Menulis soal Malang dalam sehari

Posted on June 22, 2012

0


“Kesadaran adalah matahari.

Kesabaran adalah bumi

Keberanian menjadi cakrawala.

Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata” ~ W.S Rendra

Hari ini, kamis 21 Juni 2012 pukul 07:30 WIB, itu artinya belum genap 24 jam kehadiran saya disini, di kota Malang. Tapi entah mengapa semenjak semalam saya benar-benar ingin menulis, namun saya merasa bingung untuk menulis apa. Padahal beberapa waktu belakangan ini saya sengaja menghadiri peristiwa atau tidak sengaja berpapasan dengan kejadian yang menurut saya menarik, bahkan sudah sempat membuat beberapa draft untuk saya jadikan tulisan. Tapi karena rasa malas, saya tidak pernah menyelesaikan draft itu satupun! Kecuali memoar tentang album terbaru KOMUNAL.

Dan semalam, setelah saya menganulir niat saya untuk menonaktifkan akun twitter karena beberapa alasan personal, seketika itu pula saya mendapat ide: “Bagaimana kalau menulis soal malang?”

Baiklah, biar saya jelaskan apa yang sebenarnya saya maksud dengan ‘soal’ dan ‘Malang’ disini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘soal’ adalah apa yang menuntut jawaban. Sedangkan ‘masalah’ adalah sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan), dari sini sebenarnya dari penjelasan ini sudah cukup jelas apa bedanya ‘soal’ dan ‘masalah’.

Ada sebuah adegan yang masih saya ingat sampai kini, namun sayangnya saya lupa adegan itu terjadi kapan dan pastinya diacara apa, tapi saya sangat ingat kalau waktu itu saya sedang menghadiri sebuah diskusi. Ketika itu salah seorang pemateri memberikan pertanyaan kepada audiens mengenai perbedaan ‘soal’ dan ‘masalah’. Semua peserta yang hadir disana tidak bisa memberikan jawaban, termasuk saya. Mungkin saja ada yang bisa memberikan jawaban, namun merasa enggan mengeluarkan suara. Ah, saya tidak ambil pusing soal itu. Tapi yang jelas, seluruh peserta pada waktu itu, bungkam!

Anda ingin tahu apa yang diucapkan pemateri setelah puas melihat pesertanya terlihat seperti orang linglung? Dia berujar seperti ini: “Gampang! Bedanya soal dan masalah itu adalah; kalau ‘soal’ sudah pasti ada jawabannya, sedangkan kalau ‘masalah’ masih harus dicari jawabannya. Sekarang coba perhatikan dibuku-buku sekolah, kan tidak ada yang menulis “Selesaikan permasalahan di bawah ini.” Iya kan?” Dan setelah saya pikir-pikir, benar juga apa yang diucapkan oleh orang itu. Brengsek betul penjelasannya.

Kembali kepada pokok permasalahan: “menulis soal malang”. Yang saya maksud ‘soal’ dan ‘Malang’ disini jelas saya batasi, sangat saya batasi. Karena saya sadar bahwa saya bukan warga asli Malang, dan saya bukan orang yang paham seluk beluk Malang. Bahkan kalau saya ceritakan kepada teman-teman saya di Jakarta, bahwa Malang itu punya banyak pantai, mereka seperti tidak percaya dan kemudian dapat dipastikan akan berkata seperti ini: “Bukannya Malang daerah pegunungan ya? Masa ada pantainya?”

Karena alasan itulah, saya tidak akan membahas Malang sampai daerah kabupaten. Saya membatasi daerah kotamadya saja, yang mana letaknya memang di daerah dataran tinggi, itupun hanya beberapa ruas saja. Kalau boleh saya sedikit bercerita, kemarin saya hanya melewati daerah stasiun kota baru, balai kota, alun-alun, dinoyo, jl.soekarno hatta dan samaan. Tapi jelas tidak hanya hari itu yang akan saya bahas, karena sebelumnya saya sudah berada di kota ini selama kurang lebih 6 tahun sebelum akhirnya kembali ke daerah asal saya untuk diperbudak industri media massa selama kurang lebih satu tahun.

Sangat saya akui, bahwa pengalaman saya belum ada seujung kuku jika dibanding mereka yang sudah bergulat di industri media massa selama bertahun-tahun bahkan sampai menyentuh angka puluhan. Tapi saya sudah cukup muak dengan skema bermain industri media yang bagi saya tidak mengasikkan. Tak usah saya bahas skema itu disini, karena saya tak lagi bercita-cita menjadi seperti figur yang di-”hajar” habis oleh Guns N’ Roses dalam lagu ‘Get In The Ring’.

Soal malang menurut perpektif saya

Maaf sebelumnya, bukan niat saya untuk menyombongkan diri, saat ini saya bergelar sarjana dari jurusan ilmu komunikasi salah satu universitas negeri di Indonesia. Nah, apa yang mau disombongkan? Sarjana? Lulusan Universitas Negeri? Haha, bagi saya pribadi agak tolol kalau membanggakan hal itu di Indonesia dekade ini. Mungkin kalau dua dekade silam, gelar itu masih cukup mistis dan bisa menjadi kesombongan tertentu. Tapi sejak memasuki tahun dua ribu, hampir semua kepala yang ada di Jakarta bisa dikatakan sarjana.

Saya pernah mendengar sebuah anekdot yang cukup menyentil, bahwa sebagian besar tukang ojek di jakarta pun bergelar sarjana. Entah benar atau tidak, saya tidak pernah melakukan survei. Bahkan bisa saya simpulkan bahwa yang kelak membaca tulisan ini pasti sudah bergelar sarjana atau bahkan sudah menempuh jenjang pasca sarjana? Setidaknya pernah “mengecap” rasanya bangku kuliah.

Namun bagi yang tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya kuliah, tidak jadi soal. Bagi saya permulaan tentang sarjana disana bukan untuk menyombongkan status, itu adalah alegori. Bahwa sarjana itu adalah orang yang pandai (ahli dalam ilmu pengetahuan), dan pengetahuan itu beragam kan? Dan kalian adalah seorang ahli dalam sebuah ilmu dan sekaligus seorang bodoh dalam ilmu lain, itu pasti! Maka izinkan sekali lagi saya jelaskan, posisi kita disini adalah sama. Tidak ada yang menggurui dan tak ada yang digurui, yang ada hanya memberi informasi dan koreksi.

Yang dimaksud dengan perspektif saya di sini adalah, saya sebagai orang awam yang berbekal literatur, kelompok bergaul dan beragam kejadian yang jelas berbeda dengan anda. Dan itu otomatis menghasilkan perspektif yang berbeda pula, karena latar belakang pembentukan persepsi yang berbeda. Namun segala hal yang dirasakan oleh indera kita sebagai manusia, hampir dipastikan sama. Sekarang siapa yang setuju kalau malang saat ini penuh dengan cafe di daerah jl.soekarno hatta? Itulah yang saya lihat, dan saya cukup yakin kalau kalian juga melihat yang sama dengan saya. Namun perspektifnya belum tentu.

Masuk ke persoalan Malang dalam perspektif saya, setidaknya ada beberapa hal yang sekilas saya perhatikan.

1.

Ketika saya melintas di Jl.Bandung dengan menggunakan angkutan kota yang berlabel ADL, saya melihat pemandangan puluhan mobil di depan MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Malang 1 yang parkir tidak pada tempatnya. Pemandangan ini mengingatkan saya pada sebuah daerah dibilangan Tebet, Jakarta Selatan. Jika kita melaju dari arah kampung Melayu pada pukul 7 atau 14, niscaya stagnansilah yang akan kita raih. Orang tua murid yang terpelajar itu memutuskan untuk memarkir mobilnya sembari menunggu anaknya pulang sekolah, keputusan itulah yang meruntuhkan kriteria terpelajar menjadi seorang yang tolol.

Dalam pasal berapapun, tidak ada yang melarang bagi orang tua untuk menjemput anaknya sepulang sekolah atau bermain sekalipun baik dengan kendaraan maupun tidak, tapi mengorbankan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi adalah sebuah tindakan yang hina! Sehina kelakuan pejabat yang korup, oknum aparat ataupun LSM yang brutal. Ya, figur-figur yang sering dihina-hina saat kita melihat televisi maupun membaca koran. Dan gobloknya, kebanyakan dari kita masih melakukan hal yang sama.

Saya jadi ingat ucapan penjual minuman di daerah stasiun gambir ketika ada mobil yang menembakkan lampu jauhnya ke arah mereka. Mungkin saja si pemilik mobil itu tidak sadar kalau sorot lampunya itu menyilaukan rombongan pedagang itu, tapi si pedagang tidak mungkin tahu hal itu, sehingga salah satu diantara mereka berucap seperti ini dengan logat khas madura “Mentang mentang orang kaya, sah-sah saja kalau berbuat seperti itu!”

Nah! Mungkin saja, pemikiran itu pula yang terlintas dibenak orang tua murid yang menunggu anaknya pulang sekolah. Tentunya dengan konteks yang berbeda, sehingga memutuskan untuk memarkir mobilnya di ruas jalan umum. Apapun alasannya bagi orang yang masih berakal sehat, itu adalah sebuah kesalahan.

2.

Ketika saya melintas daerah stadion Gajayana, saya melihat sebuah gambar yang cukup mengganggu. Entah apa isinya, saya malas mengingat tapi ada satu kata yang cukup ampuh untuk mengacau ritme berpikir kita. Kata itu adalah “bunda”, dan dari hal itu saya sudah paham kalau si bunda ini sedang berkampanye. Sebenarnya bukan hal yang harus saya telusuri mengenai siapakah bunda itu?

Tapi karena naluri iseng saya yang seringnya tidak beralasan, akhirnya saya coba menerka; “Jangan-jangan ini istrinya peni (wali kota malang)?” dan akhirnya hal itu terjawab ketika saya membuka koran jawapos, Kamis 21 Juni 2012 halaman 30 di kolom ‘Malang Raya’. Disana tertulis judul “Satpol PP Pemkot Tumpul; Gambar Bacawali Bebas Langgar Perda dan Perwali” Nah! Jelas sudah siapa itu bunda Hj. Heri Pudji Utami

Pada kolom itu dibahas; Reklame yang dipasang sebagian melanggar Perda 44/2006 tentang Penyelenggaraan Reklame. Juga Melanggar Perwali 22/2008 tentang Tata Cara Perizinan, Pemasangan, dan Pencabutan Izin Reklame. Izinkan saya kutip 5 paragraf yang tertera disana, paragraf yang dalam perspektif saya bisa menjadi jawaban dari soal ini. Namun jika ingin lebih jelasnyua, silahkan buka koran Jawa Pos, khususnya bagi warga Malang. Sebelumnya, bacawali adalah akronim dari bakal calon wali kota.

Banyak gambar bacawali yang dipasang di batang pohon, ranting, tiang listrik, dan tiang telepon. Padahal di Perda 4/2006 tentang Penyelenggaraan Reklame yang terdapat pada pasal 21 ayat d, tidak boleh memasang reklame pada batang, ranting pohon, tiang listrik, atau tiang telepon.

Terjadinya pelanggaran diperkuat pada Perwali 22/2008 pasal 24 ayat k yang berbunyi, setiap orang atau badan dilarang memasang reklame yang ditempelkan pada tiang-tiang listrik atau tiang penerangan jalan tiang telepon, tiang lampu lalu lintas, batang, ranting pohon, pagar, tempat bangunan, dan lain-lain yang mengganggu keindahan kota.

Yang lebih mengenaskan lagi, banyak reklame yang dipasang dengan cara memaku di pohon. Tindakan ini tentunya sama saja merusak lingkungan. “Mengacu perda dan perwali yang ada, reklame apapun yang dipasang di pohon, tiang listrik dan tiang telepon adalah mealnggar. Termasuk reklame yang dipaku di pohon. Ini sama saja dengan merusak lingkungan. Satpol PP harus bertindak,” ujar ketua Komisi A DPRD Kota Malang Arief Wahyudi kepada Radar Malang.

Kasatpol PP Diana Ina mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan penertiban reklame bacawali yang dipaku di pohon. Sebab Satpol PP belum mendapatkan laporan dari warga. “Memang kalau reklame dipaku di pohon tidak boleh. Jadi warga yang mengetahui silahkan melapor kepada kami,” ujar Diana.

Sementara itu, koordinator simpatisan Heri Pudji Utami, H. Jalil menegaskan, pihaknya kesulitan mendeteksi pemasangan reklame bacawalinya. Sebab yang memasang reklame tersebut adalah simpatisan yang jumlahnya mencapai 300 lembaga.

Dari 5 paragraf itu, mengingatkan saya pada 2 hal. Pertama adalah sebuah momen dimana ketika pada sebuah malam saya datang ke tempat usaha salah seorang teman di bilangan Klender, Jakarta Timur. Kurang lebih pada pukul 22:00 WIB, mendadak tempat itu menjadi penuh oleh beberapa pemuda dan pemudi yang mengenakan kemeja kotak-kotak merah khas jokowi. Rupanya setelah saya bertanya, para pemuda itu adalah simpatisan jokowi-ahok untuk pemilukada DKI Jakarta 2012. Entah apa saja yang sudah dilakukan oleh para pemuda itu disiang harinya, yang pasti malam itu mereka mengevalusi hasil.

Tidak lama berselang, saya melihat berita di Tv One yang menyebutkan bahwa masa itu belum waktunya untuk kampanye di Jakarta, setidaknya sampai beberapa hari kedepan. Lantas yang saya saksikan kemarin itu apa? Yang saya lihat di jalanan Jakarta? Bahkan di daerah Cipinang (dekat Banjir Kanal Timur) ada sebuah rumah yang benar-benar dijadikan basecamp calon gubernur untuk cabang Jakarta Timur.

Kedua, isu atau kasus seorang istri yang mencalonkan diri untung mencalonkan diri melanjutkan perjuangan sang suami adalah sebuah de javu yang tidak menyenangkan. Mungkin beberap diantara kita masih ingat tentang isu yang berhembus ketika Ani Yudhoyono dijagokan untuk calon Presiden 2014, entah benar atau tidak isu itu benarbenar berita buruk. Setidaknya bagi saya.

Dan rupanya hal tersebut benar-benar diadopsi oleh salah seorang istri mantan walikota Bekasi yang saat ini menjadi terpidana kasus korupsi. Sang istri (Sumiyati) disokong oleh partai PDIP untuk berkampanye melanjutkan perjuangan sang suami (Mochtar Mohammad), disana saya benar—benar tak habis pikir. Melanjutkan dari segi mananya? Apa melanjutkan perjuangan suami yang terang-terangan sudah menjadi terpidana karena kasusnya?

Dan kali ini saya dihadapkan oleh pemandangan yang hampir sama dengan Bekasi, dimana istri wali kota mencalonkan diri. Bedanya adalah wali kota Malang tidak menjadi terpidana kasus korupsi, itu saja. Namun, bila saya tidak salah ingat cukup banyak warga Malang yang mengeluhkan kinerja Pak Peni sebagai wali kota Malang. Entah itu karena tindakannya atau karena ucapannya, singkat kata saya melihat bahwa Pak Peni bukanlah sosok yang dihormati warga Malang.

Sebenarnya masih ada beberapa poin lagi yang ingin saya tulis, tapi saya sadar bahwa belum kapasitas saya jika mengaitkan hal tersebut dengan sebuah budaya. Maka saya putuskan untuk tidak menuliskannya disini, mungkin jika kita bersua di sebuah kedai minuman boleh kita duduk sejenak untuk sekadar saling bertukar informasi dan saling mengoreksi.

Tulisan ini jelas saya buat sebagai bentuk kritik terhadap siapapun! Bahkan bisa menjadi otokritik. Dan semoga dengan langkah yang penuh Kesadaran, Kesabaran, Keberanian dan Perjuangan kita tidak semakin tersesat dalam rumah sendiri.

——-

Ya, tulisan ini memangh selesai dibuat pada tanggal 22, tapi saya mulai menulisnya sejak pukul 07.30 WIB di tanggal 21 Juni 2012. Dikarenakan beberapa faktor, akhirnya tulisan ini harus tertunda waktu terbitnya. Tapi tak apa, saya sudah cukup senang dengan kemauan saya yang diimbangi oleh sebuah usaha. Meskipun hasilnya mungkin tidak berarti banyak.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

22 Juni 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized