(puisi) Teruntuk Kawan dan Lawan,Yang Berpapasan Dengan Senja

Posted on July 28, 2012

0


 

1)

Bukankah selagi senja masih terlihat, itu tandanya bahwa masih ada hari esok?

Kilau senja yang memantul di air itu selalu terlihat indah, tak peduli di mata atau hasil foto.

 

Apakah masih begitu?

 

2)

Berceloteh bersama kawan sambil  menghabiskan bercangkir-cangkir kopi atau hanya sekadar menghisap ganja di loteng sesak dengan pemandangan padat rumah susun, adalah kenikmatan yang dihadiahkan senja.

Bahkan berhubungan sekspun terasa lebih syahdu ketimbang invasi malam atau gerilya pagi.

 

3)

Melepas seragam dan kemudian memasang jubah kebebasan dari serat katun adalah momen yang paling dinanti setiap anak ditiap senja.

Tiap bocah siap berkelana menuju angannya yang berada dipenghujung senja! Meski raga hanya berjarak 200 meter dari pagar besi atau bambu, dan para pengasuh yang terlihat awas dibelakang.

 

4)

Ah, tapi senja toh sama saja. Ia datang dengan rupa yang sama seperti hari kemarin maupun hari esok yang ditandakannya itu!

Senja selalu sama setiap waktu.

Berwarna jingga dengan tingkat kontras dan saturasi yang tinggi namun tetap presisi.

 

Apanya yang istimewa?

 

5)

Senja jelas bukan sakramen ataupun sebuah varian pemujaan sakral yang dibuat tuhan untuk disembah.

Bukan pula sepetak waktu yang menyempil diantara ganasnya siang dan mencekamnya malam, baik itu di Qamun ataupun Karakorum.

 

Senja adalah pembuktian dimana matahari pun tergelincir, terjerembab bahkan terperosok diwaktu yang telah ditetapkan.

Sebuah momen dimana sang sutradara alam sedang berbicara kepada makhluknya yang berakal dan bernafsu, bahwa beragam konsepsi tentang matahari yang menjelma sebagai Ra di Mesir, Helios di Yunani, Amaterasu di Jepang ataupun dalam beragam wujud lain di berbagai mitologi di belahan bumi juga pasti akan lenyap!

 

6) *

Memang ada ide yang selalu bersesuaian dengan setiap konsepsi umum yang kita miliki, seperti cinta, keadilan, dan keindahan. Akan tetapi yang paling tinggi diantara semua bentuk adalah ide tentang kebaikan.

Dan setidaknya ide itu dapat ditemukan dalam 3 tuntunan

 

Dalam Yesaya 1: 15-17

Bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh

dengan darah.

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku.

Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik

 

Aroth de Rabba Nathan, 6

Ketika rabi Yohannan ben Zakkei tiba dari Yerusalem, Rabi Yoshua mendatanginya dan diceritakan bahwa kuil telah dihancurkan.

“Celakalah kita!” seru Rabi Yoshua, “tempat penebusan dosa-dosa orang Israel telah dirobiohkan!”

“Anakku,” jawab Rabi Yohannan, “janganlah berduka. Kita memiliki tepat penebusan lain yang sama ampuhnya. Apakah itu? Itulah perbuatan baik, karena telah dikatakan: “Yang Aku kehendaki adalah kasih sayang, bukan pengurbanan.””

 

Maupun dalam Az-Zumar: 10

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu. “ Orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

 

7) *

“Apa yang tidak bisa diucapkan dalam kata-kata, tetapi sesuatu yang dengannya kata-kata diucapkan…  apa yang tak bisa dipikirkan oleh akal, tetapi sesuatu yang dengannya akal berpikir”

Ia adalah realitas yang bisa dicerna dalam puncak perasaan orisinal yang melampaui kesadaran diri: TUHAN.

 

8)

Aku tidak memiliki motivasi untuk mengajak kalian untuk menjadi ber-Tuhan ataupun merasa memiliki sebuah zat maha kuasa yang entah apa namanya.

Sebab tuhan tidak datang kepada manusia dengan penuh paksaan, tetapi selaras dengan kekuatan pemahaman manusia terhadapnya.*

 

——-

*         Dikutip dari buku “SEJARAH TUHAN: KISAH PENCARIAN TUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ORANG-ORANG YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM SELAMA 4.000 TAHUN” diterjemahkan dari “A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam” Karya Karen Armstrong

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

28 Juli 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized