Denting di Tengah Gemuruh

Posted on August 17, 2012

3


Foto: I Ngurah Suryawan

Entah kenapa hari ini pikiranku terus mengawang dan mendadak menancap pada ucapan Julius di warung ujung gang tempat kami biasa berkumpul. Saat itu aku dan sahabatku dari Apupa* itu sedang mendekorasi gang tempat tinggal kami karena selang seminggu lagi adalah hari kemerdekaan negara ini, entah sedang membicarakan apa namun tiba-tiba Julius bertanya seperti ini:

“Memang, apa yang ko tau soal merdeka?”

Saat itu aku lupa menjawab apa. Namun sekarang, setelah dipikir-pikir, aku rasa betul juga yang diucap Julius. Apa yang ku tahu soal merdeka? Julius bisa berkata seperti itu sebab kutahu kalau ia memiliki tujuan yang jelas untuk memperjuangkan haknya sebagai manusia di tanah asalnya, Ia seringkali bercerita seperti itu dengan penuh penghayatan. Pantas sajalah kalau ia terkesan angkuh ketika ia berbicara seperti itu sambil menyalakan rokok yang dibelinya ngecer.

Lah, aku ini apa? Halim pak ogah yang tidak punya kantor, tapi jam kerjaku melebihi orang-orang kantoran. Aku hanya merdeka jika para tuan dan puan itu berakhir pekan. Untuk hari libur nasional dan hari besar keagamaan, kerjaku malah lebih tidak keruan. Kalian taulah kondisi jalanan di Takarja itu seperti apa, soalnya aku sudah terlalu malas bercerita atau mengaduh.

Merdeka yang aku tahu juga tak lebih dari sinonim kata bebas semata. Tapi, bebas dari apa?Apakah bebas dari kemacetan, bebas dari polisi ketika ada razia, bebas memperkosa hak-hak pejalan kaki, bebas mengumpat ketika pelajaran Kewarganegaraan sedang berlangsung, bebas dari kejaran POL PP di taman kota, bebas berekspresi yang selalu menyudutkan seni dan cinta, bebas keluar masuk penjara saat menjadi tahanan? Atau bahkan bebas memaksakan keyakinan kemudian bertindak brutal di tengah keramaian dimana disana terlihat cukup banyak aparat? Dan menurut Julius, bertindak brutal seperti itu bukanlah anarkis melainkan xenophobia atau radikal atau fasis atau bahkan teror.

Tapi aku rasa, Iyus (panggilan yang kualamatkan kepada Julius) memiliki pemaknaan yang lebih dalam terhadap kata merdeka. Jadi tak heran kalau Ia selalu bersemangat membalas jika sudah kupantik dengan pekikan ‘Merdeka, bung!’ setiap kali kumelihatnya, tak peduli selesu apapun raut wajah dan sepekat apapun malam.

*****

Suatu ketika aku pernah bertanya kenapa dia masih menjadi demonstran di tengah orang-orang yang cuek, padahal bukan sekali atau dua kali mukanya terlihat aneh gara-gara “dicium” pentungan dan bogem. Dan ketika itu pula Julius memberikan jawaban yang singkat dan mantap, meskipun ia terlihat menahan sakit saat plastik berisi es batu itu datang menyeka bibirnya yang terlihat sobek.

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.” Sembari meringis menahan sakit kemudian melanjutkan, “Soe Hok Gie yang bilang begitu di dalam catatan hariannya, dan aku pikir itu benar.”

“Eh, siapa lagi itu Soe Hok Gie? Orang Naci dia?” sambarku

“Tidak bung, dia sama dengan kita. Cuma ia ditakdirkan bermata sipit dan Ia tidak memilih merubah nama seperti apa yang dilakukan kakaknya, namun aku tahu kalau dia mencintai Negara ini dan berjuang dengan caranya.”

“Jangan sok tau dah Yus! Lo tau darimana emang?”

“Aku sudah baca bukunya, yang cetakan pertama pula, makanya aku bisa merasa seperti itu. Besoklah kupinjami bukunya, biar bisa ko baca saat tak bekerja.”

“Ah, gue gak suka baca Yus. Mending dengerin cerita dari lo aja dah, lagian gue percaya semua cerita lo!”

“Pantaslah kalau ko dungu, Bung. Membaca buku yang tidak usah beli saja saja ko tak mau. Kalau aku berkata bohong kepadamu, bagaimana?”

“Eh, kampret lo Yus ngatain gue dongo! Gak mungkin Yus, gue tau lo gak bakalan boongin gue. Lagian lo cuma sukses boong sama satu orang aja, ibu kos lo tuh!”

“Bangsat ko, Halim!” umpat Iyus, diikuti gelak tawa yang khas.

Julius adalah orang yang angker, dan itu harga mati bagi siapapun yang baru pertama kali melihatnya. Bagaimana tidak, badan tegap sarat otot dengan tinggi menjulang lebih mendekati 2 meter disertai sorot mata yang tegas dan kulit yang legam, siapa yang tidak berpikir kalau dia adalah debt collector atau setidaknya preman yang rela membunuh demi memperebutkan lahan parkir? Tapi bila sudah mencoba mengajaknya ngobrol, aku yakin pasti kesan pembunuh bayaran akan luntur. Apalagi jika sudah berhasil melebur dalam tawa, musnahlah semua bentuk kekhawatiran akan kesan pertama yang ada dikepala tadi.

“Eh, tapi apa ko tahu apa itu demonstrasi?”lanjutnya serius.

“Yaelah, taulah Yus! Kegiatan yang jalan jauh, bawa-bawa spanduk dan toa atau teriak-teriak. Ntar kalau udah slesai, dapet duit trus dianter pulang pakai truk. Mirip sama kuli lah, bedanya cuma mereka itu dibayar sebenernya buat menarik perhatian orang-orang dan buat kepentingan yang ngebayarin mereka. Gue pernah ikut begituan tapi gak gue lanjutin, kapok! Kalau sukses menarik perhatian mah enak, keseringan malah disumpahin atau kena pentung. Kaya nasib lo sekarang ini dah Yus, benjut!” jawabku ringan

Sembari tersenyum getir “Hmmm, Tak seluruhnya salah sih Lim, tapi sebenarnya bukan itu esensinya.”

“Lah, terus apaan Yus? Eh, esensi apaan dah?

“Aduh, bagaimana ya? Pokoknya esensi itu satu tingkat diatas makna Lim, kalau kau sudah tahu makna dari puasa itu adalah menahan, maka esensinya kau harus bisa menahan segala hal yang membatalkan puasa apapun itu gak cuma sebatas tenggorokan, perut dan selangkangan.”

“Pokoknya seperti itulah, kau yang harusnya lebih paham soal puasa, soalnya itu bukan bagian dari ilmuku. Itu masih jadi agama ko kan?”

“Buset! Iya Yus, masihlah. Biar gue jarang solat juga, gue masih suka emosian kalau ada orang ngehina agama gue. Aslinya mah gue sendiri juga suka bingung, ngapain juga gue harus emosi, padahal gue aja udah melecehkan agama gue dengan meninggalkan solat.” Ucapku agak kebingungan

“Ya, pokoknya gitulah Yus. Eh, terus apaan esensi dari demonstrasi kalau bukan jalan-jalan bawa spanduk dan toa?”

“Esensi dari demontrasi adalah memberikan atau setidaknya membawa imbas nyata kepada lingkungan sekitarnya. Kalau yang ko sebutkan itu tadi, cuma sekedar ajang eksis saja menurutku. Gak ada bedanya sama remaja-remaja tanggung di mall atau café-café, paling beda isi dompet aja.”

“Coba kau tengok Food Not Bomb, itulah demonstrasi yang beresensi. Bangga aku bisa terlibat.” Lanjut Iyus

“Heh? Apaan bom Yus?”

Food Not Bomb, Lim!”

“Aduh Yus, apaan lagi itu? Ah makin kemari, bahasa lo makin ribet dah! Biasa-biasa aja napa bahasanya, emangnya lo pikir gue anak kuliahan, bisa diajak ngobrolin bom? Gue gak ngerti apa-apaan soal bom, tapi gara-gara bom tiap liat mobil box gue jadi waswas.”

“Ah, kita bukan ngobrolin bom Bodok! Tapi acara masak bersama, bagi-bagi makanan gratis, dan ngobrol-ngobrol tentang persoalan sosial yang bersinggungan dengan kita. Seperti yang kita lakuin 4 hari lalu, bareng sama Uri dan temen-temennya yang ……”

“Yang rambutnya pada tajem-tajem ke atas dan tindikan ama tatonya sampe kejidat? Oh,kalo maksud lo itu gue paham Yus!” sahutku tanggap

Iyus memang terkenal memiliki pergaulan yang luas, mulai dari calo tiket bus sampai ke anggota kepolisian, Ia punya akses. Jadi tak heran kalau Iyus punya teman yang berprofesi sebagai musisi, entah itu Punk ataupun Reggae, meskipun aku tahu kalau Iyus cenderung suka mendengarkan lagu berbahasa Waja. Ia pernah bercerita padaku kalau pertama kali tiba di pulau ini, Ia berdomisili di daerah Jajog selama hampir 8 tahun untuk menamatkan kuliah sembari bekerja sampingan sebelum akhirnya memutuskan pindah ke kota asalku ini. Katanya, melalui lagu itu Ia seakan bernostalgia terhadap era adaptasi dalam kondisi hidup yang sulit, lagu yang nadanya menyeret sendu itu seperti memberinya semangat.

Ketika kutanyakan tentang apa sebenarnya Food Not Bomb itu, dan kenapa bisa menjadi contoh demonstrasi yang beresensi. Ia memberi penjelasan dengan detail, meskipun sebenarnya ada beberapa kata yang tak kumengerti, sehingga harus kucatat dan kutanyakan pada kesempatan ngobrol lainnya.

”Pesan yang dibawa oleh Food Not Bomb sebenernya sangat sederhana Lim; tak seorangpun pantas kelaparan di tengah-tengah dunia yang super kaya ini, sementara negara mengumpulkan dana untuk membeli peralatan perang. Perang yang biasanya didasari perebutan hasil alam. Jadi sebenarnya, Food Not Bomb lebih dari sekedar acara amal, membantu yang tak mampu, atau semacamnya. Bukan sekadar memberi makan yang kelaparan, tapi untuk memperlihatkan dan mengingatkan bahwa manusia seharusnya menagih apa yang menjadi haknya. Food Not Bomb juga mendemonstrasikan bahwa sebuah kelompok dengan dana yang terbataspun bisa membuat sebuah perubahan besar bagi masyarakat. Disamping itu mengekspos mengenai bagaimana kekerasan, militerisme dan imperialisme sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat sekarang.

“Wih, menarik nih Yus! Iya juga sih, dari ngobrol-ngobrol setelah acara makan itu gue jadi tau kasus-kasus. Ternyata ada juga ya tentara yang kelakuannya kayak begitu? Gak ada musuh, nembakinnye rakyat.” Ucapku agak gemas

“Terus, kalau kita mau bikin lagi, caranya gimana Yus? Penasaran nih gue sama cerita yang kemarin, kali aja ada kelanjutannya atau cerita yang lain yang bikin gue gemes”

“Gini Lim, ada 3 unsur penting yang harus dikombinasikan: mengumpulkan bahan makanan, mengolah menjadi makanan siap makan, dan distribusikan kepada siapapun yang menginginkannya. Pastikan agar makanan ini mudah diakses oleh siapapun, tanpa birokrasi. Dalam setiap kegiatan Food Not Bomb, selalu terdapat ruang khusus untuk menaruh leaflet, newsletter atau literatur lain dari berbagai isu, dari berbagai komunitas. Sehingga, ketika meja digelar, di situ bukan hanya terjadi acara bagi-bagi makanan saja, tapi ada sebuah tawaran wacana kepada masyarakat. Dengan kata lain, Foot Not Bomb juga membentuk sebuah jaringan luas antar manusia dan bekerja keras untuk membangun komunikasi dengan cara mengajak masyarakat untuk saling berbagi, saling membangun hubungan persaudaraan satu sama lain, dan menghancurkan dinding alienasi.

“Terus kenapa menu makanannya yang kemarin itu minim daging, Yus? Apa gara-gara gratis, makanya milih sayuran biar patungannya gak beban?”

“Sebenarnya bukan itu alasannya, tapi karena bahan mentah organik lebih bisa tahan lama untuk disimpan, selain alasan bahwa konsumsi produk hewani adalah pemborosan Sumber Daya Alam. Karena 1 hektar tanah yang ditanami dengan sayuran lebih bisa mengenyangkan banyak perut, dibanding 1 hektar tanah yang dibuat sebagai peternakan.” Ucap Iyus menyudahi pembicaraan malam itu.

Setelah kami menyudahi obrolan malam itu, Iyus kembali melanjutkan perjalanannya menuju kosannya yang terletak 200 meter dari warung tempat biasa kami bertemu. Dan rupanya perbincangan malam itu adalah perbincangan kami yang terakhir. Setelah hampir 2 bulan tidak tampak batang hidungnya, ruapnya aku gatal juga untuk ngobrol dengannya. Namun begitu kutanya ibu kosnya, rupanya Iyus sudah meninggalkan lokasi itu sekitar 2 minggu. Katanya ada anggota keluarga yang sakit keras, sehingga ia harus sesegera mungkin kembali ke tempat asalnya.

*****

Sebenarnya aku agak tidak yakin dengan alasan yang diberikan ibu kos Iyus kepadaku, karena gelagat Iyus bukanlah begitu. Aku sudah hampir 6 tahun mengenalnya, dan Ia selalu berpamitan hampir kesemua orang diseluruh gang yang dilihatnya, meskipun hanya sekadar pergi ke tempat kerjanya yang mana itu adalah sebuah rutinitas. Tapi kali ini, kenapa ia langsung menghilang? Apakah ia diusir gara-gara tidak sanggup membayar kos?

Sempat aku menanyakan hal tersebut kepada teman kos Iyus, tapi mereka mengutarakan jawaban yang sama dengan Ibu Kos. Bahkan sebagian diantara mereka sempat melihat Iyus menyetorkan uang bayaran 4 hari sebelum Ia pergi, dimana itu berarti Iyus sudah membayar kos kemudian pergi setelahnya. Aneh! Tapi sudahlah, mungkin setelah urusannya selesai, Iyus akan kembali lagi kesini. Sementara ini aku akan lanjutkan rutinitasku sebagai Pak Ogah atau kau sebut apa sajalah yang sekiranya mewakili sosok yang ada berada ditengah jalan untuk mengatur lalu lintas. Meskipun kami tidak dibekali seragam dan lencana.

Pekerjaanku memang sepele, bahkan tak jarang ada yang bilang kalau pekerjaan ini adalah pekerjaan paling enak didunia. Tinggal main peluit sambil memberi aba-aba dengan tangan, kemudian mendapat uang. Minimal 1 kendaraan itu 500, tapi sekarang apa artinya nominal itu? Seribu itu sudah paling sedikit. Jadi tinggal dikalikan saja berapa ratus atau mungkin ribu kendaraan yang melintas setiap hari di kota ini, itulah jumlah yang kami dapat. Tak heran kalau kegiatan ini menjadi prioritas oleh pemuda-pemudi macam kami ketimbang bersekolah, karena hal ini memberikan dampak yang nyata. Dampak yang terasa langsung adalah apa yang dialami oleh perut kami, setidaknya bisa cukup untuk makan sehari. Masalah besok, biar kami cari lagi.

Tapi apa benar kalau ini adalah pekerjaan paling enak di dunia? Kurasa tidak juga. Sekarang aku coba ceritakan tentang pekerjaanku kepada kalian, pekerjaan ini dimulai sejak pukul 6 pagi atau bahkan 5? Biasanya anak-anak sekolah berangkat pada pukul itu. Kemudian berlanjut sampai pukul 10, dimana kondisi kritisnya adalah pukul 07:30-09:30, aku pikir pada pukul itu jumlah kendaraan mengalahkan jumlah uang yang kudapatkan antara pukul 5 sampai 6 tadi. Dan kondisi kritis itu akan terulang lagi pada sore hari, dimulai dari 2 jam sebelum adzan magrib berkumandang sampai 3 atau 4 jam setelahnya. Bahkan pada jam makan siang pun kendaraan kembali membludak, simpulkan saja itu pukul 12-14.

Sekarang bisa dijumlahkan berapa jam kami harus berada ditengah-tengah kebisingan? 5-10 (5 jam) + 12-14 (2 jam) + 16-22 (5 jam) = 12 jam! Sekarang berapa lama orang-orang itu berada di kantor? Aku yakin kurang dari 9 jam, kecuali bagi yang lembur. Sedangkan waktu yang kita miliki sama kan? Totalnya 24 jam. Anggaplah pekerja kantoran itu terjebak macet atau menghabiskan waktu dijalanan sekitar 3 jam, maka kita impas, 12 jam sudah terenggut dari kita. Dan tersisa 12 jam lagi. Untuk apa? Terserah! Biasanya tidur membutuhkan antara 4-8 jam, dan sisanya?

Ada yang menghabiskan waktu bersama teman atau kekasih atau keluarga atau selingkuhan, ada yang menghabiskan waktu di dalam mall yang sejuk, ada yang melanjutkan aktivitas di klub-klub malam atau café atau lokasi konser, ada yang menghabiskan waktu bersama benda dan hewan kesayangannya atas nama hobi, ada pula yang beribadah. Terlalu banyak pilihan yang ada di depan kita, sebab itulah alasan diciptakan kota, sebagai tempat untuk menggantungkan sekaligus mengais mimpi yang terus beranak pinak. Intinya semua ada!

Tapi adakah yang berpikir dan berbuat sesuatu untuk kota ini, mulai dari memelihara kota sampai beretika dijalan raya? Apakah ada? Ada? Oh ya? Siapa?

Mungkin kalian akan berkata kalau perkerjaanku itu bukan tipe pekerjaan yang menggunakan otak, jadi kalau lelah tinggal tidur saja niscaya esok pasti akan sirna. Sedangkan kalau pekerjaan yang pakai otak, pasti akan terbawa mimpi sehingga tidur tak nyenyak atau tidak berkualitas. Itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Memang pekerjaanku itu hanya memberikan aba-aba di jalan raya sembari meniup pluit, mungkin kami reinkarnasi wasit. Ya wasit, pihak yang membuat keputusan dan mengetahui seluk beluk pertandingan. Apa wasit tidak pakai otak?

Apa kalian tidak merasa kalau tidak ada kami kalian akan lebih tersiksa? Apa kalian pikir kalau kalian bisa mengatur mana yang bisa jalan duluan, dan mana yang harus mengalah? Apa kalian sanggup menahan panasnya matahari dan mesin kendaraan? Apa kalian sanggup? Kalau merasa sanggup, kenapa tidak kalian coba barang sehari atau dua hari? Apa kalian pikir direktorat kepolisian itu sudah sangat membantu kalian, dengan memajang sosok betina berseragam yang melaporkan kondisi jalanan dari layar kaca setiap pagi? Benar begitu? Aku pikir, segmen itu bahkan tidak sampai 30 menit. Dan kalian tahu sendiri durasi kemacetan dikota ini kan, berapa puluh kali jika dibanding segmen itu?

Mengenai persoalan pakai otak atau tidak, hal tersebut ada baiknya ditujukan kepada pihak yang terus mengadakan pembangunan atau perkembangan jalan. Entah itu dengan langkah membuat under pass, fly over atau bahkan menghilangkan trotoar! Itulah pihak yang seharusnya mendapat asumsi dari kalian tentang persoalan menggunakan otak atau tidak.

Logika sederhana dariku yang seorang Pak Ogah adalah dengan menambah atau memperluas jalanan maka pemilik kendaraan akan merasa terfasilitasi sehingga hasrat untuk memiliki kendaraan pribadi pasti akan mengikuti, sedangkan yang belum memiliki kendaraan tentu motivasi memiliki kendaraan pribadi akan jauh lebih besar. Sehingga aku berani menjamin bahwa tidak sampai 5 tahun kemudian jalanan akan jauh lebih padat dan kemacetan akan jauh lebih menakjubkan. Sedangkan produsen kendaran pasti senang-senang, sebab barang dagangannya laku akibat jalanan diperluas. Tapi apakah persoalan macet adalah bagian dari target mereka dalam memasarkan barang dagangan mereka? Tanyakan saja pada ahlinya!

Lantas bagaimana dengan nasib kendaraan umum? Tak usah bertanya, sekarang aku yang balik bertanya; sudah berapa kali terjadi kasus perkosaan dalam angkot di tahun ini? Entah 5 tahun lagi akan seperti apa, semoga saja nasib penumpang dan kendaraan umum itu sendiri akan lebih baik daripada sekarang.

Sebenarnya aku tidak marah, tapi hanya menumpahkan kekesalanku saja. Sekarang aku yang bertanya kepada kalian para kaum pemikir; anak mana yang tidak mau bersekolah? Berada dalam ruangan, bergaul bersama teman, membaca buku, dharmawisata dan mendapatkan ilmu baru. Siapa yang tidak mau? Tapi sayangnya kesempatan itu tidak kami dapatkan, sehingga kami harus mendapatkan hal yang lebih realistis untuk menina bobokan rasa lapar dan dahaga kami.

Andaikan bisa bersekolah, aku yakin kalau banyak temanku yang mau bersekolah lagi, termasuk aku yang tamatan SMP, mungkin bisa ke SMA, STM, SMEA atau  sejenisnya. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu; sekarang berapa biaya yang diperlukan untuk sekolah? Setidaknya untuk setahun saja. Soalnya aku sudah 4 tahun tidak berhadapan dengan dunia pendidikan formal, aku terdidik di jalanan. Guruku adalah realita dan pengalaman, yang meskipun guruku itu menjerumus kejam namun mereka bukan sosok gila hormat yang jika tidak dipanggil Proffesor maka tidak akan direspon.

*****

Hari ini sudah lebih dari 7 bulan aku tidak berjumpa dengan Julius. Separah apakah sakit anggota keluarganya? Atau mungkin saudaranya itu mati? Aku sungguh tak ada petunjuk tentang dua pertanyaanku sendiri, sebab Iyus benar-benar hilang. Benar-benar hilang seperti kasus pelik para koruptor dari perhatian publik akibat gulungan berita lain.

Tapi tidak, Iyus tidak seperti kasus pelik itu. Apalagi koruptor! Bagiku Iyus itu seperti denting di tengah gemuruh, bunyinya terdengar tajam ditengah hiruk pikuk yang bermuara. Ialah yang mengajarkan banyak hal mengenai sesuatu yang nyata kepadaku dan rekan senasibku, sesuatu yang seharusnya mulai aku pikirkan, rencanakan dan laksanakan. Sesuatu yang menyangkut sebuah peradaban.

Sekarang aku mulai beranikan diri untuk sekadar menulis ulang mengenai kejadian yang kualami, singkatnya kegiatan sehari-hari, dimana dalam keseharian itu bisa saja tertambat sebuah tonggak sejarah. Entah sejarah apa, reformasi atau bahkan revolusi mungkin? Kita tak pernah tahu. Yang pasti, setelah buku ‘Catatan Seorang Demonstran (edisi pertama)’ Iyus pinjamkan kepadaku (tentunya setelah aku diamkan beberapa bulan), aku menjadi bersemangat untuk menuliskan apa saja yang aku alami dan apapun yang aku pikirkan. Seremeh apapun itu. Tak perlu mewah, aku hanya berbekal kertas bekas dan sebuah ballpoint.

Jujur saja andaikan Iyus ada disini, aku ingin Ia mengoreksi tulisan-tulisanku. Mungkin Ia akan membaca kemudian terbahak akibat kualitas tulisanku? Tak jadi soal untukku, karena akupun sering menertawakan dia ketika sedang melempar Mop. Selain menjadi teman ngobrol, Iyus juga piawai menghibur kami. Ia berdiri di depan kami, kemudian Ia menceritakan beberapa Mop dan membuat kami menggelepar dengan perut sakit akibat gelak tawa. Aku pikir Iyus jauh lebih lucu ketimbang orang-orang yang coba melucu seperti apa yang sudah dilakukan Iyus 4 tahun yang lalu, apa mungkin karena tingkat intelektualitasku, sehingga aku tidak mengerti apa yang diparodikan oleh orang-orang dalam layar kaca itu?

Banyak sekali Mop yang sudah diperkenalkan Iyus kepada kami, dan tak jarang Ia mengulangnya karena kehabisan idea tau kami yang memintanya. Tapi entah keajaiban apa yang membuat kami terus saja tertawa setiap kali Ia melempar Mop. Bagi kami, Mop itu ibarat obat penawar rasa pahit dalam keseharian kami. Meskipun beda budaya, tapi Iyus coba menjembatani dengan bahsa persatuan kita.

Dan rasanya usaha Iyus untuk menggunakan bahasa persatuan itu lebih besar ketimbang kami. Mengenai persoalan panggilan ayah, ibu atau anggota keluarga lainnya, aku pikir setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Bahkan dari logat itulah yang membuat kita kaya, bukan keseragaman yang coba ditularkan lewat televisi, keseragaman yang bersumber dari tempat kami bermukim. Dimana efeknya adalah setiap pendatang di kota ini terdengar aneh ketika memaksakan diri menggunakan ‘Lo-Gue’ dengan logat daerah asal mereka, kenapa tidak menggunakan ‘Aku-Kamu’ atau ‘Saya-Anda’? Menyusahkan diri sendiri saja.

*****

Bu guru tanya anana murid: “Dong pu bapa biasa bilang kata-kata bijak apa?”

Anak satu de jawab: “Lebih baik memberi daripada diberi.”

Bu guru tanya: “Boo…kata-kata de bagus sampe. Ko pu bapa kerja apa ka? Pendeta ka?”

“Bukan, Ibu. Bapa de petinju.”

Obet pi dokter, de pu hidung bangka bokar. Dokter tanya: “Tawon ka?”

“Iyo, pace dok.”

“De sengat ko?”

“Tra dapa sengat, dok.”

“Eh, baru kenapa bisa bangka begitu?”

Obet: “Tadi pas tawon de hinggap, sa lansung hantam dia pake sekop.”

Pas Mon pi kios de liat ada pace mabok satu sementara menyanyi sambil tidur telentang.

Pas de balik dari kios, Mon de liat pace mabok de mase menyanyi tapi su posisi tiarap.

Mon heran, baru de tanya: “See..pace, tadi ko telentang, sekarang ko tiarap. Ko kenapa menyanyi macam begitu?”
Pace mabok: “Tadi tu side A, sekarang side B to?”

Ketika aku sedang coba mengingat-ingat beberapa Mop yang pernah dilemparkan oleh Iyus, pastinya sambil tersenyum sendiri, mendadak ada kawan yang berteriak-teriak memanggil namaku dari ujung gang. Pastinya itu membubarkan kerja keras memoriku tadi.

“Eh, bet! Ngapain sih lo teriak-teriak?” Ucap saya

Sembari berlari Obet berkata “Lim, ada surat buat lo! Masih anget nih, barusan gue terima tadi”

“Surat? Siapa?” tanyaku kebingunan

“Liat sendirilah. Udah gue cabut dulu, jemput adik balik sekolah.”

“Oh iya, sip sip. Ati-ati Bet! Makasih ya!”

“Yoi” ucap Obet, sambil berlalu terburu.

Begitu aku liat amplopnya, kulihat nama yang wujudnya sendiri sudah tak pernah kulihat selama 1 tahun lebih.

Singkat saja: Julius. Kemudian diikuti sebuah nama tempat: Kamimi

Hatiku cukup berdebar sekarang, perasaanku campur aduk; senang, kangen, kesal dan penasaran. Ingin mengetahui apa kabarnya orang ini sekarang, apakah keluarganya baik-baik saja? Kapan ia kembali lagi kesini? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya, yang mungkin tergolong tidak penting. Tapi akhirnya kuputuskan untuk menyimpannya sampai aku menyelesaikan pekerjaanku. Namun hari ini tidak akan kubiarkan diriku berkerja sampai larut, setidaknya selepas Isya aku akan pulang dan membaca surat beramplop coklat ini.

Sampai dirumah, akhirnya aku buka amplop coklat itu. Ada tiga lembar! Dua ditulis tangan, dan satu lagi diketik menggunakan mesin tik. Lembar yang diketik itu aku kira adalah puisi, sebab kulihat ada julul yang terdiri dari 10 huruf dan sebuah nama yang agak aneh ditelingaku. Ah, nanti sajalah. Perhatianku lebih besar kepada lembar lainnya, dua lembar yang ditulis tangan. Mungkin saja disana aku bisa menemukan jawaban-jawaban yang selama ini aku tanyakan.

hal 1

Untuk kawanku Halim,

Ko sehat to?

 

Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat.  ~Tan Malaka (Aksi Massa, 1926)

Hey lim, apa kabar ko? Maaf ya kalau tidak mengabari waktu pergi, dan baru sekarang ini bisa mengirimi ko surat ini. Kupikir sudah lewat setahun kita tak bertemu. Mungkin ko tak rindu padaku? Tapi aku cukup rindu ko dan teman-temanku disana. Apa kabar mereka Lim? Semoga sehat-sehat saja, sesuai doaku selama ini.

Langsung saja Lim, aku tak ingin bertele-tele. Sebab aku tak punya banyak waktu disini, maksudku waktu untuk beromantika atau nostalgia. Pertama aku ingin berkata Terimakasih kepada ko, dan maaf jika aku tak sempat berpamitan. Sebab aku tau ko pasti menahan jika kukatakan alasanku sebenarnya pulang. Ko yang bilang bilang sendiri to, kalau ko mungkin bisa dibohongi olehku? Maka itulah aku putuskan untuk langsung pergi.

Alasanku pergi sebenarnya bukan karena ada keluargaku yang sakit keras, namun situasi di tempat asalku yang semakin hari semakin keras. Mereka menuntut merdeka Lim. Ko tau apa arti merdeka bagi mereka? Mereka ingin berpisah dari Negara ini, kalau benar jadi berpisah maka aku putuskan untuk berada di tempatku berasal.

Mungkin ko tak mengerti kenapa mereka menuntut berpisah? Singkat saja Lim, karena mereka tidak merasakan keadilan. Ko tau berapa pecahan uang terkecil disini? 20 ribu Lim! Bahkan beberapa temanku di daerah Bilsiok lebih parah lagi. Uang 20 ribu itu cuma bisa dapat nasi+telur+sayur di warung, sedangkan kalau untuk beli mie, mungkin dapat 6 bungkus atau 3 bungkus mie ditambah 3 telur mentah. Listrik cuma ada dari jam 6 sore – 12 malam. Harga Bensin disini? 35rb per liter.¹ Bisa ko bayangkan, betapa lebih berharganya uang disini ketimbang di Takarja?Sedangkan apa pendapatan kami disini sama seperti Takarja? Bohong kalau kubilang Iya.

Mungkin kau bertanya apakah tempat kami itu adalah tempat yang tidak bisa menghasilkan apa-apa, baik dengan Sumber Daya Alam Maupun Sumber Daya Manusianya? Tidak Lim, di tanah ini melimpah emas, perak, gas alam, minyak bumi dan berbagai sumber daya mineral. Di sinilah tersimpan cadangan emas terbesar dan cadangan tembaga urutan kedua di dunia. Belum lagi puluha juta hektar hutan tropis yang terhampar luas, benteng umat manusia dalam menghadapi bencana pemanasan gobal mendatang. Tapi ironisnya, provinsi kami adalah provinsi termiskin di republik ini.²

Kau ingin tahu apa sebabnya? Baiklah ini sebenarnya yang ingin ku katakana padamu, Halim. Ko masih ingat kan soal menulis itu adalah berbuat sesuatu yang menyangkut sebuah peradaban? Aku masih belum tau apa jadinya kita nanti, namun bilakah harus berpisah aku hanya berpesan padamu, bahwa inilah kenyataan yang terjadi pada kami. Bukan kuhendak menyalakan api permusuhan, tapi sebaiknya jadikan sebuah pengalaman bagi kalian. Bahwa sila ke lima itu belum berlaku, bahkan setelah berumur hampir 7 dasawarsa.

hal 2

Berikut ini adalah beberapa poin yang ingin aku sampaikan kepadamu Lim, tolong disimak baik-baik. Mungkin suatu saat anak atau cucumu mengemban tugas sebagai petinggi bangsa ini, poin-poin ini mungkin bisa dijadikan sebagai hal yang perlu diperhatikan dan dicermati agar tak terulang lagi. Dan menurutku, tak perlulah ditiru keputusan Presiden saat ini, yang menaikkan anggaran dalam divisi pertahanan menjadi 77 triliun, dengan alasan melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista).³ Memangnya siapa yang mau diajak berperang? Apa masih belum puas mereka dengan insiden Lasa gotlo, Menbuke, Jisume, Mabi? Kau masih ingat kan soal Food Not Bomb?

  • Penurunan angka kemiskinan, bukan pada populasi penduduk asli, melainkan kelompok warga pendatang. Kehidupan warga transmigran yang awalnya melarat, kini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan penduduk local.⁴
  • Tidak ada ruang yang layak bagi ibu pedagang sayur untuk mencari nafkah, karena semua kios di pasar telah dikuasai para pendatang. Kesenjangan yag mencolok antara pendatang yang berjualan di kios-kios dan ibu-ibu yang dudu kmenunggu dagangan di lantai kaki lima di bawah terik matahari dan guyuran hujan merupakan salah satu sumber kerawanan.⁵
  • Pendidikan gratis hanyalah ilusi karena dalam birokrasi yang korup tidak ada pelayanan gratis. Pungutan terhadap siswa tidak hanya terjadi di SMA, tetapi juga sejak di bangku SD. Pemerintah memang membangun banyak sekolaha, tetapi tidak menyediakan buku pelajaran. Lebih celaka lagi, sebagian besar guru di daerah terpencil eninggalkan tugasnya dan tidak kembali lagi. Akibatnya, banyak anak lulus SD atau SMP tidak bisa baca-tulis.⁶
  • Elit Apupa cenderung bermuka dua demi ambisi politiknya agar tetap berkuasa. Dalam menghadapi kritik dan protes masyarakat, mereka akan menyalahkan kebijakan pemerintah pusat dan peraturan yang saling bertentangan. Sementara berhadapan dengan Takarja digunakan isu ancaman disintegrasi.⁷ Mungkin ini lebih seperti Apupa tipu Apupa.

Oya, disamping itu, ko pernah dengar to ceritaku soal tambang tembaga, emas dan perak di Berggras dan Bergerts yang diameter lubangnya 2,4 kilometer pada daerah seluas 499 ha dengan kedalaman mencapai 800 m²? Tapi apa ko sudah dengar kabar terbarunya? PT Portfree moranMc sekarang berencana untuk memperpanjang kontraknya sampai 16 tahun setelah Negara ini genap berusia 70 tahun. Bisa kaubayangkan, waktu yang tidak sebentar. Dan apa dampaknya bagi penduduk sekitar tambang yang sudah dibangun sejak tahun 1967, pastinya bukan kabar yang baik untuk didengar.

Kami sebenarnya tak ingin tambang tembaga jadi daerah konflik berkepanjangan, namun kami juga tak ingin hanya jadi penonton alat-alat pengeruk dan penggergaji bebatuan yang bekerja 24 jam penuh, alat peledak berdentuman memecah bebatuan, truk-truk raksasa berkapasitas 250-400 ton berseliweran di daerah tambang, pasir mineral digelontorkan melalui pipa-pipa dari gunung ke pelabuhan, namun semua itu bukan punya kita.⁸

Baiklah Halim, aku pikir cukup sekian yang dapat kujelaskan padamu. Aku harap bisa kau perhatikan ceritaku ini, ingat Lim di era anak-cucumu nanti Negara ini harus bisa mengamalkan kelima sila itu. Pendiri bangsa itu tidak main-main dalam merumuskan lima poin itu, yang main-main hanyalah generasi sesudahnya, termasuk kita. Jadi, aku harap engkau bisa mendidik anak-anakmu kelak dengan pemahaman yang tidak timpang soal bangsa-bangsa di Negara ini. Ingat Lim, kasus di tanahku hanya karena para aparatur Negara ini tidak mengamalkan sila kelima. Bagaimana daerah lain, apakah masalah yang terjadi di daerah mereka itu karena elit politik daerahnya melanggar salah satu dari kelima sila itu?

Maaf Halim,sepertinya aku tak sanggup mewujudkan cerita itu. Cerita tentang kebersamaan dihari esok. Aku sungguh tak berharap kau memaafkanku, tapi satu yang perlu kau tau: Aku selala menganggap kau teman,walau esok kita harus terpisah. Kelak, akan kuceritakan tentang kau kepada anak cucuku.

Julius…

Kawanmu?

  

hal 3

“Sajak Suara” ~Wiji Thukul

 

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

mulut bisa dibungkam,

namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

 

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam

aku siapkan untukmu: pemberontakkan!

 

Sesungguhnya suara itu bukan perampok

yang merayakan hartamu

ia ingin bicara

mengapa kaukokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu

menuntut keadilan?

 

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

ia yang mengajari aku untuk bertanya

dan pada akhirnya tidak bisa tidak

Engkau harus menjawabnya

apabila engkau tetap bertahan

aku akan memburumu seperti kutukan!

Setelah membaca 3 lembar surat itu, aku langsung terdiam cukup lama. Sangat lama. Dan disaat terdiam itu pula aku teringat apa yang pernah diucapkan oleh mendiang bapak tentang peran ilmu, iman dan ibadah dalam kehidupan manusia. Iman itu menetapkan tujuan, ilmu mempercepat menuju tujuan, dan beribadah itu melenyapkan segala sifat yang buruk.

Semoga kau sehat selalu Julius, kawanku.

Merdeka, bung!!

 

——-

* … seluruh kata yang ditulis miring dan digaris bawahi mohon dipecah persuku kata, kemudian diurutkan dari belakang ke depan untuk mendapatkan maksudnya. Contoh: Asinedoin = A-si-ne-do-in = Indonesia.

 

Penjelasan Food Not Bomb dirangkum dari tweet @FNBMLG pada tanggal 14 agustus 2012

 

Mop disadur dari akun twitter: @sammypasau

 

¹ Dikutip dari cerita seorang teman

² Tobing,  Maruli. 2012. Antara Kemiskinan dan Papua  Tipu Papua. Harian kompas. Hlm. 45

³ Silitonga, Linda T. 2012. ANGGARAN PERTAHANAN: Pemerintah Alokasikan Rp77 Triliun. http://www.bisnis.com/articles/anggaran-pertahanan-pemerintah-alokasikan-rp77-triliun. diakses tanggal 17 Agustus 2012, pukul 00:43

⁴ Tobing,  Maruli. 2012. Loc.Cit. Hlm 45

⁵  Ibid.

Ibid.

Ibid.

⁸ Bhakti, Ikrar Nusa. 2012. Prahara di Tambang Kita. Harian Kompas. Hlm. 6

Tulisan ini dibuat dengan motivasi memekik merdeka pada hari ini, namun sialnya terbentur oleh pertanyaan dalam lagu ‘Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)’ karya Seringai: “SUDAHKAH MERDEKA?”

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

17 Agustus 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized