non dare consigli a chi non li chiede

Posted on July 24, 2012

0


 

 

Dahulu, ketika aku masih belum merasa kesepian seperti sekarang ini, kakek sering sekali mengucapkan hal itu. Hampir dimanapun! Khususnya ketika beliau usai menuturkan beberapa kata kepadaku, dimana aku baru tau sekarang, rupanya kata-kata itu adalah peribahasa.

Aku, yang tentunya sangat bingung mengenai artinya pada saat itu, langsung bertanya kepada beliau

“Apa artinya, kek?” tanyaku setengah merajuk

Sembari tersenyum ia menjawab dengan mata yang masih menatap lurus ke arah pematang sawah

“Itu bahasa Italia, artinya adalah jangan memberikan nasihat maupun garam sampai engkau diminta”

“Apa maksudnya kek? Memang nasihat itu sama dengan garam yang rasanya asin?”

“Hahaha, seiring dengan pengalaman dan kepekaan, nanti kamu akan mengerti apa yang kakek ucapkan padamu. Kamu boleh mengingatnya, mencatatnya juga boleh. Tapi ingat, jangan memberikan nasihat kepada siapapun, kecuali ketika kamu diminta. Ingat itu. Berceloteh sajalah di tempat yang sepi jika kamu rasa ada yang perlu diucapkan.”

“Kalau begitu, kenapa kakek malah menasihatiku?”

“Karena diantara semua cucu yang kakek punya, kakek sungguh sayang pada cucu kakek yang sukanya membantah ini. Sikapmu ini benar-benar mirip dengan kakek. Ketika kakek masih memiliki banyak teman dan senang melakukan penjelajahan” ucap hangat seraya mendekapku erat.

“Memangnya kemana teman-teman kakek sekarang?” tanyaku penasaran

“Mereka pindah, dan ada pula yang beranjak menuju suatu tempat yang sudah tidak mungkin lagi kita menemuinya. Kecuali dengan satu syarat.”

“Apa itu kek?”

“Mati” jawab kakek singkat, khidmat

*****

Seperti hari-hari biasanya, aku dan kakek sering habiskan waktu bersama. Bahkan melebihi waktuku bersama orangtuaku sendiri. Bersama-sama kami menamatkan matahari tergelincir di pematang sawah, dan bersama-sama pula kami berlomba untuk mencapai kubangan dengan berloncatan. Meskipun semakin hari, kakek semakin tertinggal jauh dibelakangku. Tapi aku sempat berpikir; “Jangan-jangan kakek sengaja mengalah karena ingin mengamati tingkat kegesitan cucunya yang paling rajin membantah ini?” Ah, entahlah. Pokoknya aku menang melawan kakek!.

Kakek banyak sekali ceritanya, terutama cerita-cerita saat masa ia muda. Ia bercerita tentang bagaimana pengembaraannya ke kalimantan untuk menemui saudaranya yang memiliki julukan Lesser Rock. Karena menurut kakek, dia memiliki cara unik untuk mengucapkan salam dan berkomunikasi, Lesser Rock berkomunikasi dengan melambaikan tangan dan beradu jari kaki layaknya melakukan “tos”.

Kakek juga bercerita tentang kerabatnya, Barbourula Kalimantanensis, yang juga berasal Kalimantan. Kerabat kakek ini memiliki keunikan tersendiri. Ia tidak memiliki paru-paru, ia bernafas dengan kulit! Selain itu masih ada Limnonectes Blythi yang berasal dari Sumatera, ia merupakan katak terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia (dengan ukuran 30 centimeter) masih ada si merah Leptophryne Cruentata yang berdomisili di Gunung Gede-Pangrango dan dua lagi  adalah termasuk yang terkecil di dunia. Katanya, mereka semua adalah teman-teman kakek menamatkan petualangannya.

Menurut kakek, di daerah Sumateralah yang jumlah suku kataknya terbanyak, yaitu 100 lebih. Jumlah tersebut dua kali lipat lebih besar dibandingkan suku katak di Eropa. Yang menurut pengamatan kakek, sewaktu ia menghabiskan waktu untuk bertualang kesana, kakek hanya bertemu dengan 50 suku.

Aku sering bergumam: “Betapa kayanya daerah kita ini!” dan seperti biasa, kakek cuma tersenyum mendengarnya.

Tapi ketika kakek bercerita bahwa suku Kodok Merah (Leptophryne Cruentata), Kodok Pohon Ungaran (Philautus Jacobsoni), Kongkang Jeram (Hula Masoni), Kodok Pohon Mutiara (Nyctixalus Margaritifer), Kodok Pohon Kaki Putik (Philautus Pallidipes), dan Kodok Pohon Jawa (Rhacophorus Javanus) tinggal berjumlah sedikit aku langsung bertanya dengan lagak yang sinis.

“Kenapa bisa tinggal sedikit? Bukannya kita sudah hidup di daerah yang benar? Tropis dan lembab, bukankah itu yang dibutuhkan oleh suku kita, kek?”

“Ya, tempat tinggal kita ini memang yang terbaik, tapi kita disini bukan hidup sendirian cucuku. Selain banyak hewan lain yang berada dalam kasta di atas kita. Para manusia itu juga telah semakin aneh!”

“Aneh?”

“Ya, aneh! Dulu, sewaktu jaman kakek masih suka berpetualang dengan menumpang kapal-kapal tentara maupun pengangkut dagangan. Paling-paling suku kita mati terinjak si kerbau, dimakan ular, bangau, ataupun dibuat swike oleh orang yang tidak mampu makan ayam.”

“Tapi sekarang ini, benar-benar sudah semakin aneh. Kau bisa lihat sendiri, cucuku. Entah hewan apa itu namanya, posturnya lebih besar ketimbang si Kumbang, raja hutan dari Sumatera yang hampir membuat Lesser mati ketika kami berpetualang ke Riau. Hewan besar itu punya 4 kaki, bahkan ada yang lebih, namun jalannya seperti ular. Belum lagi bunyinya seperti rombongan babi hutan yang sedang kasmaran. Mengerikan!”

*****

Belakangan ini, aku memang semakin sering melihat makhluk tersebut. Dan tak jarang pula banyak diantara kami yang mati digilasnya. Begitupula dengan kakek. Kakekku yang semasa mudanya sering terhindar bahkan mengindari ancaman dari berbagai daerah bahkan benua, akhirnya mati tragis tergilas makhluk mengerikan itu.

Tak usah kuceritakan wujud kakekku waktu itu. Jika banyak manusia desa yang mengeluh kenapa gunung berapi dan bencana alam lainnya memorak-porandakan desa mereka, karena menurut mereka manusia-manusia kotalah yang pantas mendapatkan azab ini. Perasaanku jauh lebih masygul ketimbang manusia-manusia desa itu.

Aku tau ini takdir, kakek sering bicara tentang ini. Kakek sering mengingatkanku bahwa takdir itu bukan bentuk kekalahan kita akan sebuah nasib, melainkan kepasrahan kita akan kehendak sang pencipta. Dan yang dimaksud kakek dengan sang pencipta itu siapa? Atau bahkan apa? Sampai sekarang, akupun masih tidak mengetahuinya. Karena kakek terlebih dahulu mati sebelum memberi tahu sang pencipta. Apa mungkin sekarang kakek bersama sang pencipta itu? Tak mengerti aku.

Tapi yang masih menjadi pertanyaan bagiku untuk sang pencipta adalah; “Kenapa harus mereka? Kenapa harus tiga manusia itu yang menjadi medium takdir kakek?”

Tiga manusia itulah yang sempat aku lihat lebih dari dua bulan yang lalu, gusar berlalu lalang. Mereka sibuk mengatur manusia-manusia lain untuk bergerak mencurigakan pada malam hari di lokasi pasar tradisional. Akupun juga curiga, sebab aku pernah dengar cerita dari katak-katak yang hidup lama berdampingan dengan pasar, bahwa jika para pedagang di pasar menolak dipindah, tidak lama pasti pasar itu terbakar. Dan benar rupanya, 3 orang itulah yang menjadi koordinator aksi pembakaran pasar di malam hari.

Nyatanya? Keesokan hari pasar itu rata dengan sawah tempat kami bermukim. Dan hebatnya lagi, sebulan kemudian, mulai banyak makhluk mengerikan yang diceritakan kakek. Ukurannyapun beragam, begitupula dengan jumlahnya yang semakin bertambah! Dan biadabnya, kakek benar-benar mati digilas makhluk yang dinaiki oleh ketiga orang itu.

Sejenak, aku merenungi untuk membenarkan apa yang dibilang kakek beberapa saat sebelum beliau mati tergilas.

“Suku katak itu memiliki peran penting sebagai indikator pencemaran lingkungan. Latar belakang penggunaan katak sebagai indikator lingkungan adalah karena kita merupakan salah satu mahluk purba yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Jadi katak tetap eksis dengan perubahan iklim bumi.Selain penyakit, hanya pengaruh manusialah yang menyebabkan terancamnya populasi suku katak. Salah satunya adalah pembuangan limbah oleh manusia ke tempat alami katak, seperti hutan-hutan, sungai dan rawa-rawa. Sehingga kita kehilangan tempat tinggal”

*****

Setelah kepergian kakek, aku masih kerap melihat aktivitas rekan dan keluargaku. Bahkan manusiapun aku amati, makin bertambah jumlah mereka disekitarku. Hamparan sawah ini menjadi tinggal setengah dari ukuran asalnya, dan lokasi bekas pasar itu menjadi bangunan yang lebih megah lagi. Dimana banyak manusia berpakaian lebih aneh ketimbang pakaian yang dikenakan waktu tempat itu masih menjadi pasar tradisional.

Dan aku, yang bersuku Fejervarya cancrivora, dimana sesekali terlihat di sawah karena lebih sering menghindari medium takdir yang mencoba meraup untung lebih dengan cara menjadikan kami swike. Akan tetap mengenang wasiat kakek untuk berceloteh di tempat yang sepi jika ada yang merasa perlu diucapkan. Dimana yang sering aku ucapkan itu merupakan catatan peribahasa-peribahasa yang dahulu kakek ceritakan padaku, ketika aku masih belum kesepian seperti saat ini.

Peribahasa dari pelbagai penjuru daerah, yang aku sendiri belum tau seperti apa kontur tanah tempat itu. Apakah daerah itu lembab seperti disini? Juga ramai manusia berpakaian aneh yang berlalu lalang di bangunan mewah itu? Dan bisa merasakan terik dan beku dalam sebuah hari yang sama? Itu benar-benar hanya kakek dan kerabatnya yang tahu.

Aku hanya benar-benar ingin mengulang beragam peribahasa yang pernah diucapkan kakek dan kini ada dalam catatanku, agar aku bisa merasakan sejenak kehadiran kakek. Aku melafalkannya pada sebuah waktu yang aku rasa paling kelam dan mencekam, menjelang fajar.

Dan sampai saat inipun, aku masih mencari tahu makna dari sebagian peribahasa yang setiap saat aku lafalkan.

*****

  • “A close friend can become a close enemy” ~Ethiopian proverbs .. Teman dekat bisa menjadi musuh yang dekat
  • “A little too late, is much too late” ~German proverbs .. Terlambat sedikit, sama dengan sangat terlambat
  • “A man should live if only to satisfy his curiousity” ~Yiddish proverbs .. Seseorang harus hidup untuk memenuhi rasa ingin tahunya
  • “A society grows great when old men plant trees,whose shade they know they shall never sit in” ~Greek proverbs .. Masyarakat akan tumbuh hebat ketika para orang tua menanam pohon, meskipun mereka tau kalau mereka tidak pernah berteduh dibawah bayangannya
  • “A throne is only a bench covered with velvet” ~France proverbs .. Sebuah tahta hanyalah sebuah bangku yang dilapisi beludru
  • “An angry man is not fit to pray” ~Yiddish proverbs .. Seorang yang sedang marah, tidak cocok berdoa
  • “An enemy will agree,but a friend will argue” ~Russian proverbs .. Seorang musuh akan setuju, tapi seorang teman akan mendebat
  • “As we live,so we learn” ~Yiddish proverbs .. Kita hidup, maka kita belajar
  • “Better to light a candle than to curse the darkness” ~Chinese proverbs .. Lebih baik menyalakan lilin dapiada mengutuk kegelapan
  • “Do not blame god for having created the tiger,but thank him for not having given it wings” ~Indian proverbs .. Jangan salahkan tuhan karena menciptakan harimau, tapi berterimakasihlah kepada tuhan karena tidak menciptakan sayap untuk harimau
  • “Do not look where you fell, but where you slipped” ~African proverbs .. Jangan melihat dimana kamu jatuh, tapi dimana kamu terpeleset
  • “Friends are like fiddle strings, they must not to be screwed too tight” ~English proverbs .. Teman itu seperti dawai biola, jangan mengekakangnya terlalu ketat
  • “Give a man fish,and he’ll eat for a day. Teach him how to fish and he’ll eat forever” ~Chinese proverbs .. Berikan seseorang satu ekor ikan, dan dia akan makan untuk sehari. Ajari ia memancing, dan ia akan makan selamanya
  • “If you are planning for a year, sow rice. If you are planning for decade, plant trees. If you are planning for a lifetime, educate people” ~Chinese proverbs .. Jika kamu berencana untuk satu tahun, tanamlah padi. Jika kamu berencana untuk satu dekade, tanamlah pohon. Jika kamu berencana untuk seumur hidup, didiklah orang-orang
  • “Never love with all your heart, it only ends in breaking” ~English proverbs .. Jangan pernah mencintai dengan seluruh hatimu, hatimu akan patah pada akhirnya
  • “Patience is poultice for all wounds” ~Irish proverbs .. Kesabaran itu obat untuk semua luka
  • “Politic is a rotten egg,if broken it stinks” ~Russian proverbs .. Politik adalah telur busuk, jika pecah akan berbau
  • “Procastination is the thief of time” ~Unknown .. Penundaan adalah pencuri waktu
  • “Public before private, and country before family” ~Chinese proverbs .. Kepentingan umum sebelum pribadi, dan negara sebelum keluarga
  • “Rain beats a leopard’s skin, but it does not wash off the spot” ~Ashanti proverbs .. Hujan dapat membasahi kulit macan tutul, tapi tidak bisa menghapus tutulnya
  • “Seek counsel of him who makes you weep, and not of him who makes you laugh” ~Arabic proverbs .. Carilah nasihat dari orang yang membuatmu menangis, bukan dari orang yang membuatmu tertawa
  • “Silence was never written down” ~Italian proverbs .. Keheningan tidak pernah dituliskan
  • “Tell the truth and shame the devil” ~Unknown .. Katakan kebenaran, dan permalukanlah setan
  • “Since we cannot what we like,let us like what we get” ~Spanish proverbs .. Jika tidak mendapatkan apa yang kita suka, sukailah apa yang kita dapatkan
  • “The darkest hour is that before the dawn” ~English proverbs .. Saat tergelap adalah saat sebelum fajar
  • “The gem cannot be polished without friction,nor the man perfected without trials” ~Chinese proverbs .. Permata tidak akan bisa dibentuk bagus tanpa adanya gesekan, begitupula dengan manusia yang tidak akan sempurna tanpa adanya cobaan
  • “There is no luck except where there is dicipline” ~Irish proverbs .. Tidak ada keberuntungan tanpa kedisiplinan
  • “To whom you tell your secrets, to him you resign your liberty” ~Spanish proverbs .. Kepada siapa kamu menceritakan rahasiamu, kepadanya kamu kehilangan kebebasanmu
  • “Walk straight, my son -as the old crab said to the young crab” ~Irish proverbs .. Berjalanlah lurus anakku. – kata kepiting tua kepada kepiting muda
  • “What you cannot avoid,welcome” ~Chinese proverbs .. Sambutlah sesuatu yang tidak dapat kamu hindari
  • “When you live next to the cemetery,you cannot weep for everyone” ~Russian proverbs .. Ketika kamu tingal disamping pemakaman, kamu tidak bisa menangisi semua orang
  • “Where there is a love,there is a pain” ~Spanish proverbs .. Dimana ada cinta, akan ada luka
  • “Zeal without knowledge is the sisters of folly” ~English proverbs .. Semangat tanpa pengetahuan adalah saudara dari ketololan

——-

Kalau boleh bercerita sedikit dengan metode Hamsad Rangkuti yang dipaparkan dalam antologi cerpen “Bibir Dalam Pispot”, dimana metode tersebut hampir serupa dengan metode yang dipaparkan Seno Gumira Ajidarma dalam buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” ketika menjelaskan kumpulan cerpen “Penembak Misterius” dan roman metropolitan “Jazz, Parfum dan Insiden”. Maka kronologis cerpen saya kali ini adalah: saya membaca buku tentang peribahasa pada hari keempat di bulan puasa, kemudian terlintas dikepala tentang katak, akhirnya jadilah cerpen ini beberapa jam kemudian.Hanya itu saja sebenarnya.

Soal katak (atau kodok) sebenarnya terinspirasi dari ucapan salah seorang teman ketika di Jakarta. Ia berkata kurang lebih seperti ini: “Gua sekarang udah gak percaya sama orang lagi, percaya sama kodok aja dah!” Bercanda memang, tapi ini benar-benar menggugah pikiran saya tentang binatang tersebut. Darisana saya coba googling tentang katak, dan rupanya katak benar-benar tersebar di penjuru dunia, kecuali antartika dan sebagian afrika.

Dan pikiran saya adalah, katak-katak yang tiap malam berisik itu sebenarnya sedang berkata sesuatu. Tentunya dengan bahasa yang tidak akan pernah kita mengerti. Jadi saya imajinasikan kalau mereka sedang melafalkan peribahasa dari beragam negara.

Semoga bisa menikmati, dan maaf kalau banyak kekurangan. Silahkan dikomentari jika berkenan

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

24 Juli 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized