terdiri dari: Janu Prihaminanto A.K.AKi Ageng Gantas, dan Lukman Hakim A.K.A Radjapati. Diluar empat nama tersebut, masih ada Marzuki Mohammad A.K.A Kill The DJ dan DJ Vanda Verena –dua sosok yang nyatanya tidak saling cekik di atas panggung—

Mungkin saja kita sudah pernah mendengar bagaimana kisah JHF yang berkunjung ke auditorium Asia Society di Park Avenue, New York. Dari cerita yang saya dapatkan di situs http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/06/13/MS/mbm.20110613.MS136955.id.html 

JHF bukan sekadar sukses bermain di depan 300-an pengunjung, tapi juga berhasil membuat Junior Jam kagum atas energi yang dihasilkan oleh sekawanan orang yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta. Masih perlu bukti? Cek video berikut http://www.youtube.com/watch?v=A6AFWZMIsts 

Kembali ke persoalan Showcase JHF di at America, saya mendapatkan infonya pada tanggal 26 November melalui twitter. Lebih spesifiknya lewat account @killthedj yang memberikan link dengan info seperti berikut

Langsung saja saya, yang ketika itu sedang merasa direpotkan oleh urusan keluarga, seperti mendapatkan semangat untuk menuntaskan hari itu demi hari berikutnya. Intinya saya tidak ingin ada pihak yang mengintervensi jadwal saya di hari minggu sore, siapapun orang itu! Alasannya? Karena saya belum menonton film dokumenter HIPHOPDININGRAT, saya sangat penasaran akan performa Ki Jarot, ditambah lagi akan ada sesi diskusi. Untuk embel-embel free entrance sama sekali tidak masuk dalam pertimbangan saya, bukan karena sombong atau apa tapi ini persoalan pola pikir saja. Saya tidak segan mengeluarkan uang asalkan hal itu sepadan dengan apa yang saya butuhkan.

Saya pergi kesana bersama seorang teman dan tiba cukup terlambat, karena film sudah dimulai. Perkiraan saya, keterlambatan itu sekitar 10-15 menit tapi ternyata tempat belum terlalu padat. Akhirnya setelah sukses menduduki lokasi yang menurut saya strategis, saya menyadari bahwa orang yang duduk disebelah saya adalah Agus Noor. Tapi biar sajalah, toh saya kemari dengan motivasi yang lain. Dan tak perlu waktu lama bagi saya untuk larut menikmati film yang berdurasi sekitar 65 menit tersebut.

Dengan penuh kejujuran dan sarat akan kekaguman, saya sarankan bahwa film ini adalah salah satu film documenter yang layak ditonton! Meskipun sang narrator, dalam hal ini Kill The DJ, terus-terusan nyerocos dengan bahasa jawa khas Jogjakarta dan mengendari mobil tanpa henti. Namun apa yang dikatakan beliau sangatlah menjelaskan esensi dari cerita di film tersebut, bahkan tidak jarang melantunkan ucapan-ucapan yang menohok (terlepas dari faktor raut mukanya yang menurut saya sangat datar).

Bahasa adalah identitas

Seperti film-film dokumenter lain, HIPHOPDININGRAT juga dihiasi oleh testimoni dari figur-figur yang menjadi panutan dalam kultur tersebut. Antara lain adalah: Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Sindhunata, Saut Situmorang, Dub Youth, Iwa K, Saykoji, Elizabeth Inandiak, pengelola Esplanade, bahkan sampai ke orang tua dari kru HIPHOPDININGRAT. Dari testimoni tersebut didapatkan satu kesimpulan bahwa yayasan ini memiliki keunikan dari identitasnya yaitu lirik yang didapat dari unsur-unsur lokal yang disulap menjadi sebuah mantra ampuh jika dilafalkan dalam ranah Hiphop. Meskipun ada testimonial jujur dari seorang ibu yang kelihatan kurang rela karena sisi edukasi anaknya direnggut oleh hiphop, secara terus terang sang ibu tersebut berkata: “Hiphop gak jelas!” tapi respon yang didapat tentu saja adalah gelak tawa.

Satu hal yang menjadi kekurangan dari film ini adalah subtitle. Karena hampir 90% bahasa yang beredar dalam video ini adalah bahasa jawa (khususnya Jogjakarta), sisanya barulah bahasa Indonesia, Inggris dan Prancis. Tapi hal tersebut sudah diakui oleh Kill The DJ ketika memasuki sesi diskusi, mengawali sesi diskusi dengan permohonan maaf atas kendala subtitle bahasa Indonesia yang tidak muncul, setidaknya sudah menjadi ikhwal yang baik untuk melanjutkan diskusi mengenai Jogja HipHop Foundation.

Acara diskusi ini dipandu oleh Denny Sakrie, dan melibatkan Ki Jarot sebagai narasumber dengan jebakan-jebakan standar seperti ‘motivasi mendirikan JHF’ sampai ‘movement-movement yang sudah dilakukan’. Namun disesi ini saya mencatat dua hal yang menarik bagi saya (tanpa bermaksud mengesampingkan pendapat-pendapat lain yang dikemukakan dalam sesi yang berlangsung sekitar 15 menit tersbut)

Pertama adalah ketika Denny Sakrie bertanya:

“Kenapa kalian yang dipilih untuk bermain di America oleh Asia Society?”

dengan sigap Kill The Dj menjawab:

“Karena kami memang bagus dan layak untuk main disana”

Baiklah! Ini mungkin sarat akan kesan sombongan atau karena ia merasa sumpek atas pertanyaannya? Entahlah, tapi saya menilai ada hal lain dari penyataan Kill The DJ itu. Saya melihat Kill The DJ ingin memotivasi setiap orang untuk menghasilkan sesuatu yang bagus, toh suatu saat hal yang bagus akan bicara dengan sendirinya tanpa perlu berkoar-koar mengenai karya tersebut. Tapi tentu saja dengan perjuangan yang tidak setengah-setengah dalam memperkenalkan karya.

Kedua ketika Denny Sakrie bertanya kepada Ki Ageng gantas mengenai

“Kenapa menggunakan bahasa jawa? Apa ada kesulitan salam berbahsa Inggris?”

Gantas menjawab:

“Karena ini adalah bahasa dia sehari-hari, dan bisa dimengerti oleh hampir seluruh orang di Jogjakarta”

Untuk persoalan rapping dengan bahasa Inggris Gantas menjelaskan bahwa ia memulai rap dengan bahasa Inggris. Dan hal yang terlintas dalam pikiran saya adalah:

“Gantas adalah lulusan fakultas sastra Inggris, masa gak mengerti bahasa Inggris?”

Hal yang saya tafsirkan disini adalah persoalan penyampaian pesan lewat medium lagu dan persoalan demografis. Bahasa yang digunakan di Jogja, pada umumnya adalah bahasa Jawa. Sehingga tidak salah jika penghuni yayasan tersebut memilih melantunkan bahasa ibunya ketimbang membuat lagu dalam bahsa yang (sebagian) orang Jogja tidak mengerti. Katakan seluruh orang Jogja itu pandai berbahasa Bulgaria, tapi saya yakin bahwa mengucapkan sesuatu dengan bahasa ibu itu pasti mendapat prioritas dalam relung setiap orang. Sebab bahasa adalah identitas.

Mengurai pesan dalam kepadatan rima

Selesai sesi pemutaran film dan diskusi, para penonton seperti sudah tidak sabar untuk menyaksikan perform dari JHF. Setelah hilang beberapa menit dari atas panggung akhirnya Ki Jarot dan DJ Vanda resmi menjadi penguasa stage yang hanya berukuran (sekitar) 3×6 meter dengan level yang hanya 50 centimeter, itu artinya bukanlah pemisah yang berarti untuk menyambut antusiasme penonton.

Meskipun ketika lagu pertama ‘Jula-Juli Lolipop’ mendapat respon yang tidak maksimal karena penonton yang masih malu-malu untuk mengisi lantai dansa, akhirnya dilagu-lagu berikutnya seperti ‘Ora Cucul Ora Ngebul’, ‘Rep Kedhep’, ‘Ngelmu Pring’, ‘Prek’, ‘Cintamu Sepahit Topi Miring’, ‘Gangsta Gapi’ para penonton asik ikut menghentakan tubuhnya. Dan akhirnya mencapai klimaks dilagu anthemic ‘Jogja Istimewa’. Ini merupakan sebuah bukti bahwa bahasa bukan kendala yang besar disini, toh hook yang dilantunkan juga tergolong cukup mudah untuk ditiru pada kesempatan berikutnya.

Dari setlist yang dimainkan malam itu, mungkin hanya ‘Rep Kedhep’ yang mengandung (agak banyak)bahasa Indonesia itupun diawali dengan hook yang diambil dari sebuah mantra dari bahsa jawa untuk mencari anak hilang, belum lagi kendala kerapatan rima-rima yang mengalir padat. Jika beranjak ke lagu ‘Gangsta Gapi’ penonton akan disuguhi keganasan Ki Ageng Gantas dalam memberondong dengan kata-kata.

Namun dari tiap-tiap lagu yang dihadirkan malam itu, semua lagu menyiratkan sebuah pesan tersendiri. Seperti ‘Ngelmu Pring’ yang menggambarkan sebuah falsafah pohon bambu, atau ‘Gangsta Gapi’ yang mengajak generasi muda agar lebih memperhatikan kondisi orangtuanya dengan contoh kasus yang kerap terjadi, mabuk-mabukan. Beberapa lagu disini merupakan hasil dari “penyulapan” puisi Sindhunata dan hasil improvisasi yang canggih.

Berikut ini ada beberapa lagu yang berhasil saya temukan liriknya (meskipun tidak lengkap), tapi kali ini saya tidak akan mencoba menjabarkan artinya. Hal ini dengan maksud membangkitkan rasa keingintahuan anda terhadap pesan-pesan berbahasa jawa yang tersirat dibalik rima yang terpadu rapat dalam beat-beat Hiphop. Kendala anda bukan orang jawa? Elizabeth Inandiak pun orang asli Prancis, tapi dia sukses menerjemahkan serat Centhini dan memperkenalkannya secara global. Dia berhasil menaklukan rasa penasarannya dengan cara bergerak mencari tahu. Saya tidak berusaha “mencecoki” bahasa jawa, tapi hanya berharap kita semua punya semangat seperti Elizabet Inandiak, tentunya dalam konteks yang positif seperti yang tersirat dalam lirik-lirik lagu setelah beberpa foto berikut ini.

Ora cucul Ora Ngebul

 

Pak Dul sirahe gundul

Tuku rokok neng Pasar Sentul

Arepo silul kudu wani cucul

Ora cucul ora ngebul

Pak Dul sirahe gundul

Tuku rokok neng Pasar Sentul

Arepo silul kudu wani cucul

Ora cucul ora ngebul

Petruk bingung ngekep bojone

Pikiran nglamun mikir gendakane

Pancen kadung rusak negarane

Mula aja gumun nek rakyate kere

Nek wong sugih le gendakan ning hotel sing larang

Bermain cinta lupa daratan ra konangan

Nek wong kere le gendakan ning hotel murahan

Durung nganti anget kena razia kisinan

Nek wong gede konangan selingkuh malah kondang

Nek wong cilik sing konangan diarak telanjang

Apa kaya ngene jeneng negara berjuang

Segala sesuatu ditentukan dengan uang

Pada-pada gendakan hukume dewe-dewe

Pancen hukum kui gendakane wong-wong gede

Wong cilik kerja sengsara ninga tetep kere

Wong gede kemaki urip sak karepe dewe

Lirak-lirik karepe ngejak turu kelonan

Koalisi politike mung perselingkuhan

Beras larang minyak mundak ra karu-karuan

Politike nglambrah mung ribut ngurus gendakan

Mula aja munafik kaya wong-wong politik

Dadia wong seni kritis peduli ro wong cilik

Wong politik munafik ra gelem nampa kritik

Geleme nampa duit cacahe ra sethithik

Pak Dul sirahe gundul

Tuku rokok neng Pasar Sentul

Arepo silul kudu wani cucul

Ora cucul ora ngebul

Ana kancaku pelukis kluyuran bengi-bengi

Pamite lunga jare arep golek inspirasi

Neng ndalan ketemu karo temon bodine seksi

Kenalan terus gelem digambar ra nganggo klambi

Bar digambar temone seneng ora karuan

Saking senenge nganti gelem dijak kelonan

Cepet-cepet gage do golek hotel murahan

Lagi krusak-krusek la kok yo ana gropyokan

Sing nggropyok polisi numpak pick-up bakul kursi

Tanpa basa-basi kabeh kamar disatroni

Banjur diklumpukke dikon antri siji-siji

Kabeh digeledah nek ana sing nyolong wadi

Polisi muni anda telah berbuat ruyal

Itu artinya anda sudah melanggar moral

Pelukise takon apa moral iku mural

Nek cen kui aku ngerti ayo gek ndang budhal

Moral itu adalah tata susila

Siapa yang melanggar akan kena razia

Pelukise takon apa toh tata susila

Apa pada karo wanita tuna susila

Polisine muni kepiye nek damai wae

Damai kui artine wani piro mbayare

Pelukise nyaut durung perang kok wis damai

Wong durung telanjang kok wis digawe rame

Pak Dul sirahe gundul

Tuku rokok neng Pasar Sentul

Arepo silul kudu wani cucul

Ora cucul ora ngebul

Akale wong lanang nek dolan ning Pasar Kembang

Gawe alasan golek aman ben ra konangan

Politik saiki cen seneng maen belakang

Njabane resik jebul jerone selingkuhan

Lumpur Lapindo metune soko Sidoarjo

Bojo loro kabeh kok seneng nggodha

Wis merdeka sih ono kumpeni Londo

Nembaki rakyat, rakyat neng alas Tlogo

Nganggo tangk-top mlaku ning Pasar Bantul

Sangu kates, katese mental-mentul

Rakyat ditembak, ditembak betul-betul

Tapi jare kena peluru mantul

Buah Langsep tuku regane larang

Motore nyungsep, nyungsep ning njero potang

Negara lemes merga kakean utang

Bandane ludes, sing nilep pada ilang

Manuk Podang mabur mlebu kurungan

Gage dikancing nganggo gembok kuningan

Ra entek-entek lehku seneng gendakan

Nganti modar nganti tekan kuburan

Kadung remen ceweke Cak Paimo

Cekap semanten niki atur kawula

Ana kupat kecemplung ning njero santen

Menawi lepat kawula nyuwun ngapunten

Gangsta Gapi

 

Dadi bocah ojo mung,mabok wae. ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Seprene kudu wes wayahe bayar SPP.

Murid liane wes podo bayar gari dewek’e.

Bali neng ngumah matur bapak ibune.

Njaluk duwet go bayar SPP ceritane.

Di rewangi mbesengut, raine ro mrengut.

Njaluk duwet atine kro ndersulo.

Podo nek ra mbayar mengko yo di DO.

Mbasan wes entok duwet e lah malah koyo ngono.

La piye to, dasare bocahe ra toto.

Duwet  SPP Malah nge Mabok karo konco konco.

Ra miker wong tuo le ngolek nganti ngoyo.

Nganti ngelus dodo utang tonggo tonggo.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae. ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Mabok wae kue wes pancen gaweane.

Ragate urunan  ngompasi njaluki konco kancane.

Nek perlu duwet SPP dinggo putu show.

Ra mikir wong tuo le ngolek (Money money money)

Penggung, bocahe rodo suwong.

Ora mutus we,dijak omong ra tau nyambung.

Wes nek sekolah mbolosan,ora tau sinau

0no pelajaran malah di tinggal turu.

Ora gagas, ra mikir ono bu guru.

Gurune nesu nesu banjur dikon metu.

Mbatine bocahe malahan “asik tenan ora milu pelajaran”.

Mending mbolos wae malah kepenak.

Sekolah ora di ati ati mergane ora genah.

Walah le koe arep dadi opo?

Nek arep tumindak ngiwo, malah mesak ke wong tuo.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae. ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Dadi bocah ojo mung,mabok wae ra mikir,

piye bapak ibune, le podo nyambut gawe.

Waw,waw,waw, ( Kie piyo kie piyee)

Neraka jahanam ( kumpol bareng neng kene)

Milu prihatin ( nyawang kahanane)

Bocah sak iki (pancen ora omom nakale)

Mesake wong tuo njambut gawe rekoso.

Tumindak culiko mbok yo di pikir dowo.

Rasah neko neko urip sing prasojo.

Nek ora ngugu, awas mengko ciloko

Saiki cobo,sopo sing wes ngragati

Ngrumat rupamu,wiwit seko bayi

Neng di nengke,koe ra mbejaji

Mulane kabeh, rasah do kemaki.

Ngelmu Pring

 

Pring reketeg gunung gamping ambrol

Ati kudu teteg ja nganti urip ketakol

Pring reketeg gunung gamping ambrol

Uripa sing jejeg nek ra eling jebol

Pring deling, tegese kendel lan eling

Kendel marga eling, timbang nggrundel nganti suwing

Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg

Rejeki seret, rasah dha buneg

Pring ori, urip iku mati

Kabeh sing urip mesti bakale mati

Pring apus, urip iku lampus

Dadi wong urip aja seneng apus-apus

Pring petung, urip iku suwung

Sanajan suwung nanging aja padha bingung

Pring wuluh, urip iku tuwuh

Aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh

Pring cendani, urip iku wani

Wani ngadepi, aja mlayu marga wedi

Pring kuning, urip iku eling

Wajib padha eling, eling marang sing peparing

Pring reketeg gunung gamping ambrol

Ati kudu teteg ja nganti urip ketakol

Pring reketeg gunung gamping ambrol

Uripa sing jejeg nek ra eling jebol

Pring iku mung suket

Ning omah asale seka pring

Usuk seka pring

Cagak seka pring

Gedhek iku pring

Lincak uga pring

Kepang cetha pring

Tampare ya mung pring

Kalo, tampah, serok, asale seka pring

Pikulan, tepas, tenggok, digawe nganggo pring

Mangan enak, mancing iwak, walesane ya pring

Jangan bung, aku gandrung, jebule bakal pring

Nek ngono pancen penting, kabeh sing nang nggon wit pring

Pancen penting tumraping manungsa sing dha eling

Eling awake, eling pepadhane, eling patine, lan eling gustine

Wong urip kudu eling, iso urip seka pring

Tekan titi wancine ya digotong nganggo pring

Bali nang ngisor lemah, padha ngisor oyot pring

Mulane padha eling, elinga sing peparing

Pring reketeg gunung gamping ambrol

Ati kudu teteg ja nganti urip ketakol

Pring reketeg gunung gamping ambrol

Uripa sing jejeg nek ra eling jebol

Ora bakal bubrah marga iso melur

Kena dinggo mikul, ning aja ketungkul

Urip kuwi abot, ja digawe abot

Akeh repot, sak trek ora amot

Mulane uripmu aja dha kaku

Melura, pasraha, ra sah dha nesu

Aja mangu-mangu ning terus mlaku

Sanajan ro ngguyu aja lali wektu

Kowe bakal bisa urip rekasa

Ning kudu percaya uga sregep ndonga

Gusti paringana, luwih pangapura

Marang kawula ingkang kathah lepat lan dosa

Aja nggresula, aja wedi

Dudu kowe, ning gusti sing mesti luwih ngerti

Ngatur urip lan mati

Nyukupi rejeki

Paring tentreming ati

Cukup sandang pangan papan

Bakal mukti pakarti

——-

Gw akui, kalau gw sedang gandrung terhadap seluruh lagu dalam CD HIPHOPDININGRAT. Tapi ini bukan fanatisme, hanya sekadar berbagi saja.

“Rotra – Ngelmu Pring” dan akan saya mulai terapkan. Bismillah 🙂

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

29 November 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized