Babi mati

Posted on May 7, 2012

1


Image

Dan apabila aku mati ditempat ini dalam wujud seekor babi. Apakah kau masih peduli? Peduli layaknya seorang pelajar yang baru mengerti cara berinteraksi dengan lawan jenisnya.

 

Tapi aku lebih yakin, kalau kalian akan berteriak tanpa arah karena rasa jijik yang menguasai kalian. Rasa jijik yang sama ketika menyaksikan mayat bayi berumur dua bulan yang mengapung di comberan dengan belatung di sekitar paha, mati karena dibekap kantong kresek oleh ibunya. Sebuah kantong kresek yang sama, sebagai wadah susu untuk keperluan sang bayi dua hari sebelum membuat anaknya mati.

 

Mungkin juga kalian akan segera memilih langkah kremasi, karena cara itulah yang paling tidak membebani pundi. Hanya berbekal korek api seharga sekian ratus rupiah dan sisa-sisa ideologi yang banyak berserakan dibalik lembaran jurnal yang konon katanya ilmiah.

 

Atau kalau kalian masih waras, kalian akan menikamku dgn bambu kemudian disiram bumbu? Untuk coba diperdagangkan di warung-warung yang bertuliskan “SEDIA DAGING BABI”. Logikanya begitu kan, wahai ekonom?

 

Dan sebelum aku ditemukan tidak bernyawa dalam waktu yang belum diketahui, lebih baik aku menitipkan sedikit pesan bagi kalian duhai musuhku maupun musuh dari musuhku,

Kita semua akan mati dalam wujud yang belum pasti untuk menuju sebuah keadaan yang tak seorangpun tahu pasti.

Yogyakarta, 17 maret 2012 & Bekasi, 7 Mei 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized