Mereka memilih dan loyal

Posted on July 26, 2012

4


Image

 

Java Rockin’ Land 2011, hari kedua. Yang saya sendiri lupa tanggalnya, namun harinya pasti sabtu. Tapi satu hal yang tidak akan saya lupa, karena menurut saya line up pada hari itu adalah line up terbaik dari rangkaian upacara rock bersponsor tahunan yang dihelat di pantai karnaval, Jakarta.

Bayangkan saja, beberapa nama besar di jalur peta musik rock Indonesia dikumpulkan pada hari itu. Sore hari menjelang matahari terbenam, ada Power Slaves di panggung terbesar kedua. Dan mautnya sang vokalis, Heidy, benar-benar tidak mencerminkan perawakan rockstar pada era iPAd. Dengan badan yang sudah melar, Ia tampil hanya mengenakan celana jeans, tanpa alas kaki A.K.A nyeker dan T-shirt berwarna hitam. T-shirt yang menurut saya paling brengsek selama acara ini berlangsung, karena dalam T-shirt tersebut bertuliskan:

“Nyanyi Kok Dieja?”

Hahaha, sungguh brengsek rocker tua yang satu ini! Saya rasa, saya tahu sasaranmu siapa. Pastilah sebuah lagu yang mengeja C.I.N.T.A, dimana ejaan itu teramat sering berakhir menjadi T.I.N.J.A oleh saya dan kawan-kawan, yang pastinya teramat kurang kerjaan untuk menyenandungkan lagu itu sehingga kami memutuskan untuk menggubah lirikanya karena muak. Dan ekspresi kemuakan itu saya asumsikan ditangkap oleh Heidy dan dituangkan dalan T-Shirt, salut!

Setelah puas menyaksikan penampilan Power Slaves, God Bless langsung menyambut di panggung utama dan hanya terjeda oleh adzan magrib. Ini gila! Hari ini sungguh gila, rupanya pada malam hari juga ada Power Metal yang jadwalnya mainnya bertabrakan dengan Burgerkill. Hari itu, saya sungguh gugup dalam gempita. Gugup karena tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik! Dan gempita karena ini semacam nostalgia dalam pengalaman empiris seorang insan musik rock.

Tapi sebenarnya bukan alasan itu saja yang membuat saya gugup gempita, melainkan beberapa saat setelah saya usai mewawancara God Bless untuk keperluan pekerjaan dan melanjutkan perbincangan dengan pembetot bass Donny Fatah untuk kepuasan personal. Kala itu obrolan kami sedang berada pada poin managerial band, ketika itu pula lewat Pay Burman, Bongky Marcel dan Indra Q. Saya masih ingat betul urutan itu, pbi dari bip.

Ya, kali ini saya akan coba menyinggung sekilas tentang bip dalam persepsi saya.

 

Tiga punggawa gang potlot

Terserah mau ditafsirkannya sebagai  ‘genk’ atau ‘gang’, namun kata potlot (yang jelas identik dengan kosa kata non kebarat-baratan) disini jelas lebih beradab ketimbang kata ‘nero’, jika kata ‘gang’ dianalogikan sebagai ‘genk’. Dan ibarat institusi pendidikan, potlot adalah sebuah institusi yang menjamin peserta didiknya akan langsung mendapat “pekerjaan” setelah tamat. Tapi sayangnya, potlot bukan institusi pendidikan dan beruntungnya lagi potlot buka LP3I yang iklannya seperti knalpot bajaj. Dimana suara melesat lebih dahulu, namun wujud entah dimana.

Coba sebut siapa saja alumni potlot? Kaka, Bim-bim, Abdee? Eits, eits, stop! Itu maskot, bung! Dan nasib maskot itu harus bersedia dibawa kemana-kemana, baiknya dilewatkan saja. Kita mulai dari (alm.) Imanez, Didit Saad, Ipang Lazuardi, Aray Daulay, Njet Barmasyah, (alm.) Chiling, Boris Simanjuntak, Oppie Andaresta. Mungkin ada yang saya lewatkan? Silahkan urutkan sendiri, saya sendiripun tidak hafal. Oh maaf, ada satu nama yang terlewatkan! Anang Hermansyah. Ya, juri Indonesia Idol ini juga merupakan jebolan potlot. Ada kemungkinan kalau disini pula ia mendapatkan cerita sisi gadis seorang Krisdayanti.

Saya tidak akan membahas mengenai siapa sajakah nama-nama yang saya sebutkan barusan, sejarah kelam dan redup atau bagaimana nasib mereka sekarang. Yang pasti, sosok-sosok itu adalah sosok yang berkarakter dalam dunia musik modern Indonesia. Saya hanya ingin menuliskan sedikit soal Bongky, Indra & Pay dan bandnya yang sudah berusia 12 tahun dan menghasilkan 4 buah album dengan pergantian vokalis dialbum ketiga.

Ya, ini yang bagi saya cukup menarik! Disamping karya dan personelnya, yang akan saya coba tulis selanjutnya. Vokalis dalam sebuah band itu mungkin seperti sebuah aksesoris bagi para pecinta fashion, sepertinya sepele namun vital. Jangan bicarakan soal grup tarik suara atau mungkin kita lebih kenal dengan kata boyband & girlband.

Bicara soal girlband, saya jadi ingat perbincangan dengan Marcell (waktu itu sedang memposisikan diri sebagai drummer konspirasi, bukan penyanyi solo pria). Kurang lebih ia berkomentar begini: “Kalau mempermasalahkan kualitas nyanyi boyband atau girlband yang memilih korean pop, buang-buang tenaga! Emang yang dijual bukan kualitasnya, tapi penampilannya, koreografinya. Coba sekarang bayangin, kalau lo lagi nonton girlband korea terus tiba-tiba SELANGIT, kan gak asik. Mereka itu perawatannya pasti gila, karena emang itu yang mau mereka tunjukkan, bukan suaranya.” (Red: SELANGIT= SELANGkangan hITam) hahaha, drummer ngehe!

Sekarang pertanyaannya; Sudah berapa band yang berganti vokalis? Banyak! Yang sukses? Entah! Mari kita ambil contoh; Dewa 19, dari Ari Lasso ke Once. Sukses? Iya! Ada Band, dari Baim ke Donny. Sukses? Ya, lumayanlah. Kangen band, Andhika ke …..? (Ada yang tega berpendapat? Saya mah tidak tega!)

Kembali ke bip, band ini adalah band yang terbilang sukses meskipun berganti vokalis. Sangat sukses malah! Mungkin jika ada diantara anda yang mengikuti band ini dari album pertama, pasti akan setuju kalau saya bilang bahwa suara Irfan Fahri Lazuardi (Ipang) lebih seksi ketimbang Irang Perdana Arkad (Irang)? Ya, sayapun demikian! Bagi yang belum akrab dengan bip, janganlah kuatir akan bentuk suara Ipang itu? Tenang, suara pria berambut gimbal ini bisa kita jumpai hampir dalam beberapa film ternama Indonesia, sebut saja; Laskar Pelangi dan pastinya Realita Cinta dan Rock n’ Roll. Bahkan di iklan coca-cola pun ada, nyanyi rame-rame bersama Ello dan 2 penyanyi lainnya.

Rupanya bukan Ipang saja yang sibuk, pendirinya pun tidak mau kalah. Seperti yang tertera dalam fan pagenya di facebook, dan akan saya kutip mentah-mentah disini dengan memberi karakter bold pada 6 kata terakhir:

Seperti diketahui, masing2 personal Bip merupakan nama2 yang familiar dan memiliki reputasi dalam industri musik dinegri ini. Ada Pay yang dikenal sebagai produser yang produktif dalam mencipta lagu dan melahirkan talent2 baru. Bongky juga sama, malah dia mulai tampil sebagai artis melalui Group Warteg Boys. Ada Indra Q sang sound enginer laris untuk banyak album rekaman. Juga Ipang dengan project solo, soundtrack film dan featuring2nya. Dan memang kesibukan mereka yang telah memberi konsekwensi pada aktivitas Bip sebagai group band. Dampaknya, kegiatan manggung sering gagal karena susah menentukan dan men sinkronkan jadwal masing2, termasuk kegiatan produksi album rekaman Bip yang jadi terbengkalai. Padahal mereka sempat merekam 7 lagu, dalam kurun 7 tahun.

Praktis sejak merilis album Udara Segar diakhir tahun 2003, Bip tidak juga merilis album lagi. Akhirnya secara perlahan Bip jadi jarang tampil dalam berbagai event maupun sorotan media. Walau secara personal, masing2 wara-wiri dimana-mana. Dan rese’nya, mereka masih tetap bertemu dan berhubungan, masih bikin lagu bareng, tapi bukan buat Bip, paling sesekali kalo pengen. Ya kalo gitu kenapa Bip-nya gak dibubarin aja kalo gitu. Ternyata itu juga nggak bisa, karena terlalu sibuk, ngebubarin band aja mereka nggak sempet.

Mungkin 6 kata tersebut terdengar agak berlebihan ya? Bisa jadi. Tapi bagi saya keputusan mereka untuk mengeluarkan album ‘Berangkat’ di tahun 2010 merupakan hal yang menguatkan, menguatkan kalau band ini gak bubar bahkan semakin ngehe. Coba simak lagu yang judulnya ‘Mane-Mane Boleh’ yang konon, lagu ini diciptakan Bongky atas dasar celoteh anaknya. Anaknya selalu menjawab seperti judul lagu tersebut, ketika ditanya oleh ayahnya “Mau kemana?” Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, hahaha.

Tapi tenang, saya tidak akan membahas keseluruhan lagu mereka. Saya cuma mau sedikit berbagi memori ketika saya berumur 17 tahun, dan berada dalam situasi prom nite. Waktu itu, band saya yang beranggotakan 4 orang akhirnya didaulat sebagai salah satu band pengisi acara tersebut setelah melewati fase audisi. Tapi dengan syarat, lagu ‘That Thing You Do’ dari The Wonders harus dibawakan ketika prom nite. Ini request dari panitia cewek, dimana mereka mendadak masuk ke dalam studio ketika kami membawakan lagu ini untuk audisi. Bah!

Baiklah, setelah berkompromi dengan ego akhirnya saya patuh dengan ketiga orang personel lainnya dan salah seorang additional pada keyboard. Akhirnya bingunglah kami pada waktu itu, karena tinggal tersisa 1 buah lagu yang bisa dibawakan pada hari H. Berundinglah kami! Saya ngotot ingin membawakan ‘Stay Together’ dari Mr.Big karena menurut saya itu lagu perpisahan yang tidak cengeng, vokalis saya ngotot ingin membawakan lagu apa, begitu juga dengan gitaris dan drummer.

Akhirnya kami semua sepakat untuk mencari lagu yang bertema perpisahan, yang tidak cengeng! Singkat cerita, akhirnya saya mengajukan 1 lagu dari Goo Goo Dols ‘Here Is Gone’ dan bip ‘Ternyata Harus Memilih’, dan semua setuju. Sip, berangkat! (Akhirnya lagu ‘That Thing You Do’ tidak kami bawakan. Masalah request panitia? Masa bodoh! Toh ini penampilan terakhir kami, mau di banned juga persetan! Hahaha)

Tidak ada yang perlu saya ceritakan bagaimana suasana prom nite, karena jelas tidak menarik bagi anda, saya sendiripun lupa. Tapi yang saya tidak lupa adalah saat beberapa tahun setelah prom nite, dimana waktu itu saya masih berstatus mahasiswa dan sedang berkumpul bersama teman-teman SMA sambil bermain gitar. Tiba-tiba ada salah seorang teman saya berkata seperti ini:

“Gung, mainin lagu yang band lo bawain pas prom dong!”

“Lagunya siapa ndut? Yang mana?” saya pun bertanya kepada teman saya yang biasa dipanggil ndut (meskipun sekarang dadanya sudah bidang)

“bip!” sahutnya tangkas

Kalau boleh jujur, saya terkejut ketika teman saya meminta lagu itu dimainkan. Lagu dari bip yang masih dinyanyikan oleh Irang. Mungkin waktu itu dia hanya asal cuap atau mungkin memiliki hal yang sama dengan saya tiap kali mendengar lagu ini?

Dengan sejujur-jujurnya, lagu ini cukup ampuh membuat dada saya terasa sesak. Karena bagi saya lagu ini lebih dari sekadar lagu kenangan, lagu ini adalah representasi bahwa perpisahan itu pasti akan kita hadapi, entah karena faktor apa. Dan bip disini menggambarkan bahwa perpisahan itu timbul karena pilihan. Melalui lagu inilah saya seperti merasa diajarkan untuk bersikap yang sepantasnya diterapkan pada saat perpisahan. Bagi saya, sikap itu sangat terwakili oleh solo gitar yang diciptakan Pay dalam lagu ini, boleh sedih tapi jangan cengeng!

Sebelum saya mengakhiri tulisan yang mungkin menjerumus curhat ini, dan berbagi sedikit hal tentang lagu ini, saya hanya ini menggelontorkan kekaguman saya kepada tiga punggawa gang potlot yang juga merupakan pelopor lahirnya slank di era 1980’an. Bagi saya bip itu ibarat slank sampai tahun 1996, rajin membuat lagu slenge’an yang memperhatikan segi musikalitasnya. Namun sekalinya membuat lagu yang bertema cukup serius, benar-benar menakjubkan! Ya, saya selalu salut pada ketiga orang itu; Bongky, Indra, Pay. Melebihi slank saat ini, selera memang! Tapi inilah sikap saya.

 

Ternyata harus memilih

Di hari ini semua berakhir sudah

Kita berpisah baik-baik saja

Jangan ingat hal yang membuatmu marah

Apalagi membuatmu kecewa

 

Kenang yang indah

Kenang yang memiliki kesan di hati

Hanya yang baik

 

Hanya yang membuatmu tersenyum

Di saat kita mengingatnya

 

Ternyata kita sampai

Pada jalan yang berlainan arah

Ternyata kita harus memilih

Mana jalan yang terbaik ‘tuk semua

 

Cukup banyak waktu yang kita habiskan

Semua tidak pernah terbuang percuma

Lambaikan tangan biar pergi lebih mudah

Sungguh senang ku bisa kenal kamu

 

Kenang yang indah

Kenang yang memiliki kesan di hati

Hanya yang baik

 

Hanya yang membuat tersipu

Saat kita mengingatnya

 

Ternyata kita sampai

Pada jalan yang berlainan arah

Ternyata kita harus memilih

Mana jalan yang terbaik ‘tuk semua

 

Tak ada kata tebetulan

Semua pasti ada artinya

 

 

——-

Saya cuma mau mengulang kembali, hormat saya untuk  bip (bongky, indra, pay) + irang (eks-vocalist) + ipang (vokalist) + jaka (eks drummer) + dede (drummer). Dan andaikan banyak band di kancah musik mainstream Indonesia yang berani berulah seperti bip dalam menyikapi sisi kreatifitasnya, pasti kondisi musik jauh akan lebih plural dan dinamis.

Mungkin banyak yang menyayangkan perihal kepergian trio ini dari slank. Apapun alasannya, dan beragam argumen berdar (terlepas pro atau kontra), saya tetap mendukung pilihan bongky, indra & pay. Mereka memilih dan loyal terhadap pilihannya, itulah poin pentingnya.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

26 Juli 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized