Tentang kepekaan, kejelian, sikap dan cara bersenang-senang 4 pria brengsek

Posted on July 14, 2012

5


Image

 

Ada sebuah hal yang masih saya ingat dari sebuah kejadian di bulan April 2011 tanggal 1, ketika saya sedang melaksanakan ujian komprehensif guna mempertanggung jawabkan skripsi dihadapan 4 dosen. Seorang dosen wanita muda dan akrab dengan gejolak dalam ranah ilmu sosial, mengajukan pertanyaan yang disertai dengan ekspresi datar: “Apa substansi penelitian ini, kenapa tidak coba mengkaji yang lebih dikenal masyarakat seperti …. atau ….?” (maaf nama band tidak saya tulis, petunjuknya adalah mereka robot imitasi melayu dan korea yang berkecimpung di ranah musik pop. Silahkan prediksi sendiri, jika kalian sudi)

Setelah pertanyaan itu terlontar dan saya diperkenankan menjawab, sebuah manuver yang pastinya tanpa aba-aba langsung saya lesatkan. “Tulisan ini memang tidak saya tujukan untuk orang-orang seperti ibu. Dari judulnya saja sudah saya persempit, saya hanya menujukan bagi mereka yang peduli terhadap kondisi musik di Indonesia”

Saya sudah tidak ambil pusing soal apa abjad yang akan diberikan oleh dewan penguji atas skripsi yang berjudul LAGU SERINGAI SEBAGAI SALAH SATU BENTUK MEDIA ALTERNATIF TERHADAP KONDISI MUSIK INDONESIA (Studi Fenomenologi Peran Lagu Seringai Sebagai Media Alternatif Pada Dua Orang Jurnalis Musik Yang Terdapat Dalam DVD Generasi Menolak Tua), dan rupanya dewan penguji itu memberikan saya B+.

Mungkin kalau saya lebih ber-“etika” dalam menjawab dan sesuai dengan “norma” pendidikan, saya akan mendapatkan hadiah abjad A dalam transkrip nilai keluaran instansi pendidikan. Tapi sayangnya saya sudah teramat muak atas kata ‘etika’ & ‘norma’ dalam ranah pendidikan di Indonesia, karena 2 kata itu berperan layaknya SUPERSEMAR pada era orba. Bedanya ini rezim industrialisasi pendidikan. Masih ingatkah substansi buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah” karya Eko Prasetyo?

Sudahlah, tak usah dibahas lagi soal kegeraman saya waktu itu. Oh, mungkin sampai disini ada yang bertanya; “Lantas, untuk apa hal tersebut diceritakan di awal?” Selain alasan personal, hal itu saya ceritakan kembali disini guna mengeliminir orang-orang yang setipe dengan dosen penguji saya waktu itu. Dan saya ingin sekali mengulang gertakan Arian 13 pada menit ke 3 detik ke 9 dalam sebuah lagu yang berjudul “Lagu Lama”… PERSETAN DENGAN MEREKA!

Image

bukan pamer 🙂

Dan untuk Serigala (sebutan bagi fans Seringai) yang mungkin saja mengalami kejadian serupa dengan saya dalam konteks yang berbeda, tulisan tak terstruktur namun berlandaskan hasrat tebal ini saya persembahkan untuk kalian. Saya harap, kalian masih ingat akan perbedaan makna ‘kalian’ dengan ‘mereka’, seperti yang terdapat dalam lagu “Serigala Militia”.

 

#TARING

“999 CD terjual dalam dua hari. Good news. Terima kasih banyak kawan-kawan. Maap 5 tahun baru rilis album baru 🙂 #TARING” ~@RickySiahaan

Good news? Jelas! Namun yang lebih menakjubkan adalah cara Seringai memelihara hype dari segala produknya. Kalau saya tidak salah ingat, di penghujung bulan april 2012 lagu ‘Tragedi’ dirilis secara gratis via seringai.com pukul 10:00 WIB. Lantas apa yang terjadi pada pagi hari tersebut? Mungkin tidak usah diceritakan kembali varian versinya, singkatnya down server. Alasannya? Dalam tempo beberapa menit pertama, ribuan orang berebut untuk mengunduh lagu yang sejatinya belum terlalu masak untuk dikonsumsi telinga dari segi teknis rekaman. Dan kejadian pagi hari itulah yang menjadi bahan perbincangan malam saya dengan seorang teman yang mengabdikan hidupnya kepada musik rock dengan langkah menjadi jurnalis, sesaat setelah sesi talkshow usai.

Rupanya hal tersebut kembali terulang pada tanggal 11 Juli 2012, 999 CD Taring deluxe edition ludes dalam tempo seperti yang ditulis Ricky di atas. Padahal CD tersebut hanya didistribusikan di dua toko yang terdapat dalam dua kota, Jakarta dan Bandung. Dan untuk kota yang disebutkan pertama, hari itu bertepatan dengan waktu penentuan bagi 6 calon gubernurnya. Mungkin kalau boleh diilustrasikan, toko yang berada di Jakarta itu ibarat Tempat Pemungutan Suara namun dipenuhi dengan orang-orang yang mengenakan kaos berwarna dominan hitam.

Setelah bagian ini selesai, saya akan menuliskan kesan saya tentang 12 lagu yang terdapat dalam album Taring. Kalau Arian, Ricky, Khemod & Sammy boleh memberikan prolog ditiap lagunya dalam album mereka. Kenapa saya tidak boleh mengutarakan kesan saya terhadap tiap-tiap lagu di album terbarunya dalam blog saya sendiri? Hitung-hitung balas dendam atas kadar kebrengsekan materi album ini dan jeda waktu rilis yang cukup lama. Haha!

Sebelumnya, saya tidak akan menyinggung persoalan teknis rekaman album ini. Karena saya sadar ketika saya jamming 2 hari lalu bersama seorang kawan yang memainkan drum untuk sekadar meracik bunyi-bunyian dari de facto dan led zeppelin, jemari di tangan kiri saya benar-benar kaku dan menyisakan benjolan kecil berisi air di telunjuk kanan, faktor tidak pernah memainkan bass selama beberapa bulan. Maka, jelas bukan kapasitas saya untuk menyinggung persoalan teknis karena saya sendiri masih mengalami kendala teknis yang sifatnya sangat dasar.

Dan jika menilik nama-nama yang bergotong royong menggarap album ini, reflek saya adalah hormat ditempat. Kalaupun ada yang harus saya bahas mengenai teknis rekaman, album ini adalah acuan bagi penggiat musik rock di Indonesia. Setidaknya jika band rock kalian merasa tidak terlalu bagus ketika bermain live, maksimalkan penggarapannya dalam format audio. Karena sampai detik ini, saya masih tidak bisa menemukan dimana cela teknis album ini. Kalau persoalan karakter sound yang dipilih atau irama dan ketukan ciptakan oleh para personelnya, itu jelas hak prerogatif mereka. Selama hal itu membantu bahkan mempertegas pesan lagunya, saya tidak akan ambil pusing untuk mengomparasikan.

Kalau ada yang harus saya kritik dari album ini tak lebih dari soal distribusinya. Saya saat ini berada di Malang, ketika waktu album ini dirilis saya langsung menelpon salah satu agen memorabilia musik yang masuk dalam jalur distribusi album ini tapi hasilnya nihil. Itupun untuk versi regular version. Untung saja teman saya tersebut segera menghubungi temannya yang sedang berada disalah satu distro, dan usaha kami akhirnya menemukan titik cerah. Saya hanya tidak membayangkan bagaimana nasib Serigala yang berada di daerah yang cukup berjarak dari perkotaan, pasti hasratnya benar-benar pupus karena faktor realita.

Image

bersama salah satu mentor terbaik dalam menguak hal-hal tak lazim yang bergizi tinggi 🙂

 ———————————————————————————————————————————————————————

Canis Dirus

(instrumental)

 

Jika diterjemahkan, Canis Dirus memiliki arti yang sama dengan Dire Wolf. Lantas apa yang kita ingat dari kata Dire Wolf? Tepat sekali! Jerry Garcia dengan santai melantunkan sebuah lagu beraroma folk country bersama rombongan orkes era hippies, The Grateful Dead, dan lagu itu diberi judul Dire Wolf. Ah, tapi mana mungkin Seringai terinspirasi dari lagu itu? Atau jangan-jangan mereka benar terinspirasi dari sana? Hmm

Tapi yang pasti, setelah dua versi lagu yang berjudul ‘Lycanthropia’ di album High Octane Rock, Seringai kembali membuatkan hymne untuk para serigala (makna harfiah) melalui judul yang mengacu pada nama Latin hewan yang bergenus Canis, dimana dalam genus tersebut mengandung antara 7-10 spesies yang menyerupai serigala. Dan Dirus sendiri adalah salah satu spesies yang sudah punah selain Edwardii, Ferox, Apolloniensis, Armbrusteri, Lepophagus, Cedazoensis dan Primigenius.

 

Dilarang di Bandung

“Dilarang di bandung, samar masa depan. Generasi menjanjikan kini dipersulit

Dilarang di bandung, samar untuk bergiat. Terampas kebebasan, mulai lagi dari awal”

Seringai kembali menggunakan metafora untuk memunculkan semangat perlawanan, setelah sebuah nama, Jakarta, digunakan untuk meredefinisikan kehidupan dan sebuah makna kebebasan. Kini nama Bandung dianalogikan sebagai penjara ekspresi, tepatnya setelah Insiden yang terjadi di AACC pada bulan Februari 2008.

Namun penjara ekspresi itu suatu saat pasti akan takluk oleh yang muda dan yang berbahaya, meskipun harus memulai lagi dari awal. Tapi permasalahannya, langkah seperti apa yang harus diambil oleh generasi menjanjikan itu? Simak pesan tersiratnya dalam lagu ‘Infiltrasi’

 

Taring

“Mengasah tajam, hajar masa depan. Meraih mimpi, kehidupan terang.

Sesungguhnya kita mampu menghadapi. Sesungguhnya kita akan menang”

Jika mengacu pada apa yang ditulis Edy Khemod dalam prolog lagu ini, saya rasa lagu ini kurang anthemic. Maksud saya kurang anthemic adalah kurang bisa di-karaoke-kan masal dalam moshpit. Tapi pesan yang terkandung dalam lagu ini, benar-benar anthemic! Lagu ini ibarat lagu ‘Nenek Moyang’ dan kita adalah bagian dari pelaut tersebut yang benar-benar masih ada kesamaan profesi disamping garis keturunan semata. Bisa bayangkan betapa bangganya kita, huh?

 

Fett, Sang Pemburu

“Kau adalah Mand’alor. Berderap di perang Yuuzhan Vong”

 

Sungguh tak bisa berkata banyak, ini adalah sebuah persembahan istimewa bagi para penggemar Star Wars. Jika ada yang berpendapat “Kenapa Seringai membuatkan lagu untuk Boba Fett? Seperti itu kesalahan dalam memihak.” Ada baiknya menyimak pernyataan Boba berikut ini: “Maybe I’d have grown up a nice guy if a Jedi hadn’t cut my dad’s head off in front of me!”

Nah, sekarang pilihan memihak benar-benar ada ditangan anda.

  

Tragedi

” ‘Post hoc ergo, propter hoc’ buah pikiran yang keliru

Pembenaranmu akan dua hal, logika sampah”

Setelah membaca prolog yang ditulis oleh Arian di lagu ini, saya menjadi ingat oleh sebuah artikel di sebuah situs, artikel tersebut berjudul  “Seringai: Tragedi, Logical Fallacy, Anti-Theodise” http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/album/item/1451-seringai-tragedi-logical-fallacy-anti-theodise.html  tidak lama setelah single ‘Tragedi’ yang belum matang itu dirilis.

Selesai saya membaca tulisan tersebut, saya langsung bertanya kepada @aparatmati; apakah ia sudah membaca tulisan tersebut? Rupanya ia sudah membaca bahkan sempat meninggalkan komentar, tapi entah kenapa komentar itu sekarang raib tanpa kabar. Inti komentar tersebut adalah ia tidak ingin membuat spoiler dengan menjelaskan panjang lebar tentang substansi lagu ini, nanti akan ada versi lebih jelasnya di album Taring.

Dan ketika saya baca penjelasannya dari Arian mengenai latar belakang terciptanya lirik lagu tersebut, saya pikir hal itu memang benar-benar mulai melelahkan. Meskipun saya adalah termasuk tipe orang yang percaya akan adanya azab, tapi mulut para keparat itu memang jauh lebih laknat ketimbang azab dari Tuhan.

 

Serenada Membekukan Api

“Senjatamu: memicing, mengarah salah. Memandulkan dan kian terasa gerah.

Senjatamu: tersasar, meluruh kalah. Mengimbas kepada yang tak bermasalah”

 

Seingat saya, Seringai pernah membawakan lagu baru ketika tampil di Java Rockin’ Land 2010, lagu itu belum berjudul. Tapi dengan gesit, Arian menyerukan “Ti.. Fa.. Tifatul” saya rasa kalian sudah paham, siapa yang dimaksud oleh Seringai. Ya, rupanya lagu itu menjelma menjadi ‘Tragedi’ (kalau saya tidak salah tebak) tapi konteks lagu itu lebih tergambarkan dalam lagu ini.

Lagu ini tentang pentingnya pendidikan seks, ketimbang penyensoran konten internet. Dan lagi-lagi, Arian menunjukan sikap skeptisnya yang konsisten lewat tulisan dalam prolog lagu ini: “Atau, jangan-jangan lewat isu pornografi ini adalah isu menjual sebagai garda depan usaha status quo untuk meredam kemerdekaan berbicara via konten internet? Hmm”

Kalau saya boleh memprediksi, saya jagokan lagu ini sebagai lagu yang anthemic setelah ‘Tragedi’ dan ‘Program Party Seringai’. Dimana pasukan tentara hitam mengepalkan tangannya keatas sembari mengikuti komando sang vokalis untuk karaoke masal, tapi jangan bayangkan ada tarian pogo ditengah-tengahnya.

Discotheque

“Tak kusangka, di seluruh dunia serbuk narkotika slalu ada”

 

Entah ini ide siapa untuk menggubah lagu underrated dari duet paling berbahaya sepanjang sejarah musik rock indonesia, Duo Kribo. Tapi saya mencurigai sebuah nama dalam tubuh Seringai, Sammy Bramantyo. Ya, satu-satunya oknum di Seringai yang paling banyak membuat wanita melejit ini pernah menulis hal memberikan saya sebuah rasa curiga ketika ia ditodong oleh Rudolf Dethu di rock-n-roll exhibition  http://www.rudolfdethu.com/2010/08/26/rock-n-roll-exhibition-sammy-bramantyo/ Perhatikan urutan nomor 8.

Oya, riff gitar lagu ini mengingatkan saya pada sebuah lagu dari RAMMSTEIN yang berjudul ‘Keine Lust’ tentunya dengan karakter suara yang berbeda. Tapi bagi saya, Ricky lebih sukses menaklukan permainan legendaris Ian Antono pada lagu ini yang lebih menyerupai Jimmy Page. Sama seperti ketika Seringai sukses “mengacak-acak” lagu ‘Neraka Jahanam’ dari Duo Kribo dalam beberapa kesempatan.

 

Program Party Seringai

“Badan bertubrukan dan tanpa ada henti, muka terpukul siku di dalam dansa ini – hey!

Tertimpa kawanmu, tertendang di dahi. Berdarah? Berdarah bersama: Seringai!”

 

Saya jadi teringat pertunjukan Seringai di Borneo Beer House (waktu itu masih berlokasi di Cipete) dalam acara Friday I’m In Hell. Pikir saya waktu itu adalah sebuah lokasi acara yang tidak terlalu besar untuk menampung pengujung, sarangnya bir dan ada Seringai pula? So Fvckin’ Perfect!

Tanpa hadirnya sosok panggung yang terkesan memisahkan, sayapun larut dalam pogo dancing ditengah puluhan orang ketika Seringai mulai menggeber lagunya. Dan sampai ketika saya ditodongkan microphone oleh Arian, sontak saya langsung bernyanyi tanpa norma. Tapi belum lama saya bernyanyi, ada sebuah kepalan mendarat telak ditengkorak saya bagian samping kanan. Sial, cukup membuat pusing rupanya. Lantas, apa saya menjadi marah kemudian mencari orang yang (seperti) memukul saya untuk membalasnya? Sayangnya sama sekali tidak. Karena saya paham, disitulah letak risiko sekaligus seninya.

Dan dengan hadirnya lagu ini, saya harap para jamaah moshpit bisa lebih memahami makna pogo dancing itu. Kita ada disana untuk total bersenang-senang tanpa tujuan mencari permusuhan, meskipun gerakannya terkadang memang terkesan brutal. Namun kalau ada yang berpendapat itu terlalu keras? Mungkin saja, mungkin saja sikapmu tua!

 

Lagu Lama

“Berdiri sendiri, menjadi mandiri.

Tetap menyikapi, kritis dan awasi”

 

Kesan saya pada lagu ini adalah Puppen! Vokal yang menyerocos sadis tanpa jeda menyesuaikan dengan drum yang merentet, itulah yang membuat saya teringat pada nama tersebut. Mungkin saya melakukan kesalahan menganalogikan ekspresi Seringai di lagu ini, tapi prolog dilagu ini benar-benar tidak salah. Apakah kalian juga sepakat dengan apa yang dituliskan oleh Edy Khemod, bahwa fenomena sosial yang muncul ditengah-tengan kalian masih sama dengan fase ketika album Serigala Militia diluncurkan pada tahun 2007? Ya, kita stagnan! Jadi sangat tidak ada salahnya menyetel lagu-lagu lama yang masih sangat kontekstual dengan kondisi saat ini.

 

Lissoi

Dongan sa par ti naonan, o parmitu                   Teman satu perasaan, oh peminum

Dongan sa pang kila laan, o lotutu                    Teman satu dalam kesedihan

Arsak rap mangka lu pahon, o parmitu              Kesedihan sama-sama kita lupakan

Tole marap mangandehon, o lotutu                   Mari kita sama-sama menyanyi

Lisoi lisoi lisoi lisoi                                                  Lisoi, lisoi

O parmitu lisoi                                                        Angkatlah gelasmu

Lisoi lisoi lisoi lisoi                                                  Lisoi, lisoi

Inum ma tuakmi                                                      Minumlah tuakmu

Sirupma sirupma                                                     Sirup dan sirup

Dorgukma dorgukma                                               Minumlah, minumlah

Handit ma galasmi                                                  Angkatlah gelasmu

Sirupma suripma                                                    Sirup dan sirup

Dorgukma dorgukma                                              Minumlah, minumlah

Ikkon rumar do i                                                     Segera akan lega

Diantara semua materi dalam album ini, lagu karya Alm. Nahum Situmorang inilah yang benar-benar memuaskan dahaga saya akan rasa penasaran. Dan apabila saya mendengar lagu ini sekitar 6 atau 7 bulan yang lalu, dimana saya belum memutuskan untuk berhenti mengonsumsi alkohol. Pasti derajat keirian saya terhadap Ricky akan setara dengan Sammy, Arian dan Khemod. Lapo tuak dekat rumah orang tua saya di bekasi, pasti akan saya teror!

Setelah saya mendengar lagu ini, langsung saya tanyakan tentang lagu ini kepada 2 orang teman yang berasal dari suku Batak yang bermarga Simamora dan Lumban Gaol. Respon teman saya yang bermarga Simamora menyatakan bahwa lagu ini benar-benar mendapatkan spiritnya, maksudnya spirit ketika berada di lapo tuak. Ha! Dan menurut  teman yang bermarga Lumban Gaol, Lissoi itu berarti memiliki makna yang sama dengan nongkrong atau ngaso.

Infiltrasi

“Berangkat dari skena, mengembang di dunia.

Berangkat dari nilai. Infiltrasi, infiltrasi.”

Merujuk pada cerita-cerita yang saya dapatkan dari para penggiat skena musik independent, saya pikir ini adalah lagu yang sangat tepat ditujukan bagi orang yang seangkatan dengan keempat personel Seringai, bagi generasi yang konsisten menolak tua. Atau kalaupun mereka memutuskan untuk menjadi tua, mereka akan bangga bahwa pernah mencatatkan namanya dalam jajaran scenester daerahnya masing-masing. Dan bagi saya, lagu ini bisa menjadi pedoman bagi para generasi menjanjikan yang kini sedang dipersulit.

 

Gaza

(intrumental)

 

Mengacu pada tulisan Edy Khemod dalam prolog lagu ‘Fett, Sang Pemburu’ dimana (mungkin) ada kemungkinan kedepannya Seringai akan membuat konsep album seperti progressive rock, tapi justru disinlah nuansa progressive rock itu sangat terasa. Rasakan keganjilannya mulai menit ke 2 detik ke 15, ketika sedikit unsur krautrock yang mendadak masuk diikuti kenyamanan bunyi gitar akustik dan suara dari barisan tom-tom drum yang dipukul berurutan kemudian suara bass yang kotor menguntitnya. Belum lagi keputusan Ricky yang saya anggap sempurna untuk memilih lick tersebut sebagai nyawa lagu ini.

Selepas fase itu saya merasa seperti diombang-ambing oleh 4 gajah purba yang memainkan musik rock ajaib dari Atlanta, nikmat sekali. Secara sangat subjektif, lagu ini merupakan karya Seringai favorit saya, langsung menempati peringkat pertama sepanjang 10 tahun usia karir mereka! Selamat.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

14 Juli 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized