#videofestival

Posted on May 4, 2012

0


I will tell you what is wrong with this world. . MOST people are freakin’ Morons who think all that manufactured pop music Garbage is good stuff. . You need only two ingredients to sell a Pop song to the stupid masses: 1) A catchy and repetitive riff, and 2) a strong, but simplistic beat. . That’s it. You do not need artistic creativity, intelligence, or anything else, to appeal to the IDIOTS. ~Smashinz2002 (a comment on youtube)

drpd kelaparan dan bergumul dgn alsn usang: “gak bs mikir kl perut lapar” mending gw nyampah ttg youtube dan imbasnya #videofestival


Itu adalah hal yang saya tuliskan di twitter sekitar 30 menit menjelang keberangkatan saya menuju sebuah acara di komunitas Salihara pada tanggal 03 Agustus 2011. Meskipun saya sebenarnya juga gak setuju tentang falsafah perut lapar dan otak yang gak berfungsi. Karena manusia dan hewan itu adalah sama, terutama dalam hal kelaparan. Entah mukjizat dari mana, tapi mereka akan berubah menjadi cerdas dan gesit melebihi kesehariannya [jika tidak sedang lapar]. Terserah mau dibilang ikut-ikutan sok kultwit atau apapun, alasan saya membuat itu karena merasakan sebal kepada kondisi penonton di Indonesia yang semakin tidak cerdas. Meskipun tidak mayoritas, tapi itulah yang semakin saya rasakan. Dan satu lagi, media itu bukan tuhan kalian yang harus dipatuhi.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat bagi anda yang telah meletakkan asas praduga anda terhadap The upstairs. Karena memang hashtag #videofestival saya kutip dari salah satu judul lagu The Upstairs di album ENERGY, lagu itu diciptakan oleh Jimi Multazam salah satu musisi cerdas tanah air nan ajaib plus multi ide dan penafsiran [skaligus brengsek*]. Sebenarnya saya sendiri merasa agak kurang tepat menggunakan hashtag #videofestival bagi bahasan saya pada waktu itu. Tapi selain alasan personal, dimana lagu ‘Digital Video Festival’ merupakan lagu favorit saya dari The Upstairs setelah lagu ‘Mosque of Love’. Alsan lain yang membuat saya mengutip judul lagu itu adalah ke-brengsek-an The Upstairs dalam upaya menyentil mental penikmat film.

  • kata ‘Brengsek’ disini saya pergunakan untuk sesuatu yang keren! Jadi ini mengekspresikan umpatan sekaligus pujian. Terpujilah wahai engkau yang menemukan kata paling sempurna untuk meluapkan ekspresi sekaligus emosi.

Meskipun, mungkin, sebenarnya Jimi ingin menggambarkan situasi yang ia alami melalui ekspresi ajaibnya, tapi buat saya itu adalah sebuah cara menyentil yang cerdas. Coba simak bait kedua lagu ‘Digital Video Festival’, berikut ini:

Tak guna antrian panjang

Apalagi hanya popcorn yang mahal

Karena kita gembira

Bermodal awal lima ribuan

Kan ku ajak kau dara

Menyaksikan tutur gambar di rumah

Bertumpuk keping bajakan

Masih sempatnya kita berwacana

Dan saat ini saya ingin mencoba membahas hal itu [lagi], meskipun hasilnya tidak akan secerdas Jimi Multazam.

[kembali] membicarakan penonton

Sebenarnya tulisan dengan judul ‘Membicarakan Penonton’ pernah saya buat pada bulan November 2010, Membicarakan Penonton tulisan tersebut didasari oleh salah satu rubrik di majalah rolling stone di campur dengan pengalaman dan pengamatan saya selama ini. Disana saya mencoba membuat 6 poin yang selayaknya diterapkan guna menghindari cidera ketika menonton konser, singkatnya self improvement to watch the show.

Tapi setelah mengamati beberapa bulan terakhir ini, saya rasa ada yang kurang dalam hal itu. Apa itu? Media itu tidak selalu berposisi sebagai opinion leader. Disini hal yang saya perkarakan adalah youtube. Kenapa dengan youtube? Bukannya youtube itu bagus dan sering anda akses juga kan? Kalau itu pertanyaanya, akan saya jawab: “Ya jelas, saya sangat sering menghabiskan waktu didepan computer untuk youtube. Dan kenapa dengan youtube, akan saya coba ceritakan disini.”

Sekali lagi, saya ceritakan. Bukan jelaskan. Karena saya gak mengerti kenapa yotube diciptakan, youtube itu menggunakan script yang seperti apa. Jumlah kapasitasnya dalam perbendaharaan video ada berapa juta. Yang saya tahu tentang youtube adalah video pertama yang diupload ke youtube merupakan video dari seseorang yang sedang dikebun binatang. Dia pun siapa, saya tidak tahu. Toh juga tidak penting buat saya untuk mengetahui siapa dia.

Saya mengenal youtube sejak tahun 2006, dan semakin akrab setelahnya. Karena bagi saya, ditahun tersebut youtube merupakan sarana yang keren untuk menambah pengetahuan tentang music. Meskipun tak jarang juga saya gunakan untuk sekedar melihat video yang super geblek, sehingga membuat saya tak bisa menahan laju tawa. Misalnya saja ketika ada video yang melihatkan ketololan anggota dewan perwakilan rakyat yang gugup ketika diajukan pertanyaan tentang “email resmi komisi 8 dpr”, kemudian salah satu anggotanya memberikan jawaban: “komisidelapan-at-yahoo-dot-kom”. Jujur saja, saya pengen mengumpat tapi terpaksa harus saya tahan beberapa menit untuk memberikan kesempatan kepada rasa geli saya.

Tapi semakin kesini, saya semakin risih melihat respon masyarakat terhadap video yang mengcover lagu orang. Dalam hal ini, saya coba membicarakan sinta jojo, briptu norman dan boyce avenue. Disana orang-orang dibuat bodoh oleh media mainstream di Indonesia, mereka sering melabelkan bahawa artis-artis yang dating dari youtube merupakan suatu fenomena. Buat saya fenomena itu adalah hal yang sifatnya natural dan bisa diamati. Kalau coba beranjak ke sitis Wikipedia maka akan didapatkan penjelasan seperti ini

Phenomena is any observable occurrence. Phenomena are often, but not always, understood as ‘appearances’ or ‘experiences’. These are themselves sometimes understood as involving qualia.

Disini phenomena merupakan bentuk plural, sedangkan untuk singularnya adalah phenomenon. Sedangkan qualia adalah hal fundamental bagi pikiran dan tubuh kita yang berfungsi sebagai penjelasan untuk hal-hal yang sifatnya materialis. Saya gak coba membahas apa itu fenomena atau qualia, mungkin untuk yang kuliah psikologi [terlebih lagi filsafat], bisa menjelaskan lebih panjang lebar mengenai hal ini. Tapi disini saya mencoba memaparkan bukti kesalahan media mainstream sebagai corong pembodoh umatnya! Umat yang sebenarnya juga tidak cukup cerdas untuk menelaah. Meskipun tidak menutup kemungkinan juga bahwa media alternatif juga bisa salah, tapi saya ingin bertanya: “lebih mudah mana, mengakses media mainstream atau media alternatif?” Nah, inilah alasan saya kenapa mengatakan bahwa media mainstream merupakan sarana pembodoh umat.

Ketika kita dihadapkan dengan kata-kata media, maka pikiran kita akan digiring oleh gambaran tentang koran, majalah, tv dan radio. Sebenarnya sah-sah saja, tapi media yang ingin saya perkarakan disini adalah yotube. Youtube itu juga media! Media itu adalah wadah. Sudah gak ada lagi penjelasan lain. Maka disini youtube adalah media bagi orang-orang yang ingin menguplad videonya dan bisa dilihat oleh seluruh dunia melalui medium internet. Nah, kalau medium sendiri merupakan perantara. Ilustrasi mudahnya, kalau kalau kita ingin menulis, biasanya mengunakan ballpoint sebagai medium dan kertas sebagai medianya. [ini buat yang masih konvensional, kalu sudah yang pake ipad ya beda lagi persoalannya]

Terus, ada yang salah sama youtube sebagai media? Gak ada, sejauh ini sehat-sehat aja. Yang salah adalah pelabelan media mainstream terhadap beberapa kasus di youtube, balik lagi ke persoalan video sinta jojo, briptu norman dan boyce avenue. Media mainstream disana melabelkan bahwa sosok itu adalah sosok yang fenomenal dengan viewers yang mencapai jutaan orang, maka dijamin bahwa orang ini layak diperhatikan. Baiklah, sekarang saya mau bertanya: “Bagaimana nasib briptu norman sekarang? Sinta-Jojo malah jadi bintang iklan sosis [atau mungkin kalian membayangkan kalau sosis yang dipegang itu adalah dildo] kan?”

Sampai detik ini saya belum pernah mewawancarai Sinta-Jojo, Briptu Norman maupun Boyce Avenue [meskipun kemarin berada satu ruangan dalam acara press conference L.A. Lights Festivesound] mengenai alasan mereka me-upload video ke youtube. Tapi saya yakin kalau alsan mereka adalah untuk meluapkan hobi mereka, atau bahasa umumnya di Indonesia: “sekedar lucu-lucuan”. Dan memang, mereka lucu! Menghibur! Coba tanya aja cewe mana yang gak doyan liatin boyce avenue? Atau cowo mana yang gak sumringah liat sinta-jojo? Atau bahkan teroris mana yang gak ngakak liat kelakuan polisi nyanyi lagu india? Sehingga disini saya punya opini bahwa alas an mereka adalah berkisar diantara ini mencari sensasi, sekedar penyaluran keisengan, melawan hegemoni atau dipaksa [disuruh] oleh temannya.

Dan untuk kesemua alasan, saya pikir cukup masuk diakal. Meskipun terkadang respon yang didapat bisa tidak masuk diakal. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh media mainstream untuk menyerang titik lemah orang Indonesia yang [mayoritas] berkarakter: gagap dan latah! Bisa bayangin gimana keliatan begonya orang latah yang gagap? Begitu kita kagetin dia malah gak bisa ngomong, kalau 1 atau 2 orang sih gak terlalu masalah ya, tapi kalu udah berjuta-juta. Pasti nyebelin! Dan itulah yang bikin terlihat bodoh, meskipun sebenarnya juga kasihan.

Gagap dan latah saya identikkan dengan mayoritas penonton di Indonesia, kok bisa? Saya melihat bahwa sebagian besar penonton tidak punya alasan yang tepat untuk menghadiri sebuah acara. Sebagai contoh, baru-baru ini saya menghadiri sebuah acara buka bersama yang diadakan di Hard Rock Café – Jakarta, disana ada segerombolan anak-anak abg wanita [yang menggemari afgan] dan juga serombongan anak pesantren [biasalah kalau momen-momen tertentu pasti perusahaan menunjukkan sisi humanisnya]. Ceritanya begini, ketika MC bertanya kepada salah satu abg tentang pengalaman dia, kenapa sapai nangis ketika liat afgan di sebuah acara? Dan jawaban yang didapat adalah: “[sembari bertingkah yang membuat MC cukup bingung, kemudian ia menjawab] habis temen-temen gue pada nangis” kontan saya berucap dalm ahti: “Anjing! Alasan apaan tuh?”

Contoh kasusu barusan itu Cuma secuil bukti saja, dan gak cuma itu aja, banyak orang Indonesia yang datang ke sebuah acara ketika ditanya tujuannya apa dan kenapa, pasti akan dijawab dengan “A.. E… A… E…. cuma ikut-ikutan temen aja sih” mirip kan sama orang gagap dan latah? Gagap karena gak bisa menjelaskan dengan pasti alasannya apa dan latah karena gak punya pendirian kenapa dia harus ikut dalam rombongan itu. Dan inilah mayoritas penduduk Indonesia. Kalau kalian [khususnya yang berada didaerah jawa timur] lihat JTv disana ada acara Becak (Berita kocak), dalam acara itu tergambar dengan jelas apa yang saya maksud dengan gagap dan latah. Ketika pembawa acara mewawancari orang secara acak dengan pertanyaan yang menyangkut istilah popular, yang tidak jarang banyak orang yang tidak tahu apa artinya, meskipun sering ia gunakan.

Dan orang-orang macam inilah yang menjadi target pembodohan oleh media. Dengan label bahwa dengan mengupload video ke youtube maka karir akan lebih cerah, khususnya bagi yang ingin menjadi artis [sekali lagi terlihat kebodohan media mainstream yang tidak bisa membedakan artis dengan selebritis]. Mulailah bermunculan video-video ala kadarnya yang entah tujuannya apa, tapi bagi saya itu adalah hal yang menggangu. For this case, I’d rather use disturbing than annoying.

Kalau Jimi berkata: Karena kita gembira, Bermodal awal lima ribuan. Maka disini dengan modal limaratus ribuan, anda bisa terkenal lewat youtube. Sering-seringlah menghabiskan waktu untuk membuat video dubbing yang konyol, kemudian buatlah akun di youtube dan me-upload-nya. Tunggu sampai dilabeli jutaan viewers dan anda akan terkenal. Baik, selagi anda menunggu total viewers, akan saya bilang langsung didepan muka anda: selamat menjadi manusia tidak berguna!

Apa spesialnya cover version?

Ya, itu adalah hal yang saya tanyakan ketika saya bertemu dengan teman saya [yang wanita] beberapa hari setelah show pertama boyce avenue di Jakarta. Dan jawaban yang didapat adalah, mereka itu ganteng suaranya juga keren kok. Ya! Sudah saya duga, itulah jawaban yang pasti keluar. Tapi yasudahlah, bagi saya selera itu memang tidak untuk diperdebatkan, karena selera itu sudah menyangkut rasa. Bagi saya Mariana Renata itu luar biasa memesona, tapi kan belum tentu disepakati bagi anda yang merupakan penggemar Olga Saputra. Tapi saya yakin kalau tingkat kecerdasan itu berperan besar dalam menentukan selera orang tersebut secara tepat. Tepat disini bukan berarti benar, hanya tepat saja.

Yang saya tanyakan, kenapa boyce avenue sampai diundang dua kali ke Indonesia? Padahal lagu-lagu yang dibawakan tidak ada yang special, me-cover lagu orang lain tanpa melakukan perubahan dibeberapa bagian? Apa bedanya sama pengamen di bus kota? Viewersnya samapi jutaan? Apa bedanya sama moymoypalaboy? Ya inilah salah satu bukti nyata latahnya [mayoritas] orang Indonesia.

Baiklah, daripada saya capek berargumen bahwa orang Indonesia itu gagap dan latah, mending saya coba bagikan beberapa video yang keren. Dan yang pasti bukan hanya sekedar cover version dan bermodalkan tampang menarik atau kenyoloan saja.

Mungkin kalian punya yang lain? Silahkan dishare disini. Syaratnya cuma satu: Tidak ada alasan tampangnya menarik atau segala macam terpaan citra yang anda lumat karena melihat video tersebut, sehingga menimbulkan alasan tersubjektif dan tidak bertanggung jawab.

Sekian

——-

Bukan dalam rangka 17 Agustus-an lantas gw turut memeriahkan dengan menulis notes ini. Haruskah gw turut merayakan hari kemerdekaan negara ini? Emang lo percaya udah merdeka? Kalau lo percaya silahkan masuk partai apapun dinegeri ini. Coba sebutkan bedanya partai dan golongan? Persoalan perbendaharaan saja bukan? Toh subtansi masalahnya tetap sama,menyejahterakan golongan. Bukan rakyat! Dan sekarang gw udah sampai pada titik apatis terhadap pemimpin kacrut yang lagi sibuk berkoar di gedung DPR/MPR, ada yang melihat SBY berpidato tadi pagi? Entah pidato untuk apa,gw gak peduli. Yang pasti,dia dan segenap orang yang hadir disana cuma bikin gw mau muntah! Untungnya gw gak gabung sama FPI. Enaknya gabung sama FPI itu boleh marah-marah selama bulan puasa.

“David Gilmour – High Hopes” kata-kata diawal notes ini, gw dapet dari salah satu komen divideo ini. Lagunya beda banget sama Pink Floyd era sebelum album The Wall, dan entah apa nama genrenya. Karena gw mulai alergi sama genre yang dibikin orang-orang. David Gilmour – High Hopes (AOL Sessions) sebenernya gw cuma dengar lagunya aja udah sangat suka, apalagi liat kalau live. Semoga beliau bisa segera main di Indonesia, mumpung belum mati. Entah gw duluan atau dia duluan yang mati.

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

17 Agustus 2011

Advertisements
Posted in: Uncategorized