Disini kita bicara dengan hati telanjang

Posted on July 29, 2012

1


Image

“Kalau buat saya, kantata takwa itu bukan sebuah bentuk kesenian untuk sekedar bermusik atau hiburan. Itu (Kantata) adalah bagian dari pengabdian seniman.”

~Jockie Surjoprajogo

 

Jujur saja, sebenarnya saya masih ragu untuk memulai ini. Bingung memilih kata yang sekiranya bisa memulai hal ini dengan cukup baik, atau setidaknya tidak meleset. Dan tanpa meminta izin seperti biasanya, saya akan mengutarakan rasa takut saya terlebih dahulu dalam paragraf ini. Saya takut untuk menulis penafsiran saya tentang grup musik ini, sebuah grup musik yang menempati posisi pertama dalam kategori ‘yang paling disegani dalam berkarya’, tentunya kategori tersebut hanya ada dalam benak saya saja.

Sebenarnya kata ‘takut’ disana tidak sepenuhnya mengacu pada makna yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, takut disini berfungsi sebagai stimulus saya untuk memulai tulisan ini dengan varian data yang saya dapat. Namun jika menilik pada nama personel kantata takwa, saya akan meletakkan kata ‘hormat‘ ketimbang ‘takut’, sebab bagi saya orang yang dihormati jauh lebih disegani ketimbang orang yang ditakuti.

Merujuk pada tulisan Soleh Solihun (mantan reporter Rolling Stone, yang sekarang sebagai pelawak berdiri) yang tertera dalam blognya, dimana saya sepenuhnya setuju tanpa adanya bantahan maupun sanggahan: “Kantata adalah kombinasi yang pas; Musisi paling digilai di Indonesia, bertemu sastrawan kelas atas, musisi/komposer handal, musisi/seniman gila, dan musisi/penyokong dengan kondisi finansial yang super berlebih”

Biar saya coba perjelas disini, tentang siapa sajakah yang dimaksud oleh Soleh disana. Musisi paling digilai di Indonesia adalah Iwan Fals. Siapa yang bisa membantah? Terlepas dari citra Iwan Fals yang sedang dipertanyakan oleh para penggemarnya maupun masyarakat luas karena keterlibatannya dalam sebuah iklan Kopi, Iwan Fals adalah sosok pahlawan bagi mayoritas penduduk Indonesia. Kalau ada diantara kalian ada yang merasa keberatan karena Iwan Fals disebut pahlawan, fakta masih bersedia membuktikan ke hadapan kalian bahwa lagu-lagu ciptaan Iwan Fals selalu bisa mewakili kegeraman rakyat hingga detik ini.

Sastrawan kelas atas? Ini jelas sekali (Alm) W.S Rendra. Sampai disini masih ada yang menyangsikan sepak terjang si pendiri Bengkel Teater Rendra dalam dunia sastra dan seni pertunjukan di Indonesia? Kalau begitu izinkan sedikit saya menyatakan perasaan saya terhadap salah satu naskahnya yang berjudul ‘Mastodon dan Burung Kondor’ (dimana menurut kabar yang beredar dikalangan bawah tanah, naskah itulah yang menyebabkan pecahnya peristiwa MALARI 1974), dimana saya sendiri masih sangat bisa merasakan bagaimana gejolak emosional dalam hati ketika menyaksikan naskah ini dipentaskan 38 tahun kemudian.

Musisi/ komposer handal? Sampai disini, ada yang belum pernah mendengar nama Jockie Suryoprayogo? Bagi para penggemar (Alm) Chrisye, nama ini pasti sudah lekat dalam benak anda, dimana trio Erros-Chrisye-Yockie adalah tonggak penting sebelum Chrisye melenggang sebagai penyanyi solo pria. Belum lagi, nama ini juga yang memberikan sumbangsih terhadap musik rock ambisius ala Godbless.

Musisi/ seniman gila? Kalau ini jelas Sawung Jabo, sebab tidak ada lagi figur lain diantara 5 personel Kantata Takwa yang sukanya menimpali pendapat penonton kemudian membalasnya dengan celoteh seenak jidatnya. Jidat yang didalamnya penuh dengan ide-ide gila, ide yang jauh lebih gila ketimbang wujudnya yang sudah tergolong gila bersama kelompok buatannya seperti Sirkus Barock, Geng Gong, Dalbo dan pastinya sebuah grup yang menjadi rahim lagu ‘Bento’ dan ‘Bongkar’… Swami.

Musisi/penyokong dengan kondisi finansial yang super berlebih? Tak usah dijelaskan lagi, ini adalah Setiawan Djody. Selain latar belakangnya yang memang berfinansial lebih, rupanya ada rumor lain yang menyebabkan konser legendaris Kantata Takwa bisa direalisasikan dalam Stadion Utama Senayan pada 23 Juni 1990. Eros Djarot berkata seperti ini; “Bu Tien suka sama Djody soalnya, makanya kami dapet ijin. Djody itu wajahnya mirip Pak Harto waktu muda” Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat itu, Setiawan Djody adalah seorang investor musik yang jauh lebih beradab ketimbang investor musik era RBT yang lebih suka menginvestasikan hartanya pada musisi yang substansi liriknya teramat menyedihkan.

Setelah menguraikan sedikit mengenai sosok yang berada dalam Kantata Takwa, saya kembali ingin mengutip sebuah tulisan yang saya dapatkan dari sebuah situs mengenai grup musik ini (hitung-hitung menghemat energi, haha).

Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Visi yang kuat akan kondisi sosial budaya menjadikan mereka sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan masyarakat kita. Bagi Kantata musik adalah sarana untuk mengomunikasikan lirik hasil perjalanan tersebut. Oleh karena itu, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu. Hal terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka.

Yang jelas, seperti dikatakan pengamat musik, Franky Raden, melodi lagu-lagu mereka tidak berniat membuai orang hingga lupa akan maknanya, tetapi cenderung lugas hingga pesan yang dikandung dalam lirik menjadi transparan. Maka ketika kita mengapresiasi nyanyian Kantata, yang terbentang adalah potret-potret kehidupan, mulai dari yang religius hingga yang tragis.

Sukses dengan album perdana yang terjual ratusan ribu keping, Kantata lantas membuat gebrakan di dunia pertunjukan. Malam itu, 23 Januari 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.

 

Bukan Samsara, Revolvere maupun Barock

Jika pada 2 tulisan sebelumnya saya mengagumi bip dan Seringai karena ulah mereka yang cenderung mempermainkan industri musik Indonesia, maka kali ini saya jauh meninggalkan kosa kata ‘mempermainkan’. Sebab Sawung Jabo sendiri berkata seperti ini ketika konfrensi pers Kantata Barock sedang berlangsung; “Saya tidak tertarik dengan reuni Kantata. Ini adalah perjuangan sesuatu yang belum selesai sebenarnya.”

Jadi sudah jelaskan bahwa Kantata itu adalah sebuah bentuk perjuangan, bukan liga bermain para seniman tersebut. Tapi ada yang perlu dicatat disini, Kantata punya bab yang berbeda, dimana judul bab tersebut selalu disesuaikan dengan nama bandnya. Bab pertama dari Kantata adalah ‘Takwa’, kemudian ‘Samsara’, selanjutnya ‘Revolvere’ dan yang terakhir ‘Barock’.

Bab ‘Barock’ adalah bab yang belum (atau mungkin tidak) diprasastikan dalam bentuk album seperti dua bab sebelumnya, ‘Samsara’ dan ‘Revolvere’, namun bab ini adalah bab yang euphorianya hampir menyamai bab ‘Takwa’. Karena mereka sama-sama menampilkan karyanya di dalam arena Stadion Utama Gelora Bung Karno (yang pada bab sebelumnya masih bernama Stadion Utama Senayan).

Dan seperti yang sudah saya coba singgung pada beberapa paragraf sebelumnya, bab yang akan coba diurai disini adalah Takwa. Karena bagi saya, bab ini adalah bab yang sempurna! Karena selain bab ini personelnya masih lengkap, semangat yang tertuang dalam lagu ini sangat jelas masih lugas. Singkatnya, jauh sebelum reformasi 1998, bab ‘Takwa’ sudah mereformasi otak para pendengar yang menyimak album ini dengan hati telanjang.

Saya tidak akan mempersoalkan aransemen ataupun perihal teknis lain dalam sebuah komposisi kesepuluh lagu dalam album ini, karena bagi saya ada yang jauh lebih penting ketimbang mempermasalahkan itu. Selain lirik dan nama musisi yang terlibat dalam tiap lagu (yang akan saya tuliskan setelah ini) ada dua hal yang perlu saya catat tentang Kantata Takwa;

  1. Konser legendaris Kantata Takwa tahun 1990 adalah sebuah tonggak bagi dunia hiburan di Indonesia. Dan bagi saya pribadi, konser ini adalah pembuktian bahwa konser “The Wall” yang digagas oleh Roger Waters sebagai reaksi atas runtuhnya tembok Berlin pun masih kalah cepat dalam merealisasikan. Konser “The Wall” (yang menjadi kiblat sebuah konser berkonsep) terlaksana pada bulan Juli, sedangkan Konser Kantata Takwa terselenggara 1 bulan terlebih dahulu dalam tahun yang sama. Jikalau ada Video Konser Kantata Takwa di Jakarta tahun 1990, pasti saya akan jauh lebih ikhlas dalam bersujud ketimbang pada saat saya menyaksikan Video Konser The Wall di Berlin tahun 1990.
  2. Jauh sebelum Seringai merilis DVD Dokumenter Generasi Menolak Tua, yang bisa dikatakan menjadi gerbang sebuah dokumenter. Kantata Takwa sudah terlebih dahulu membuat film semi dokumenter yang berjudul sama dengan nama band dan albumnya. Dimana kesemua personel terlibat dalam akting, dibantu oleh seluruh personel dari Bengkel Teater Rendra. Namun sayangnya baru pada tahun 2008, atau (kurang lebih) setelah 18 tahun, film ini barubisa dikonsumsi oleh publik. Substansi film ini, disamping cuplikan konser, adalah menyinggung karakterisktik pemerintahan orde baru dengan jelas sekali.

Kantata Takwa

(Cipt: S Djody / Iwan / Jockie, Lirik Lagu: S Djody, Vokal: S Djody / Iwan F, Backing Vokal: Jockie / S Jabo / Mbak Sunarti / Kelompok Bengkel Teater, Lead Guitar: S Djody, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Soprano Sax: Embong Rahardjo, Keyboard: Jockie S, Rebana: S Jabo / Budi Haryono)

Malam khusuk menelan tahajjudku

Lidah halilintar menjilat batinku

Mentari dan cakrawala kenyataan hidup

Hanya padaMulah kekuasaan kekal

Ingatlah Allah yang menciptakan

Allah tempatku berpegang dan bertawakal

Allah maha tinggi dan maha esa

Allah maha lembut

Lindungilah dari ganas dan serakah

Lindungilah aku dari setan kehidupan

Berikan mentariMu sinar takwa

Ya ampunilah dosa

Gerhana matahari kuasaMu

Bumi langit manusia ciptaanMu

Hari kiamat ada di tanganMu

Aku bersujud

Kesaksian

(Cipt: Iwan / Jockie / S Jabo, Lirik Lagu: WS Rendra, Vokal: Iwan Fals, Backing Vokal: Mbak Sunarti / Kelompok Bengkel Teater, Lead Guitar: S Djody, Bass: Jockie S, Drum: Budi Haryono, Flute: Embong Rahardjo, Accoustic Guitar: Raidy Noor)

Aku mendengar suara

Jerit makhluk terluka

Luka luka hidupnya

Luka

Orang memanah rembulan

Burung sirna sarangnya

Sirna sirna hidup redup

Alam semesta luka

Banyak orang hilang nafkahnya

Aku bernyanyi menjadi saksi

Banyak orang dirampas haknya

Aku bernyanyi menjadi saksi

Mereka dihinakan

Tanpa daya

Ya tanpa daya

Terbiasa hidup sangsi

Orang orang harus dibangunkan

Aku bernyanyi menjadi saksi

Kenyataan harus dikabarkan

Aku bernyanyi menjadi saksi

Lagu ini jeritan jiwa

Hidup bersama harus dijaga

Lagu ini harapan sukma

Hidup yang layak harus dibela

Orang-Orang Kalah

(Cipt: S Djody/ Jockie, Lirik Lagu: S Jabo, Vokal: Iwan / Jockie S, Backing Vokal: Donnie Fatah / Budi Haryono/ Jockie, Lead Guitar: S Djody, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Keyboard: Jockie )

Malam yang gelap mencekik bumi

Anjing menggonggong bayi merintih

Orang dipaksa saling memojokkan

Buta langkah buta mata hatinya

Hati yang menganga

Kosong tak berdarah

Tidak bercahaya

Manusia sembunyi dibalik wajahnya

Kata kata suci berubah makna

Hukum rimba telah menjadi dewa

Siapa kalah terkubur hidupnya

Mayat mayat hidup

Sumbang suaranya

Dimana tempatnya?

Mereka yang telah kalah

Terkapar tak berdaya

Mencoba mengucap doa

Berserakan dijalan menjadi srigala

Orang kalah

Jangan dihina

Dengan cinta

Kita bangunkan

Dikamar aku berkaca

Tampak wajah yang asing

Mentertawakanku

Aku terdiam

Aku merasa

Pernah juga kalah

Siang yang kering terasa menyiksa

Hati yang kering terlunta lunta

Hentikan caci maki tak berguna

Dimata tuhan kita tak berbeda

Dengarlah suara

Mengajak kita

Berbagi duka

Mereka yang pernah kalah

Belum tentu menyerah

Memang jangan menyerah

Masih banyak lagi yang bisa dikerjakan

Orang kalah

Jangan dihina

Dengan cinta

Kita bangunkan

Dikamar aku berkaca

Tampak wajah yang asing

Mentertawakanku

Aku terdiam

Aku merasa

Aku terdiam

Aku terdiam

Aku terdiam

Aku terdiam

Aku merasa

Pernah juga kalah

Paman Doblang

(Cipt: Iwan / Jockie, Lirik Lagu: WS Rendra, Vokal: Iwan Fals, Backing Vokal: Mbak Sunarti / Donnie / Budi Haryono / Jockie / Kelompok Bengkel Teater, Narasi: S Jabo, Lead Guitar: Eet Syahranie, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Perkusi: Inisisri, Accoustic Guitar: Raidy Noor, Keyboard: Jockie)

Paman Doblang paman Doblang

Mereka masukkan kamu kedalam sel yang gelap

Tanpa lampu tanpa lubang cahaya

Oh pengap

Ada hawa tak ada angkasa ( terkucil )

Temanmu beratus ratus nyamuk semata ( terkunci )

Tak tahu kapan pintu akan terbuka

Kamu tak tahu dimana berada

Paman Doblang paman Doblang

Apa katamu?

( …Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan

Sambil bersila aku mengarungi waktu

Lepas dari jam, hari dan bulan Aku dipeluk oleh wibawa… )

Tidak berbentuk, tidak berupa, tidak bernama

Aku istirahat disini

Tenaga gaib memupuk jiwaku

Paman Doblang paman Doblang

Di setiap jalan menghadang mastodon dan srigala

Kamu terkurung dalam lingkaran

Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana

Kaki kamu dirantai kebatang karang

Kamu dikutuk dan disalahkan tanpa pengadilan

Paman Doblang paman Doblang

Bubur di piring timah didorong dengan kaki kedepanmu

Paman Doblang paman Doblang

Apa katamu?

Kesadaran adalah matahari

(Adalah matahari, adalah matahari)

Kesabaran adalah bumi

(Adalah bumi, adalah bumi)

Keberanian menjadi cakrawala

(Menjadi cakrawala, menjadi cakrawala)

Dan perjuangan

Adalah pelaksanaan kata kata

(Adalah pelaksanaan kata kata)

Kesadaran adalah matahari

(Adalah matahari, adalah matahari)

Paman Doblang paman Doblang

Apa katamu?

Balada Pengangguran

(Cipt: Iwan / S Jabo / Jockie, Lirik Lagu: WS Rendra, Vokal: Iwan / S Jabo / Budi Haryono / Jockie S, Backing Vokal: Mbak Sunarti / Kelompok Bengkel Teater, Accoustic Guitar: Raidy Noor, Bass: Donnie Fatah, Drum & Perkusi: Budi Haryono, Soprano Sax: Embong Rahardjo, Keyboard: Jockie S)

O, apa jadinya?

E, ini apa?

O, apa jadinya?

E, aku lesu?

Dibolak balik dinalar nalar

Tanpa logika oh ya!

Diraba raba diterka terka

Tidak terduga oh ya!

Misteri ijazah tidak ada gunanya

Ketekunan tidak ada artinya

Pembangunan oh!

Pengangguran ya!

Ya ha ha ha

Oh ya!

Penerangan oh!

Kegelapan ya!

Putus asa oh ya

Oh ya o!

Akan merampok takut penjara

Menyanyi tidak bisa

Bunuh diri ku takut neraka

Menangis tidak bisa

Kaki lima oh!

Kaki lima ya!

Kaki lima oh!

Oh ya!

Makan debu huh!

Makan debu iya!

Ya janji palsu

Oh ya!

Dibolak balik dinalar nalar

Tanpa logika oh ya!

Diraba raba diterka terka

Tidak terduga oh ya!

Menghutang lalu lagi menghutang

Tahu tahu menipu

Pembangunan oh!

Pengangguran ya!

Pengangguran oh!

Oh ya!

Penyuluhan oh!

Kegelapan ya!

Putus asa oh!

Oh ya!

Menghutang lalu lagi menghutang

Tahu tahu menipu

Pembangunan oh!

Pengangguran ya!

Pengangguran oh!

Oh ya!

Menghutang lalu lagi menghutang

Tahu tahu menipu

Penyuluhan oh!

Kegelapan ya!

Putus asa oh!

Oh ya!

Menghutang lalu lagi menghutang

Tahu tahu menipu

Pembangunan oh!

Pengangguran ya!

Pengangguran oh!

Oh ya!

Menghutang lalu lagi menghutang

Tahu tahu menipu

Nocturno

(Cipt: S Djody / Iwan / Jockie, Lirik Lagu: WS Rendra, Vokal: Iwan / S Jabo, Backing Vokal: Donnie Fatah / Budi H / Kelompok Bengkel Teater, Lead Guitar: S Djody, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Keyboard: Jockie S)

Aku rasa hidup tanpa jiwa

Orang yang miskin ataupun kaya

Sama ganasnya terhadap harta

Bagai binatang didalam rimba

Kini pikiranku kedodoran

Dilanda permainan yang brutal

Aku dengar denyut kesadaran

Tanganku capek mengetuk pintu

Sialan!

Sialan!

Jaman edan tanpa kewajaran

Gambar iklan jadi impian

Akal sehat malah dikeluhkan

Monyet sinting minta persenan

Sialan!

Sogokan!

Sialan!

Sogokan!

Aku panggil kamu jiwaku

Kugapai kamu dikegelapan

Jadilah kamu bintangku

Jadilah kamu samuraiku

Sialan!

Sogokan!

Godaan!

Sialan!

Sogokan!

Godaan!

Sialan!

Godaan!

Sialan!

 

Gelisah

(Cipt: Iwan / Jockie, Lirik Lagu: Iwan Fals / WS Rendra, Vokal: Iwan / S Jabo, Backing Guitar: S Djody / Eet Syahranie, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Keyboard: Jockie S,

Anak muda diujung jalan

Petik gitar jilati malam

Mata merah hatinya berdarah

Sebab apa tiada yang mau tahu

Pada kelelawar ia mengadu

Pada lampu lampu jalan sandarkan angan

Pada nada nada lontarkan marah

Pada alam raya ia berterus terang

Aku gelisah

Orang tua diremang remang

Cari teman hamburkan uang

Senyum ramah tak ada dirumah

Sebab apa tiada yang mau tahu

Pada kelelawar ia mengadu

Pada lampu lampu jalan sandarkan angan

Pada nada nada lontarkan marah

Pada alam raya ia berterus terang

Aku gelisah

Aku gelisah

Gelisah jiwa bagai prahara

Orang muda orang tua

Penuh amarah membabi buta

Gelisah hidup penjara dunia

Penjara dunia

Padang gelisah panas membara

Hutan gelisah memagar hidup

Gelisah langit muntahkan badai

Kebimbangan lahirkan gelisah

Jiwa gelisah bagai halilintar

Aku gelisah

Aku gelisah

Orang orang saling bertengkar

Untuk apa bukan soal lagi

Keserakahan sudah menjadi nabi

Kekuasaan adalah jalan keluar

Pada kelelawar ia mengadu

Pada lampu lampu jalan sandarkan angan

Pada nada nada lontarkan marah

Pada alam raya ia berterus terang

Aku gelisah

Aku gelisah

Orang muda penuh luka

Terkoyak nasib tertikam gelisah

Membalik hidup menerkam nasib

Gelisah badan gelisah tidur

Lingkaran gelisah lingkaran setan

Menggelinding menggelinding

Datang dan pergi

Memagar hidup

Adakah orang tidak gelisah

Gelisah gelisah dunia gelisah

Aku gelisah

Aku gelisah

 

Rajawali

(Cipt: S Jabo / Iwan / Jockie, Lirik Lagu: WS Rendra, Backing Vokal: Raidy Noor / Jockie / Budi Haryono, Lead Guitar: Eet Syahranie, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Perkusi: Inisisri, Keyboard: Jockie S)

Satu sangkar dari besi

Rantai kasar pada hati

Tidak merubah rajawali

Menjadi burung nuri

Rajawali

Rajawali

Satu luka perasaan

Maki puji dan hinaan

Tidak merubah sang jagoan

Menjadi makhluk picisan

Rajawali

Rajawali

Rajawali

Rajawali

Burung sakti diangkasa

Lambang jiwa yang merdeka

Pembela kaum yang papa

Penggugah jiwa lara

Rajawali

Rajawali

Rajawali

Rajawali

Jiwa anggun teman sepi

Jiwa gagah pasti diri

Sejati

Bertahan pada godaan

Prahara atau topan

Keberanian

Setia kepada budi

Setia pada janji

Kegagahan

Menembus kabut malam

Menguak cadar fajar

Mendatangi matahari

Memberi inspirasi

Mendaki

Mendaki

Meninggi

Meninggi

Bersemi

Bersemi

Mendaki

Mendaki

Air Mata

(Cipt: Jockie S, Lirik Lagu: Iwan Fals, Vokal: Iwan Fals, Backing Vokal: Raidy Noor, Lead Guitar: Eet Syahranie, Bass: Jockie, Drum: Budi Haryono, Accoustic Guitar: Raidy Noor, Keyboard: Jockie S)

Disini kita bicara

Dengan hati telanjang

Lepaslah belenggu

Sesungguhnya lepaslah

Sesuatu yang hilang

Sudah kita temukan

Walau mimpi ternyata

Kata hati nyatanya

Bagaimanapun aku harus kembali

Walau berat aku rasa kau mengerti

Simpanlah rindumu jadikan telaga

Agar tak usai mimpi panjang ini

Air mata nyatanya

Sampai berapa lama

Kita akan bertahan

Bukan soal untuk dibicarakan

Mengalirlah

Mengalirlah

Mengalirlah

Sang Petualang

(Cipt: Robin / Iwan, Lirik Lagu: Iwan Fals, Vokal: Iwan / S Jabo, Elect Guitar: Eet Syahranie, Bass: Donnie Fatah, Drum: Budi Haryono, Keyboard: Jockie S)

Laut biru begitu lapang

Dan gelombang menghalau bosan

Petualang bergerak tenang

Melihat diri untuk pergi lagi

Ya sejenak hanya sejenak

Ia membelai semua luka

Yang sekejap hanya sekejap

Ia merintih pada samudera

Sebebas camar engkau berteriak

Setabah nelayan menembus badai

Seikhlas karang menunggu ombak

Seperti lautan engkau bersikap

Petualang merasa sunyi

Sendiri di hitam hari

Petualang jatuh terkapar

Namun semangatnya masih berkobar

Petualang merasa sepi / merasa sunyi

Sendiri dikelam hari

Petualang jatuh terkulai

Namun semangatnya bagai matahari

Sebebas camar engkau berteriak

Setabah nelayan menembus badai

Seikhlas karang menunggu ombak

Seperti lautan engkau bersikap

Ya sang petualang terjaga

Ya sang petualang bergerak

Ya sang petualang terkapar

Ya sang petualang sendiri

 

——-

Tulisan ini bebas untuk dikritik dan dikomentari, silahkan 🙂

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

29 Juli 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized