Sebab saya punya alasan logis untuk mengagumi dia

Posted on July 20, 2012

3


Image

Later when I returned home, John Frusciante from the Chili Peppers stopped by my house. We ended up talking for hours about many things and then we went to his house and listened to a ton of cool music. He is a very special person with a deep passion for music, the guitar and life. Although I did not get any work done today, after I left his house I felt as though I really needed the experience to balance myself out a bit after being buried in the studio for so long. It’s so rare that I get to just hang out with interesting people who I resonate both musically, personally and spiritually with. I discovered a gold mine in John.

~Steve Vai

Mundur sejenak ke akhir tahun 2009 atau awal 2010, ketika sebuah isu yang (bagi saya) hangat karena seorang gitaris terlama yang dimiliki grup band asal Los Angeles-California, Red Hot Chili Peppers, kembali mengundurkan diri karena alasan yang teramat personal nan prinsipil “To put it simply, my musical interests have led me in a different direction. Upon rejoining, and throughout my time in the band, I was very excited about exploring the musical possibilities inherent in a rock band, and doing so with those people in particular. A couple of years ago, I began to feel that same excitement again, but this time it was about making a different kind of music, alone, and being my own engineer.” Kurang lebih seperti itulah penjelasan John Frusciante dalam sebuah surat yang ia tulis untuk para penggemarnya.

Namun penguduran diri yang kedua kalinya ini jelas tanpa adanya selisih dengan personel Chili Peppers ataupun karena sebuah rasa tak nyaman atas kepopuleran bandnya, seperti yang terjadi di tahun 1992. Pada tahun itu, John baru bergabung selama kurang lebih 3 tahun namun prestasi awal bersama Red Hot Chili Peppers adalah mereka sukses mencengkram Rick Rubbin sebagai Produser dalam album kelima Blood Sugar Sex Magik (1991) setelah sebelumnya ditolak mentah-mentah sejak tahun 1987 karena alasan adiksi narkotika yang dianut oleh sang vokalis (Anthony Kiedis) dan gitaris (Hilel Slovak), dimana akhirnya Hilel Slovak tewas overdose.

Entah apa yang ada di pikiran dan mata Rick Rubbin saat itu, tapi John era 1988 memang sosok seorang pemuda ajaib berusia 18 tahun, pemuja Jimi Hendix dan penggemar Hilel Slovak yang tergabung dalam band Red Hot Chili Peppers. Flea (Bassist RHCP) yang “mengudeta” John Frusciante dari band Thelonious Monster (karena kabarnya, John hanya resmi bergabung dalam band ini selama 3 jam) memiliki pendapat tentang John kala itu “A really talented and knowledgeable musician. He [Frusciante] knows all the shit I don’t know. I basically know nothing about music theory and he’s studied it to death, inside and out. He’s a very disciplined musician—all he cares about are his guitar and his cigarettes.” Akhirnya John resmi merealisasikan mimpinya pada bulan Oktober 1988, untuk kemudian merekam album perdananya bersama RHCP yang diberi judul Mother’s Milk.

Jika saya menuliskan tentang siapa John Anthony Frusciante sebenarnya, pasti saya akan kalah jauh dengan situs seperti wikipedia ataupun invisible-movement. Karena apa yang saya tuliskan disini juga pasti ada disana, andapun bisa menuliskannya jauh lebih dari saya dengan bekal 2 situs tersebut. Tapi impresi kekaguman saya akan pria yang lahir di New York, 5 Maret 1970 ini jelas berbeda dengan anda, dan itulah yang mendasari judul di atas mengapa saya punya alasan logis untuk mengagumi dia.

Singkat kata, dari sosok ini saya mengenal figur mengesankan lain selain personel Red Hot Chili Peppers sendiri, seperti: Omar Rodriguez Lopez, Josh Klinghoffer, Joe Lally sampai ke musisi band funk maupun R n’ B era 70’an seperti Rocco Prestia. Meskipun ada yang bilang bahwa John Frusciante adalah seorang misonaris musik funk, tapi bagi saya dia adalah figur lain. Jika definisi nabi adalah seseorang diberi wahyu berupa syariat tapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada yang lain, maka bagi saya John Frusciante adalah nabi.

Syariat-syariat itu tersebar ke 14 penjuru album solonya (termasuk EP dan LP) dan kelakuannya selama 42 tahun. Meskipun sebenarnya saya hanya memliki 1 rilisan fisik, dimana album itu merupakan rilisan perdananya sebagai musisi solo; Niandra Lades and Usually Just a T-Shirt (1994). Dan dalam album itu, John masih merepresentasikan sosok seekor junkie korban narkotika yang mengerang pada sebuah lagu yang menceritakan tentang bagaimana caranya vagina yang menempel pada sebuah gedung yang terbakar.

Bicara tentang kata ‘bakar’, rupanya cukup banyak orang yang terkecoh apakah bekas luka yang terpampang pada tangan kanan John Frusciante (yang terdapat tato gurita) adalah karena kebakaran rumah di tahun 1996? Rupanya hal itu tidak cukup benar. Birat Itu adalah efek dari zat psikotropika yang kerap dia injeksikan pada era 1992-1997, berikut adalah pernyataannya “It is more from coke than from heroin. Coke you’re shooting every five minutes. That is what did it to me”

 

Beranjak dewasa (baca: progresif)

Jika mengacu pada kata progresif dalam perspektif musik, saya jelas bukan orang yang kompeten. Bahkan untuk sekadar paham, saya belum pantas dikatakan demikian. Namun mengacu pada makna harfiahnya, progresif berarti memiliki sebuah peningkatan menuju kesebuah arah yang lebih baik atau setidaknya ada perkembangan. Dan definisi ‘baik’ dalam masalah selera adalah hal yang sangat relatif, atau kalau boleh diteorikan E = MC² . Hahaha

Tapi bagi saya, selaku orang yang memutuskan untuk mengagumi sosok John Frusciante sejak kelas 1 SMA, terhitung sejak EP Going Inside (2001) John sudah menunjukan gejala tersebut. Puncaknya adalah di tahun 2004, ketika John Frusciante mengeluarkan 9 buah album (proyek solo, maupun sebagai musisi pembantu dalam album lain) yang jelas tidak terekspose oleh media adalah bukti bagaimana ide-ide yang dimiliki John Frusciante jelas sudah tidak lumrah.

Dan tahun ini, 2012, John Frusiante kembali mengeluarkan EP yang diberi Judul Letur-Lefr. Sebuah album pemanasan setelah The Empyrean di tahun 2009 dan sebelum menuju album kesebelas PBX Funicular Intaglio Zone yang rencananya akan dirilis pada bulan September 2012. Kabar buruk bagi penggemar John Frusciante, Indonesia jelas bukan negara tujuan namun Jepang adalah sebaliknya.

Sedikit memberi tahu tentang apa makna dari rencana album terbarunya PBX Funicular Intaglio Zone, yang menurut situs resminya akan dirilis internasional bertepatan dengan tanggal ulang tahun saya, John Frusciante menulis seperti ini PBX refers to an internal communication system. There is a natural version of this, wherein the ‘business or office’ is a person. A funicular involves two trams connected by a cable, one going up while the other goes down. All music perpetually does this on many levels simultaneously. Intaglio is a technique in sculpture where one works on the opposite side of the image, whereby the image will eventually appear to the spectator in relief, but the angle the sculptor works from is the negation of that. In music that I like, an approach analogous to this was employed, the more so the better. Zone refers to a state of mind wherein the rest of the world seemingly disappears, and nothing matters but the union of one’s immediate surroundings with one’s feelings. These four words linked together go far to describing my creative process.”

Sama seperti yang dituliskan oleh seseorang yang mengaku bernama Kev, 8 minggu lalu: “I wonder what the hell that name means?” Sayapun coba mencari tahu apakah makna dari Letur-Lefr, dan diantara beberapa alasan yang diungkapkan oleh para penggemarnya, hanya 2 jawaban yang membuat saya menaruh perhatian.

Pertama, nama Letur-Lefr terinspirasi dari sebuah tempat di Albacete-Spanyol yang pernah dikunjungi oleh John Frusciante dalam sebuah perjalanannya. Dan alasan satunya, Letur-Lefr adalah sebuah akronim dari LeTurley-LeFrusciante. Dan alasan ini adalah yang paling mengesankan sekaligus paling masuk akal bagi saya, meskipun sejatinya Frusciante benar-benar tidak bisa diprediksi layaknya ketukan yang tercipta disegenap lagu ciptaannya.

Nicole Turley adalah wanita dibalik set drum dari band eksperimental Swahili Blonde, yang dipilih untuk dinikahi John Frusciante pada bulan Juli 2011. Sebelas tahun sebelum memutuskan untuk menikahi Nicole Turley, Frusciante pernah mengencani seorang aktris yang menjadi lakon utama dalam sekuel layar lebar Resident Evil, Milla Jovovich, selama 7 bulan di tahun 2000. Argumen saya; pasti banyak yang patah hati saat itu, huh?

Kembali kepada Letur-Lefr, di album ini saya semakin tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh John Frusciante. Tapi setidaknya ia telah memberi sebuah petunjuk seperti yang tertera dalam situs pribadinya “I had lost interest in traditional songwriting and I was excited about finding new methods for creating music”

Dan sebuah deskripsi singkat tentang EP yang terdiri atas 5 lagu itu “I consider my music to be Progressive Synth Pop, which says nothing about what it sounds like, but does describe my basic approach. I combine aspects of many styles of music and create my own musical forms by way of electronic instruments. The tracks on Letur-Lefr are from 2010 and PBX was made in 2011. Letur is a compilation, a selected portion of music I made that year while PBX was conceived as an album, the songs having been recorded in succession. The records are very different from each other.”

Jadi jangan heran jika tiba-tiba ada bebunyian yang tidak sesuai konteksnya, seperti yang terdapat dalam keseluruhan lagu dalam Letur-Lefr, meskipun konsep ini seperti sudah dipatokkan dalam album A Sphere in the Heart of Silence (2004) ketika John Frusciante bekerja sama dengan Josh Klinghoffer (gitaris RHCP saat ini) untuk mengarap sebuah album yang terlampau jauh dari aura layaknya seorang gitaris ketika dilepas liarkan untuk mengeksplorasi kemampuannya.

Dalam album Letur-Lefr, Frusciante benar-benar berulah layaknya seekor monster dalam film Predator, dimana monster tersebut memiliki kemampuan bertarung yang tidak terbantahkan tapi ia juga pandai memanfaatkan teknologi. 5 orang rapper dan seorang istri diikutsertakan kedalam 4 buah lagu yang sarat dengan nuansa musik elektronik, tapi tak juga kehilangan derajat “kekhusyukan” melodi yang diciptakan dari naluri seorang gitaris musik rock.

Jika ingin memulai mendengarkan album Letur-Lefr, saya sarankan untuk mendengarkan lagu yang berjudul ‘Into Your Eyes’, sebab lagu inilah yang secara struktur cukup mudah dicerna. Jika sudah berhasil meredam keabstrakan bebunyian yang mendadak timbul pada menit 1 detik 24, silahkan coba lagu lainnya. Ada lagu bernuansa Hip-Hop dengan judul ‘FM’, sebuah tembang intrumental bertajuk ‘Glowe’, lagu yang dikeroyok 4 rapper yang diberi nama ‘909 Days dan sebuah khotbah yang dibalut permainan instrumen musik elektronik bernama ‘In My Light’.

Lagu favorit lo?

Sepanjang hidup saya, pertanyaan inilah yang cukup sering ditanyakan ketika saya menyebutkan nama John Frusciante sebagai salah figur idola saya dalam ranah musik. Dan dengan pikiran terkontrol, saya nyatakan bahwa pertanyaan ini biadab! Rasanya seperti seseorang yang sudah sukses memegang beberapa helai bulu kaki anda (bagi yang merasa kakinya berbulu), kemudian bertanya dengan nada menantang: “Ganjil apa genap?” Bangsat!

Jikalau harus menjawab pertanyaan ini, maka saya memilih lagu-lagu yang ada dalam album Shadows Collide With People dan Curtains adalah bagian favorit saya dari John Frusciante. Alasannya karena pesannya jelas dan dipadu pilihan nada yang ringan, itu untuk perkenalan.

Tapi kalau pertanyaannya masih sama, apa lagu favorit? Maka saya jawab: ‘God’ lagu ini terdapat dalam album The Empyrean, album yang bagi saya sangat menyenangkan untuk teman dikala sepi. Seperti salah satu judul lagu ciptaan John Frusciante yang berjudul ‘Song to Sing When I’m Lonely’. Dalam lagu ‘God’ John Frusciante menggunakan perspektif Tuhan yang penuh kasih sayang, bukan sisi lain tuhan yang kerap diidentikkan seperti sosok pemarah yang dengan murkanya menggulirkan azab.

People

You blaspheme my name

But still I love you (still I love you)

I love you just the same

I hear all your prayers because Im each one of you

Creation’s not something I did

Its something that I do

The reason for the bad is so the there be such things as good

Oh Id do anything for you

You all know I would

Lantas kalau ada yang bertanya kenapa saya sampai mengagumi seorang John Frusciante dan kemudian bertanya; “Apakah anda seorang gitaris?” haha, maaf anda salah besar! Saya bermain gitar saja pun tidak akurat, bisa hafal chord lagu-lagunya Peterpan saja sudah alhamdulillah. Tapi hal itu bukan berarti saya tidak boleh mengagumi sosok Frusciante, bukan? Bahkan saya merasa beruntung bahwa saya tidak terjebak dalam perspektif seorang gitaris yang (kemungkinan) akan sibuk mengeksplorasi sisi teknikalnya saja. Meskipun sebenarnya saya juga ingin sekali memainkan gitar sembari menginjak pedal efek untuk kemudian membendingnya ketika memasuki sesi solo religius yang berdistorsi, tapi sudahlah itu semua diluar kemampuan saya.

Mengulang pernyataan saya diatas yang menyebut John Frusciante adalah seorang nabi yang diberi wahyu berupa syariat tapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada yang lain, rupanya Truth Hurts juga mengutarakan hal yang hampir senada dengan definisi itu “You never know with John. He may put it out, he may not. His thing is, he doesn’t make music for people anymore. He doesn’t have to.”

Singkatnya saya mengagumi John Frusciante atas apa yang telah dia lakukan dan ucapkan baik dalam maupun luar kehidupan musikalnya, meskipun dia juga sosok yang tidak sempurna karena sempat terjerumus selama 5 tahun dalam fase adiksi heroin. Dimana selama itu pula ia meninggalkan rutinitias bermain gitarnya guna meluangkan waktu untuk melukis (sebagian lukisannya dijadikan artwork album pribadinya).

Tapi karena fase itulah dia saya pandang sebagai sosok rocker yang sukses melewati angka legendaris 27. Dan dia jugalah yang menguatkan iman saya untuk mengamalkan beberapa tindakan berikut ini

“I simply have to be what I am, and have to do what I must do.”

&

I find that the best way to do things is to constantly move forward and to never doubt anything and keep moving forward, if you make a mistake say you made a mistake”

Dua buah kutipan dimana John Frusciante memberikan contoh yang jelas melebihi kata-kata berharga, pesan wasiat atau apapun namanya yang hanya berupa rangkaian abjad terstruktur.

——-

Tulisan ini saya tujukan untuk penggemar John Frusciante, baik musisi maupun bukan. Khususnya kepada @pm_mulyadi, gitaris BRNDLS yang berambut kriba (kribo bah!) dimana ia pernah membalas tweet saya ketika saya pernah iseng-iseng nge-tweet mau bikin tulisan tentang John Frusciante. Maaf ya kalau tulisan ini mengecewakan anda, pak PM. Semoga main gitar anda makin kece, dan BRNDLS gak pernah bikin lagu memble 😀

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

20 Juli 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized