Dia Adalah Warga Negara Yang Tidak Lazim

Posted on August 7, 2012

1


Image

“Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi.”

~Klemen (Dalam cerpen: Mayat Yang Mengambang di Danau)

 

Mayat Yang Mengambang di Danau”, mungkin (kalau saya tidak salah) ini adalah cerpen akhir yang ditulis Seno Gumira Ajidarma (selanjutnya akan lebih sering saya tulis dengan: SGA) dalam ranah publik. Meskipun saya yakin, bahwa ini bukanlah karya terakhir dari beliau.

Cerpen ini dapat ditemukan pada harian Kompas tanggal 8 Januari 2012, atau beberapa bulan setelah SGA menjadi jawara dalam ajang Cerpen Pilihan Kompas 2011 dengan sebuah cerpen yang berjudul “Dodolidodolibret”.

Atau silahkan klik link berikut ini, untuk mengakses cerpen “Mayat Yang Mengambang di Danau“: http://cerpenkompas.wordpress.com/2012/01/08/mayat-yang-mengambang-di-danau/

Jika anda perhatikan cerpen tersebut, saya pastikan kalau anda akan mengalami sedikit kebingungan (khususnya ketika sampai pada bagian berikut):

“Aku masih di hongyeb, beberapa hongibi, dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya, bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi, seragamnya sama dengan sagangrod ini, senjatanya yang beda. Ini informasi A1, tapi kudu hati-hati, kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. Jangan percaya omongan para petinggi munafik….”

Sampai disini, saya bisa memastikan bahwa sebagian diantara anda (khsusnya yang sudi membaca cerpen tersebut) akan sedikit bertanya mengenai beberap kata seperti; ”hongyeb” (polres), “hongibi” (polisi), “syidos” (brimob), “gidinya” (timika), “nyahongyeb” (kapolres), “Dadbdedsya” (Mansnembra), “sagangrod” (batalyon), “Tjhitgosoe” (754), dan “ede dede nyalabi” (eme neme kangasi).

Darimana kata-kata aneh tersebut bisa diterjemahkan menjadi seperti itu? Singkatnya, kata-kata yang tertulis barusan merupakan bahasa prokem khas kota Yogya (kota dimana SGA dibesarkan dan bergaul), dimana rumus pemecahannya sama dengan ketika kita mengartikan “Dagadu” dengan Matamu atau “Dab” dengan Mas.

Sebenarnya sebelum cerpen “Mayat yang Mengambang di Danau”, SGA sudah menerapkannya dalam Sebuah Karyanya yang berjudul “Jazz, Parfum, dan Insiden” dimana kata “Ningi” memiliki arti Dili. Sebuah tempat dimana peristiwa pembantaian tersebut berlangsung, dahulu ibukota Timor Timur.

Disamping mengajari memahami teka-teki tersebut, SGA juga mengajari cukup banyak hal kepada saya secara tidak langsung.

 

Sosok guru yang tidak tampak, namun bersinggungan

Jauh sebelum mencuat berita soal SGA yang menolak PAB (Penghargaan Ahmad Bakrie) di bidang Kesusastraan pada bulan Juli lalu, saya sudah menaruh perhatian pada sosok pria gondrong yang cukup setia tampil dengan jenggot lebat dan kacamata yang tergantung.

 

Image

 

Kalau diperkenankan sedikit bercerita tentang pengalaman saya bertemu dengan (karya-karya) SGA, maka akan saya tarik ke sebuah masa ketika saya masih belum genap berumur 15 tahun. Sebenarnya saya sendiri ragu mengenai angka 15 itu karena saya merasa bahwa saya mengenal buku itu beberapa tahun sebelum saya mengenakan seragam putih-biru, namun ketika mengacu pada tahun terbitnya maka saya putuskan untuk mengalah saja.

Waktu itu saya membaca sebuah komik yang berjudul “Jakarta 2039: 40 tahun 9 bulan setelah 13-14 Mei 1998”, entah siapa yang membeli komik tersebut saya tidak ambil pusing dan jujur saja saya lebih tertarik terhadap guratan yang dibuat oleh Ansar Zacky ketimbang isi ceritanya. Namun judul buku & nama pengarangnya rupanya masih lekat dalam pikiran, hingga suatu ketika dimana saya bertemu dengan sebuah karya SGA yang lainnya ditahun 2006 berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (edisi ke-2)”.

Terhitung sejak pertemuan itu, saya mulai meletakkan perhatian yang lebih terhadap sosok bapak satu anak ini. Dan keputusan itu semakin mantap ketika saya membaca sebuah buku yang berjudul “Penembak Misterius”, buku tersebut saya temukan dirak buku salah seorang teman SMA yang sering dipanggil Kodek. Berdasarkan kabar yang terkahir saya dengar, teman saya Kodek sedang sibuk berjuang untuk karirnya sebagai penulis naskah sebuah film ambisiusnya.

Mungkin sampai disini ada yang bertanya: “Sebenarnya, siapakah SGA?” Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar menceritakan siapakah SGA itu, karena saya sendiri tidak memiliki semua karya SGA yang konon berjumlah 30-an lebih (tiga karya pertamanya ditebitkan dengan nama samaran: Mira Sato). Disamping itu, saya sendiri baru sekali berjumpa dengan beliau. Itupun untuk sekadar meminta tanda tangan pada bukunya yang berjudul “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”, sesaat setelah mengikuti diskusinya. Tanpa terlibat banyak percakapan dan tentunya dengan degup jantung yang tidak karuan ketika berdiri dihadapannya. Ya, saya sungguh gugup saat itu.

Jika anda ingin mengetahui mengenai siapa SGA, cukup klik link berikut: http://duniasukab.com/seno-gumira-ajidarma/

Dan inti dari tulisan ini adalah saya menganggap SGA sebagai sosok  yang mengajari saya banyak hal dalam bidang budaya, filsafat, sastra, musik, fotografi, sikap, bahkan sampai memperkarakan sebuah senja. Tentu saja melalui karya-karyanya.

Kalau boleh mengucap dengan lancang, saya akan menyebut kalau beliau adalah guru saya, meskipun pada kenyataannya saya tidak pernah mendapatkan pelajaran langsung dari beliau.

Untuk itu, izinkan saya membuat daftar pelajaran yang telah diberikan oleh SGA kepada saya:

1. SGA mengajari saya tentang makna identitas dalam sebuah kebudayaan.

Saya tumbuh layaknya anak di pinggiran kota Jakarta yang akrab dengan polusi, tidak hanya yang bersifat jasmani namun juga rohani. Saya akui, saya pernah merasa bangga dengan apa yang disebut metropolitan. Bagaimana tidak, hampir segalanya ada di Jakarta kan? Sampai akhirnya saya merasa ditampar oleh sebuah karya SGA yang berjudul “Sembilan Semar” yang terdapat dalam buku ‘Iblis Tidak Pernah Mati’.

Saya yang sejak kecil cukup akrab dengan bahasa Jawa (khususnya Jawa Tengah) rupanya tidak mengetahui siapa itu Semar. Ya, saya memang pernah dengar mengenai semar. Bahkan tidak itu saja, ada Bagong, Petruk dan Gareng. Tapi mengenai siapa sebenarnya mereka dan apakah mereka, saya benar-benar buta.

Sejak saya membaca cerpen yang berjudul “Sembilan Semar” tersebut, berangsur-angsur saya mulai mencari identitas atau jati diri saya sebagai keturunan seorang jawa. Singkatnya, sampai tulisan ini selesai dibuat, saya seperti mengulang fase puber namun beda konteks. Puber kali ini erat kaitannya dengan akar budaya dari mana saya berasal.

Tidak hanya berhenti pada Semar, rupanya SGA juga menyelipkan beragam cerita, karakter dalam wayang, bahkan tokoh dalam ruang lingkup Jawa. Beberapa cerita atau karakter yang diselipkannya adalah: Togog (melalui cover buku: “Surat Dari Palmerah”), Sumantri dan Sukasrana (dalam cerita: Segi Tiga Emas, dalam Buku: “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (edisi ke-2)”), Ramayana (dalam buku: “Kitab Omong Kosong”) bahkan sampai ke sosok pujangga terakhir yang dimiliki oleh bangsa Jawa, Rangga Warsita (melalui judul buku: “Kala Tidha”)

Pada poin ini, saya sungguh tidak bermaksud mengedepankan unsur Jawa-sentris, ini hanya mengenai akar budaya asal. Saya sama sekali tidak bermaksud mengesampingkan budaya Batak, Ambon, Sunda, Bugis, Papua, ataupun suku bangsa lainnya di Indonesia. Karena saya tidak besar dalam ruang lingkup budaya tersebut, sehingga mohon maaf jika saya tidak akrab dengan karya dari budaya-budaya tersebut.

Saya besar dalam krisis identitas di area metropolitan, dimana saya (sebenarnya) sudah tercerabut dari budaya asal saya karena beragam faktor, antara lain: orang tua yang tidak memeperkenalkan (mungkin) karena kesibukan dalam mengabdikan dirinya kepada instansi dan yang pasti terjangan tsunami produk budaya impor yang lebih atraktif namun berumur pendek.

Kemudian  SGA datang dengan naskahnya yang bertaburan akar budaya Jawa (yang pastinya menggugah hasrat keingintahuan saya), jadi sangat rasional jika saya memiliki kedekatan rohani dengan karya beliau. Mungkin jika anda berasal dari daerah luar Jawa dan menemukan hal yang sama seperti yang saya temukan, saya berani jamin kalau anda pasti akan bersikap seperti saya terhadap SGA.

Singkatnya, saat ini saya mulai merasa memiliki idenitas disamping bahasa semata. Saya harap andapun bisa merasa demikian dengan budaya asal anda, dan pastinya tanpa mengusung embel-embel primordial, chauvinis atau ego/etno-sentrisme tertentu.

2. SGA mengajari tentang bersikap di tengah arus desa global

Jika anda sudah membaca tentang biodata SGA melalui link yang saya bagikan diatas, anda pasti akan sedikit menelan ludah. Sebab SGA punya prestasi akademik yang tidak terlalu mengecewakan, Ia lulus dengan gelar sarjana dari Fakultas Film dan Televisi di Instut Kesenian Jakarta, kemudian meraih Master dalam kategori Filsafat dan sukses meraih gelar Doktor dalam kajian Sastra Indonesia. Kedua gelar terakhir dilaluinya dalam kampus Universitas Indonesia.

Dari ketiga gelarnya tersebut, rupanya beliau sudi mempublikasikan seluruh karya ilmiahnya (skripsi, tesis & disertasi) yang akan saya tuliskan secara berurutan: “Layar Kata: Menengok 20 Skenario Indonesia, Pemenang Citra Festival Film Indonesia 1973-1992)”, “Kisah Mata (Fotografi Antara Dua Subjek: Perbincangan Tentang Ada)” dan “Panji Tengkorak: Kebudayaan Dalam Perbincangan”.

Dan disela-sela itu, SGA juga mempublikasikan hasil reportasenya saat ia masih aktif menjadi wartawan sebuah instansi mengenai sang penyebar agama islam di pulau Jawa dalam buku “Sembilan Wali dan Siti Jenar

Selain itu pula, SGA juga memberikan pengetahuan lewat bukunya “Trilogi Insiden” dan “Penembak Misterius” mengenai bagaimana bersikap sebagai seorang jurnalis, sejarah mengenai tragedi Petrus (Penembak Misterius), Dili, sampai pengetahuan tentang musisi Jazz  dan Parfum yang (mungkin)  sepele namun siapa kira berhasil mengecoh cengkraman Orde Baru yang sangat represif terhadap sebuah karya yang kritis.

Dari karya-karya yang saya sebut di atas, saya belajar beberapa hal (sikap) penting tentang: berbagi (khususnya: pengetahuan), mengasah kepekaan terhadap kondisi sekitar, kerjakan dan tekunilah sesuatu yang digemari, berani mengemukakan data yang berbasis fakta dalam kerja jurnalistik dan kebenaran dalam karya seni,  serta cara mengolaborasikan jurnalistik dan sastra untuk mengungkapkan fakta dan kebenaran kehadapan khalayak.

Dan sebelum menutup bagian ini , biarkan saya mengutip pernyataan SGA lainnya yang (masih) saya jadikan panutan untuk bersikap:

Pencapain estetik dilahirkan oleh pengalaman yang kongkret. Keindahan dicapai bukan dengan mengotak-atik bahasa, melainkan dari pergumulan yang total terhadap hidup.”

 

Ia terus membaca, menulis, melanjutkan kerja jurnalistiknya. ”Jadi tukang,” katanya.

Tukang?

Ya,untuk jadi tukang keterampilan saja tak cukup. Ada pergulatan intens. Tukang kayu harus kenal kayu secara personal. Petani harus kenal cuaca, tanah, air, benih, secara personal.”

Keangkuhan para intelektuallah yang membuat derajat tukang direndahkan.” Padahal, menurut Seno, di dalam pertukangan ada perfection. “Di dalam kesempurnaan ada penghayatan, ada pengetahuan yang mendukungnya.

 

Sama seperti setiap orang yang mencari identitas, Seno mengaku tidak pernah mengarahkan dirinya seperti sekarang ini.

Saya pikir tidak semua orang berpikir soal itu (mencari identitas), karena semuanya bicara soal kemapanan, status sosial. Seolah semua memang harus begitu yang baik, di luar itu (kemapanan & status social) akan dilihat ber­beda.”

Disamping dua poin tersebut, SGA pulalah yang membimbing saya untuk mengenal nama-nama seperti W.S Rendra, Remy Sylado, dan Karl May. Dan pastinya, Ia juga yang mengajari saya untuk berani memulai sebuah tulisan dengan langkah memperbanyak baca.

 

Saya benci Sukab, dia mencuri diri saya!

Seperti yang ditulis SGA sendiri, dalam Serba-serbi sukab di buku yang berjudul Dunia Sukab:

“Nama Sukab pertama kali saya  dengar ketika saya belum pernah menulis cerpen. Seorang kawan menyebut nama itu(dengan ejaan yang lebih terdengar sebagai “sukap”) sebagai salah seorang bengkel teater pimpinan rendra, pada masa pementasan Mastodon dan burung kondor(1974). Saya sendiri tidak pernah merasa melihat, apalagi kenal dengan “sukap” ini, namun bunyi “sukap” terdengar sangat enak ditelinga saya, dan sampai catatan ini ditulis saya masih teringat ekspresi wajah kawan saya itu ketika utnuk pertama kalinya menuliskan nama Sukab, dan memang saya tidak pernah teringat adegan itu lagi kalau menulis cerita. Nama itu suka muncul begitu saja setiap kali saya membayangkan sosok “rakyat”.

Terserah apakah anda ingin mengetahui tentang siapa itu Sukab, bahkan anda tidak sudi untuk mengetahuinya, saya akan tetap memberikan sebuah link yang (setidaknya) menjelaskan tentang tokoh fiksi ini. Sebelum anda melenggang dalam kebingungan karena karekternya yang tidak tetap http://duniasukab.com/about/

Namun apakah saya konsisten dengan karakterisasi tokoh-tokoh Sukab? Saya kira tidak juga. Sukab pernah menjadi nama remaja 17 tahun, pernah menjadi nama pemuda perlente, pernah menjadi nama penggiring bola absurd, dan bukan tidak sering hanya menjadi nama tokoh numpang lewat, tanpa sempat menjadi karakter.

Memang tidak ada yang special dari Sukab. Saya sendiri pertama menemuinya di dalam buku “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (edisi ke-2)” dan langsung menjelma menjadi 3 bentuk berbeda yang semuanya biasa saja, mungkin cenderung tidak jelas atau aneh.

Pertama, dalam cerpen berjudul: “Bibir yang Merah, Basah dan Setengah Terbuka” disana Sukab berperan sebagai penjual kosmetik beristrikan asih yang sabar meladeni Sukab namun rupanya Sukab berselingkuh dengan rekan sekerjanya yang bernama Maya. Kedua, dalam cerpen yang berjudul “Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh” Sukab menjadi sosok tukang obat beristri yang didambakan seorang pelacur karena si pelacur itu merasakan kelembutan cintanya, padahal sang pelacur itu diiming-imingi akan diperistri oleh pemuda lulusan Harvard. Ketiga, dalam cerpen yang berjudul: “Seorang Wanita di Sebuah Loteng” dalam cerita ini Sukab menjadi pekerja kantoran yang mati-matian memperjuangkan cinta kepada seorang gadis di atas loteng yang dikenalnya hanya dengan lambaian tangan, tanpa pernah ia terlibat dalam perbincangan sepatah katapun.

Namun secara pribadi, saya suka analisis Andy Fuller mengenai Sukab (karakter yang ada dalam buku: “Sukab Intel Melayu: Misteri Harta Centini”) yang tertuang dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Postmodernism and How Seno Gumira Ajidarma Used It against the New Order” dimana Tesis tersebut diterjemahkan menjadi “Sastra dan Politik: Membaca Karya-karya Seno Gumira Ajidarma”. Dalam Tesis yang mengkaji karya-karya SGA dengan teori Posmodernisme ini, Andy menulis mengenai Sukab seperti ini:

Sukab memang dibuat hanya sebagai sebuah kaidah sastra daripada sebuah tokoh yang merdeka dan asli.

Sukab juga menentang ideologi Orba melalui kurangnya ambisi dia terhadap materi. Dia tidak kaya, tidak materialistis, tidak memiliki cita-cita, dan bukan bagian dari gerakan Orba untuk modernisasi dan kemajuan ekonomi. Sukab tersisih atau terbebas dari semacam kepedulian duniawi dan lebih peduli dengan masalah-masalah abstrak dan filosofis. Bahkan, Sukab sang penyelidik pribadi ini lebih tertarik membaca filsafat dan sastra daripada memecahkan kejahatan yang telah ditugaskan kepadanya. Tujuannya memperkaya pikiran dan jiwa daripda memenuhi kepentingan materi atau benda. Dia adalah warga Negara yang tidak lazim.

 

——-

Tulisan ini bebas untuk dikritik dan dikomentari, silahkan.

Dan saya ingin mengucapkan: Dagur Dutun, Bunyas (Matur Nuwun, Sukab)

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

7 Agustus 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized