Surat untuk Tasya

Posted on August 12, 2012

0


Untuk Tasya,

dikediaman yang diidam-idamkan.

 

Benar-benar tak terasa kalau bulan inipun turut larut dalam rentetan kebodohan, padahal konon dalam bulan ini terdapat seribu bulan. Bisa kau bayangkan berapa lamanya seribu bulan itu, Tasya? Setengah abad mungkin? Atau mungkin kurang? Entahlah, aku sungguh tak pandai dalam berhitung. Mungkin kau tahu pastinya, berapa lamakah seribu bulan itu jika dikalkulasikan. Apakah hasilnya lebih dari jumlah umurku dan umurmu?

Tapi hal apakah yang lebih bodoh, selain mengingat kebodohan atau hal bodoh lainnya? Dimana sesungguhnya segala tindakan yang pernah dilakukan, termasuk kebodohan, merupakan bagian dari kenangan? Kenangan yang sejatinya hanyalah petak genangan, sebuah petak yang tak lebih besar dari televisi terkecil didunia namun selalu sukses untuk membuat langkah kita terhenti dengan menyisakan senyuman yang tersungging, dada yang mendadak terasa sesak bahkan bulir air matapun bisa menetes dengan sendirinya.

Padahal genangan itu hadir hanya melalui medium suara atau citra yang sungguh tidak ada sangkut pautnya dengan sosok dalam kenangan itu, bahkan kehadirannya pun bukanlah tindakan yang disengaja. Bukan kebetulan Tasya, tapi ke-tidak sengaja-an semata. Lagipula, sejak kapan aku dan kamu percaya terhadap sebuah kebetulan dalam hidup ini?

Tasya, apakah kau tau seperti apa rupa tempat ini sekarang? Masihkah kau mengamati perkembangannya atau sekadar mencuri dengar untuk menilik sejenak? Atau kau sama sekali sudah tidak ambil pusing untuk memerhatikannya?

Pembangunan semakin pesat Tasya, tak usahlah kujelaskan padamu. Kalau kau mau, kau bisa lihat sendiri di depan mall tempat biasa kau menghabiskan waktu untuk membeli cakram film maupun musik itu sekarang berdiri jalan layang kembar yang besarnya tak kalah ketimbang ruas jalan dibawahnya. Belum lagi beberapa trotoar yang sukses dimusnahkan oleh aparat dengan dalih menjalankan perintah dari atasan. Benarkah kalau atasan mereka itu adalah Tuhan yang perintahnya tak bisa dinegosiasikan dengan akal sehat?

Kau tahu apa yang ada dipikiranku terhadap tempat ini? Aku rasa pikiranku sama seperti para kuli yang membangun real estat atau bahkan seperti para calo yang berkeliaran di samsat? Entahlah, aku sendiripun tak yakin dengan apa yang ada dipikiranku terhadap kota ini. Tapi satu yang aku yakin, yaitu ketidak yakinanku akan tempat ini memiliki porsi yang sama besar dengan ambisi orang yang mencalonkan dirinya dalam lingkaran kekuasaan untuk berkoar-koar tentang sesuatu yang tidak akan dilunasinya. Tapi aku bukan tidak yakin terhadap kemajuan Tasya, sebab itu pesimis namanya. Aku cuma apatis, seapatis para kuli dan calo itu. Kuli-kuli berdasi dalam perusahaan dan calo-calo bersafari dalam birokrasi.

Oh hampir saja aku lupa mengabarimu, kalau lapak keping bajakan dalam mall itu masih ada, kamu tenang saja. Aku rasa, bertambah malah. Kamu mau kubelikan apa? Film The Curious Case of Benjamin Button yang belum sempat kita tonton? Atau video live konser band rock yang sempat membuatku kebingungan? Sekarang semua makin lengkap, dari Hollywood hingga ke Istambul.

Maaf Tasya, tapi tujuanku kali ini tak membicara soal itu, sebab membicarakan seni denganmu itu sama halnya dengan coba mengkur kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya yang tanpa ujung. Seperti yang kau tahu, seni adalah tema yang selalu mendominasi pembicaraan kita melalui telepon selular, sebuah perbincangan yang tak jarang membuat telinga ini meradang. Untung saja telepon selular itu punya baterai yang sering jadi pembatas perbincangan malam kita. Berterima kasihlah kepada teknologi yang sejatinya terbatas, namun naasnya ia selalu dituntut untuk memenuhi nafsu manusia yang tidak bisa terwakili dalam aksara sebuah peradaban dari abad berapapun.

Aku masih ingat, terakhir kali kita memperbincangkan soal seni adalah mengritisi lagu-lagu cengeng bercengkok melayu atau saling melempar puisi kegemaran karya Chairil Anwar si anak melayu. Aku rasa kau akan merasa muak dengan kondisi kali ini, sama atau bahkan lebih dari porsiku. Masih ingatkah kau tentang puisi Chairil Anwar dalam buku Aku Ini Binatang Jalang, halaman 26? Puisi yang bercerita tentang Pejalan larut yang menembus kabut dengan darah yang mengental pekat, namun rupanya ia hanya berkawan dengan rangka.

Aku berani bertaruh (kalau kau masih memperhatikan perkembangan) kau akan semakin sulit menemukan bait-bait sebrilian itu dalam tatanan seni. Dan satu lagi Tasya, jangan kau berharap mendapatkan kata-kata frontal yang ditulis oleh Wiji Thukul seperti dalam “Lingkungan Kita si Mulut Besar” yang menggambarkan anjing-anjing yang taat beribadah untuk menyingkiri para penganggur yang mabuk minuman murah, anak-anak raksasa yang terus dirampok dan dihibur oleh film-film kartun amerika dan perempuan yang disetor ke mesin-mesin industri murah. Salah satu sajak beraliran keras yang lahir dalam tahun yang sama dengan tahunmu, Tasya.

Saat ini aku seperti hanya menemukan 3 tema besar dalam tatanan seni berkosa kata; Cinta yang menyedihkan, Perselingkuhan dan Kematian. Dua tema pertama masih mendominasi ranah musik, sedangkan tema yang terakhir sering aku temukan dalam kesusastraan. Apakah tema-tema itu adalah komoditi bagi birahi fantasi semata atau cerminan mental penduduk mayoritas tempat ini? Semoga kau bisa menjawabnya Tasya, karena aku belum.

Tapi bukankah unsur yang menjadikan kita manusia itu adalah harapan, perjuangan, dan keberanian dalam menghadapi realita? Asumsi pertamaku mungkin saja para seniman itu enggan bersinggungan dengan realita, sehingga mereka melarikan diri ke absurditas cinta, kematian dan perselingkuhan. Atau mungkin karena para kurator itu selalu berusaha merapikan seni dan kreativitas dalam tatanan industri berbasis finansial semata? Kalau asumsiku yang kedua itu menjadi alasan yang sebenarnya, sungguhku tak heran kalau seperti inilah jadinya. Bukankah itu sama halnya dengan hati yang  dicampur bensin, apa namanya kalau bukan mesin?

***

Betul sekali Tasya, sedari tadi  aku membicarakan tentang tempat ini. Jangan-jangan kau mengira kalau aku mengajakmu berbicara tentang tempat yang kita idam-idamkan untuk kita tinggali? Bukan, bukan tempat itu Tasya tapi tempat ini. Tempat dimana kita dipertemukan kemudian dipisahkan. Tempat yang sama dimana aku masih suka bertanya-tanya, maunya Tuhan itu sebenarnya apa?

Aku bertanya-tanya seperti kau yang sering kali mengajukan pertanyaan soal jodoh yang selalu tak bisa kujawab dengan menyertakan rasa puas kepadamu. Kau tidak lupa kan kalau kau sering bertanya seperti ini; “Apakah bila kita sudah menikah nanti, sudah pasti kalau orang yang kita nihaki itu adalah jodoh kita? Bukankah kehidupan, kematian dan jodoh itu rahasia Tuhan? Hanya Tuhan yang tahu. Jadi mungkin kan kalau alasan jodoh adalah rahasia Tuhan itu malah menjadikan kita memiliki motivasi untuk berselingkuh?”

Berselingkuh? Ah maaf Tasya, aku sungguh tak ingin membahasnya. Aku enggan menjadi seperti  sosok seniman yang aku ceritakan padamu tadi, seniman yang diwujudkan secara satir oleh WS Rendra dalam Sajak Sebatang Lisong sebagai penyair salon. Akan kusalinkan untukmu tentang siapakah yang dimaksud dengan penyair salon itu, sekaligus tentang atasan si aparat yang aku sebutkan di atas tadi.

Aku bertanya

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair – penyair salon

yang bersajak tentang anggur dan rembulan

sementara ketidak adilan terjadi disampingnya

dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan

termangu – mangu di kaki dewi kesenian

bunga – bunga bangsa tahun depan

berkunang – kunang pandang matanya

di bawah iklan berlampu neon

berjuta – juta harapan ibu dan bapak

menjadi gemalau suara yang kacau

menjadi karang di bawah muka samodra

Aku bertanya

tetapi pertanyaan – pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet

dan papantulis – papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak – kanak

menghadapi satu jalan panjang

tanpa pilihan

tanpa pepohonan

tanpa dangau persinggahan

tanpa ada bayangan ujungnya

***

Baru saja aku sempatkan untuk membaca “Epilog” dalam sebuah novel karya Seno Gumira Ajidarma. Sebetulnya aku membaca itu, karena aku merasa kebingunan untuk menutup surat ini Tasya, karena rupanya aku cukup rindu denganmu sehingga pembicaraan ini terlihat sekali tak jelas arahnya.

Oh, aku baru ingat kalau aku belum sempat bercerita kepadamu tentang Seno? Hmm, perlukah? Tapi aku rasa, kau akan suka dengan orang ini. Karena sosok orang ini sebenarnya melankolis namun tak jarang pula terkesan sadis karena memaparkan realita secara logis. Serupa denganmu yang siap menghujam orang yang berlindung dalam kemah dogma melalui ribuan belati yang sudah tertanam dalam logika.

Tapi sayang Tasya, sungguh sayang, kesan sadismu itu tak akan bisa melunturkan kemenawanan parasmu yang jauh dari makna artifisial. Setidaknya bagiku. Karena seperti yang kau tahu kalau aku suka sekali duduk terdiam dan memandangi setiap detail dari dirimu tanpa berkata-kata, dan kalau tidak kau hentikan kebiasaanku itu dengan bahasa non-verbalmu mungkin kau akan bernasib seperti senja.

Senja yang teramat sayang untuk kusia-siakan sedetikpun, meski bagi penduduk kota ini senja sungguh tak ada artinya bagi mereka terlebih lagi dalam kehidupan mereka sebagai makhluk budaya yang memiliki potensi yang sama dalam cipta, rasa dan karsa.

Tasya, biar kusalinkan bait terakhir dari surat yang dialamatkan kepada Alina itu, sekaligus ku jadikan penutup surat ini. Surat yang sebenarnya masih belum bisa mewakili perasaanku saat ini. Perasaan yang seperti apa, aku sendiri masih kurang paham. Jaga saja dirimu baik-baik, Tasya.

Inilah suratku Alina, surat seseorang yang menyandarkan kehidupannya pada kenangan, dan kenangan itu adalah kamu. Kita semua memang menjadi tua Alina, tak apa, bumi begitu ungu di luar, ungu dan kelam – tapi siapakah yang akan merasa kehilangan? Kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana Alina, percayalah, kita, kamu dan aku, akan tetap tinggal di sini, saling mengenang ketika senja tiba, selamanya, karena aku telah menulis surat tentang kita, dalam huruf-huruf yang membentuk kata-kata cetak, yang tidak akan pernah hilang lagi untuk selama-lamanya.

 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

12 Agustus 2012

Advertisements
Posted in: zar_la_sa