Upeti Untuk Macan Asia (album review)

Posted on May 4, 2012

0


Front Cover

GEEKSSMILE

Album: Upeti Untuk Macan Asia

Producer: GEEKSSMILE & Dicky Raharja Jaya

Label: Revoltanthem Records, Oktober 2010

Lagu:

  • Napalm Drive
  • Mendobrak Dominasi
  • Revoltanthem
  • Street Junkie
  • Rebeldia
  • Tuhan-Tuhan Baru
  • Dopamin Propaganda
  • Black Blood Green Thunder
  • Bayang Tak Berwajah

Setelah merilis secara gratis album “Jurnal Perang Indonesia” di tahun 2004, movement yang dilakukan band asal Bali yang berisikan 4 orang personil kali ini terbilang cukup sukses untuk mendobrak dominasi dan didengar. Ya, “Mendobrak Dominasi” memang dijadikan salah satu judul dari total 9 lagu yang disiapkan untuk para Geekscomrades. Bagi yang masih mengawang tentang music yang dikomandokan oleh GEEKSSMILE, silahkan bayangkan Rap rock ala St. Loco yang dikolaborasikan oleh ritme-ritme ala Brad Wilk dan permainan gitar yang nyaris serupa dengan Tom Morrelo ditambah racikan bass line yang eksplosif, membuat seluruh lagu terasa semakin tegas.

Selain menyiapkan semangat rebellion anda sepertinya perlu membuka kamus atau silahkan buka situs-situs penerjemah, karena kata-kata yang terkandung sangat mampu membuat kita memicingkan mata. Darisini terlihat bahwa kosa kata Indonesia itu juga cukup rumit dan sekali lagi saya ingatkan, tidak akan ada statement yang merajuk apalagi sampai mengemis untuk cinta yang menye(dihkan)-menye(dihkan). Dan saya jamin seluruh pendengar yang sudi menyimak album ini, pasti akan memasukkan lagu menye(dihkan)-menye(dihkan) kedalam kategoti baru, menye(balkan). Karena salah satu tema yang disung dalam album ini adalah masalah global tentang kapitalisasi, yang jelas tidak akan selesai jika dihadapi dengan merajuk atau mengemis.

Dibuka dengan lagu “Napalm Drive”, jika didengar sekilas, riff awal lagu ini memang hampir mirip “Tire Me”. Dan memang mereka menggunakan RATM sebagai acuan mereka, karena untuk mengungkapkan ekspresi kemarahan atau kekecewaan dari tema yang diusung dalam album ini, Rap Rock memang salah satu genre yang paling memfasilitasi. Ada sepenggal lirik yang menarik dalam lagu ini: “Lahir, Hidup, Mengonsumsi, Mati” penggalan lirik ini mengingatkan saya pada tattoo yang melingkar di siku sebelah kanan seorang frontman band metal yang terbilang vocal dalam melungkan aspirasi, Seringai. Dan ini bukti bahwa music keras itu ibarat sebuah majas sarkasme yang langsung menyerang tanpa basi-basi pada sebuah system.

Lagu “Dopamin Propaganda” dan “Bayang Tak Berwajah” secara implisit menceritakan 2 gambar tokoh yang terdapat dalam back cover album ini. Meskipun 2 tokoh tersebut sudah dibalut kultur pop dalam corak desainnya, mereka tetap dapat dikenali sebagai Tan Malaka dan Sub-Comandate Marcos. Tapi anda jangan berharap menemukan lirik “Bayang Tak Berwajah” dalam secarik kertas yang berisikan kumpulan lirik, entah mereka lupa memasukkannya atau memang sengaja. Ini merupakan salah satu kekurangan dalam album ini, selain tidak ada list judul lagu yang tersusun dalam urutan. Sehingga membuat kita sibuk untuk mencocokkan indra pendengaran kita dengan kemampuan kita menyimak lirik-lirik yang pedas ini.

Dari kesembilan lagu yang berdurasi diatas 4 menit, lagu “Black Blood Green Thunder” yang memiliki durasi 6 menit 14 detik ini sangat mencerminkan atmosfer perang di afganistan. Dengan sedikit permainan snare di awal lagu, mereka sukses memunculkan kesan helicopter yang berisikan pasukan pemburu bensin. Dan menurut saya ini adalah lagu yang paling representative untuk bertutur tentang perang irak atau daerah bergurun lain yang sedang dalam proses pengakuisisian oleh pihak yang disebut dalama lagu ini sebagai, amerika. Ini adalah lagu favorit saya.

Album “Upeti Untuk Macan Asia” nampaknya memang dikhususkan untuk orang-orang yang memiliki semangat pemberontakkan dan kesadaran tingkat tinggi, bukan sekedar makelar massa yang sifatnya angin-anginan menanggapi sebuah issue yang sedang beredar. Karena isu yang diangkat album ini kembali menampar kita akan sebuah penjajahan (kolonialisasi) yang terus menjelma dengan wujud barunya. Karena Neo-kolonialisasi bukan tema usang, Geekscomrades!

——-

Tulisan ini dibuat untuk sebuah rubrik di majalah Sound Up, dengan harapan belum ada yang mengulas. Hahaha. Tapi tidak apa-apa, toh gue masih bisa menerbitkannya disini.

Sebenarnya gue udah dapat info tetang album ini sejak bulan lalu dari sebuah status yang dibuat Seringai (selain itu Arian juga sempat menyebar info yang sama di twitter). Tapi sampai sebuah sore pada tanggal 28 November 2010, gue benar-benar melihat bentuk fisiknya karena ada yang membawa langsung dari Bali. Setelah puas bertanya-tanya dan mengetahui kalau distribusi di Malang sudah dimulai, langsung berburu untuk mendapatkan koleksi yang pantang terlewatkan.

“Sir Dandy Harrington – Gibson atau Epiphone” Asli. Gue gak habis pikir sama ini orang, ntar lama-lama bikin lagu tentang tukang parkir yang ngasih kembalian recehan kali nih? Tapi kita enjoy kok sama lagunya. (Daripada dibilang: “Lo jangan banyak cingcong”) Hahaha.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

29 November 2010

Advertisements
Posted in: Uncategorized