Kala Azar¹

Posted on August 23, 2012

0


facebook.com/TheIDEAlistRevolution

*Seluruh kata yang ditulis miring dan diberi garis bawah persukukata, silahkan urutkan dari belakang ke depan untuk mendapatkan artinya. Contoh: Asi_ne_do_in = In_do_ne_sia = IndonesiaWa_ja Ngah_te = Ja_wa te_ngah = Jawa Tengah

“Pemimpin..

Kami tunduk dan mengabdi

Bahkan jiwa raga dan raga diberi

Padamu ya negeri, kami akan mengabdi.

Berharap kemajuan, walau itu tak ada.

Sesungguhnya diriku tak sanggup berpaling

Mundur terus pantang maju

TRADISI ²”

Kata-kata itu sudah teramat sering diucapkan oleh komandan regu, dan tahun ini Tio harus mengikutinya karena ia hanyalah calon cecunguk yang (akan) segera membusuk ditengah tanah yang sejatinya makmur, walaupun telah dicemari oleh darah rakyat. Entah tradisi itu sudah berlangsung berapa lama dan entah pula sekarang ini hari apa. Lagian, orang bodoh mana yang sudi menghitung bergantinya hari, sementara ajal masih setia untuk menikam tanpa diketahui momen terkamnya?

Yang mereka tahu hanyalah berlatih, berlatih, dan berlatih. Tanpa pernah diberi kesempatan bertanya mengapa. Mereka? Ya, mereka! Semuanya! Termasuk Tio, cucu seorang pejuang kemerdekaan.

Sebenarnya tentara bukanlah sebuah tradisi dalam keluarga besar Tio, bahkan keluarga besar Tio tidak pernah mengarahkan anggotanya untuk mengikuti jejak sang moyang. Dikeluarga Tio, tentara jelas bukan tradisi layaknya korupsi di birokrasi, kolusi di instansi dan nepotisme dikalangan yang (terus) dianggap famili tanpa memandang prestasi. Tapi kenapa Tio ngotot sekali menghabiskan masa pubernya dengan memegang senapan?

*****

Kalau mau diperhatikan, sebenarnya bukan Tio yang ngotot ingin pegang senjata. Tapi lingkunganlah yang membentuk hasrat Tio tersebut, hasrat yang terbentuk dari tradisi melanggengkan kekerasan dan menyuburkan konflik. Hasrat itu berasal dari emosi yang ditularkan oleh apa yang dipandang Tio semenjak ia balita, jauh dari kategori ‘kencing lempeng’ untuk menunjukkan bahwa seseorang sudah bisa diajarkan bertanggung jawab.

Orang Tua Tio hanyalah pasangan yang (hampir) tidak pernah bersinggungan dengan sifat-sifat tamak penguasa, meskipun sebenarnya akses kesana ada di depan mata. Ayah Tio adalah pegawai di departemen Agama, sebuah citra yang mencerminkan nuansa surgawi tapi kelakuan tak jauh beda dengan narapidana. Sedangkan Ibu Tio merupakan pegawai kelurahan yang pernah merasakan jabatan sekertaris untuk dua tahun, dan setelah itu Ibu memilih menjadi staff karena alasan hidup pilihan.

Ayah pernah bercerita, bahwa Ibadah Haji adalah ladang gembur untuk disemai bibit korupsi. Bukan subur lagi malah, tapi begitu disemai padi langsung menguning dan bisa dipanen untuk selanjutnya diadakan perayaan. Mungkin ini ajang tahunan para koruptor yang mengatasnamakan tender demi menghalalkan langkahnya dihadapan Tuhan.

Namun menurut pendapat Tio, Ayah sama sekali tidak pernah campur tangan dalam selebrasi itu, karena setiap hari Ayah selalu berangkat pukul 06:00 dan tiba dirumah pukul 19:30 dengan mengendarai vespa biru untuk melintasi belantara bangunan bertingkat puluhan. Tidak pernah meleset, kecuali suatu waktu tahun 1998. Bahkan untuk bayar SPP ketia Tio masih SMP dan seorang adiknya yang masih SD, ayah beberapa kali ke Sekolah untuk meminta dispensasi waktu pembayaran. Tapi semenjak Tio masuk SMA, kondisi perekonomian keluarganya sudah cukup membaik.

Sedangkan Ibunya, lokasi kerjanya cukup dekat dengan rumah. Hanya 20 menit jika naik kendaraan umum, dengan catatan; kendaraan itu tidak berhenti sesuka hati, tapi kendaraan umum mana yang tidak pernah berhenti sekenanya? Pernah suatu saat ada pengendara motor yang berteriak didepan muka supir, dan ibu sedang berada di bangku depan, sebelah supir:

“Woi, Anjing! Jangan behenti sembarangan lo, macet! Emang jalanan punya nenek lo? Goblok!”

“Lo tuh goblok! Berangkat kerja buru-buru, mau ngapain lo? Jilat pantat bos? Dasar anjing!”

Semenjak kejadian itu, Ibu Tio lebih memilih ojek sebagai kendaraan antar jemput, dari dan menuju kantor. Lagian menurut Ibu, ojek hanya memakan waktu 10 menit dan lebih bisa diandalkan.

Tumbuh di kota yang akrab dengan kekerasan adalah salah satu yang membentuk hasrat Tio untuk menggenggam senjata ditangan. Sejak kecil, ketika Tio sesekali diajak oleh Ibunya ke Supermarket, banyak sekali mainan dari plastik yang terlihat kokoh dengan embel-embel ‘Army’. Entah itu tameng, borgol, pentungan, kostum, sampai ke senjata. Adapula senapan yang diisi oleh baterai dan ketika pelatuk ditekan mengeluarkan bebunyain khas perang disertai lampu yang berkelip seakan menandakan gegap gempita dari sebuah kemenangan perang, mainan inilah yang dipilih oleh Ibunya untuk menemani Tio menembus fase perkembangan otak beserta daya imajinasinya.

*****

Tawuran dan main hakim sendiri adalah bahasa pemersatu kota ini. Meskipun dalam setiap sekolah ada guru kewarganegaan, agama dan bimbingan konseling namun tetap saja ekstra kurikuler tawuran adalah yang paling banyak menyedot minat siswa. Tidak perlu berbekal pengalaman bela diri, cukup berbekal ikat pinggang maka para siswa itu resmi menjadi anggota yang statusnya bisa lepas seiring dengan nyawa.

Sedangkan main hakim sendiri adalah simbol kegeraman masyarakat yang tidak bisa menembus benteng kokoh pejabat yang dijaga ketat oleh hukum dan aparat. Maka tidak heran jika dikota ini banyak maling ayam yang tangannya dipacul, maling motor yang kepalanya dihujani batako atau bahkan maling celana dalam yang diikat kemudian dibakar.

Kedua bahasa itu sangatlah akrab dengan warga kota ini, termasuk keluarga Tio. Dan Tio sendiri pernah beberapa kali bersinggungan dengan dua bahasa yang merupakan sebuah kegagalan purba yang masih dilestarikan. Tapi rupanya Tio tidak terlalu suka dengan kekonyolan berperang tanpa strategi, Ia memilih untuk bersembunyi di warnet ketika ada perintah dari senior untuk menyerang musuh dari sekolah lain. Tio memuaskan hasratnya dengan permainan yang mengembangkan daya imajinasi masa kecilnya, yaitu perang dengan senjata dan strategi. Dan kali ini imaji itu disajikan dalam alam virtual.

Dari alam itu, imajinasi Tio akan peperangan semakin terbangun dan nyata. Mulai dari nama-nama senjata, perlengkapan, alur cerita, medan peperangan, strategi sampai upaya menjadi komandan. Semua tersaji sempurna dalam bilik yang disewakan dengan harga 3500 Ah_pi_ru untuk setiap jam yang dihabiskannya, dan Tio bisa menghabiskan nyaris empat puluh jam dalam bilik itu dalam satu minggu.

Meski begitu Tio tidak pernah ada masalah dengan nilai dalam raportnya, setidaknya angka 5 tidak lebih dari dua buah, bahkan Tio memiliki tabungan lewat berbagai kompetisi perang virtual yang grupnya menangkan. Grup Tio sudah hampir 1 tahun menjadi member istimewa dari warnet itu, sehingga setiap Tio, Waldi, Lukman, Alya dan Dicky bermain mereka tidak pernah dikenakan biaya karena pemilik menggap mereka berlatih untuk membawa nama warnet itu sebagai Jawara di kompetisi perang virtual selanjutnya.

Dalam seminggu itu, Tio juga tidak pernah absen untuk menggeber tenaganya dibalik drum set selama 2-3 jam dalam studio. Ia adalah drummer dari grup band rock yang tidak tenar, namun memiliki ambisi cukup besar untuk bersuara melalui karyanya. Tio hanya memiliki dua orang teman dalam grup bandnya itu, Aku sebagai gitaris dan Erik pada posisi bass dan vocal.

Kami hanya manggung ketika acara pentas seni sekolah dan perayaan 17an, sisanya kami lebih sering menghabiskan di studio bersama personel grup band lainnya. Entah sekadar membuat bebunyian dengan gitar akustik tanpa aturan atau bahkan mengonsumsi sesuatu diluar alkohol sembari bercerita tanpa arah.

Studio ini memang tergolong aneh, segala jenis musik boleh bermain disini. Tak terbatas aliran, mau lembut maupun kasar, lunak ataupun keras. Di studio-studio lain, biasanya musik-musik yang terdengar keras akan langsung distop ketika pertengahan lagu pertama, tapi disini lain. Malahan Garna, sang pemilik studio, malah sering memasukkan kepala ketika band beraliran musik keras itu mendadak senyap untuk sekadar bertanya:

“Kenapa berenti lo? Capek? Belom sejam. Cemen ah!” kemudian ia menutup pintu, dan pastinya meninggalkan senyum getir dari dalam studio karena kegerahan akibat pendingin ruangan yang berhenti di angka 27.

Di Studio ini, ada kawan yang sering kami panggil Dudung, dia salah seorang personel grup band heavy metal yang nasibnya tidak jauh dari band kami, dan senang sekali menyanyikan sebuah lagu dari grup band idolanya dalam setiap kesempatan. Bahkan turun dari motorpun ia langsung menyanyikannya, sembari mengoyang-goyangkan kepalanya seperti reog.

Kami memang gila, gila heavy metal. Sekolah berantakan

Ahmad Albar dan Homicide getarkan jiwa

Slank dan Puppen dinikmati menghayati hingga dijiwa

Pendidikan formal hanya pergaulan, semua telah digenggam

Ini bukan mimpi jadi kenyataan, istirahat yang tenang

Suara gitar dan lawakan jadi sejarah ³

Jika tiba hari Sabtu, tepatnya malam hari setelah pukul 10 dimana itu adalah waktu rutin penghuni studio untuk berkumpul, Dudung tak pernah lupa menyanyikan lagu yang benar-benar menggambarkan situasi kami.

Di ujung jalan kami berkumpul berdendang lagu ini

Isi dompetmu tidak berbunyi hanya menyumbang tawa.

Bawa cerita tetang berjaya

Nostalgia belaka

Kami mendengar, engkaupun senang

Ceria malam suram ⁴ 

Pernah suatu ketika kami mendengar band Dudung berlatih, dari luar kudengar sayup-sayup kata yang diulang-ulang dan terkemas cukup menarik meskipun hanya diiringi bebunyian dari drum. Atas dasar itu kami niatkan untuk menempelkan telinga ke pintu studio yang tidak sanggup meredam seluruh resonansi karena faktor material murahan.

Disini Uang dan Politik

Tak ada artinya

Disini Uang dan Politik

Tak ada artinya

Disini Uang dan Politik

Tak ada artinya!!!! ⁵

*****

Diluar faktor doktrin situasi dan lingkungan, sebenarnya yang memotivasi Tio untuk menjadi tentara adalah cerita yang sering ia dengar dari Paman ketika ia sedang berada dalam silaturahmi keluarga. Pamannya sering kali bercerita tentang kakeknya, atau buyut Tio yang rupanya salah seorang prajurit dari seorang panglima terbaik di tanah ini yang bernama Sudirman. Dan Tio juga masih ingat ketika Ia diajak ke sebuah museum yang terletak di Jalan Bintaran Wetan no.3 Ta_kar_ya_yog, ia melihat sebuah tulisan di ruang depan yang berbunyi seperti ini;

“Anak-anakku, Tentara Asi_ne_do_in, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga.⁶”

Atas dasar itulah, Tio memutuskan untuk berjuang memasuki Akademi Angkatan Laut. Keputusan inipun tak lepas dari doktrin sang paman yang mengemukakan bahwa Negara ini adalah Negara Kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km² yang terdiri dari wilayah teritorial sebesar 3,2 juta km persegi dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,7 juta km². Selain itu, terdapat 17.840 pulau dengan garis pantai sepanjang 95.181 km.⁷

Dengan tekad dan usaha yang gigih akhirnya Tio berhasil masuk kedalam akademi tersebut, dan setelah menempuh pendidikan selama bertahun-tahun, akhirnya Tio berhasil bergabung kedalam Fib_tai_yon (Yon_tal_ba Tai_in Bi_fi_am) satu tahun sesudahku. Fib_tai_yon adalah sebuah satuan khusus yang setara dengan Sus_pa_ko, tapi ruang gerak kami lebih banyak habis di perairan.

Aku rasa kalau kami berjodoh, meskipun semenjak SMP sampai tamat SMA kami tidak bersama tapi kami masih berhubungan dalam sebuah band. Dan aku pikir kalau Tio adalah sosok orang yang kritis, bagiku berbahaya kalau terlalu banyak menggunakan pertimbangan disini. Berpikir bagi kami layaknya memuntahkan peluru secara cuma-cuma, jelas akan mengancam nyawa kita kalau musuh tiba-tiba menyerang. Tapi Tio masih seperti yang aku kenal sejak kelas 5 SD, Ia senang sekali berpikir dan berasumsi. Dan akulah yang sering jadi korbannya. Padahal sejatinya kami adalah korban, karena kami sama-sama diperintahkan menjaga perbatasan. Daerah terluar Negara ini.

*****

“Lim, apa lo pernah tau asal kata militer?” mendadak ia bertanya sembari bergerak cepat menancapkan sangkurnya di kursi, hampir saja cicak itu mati dibuatnya.

“Tau lah ndut! Ngeremehin gue? Istilah militer itu berasal dari bahasa Romawi ‘militaire’ yang artinya bergulat, bertempur, atau berjuang. Orang-orang yang menjalankan fungsi itu disebut ‘miles’ atau ‘militos’ dan tugas yang dijalankannya disebut ‘milisia’⁸ “ ucapku jumawa

Saya biasa memanggil Tio dengan sebutan Gendut. Karena sampai lulus SMP ia masih gendut sekali, tapi entah kenapa memasuki kelas 2 SMA ia menjadi atletis. Mungkin karena wanita?

“Terus apalagi yang lo tau soal militer?” sambungnya sembari tersenyum

Wah, ngehe nih anak! Diem lo duduk di situ! Dengerin nih penjelasan mamang. Meluasnya penggunaan istilah “militer” erat hubungannya dengan pendapat para ilmuan yang menyatakan bahwa pendidikan atau latihan kemiliteran yang sistematis, terencana, dan terdokumentasi umumnya bersumber dari Romawi kuno. Pendapat ini masih perlu diuji, karena pada dasarnya setiap bangsa memiliki sejarah kemiliteran sendiri-sendiri, yang mungkin belum digali secara ilmiah. Sejarah bangsa-bangsa di dunia hampir yang terjadi sepanjang masa selalu sarat dengan kisah peperangan yang seperti sejarah Sir_me No_ku, Mia_ta_po_so_me, Nia_lo_by_ba, Ria_syi, Ngol_mo, dan lain-lain adalah indikator akan adanya tradisi kemiliteran di setiap bangsa. Dalam sejarah A_si_ne_do_in terdapat tradisi bela negara, puputan (Li_ba), yang didalamnya sarat dengan ajaran ajaran ilmu perang bermutu tinggi, serta doktrin keperwiraan yang bernilai luhur. Hal sama juga bisa ditemukan di Na_ci, seperti pada ajaran Soen Tzu, dan di Pang_je pada doktrin “bushido” sebagai pedoman hidup kaum Samurai.⁹ “

“Hmmm, boleh juga pengetahuan lo. Lama gak ketemu makin kerena aja, gue kirain udah makin luntur kaya kemampuan bermain gitar lo. Nah sekarang gue mau Tanya lagi, apa yang lo tau soal Mafia?

“Mafia? Ah, gak pernah nonton film nih bocah! Mafia itu yang kaya Al capone, pokoknya orang Lita_i dah yang biasanya main mafia-mafiaan kaya gitu. Di bola juga masih ada tuh.”

“Haha, bener juga! Tapi apa lo tau Lim, kalau mafia itu diduga bersal dari kata dalam bahasa Rab_a?”

“Hah? Rab_a dari Kong_hong! Di Rab_a mana ada mafia? Masa iya korma sama aer zam zam masih mau dimafiain juga?” ucap saya meragukan.

“Ah, gini maksud gue. Mafia itu berasal dari bahasa Lia_si_si No_ku ‘Mafiusu’ yang diduga mengambil kata Rab_a ‘Mahyusu’ yang artinya tempat perlindungan atau pertapaan. Lia_si_si adalah sebuah pulau di laut tengah , letaknya berada di sebelah selatan semenanjung Lia_ta_i, dipisahkan oleh selat Na_si_mes. Pulau ini pernah dikuasai oleh emirat Islam selama kurang lebih 1 abad lamanya. Mafia awalnya berdiri berdasarkan ikatan persaudaraan diantara sesama warga keturunan pulau Lia_si_si. Dalam prakteknya mereka terlibat dalam bisnis perlindungan, narkoba, prostitusi dan perdagangan senjata. Kejahatan para mafia sangat mengerikan dan menakutkan, mereka mampu menghabisi siapa saja yang menghalangi bisnis mereka. Dengan stelan pakaian serba hitam kelompok ini begitu solid dan sangat ditakuti, di Ka_ri_me_a sendiri mafia Lia_ta_i/ Lia_si_si mendominiasi dunia kejahatan diantara dekade 30 an sampai 50 an. Salah satu faktor yang membuat kelompok-kelompok ini begitu berjaya tiada lain karena kesolidan para anggotanya ditambah dengan takutnya para aparat melawan kelompok gangster ini.”

“Terus,  maksud lo tanya kaya gitu apa?” saya bertanya kebingungan

“Gini Lim, gue jadi inget kata-kata di bangku teras Studio; Demi konsumsi zaman, demi konsumsi massal dihalalkan. Menebar racun dalam ilusi nikmat duniawi, terseret deras hanyut hampa menggali kubur¹⁰.  Dan itu bikin gue  inget sama kejadian di Men_bu_ke tahun 2011.”

“Maksudnya?” Tanya saya semakin kebingungan.

“Ini coba lo baca” sembari menyodorkan dua lembar kertas putih polos yang ditengahnya tertempel artikel dari beberapa surat kabar.

Sembari menenggak kopi yang mulai dingin, aku mulai membaca apa yang tertulis disana.

Lembar 1¹¹

Situasi terakhir desa Nar_je_tro_se, Kecamatan Tren_san_pe_lus_bu, Kabupaten Men_bu_ke, Wa_ja Ngah_te, pascabentrok antara petani dan aparat I_N_T Tan_ka_ang Rat_da, Sabtu (16/4) malam, masih mencekam. Petani menuntut I_N_T bertanggung jawab terhadap aksi penembakan dan penganiayaan yang menyebabkan 4 petani tertembak dan sekitar 13 petani lain luka berat.

Dari pemantauan di RSUD Men_bu_ke pukul 21.00 semalam, tercatat Sembilan petani masih dirawat intesif di ruang instalasi gawat darurat. Empat korban menderita luka tembak. Korban lain dirawat di RS PKU Muhammadiyah Serueng dan RS Petanahan.

Kendati tak tertembak, kondisi sebagian korban di RSUD Kebumen umumnya cedera serius. Dua orang patah kaki akibat kena popor senjata laras panjang. Salah satu korban, Musthofa (65), terluka paling parah karena gegar otak ringan serta lebam akibat pukulan di dada, punggung dan tengkuk. Mustofa terus-menerus muntah darah.

KRONOLOGI KEJADIAN

Kronologi dari I_N_T

Kepala Penerangan Mad_ok IV/Diponegoro Kol_let Inf Z, Sabtu malam, mengemukakan, Dam_pang IV/ Diponegoro Jen_may I_N_T L S menyesalkan bentrokan itu. Bentrokan seharusnya tak terjadi karena latihan militer dan uji senjata berat di lokasi tersebut telah dibatalkan dan dialihkan ke Jang_ma_lu.

”Karena ini tidak disangka-sangka terjadi. Yang mau latihan sudah bergeser, anggota yang tinggal di sana hanya anggota yang menjaga Kantor Dinas Penelitian dan pengembangan I_N_T D_A,” kata Z.

“Dari informasi, warga merangsek sampai masuk ke pagar kantor yang dijaga anggota I_N_T. Warga berusaha masuk dan merusak instalasi telepon di kantor Dislitbang, kebetulan di sana ada gudang penyimpanan sementara amunisi. Karena khawatir membahayakan, anggota yang berjaga berusaha mempertahankan diri’” kata Z

Kronologi dari pihak Petani

Menurut sejumlah petani, bentrok terjadi saat puluhan petani, pukul 10.00, pulang dari berziarah ke makam lima orang yang meninggal pada 1997 akibat terkena mortar aktif milik I_N_T D_A di areal pertanian Desa Nar_je_tro_se.

Sesampainya di dekat Kantor Dislitbang I_N_T D_A di Pantai Bocor, para petani membetulkan “blokade” palang kayu yang dipasang warga sejak 12 April 2011. Pemblokiran jalan menuju kantor Dislitbang I_N_T D_A dilakukan karena warga bersikeras menolak latihan perang dan uji senjata berat di kawasan Rut_u Uw_es. Sengketa lahan antara I_N_T dan petani terjadi sejak 2004.

Tentara mendatangiwarga yang berjaga di titik blokade dan bermaksud membubarkannya. Namun warga menolak pergi.

Pukul 13.30, menurut petani, sekitar 100 tentara keluar dari kantor Dislitbang I_N_T D_A yang hanya berjarak 10 meter dari lokasi kejadian. Tentara langsung menyerbu warga. ”Mereka langsung memukuli kami dengan popor senjata,” ujar W, salah seorang korban.

Petani yang ketakutan lari ke perkampungan. Saat itulah, tentara menembaki petani dengan senapan. Beberapa petani langsung berjatuhan. Selanjutnya hingga pukul 17.00, tentara melakukan sweeping ke perkampungan, mencari tokoh-tokoh penentang pemanfaatan kawasan Rut_u Uw_es untuk latihan perang I_N_T.

Lembar 2

Berdasarkan sejarah, sejak 1937-1949 ketika zaman penjajahan Da_lan_be dan Pang_je, pantai selatan Kabupaten Men_bu_ke yang meliputi Tren_san_pe_lus_bu, Bal_am dan Rit_mi, digunakan sebagai daerah benteng pertahanan tentara Da_lan_be. Pada 1949, usai proklamasi, penjajah menyerahkan tanah tersebut ke pemerintah I_R. Tanah negara hasil limpahan pemerintah Da_lan_be tahun 1947 selanjutnya oleh negara, diserahkan untuk latihan dan uji coba persenjataan I_N_T. ¹²

Menurut W, sebelumnya situasi masyarakat di Rut_u Uw_es memang memanas karena adanya sejumlah kebijakan Pemerintah Kabupaten Men_ke_bu yang tidak disetujui warga. Masyarakat Rut_u Uw_es menolak rencana memperluas kawasan latihan militer I_N_T di Rut_u Uw_es dan menyetujui pembangunan biji besi oleh PT Tra_mi Ma_ta_ga_nia Lang_mer_ce di Rut_u Uw_es. Selain itu, mereka juga menolak rencana pembangunan jalan lintas selatan yang mengakibatkan 55,87 kilometer lahan warga di Men_bu_ke terancam digusur. Kondisi tersebut diperburuk dengan pihak I_N_T yang nekat uji coba senjata di Rut_u Uw_es. Padahal, kata W, menurut kesepakatan yang dibuat I_N_T, warga, dan perwakilan Pemkab Men_bu_ke pada 14 Mei 2009, I_N_T D_A sepakat tidak lagi melakukan aktivitas latihan uji coba senjata di Rut_u Uw_es hingga status tanah di wilayah latihan I_N_T itu jelas. ¹³

Selesai membaca itu, aku langsung bertanya kepada Tio. Kali ini aku bertanya dengan serius

“Aku masih tak mengerti maksud kau dengan berkat mafia dan memberikan dua lembar ini. Apa maksudmu kalau kita adalah bagian dari mafia?”

Sembari sedikit terkekeh, Tio menjawab ringan.

“Lim, apa kau tau dampak dari revolusi Cis_ran_pe ternyata juga berimbas pada militer?”

“Oya? Apa itu? Aku tidak paham sejarah, selain apa yang dituturkan akademi ini kepadaku. Mohon kau jelaskan dengan perlahan, kawan.”

“Simak baik-baik Lim, dampak dari revolusi itu, Cis_ran_pe mendirikan ‘Ecole de Mars’ pada tahun 1794 sebagai pusat pendidikan militernya. Adapun perlengkapan tersedia pada lembaga pendidikan ini hanya terdiri dari lapangan latihan, tenda-tenda pasukan, serta berbagai jenis persenjataan. Sedangkan materi kurikulum pendidikan juga disesuaikan, dengan penekanan pada tiga hal, yakni: Semangat revolusi dan jiwa patriotism, Kemahiran olah senjata, dan Kepemimpinan militer bernafaskan semangat kerakyatan.¹⁴ ”

“Lantas?” tanyaku semakin kebingungan dengan penjelasan singkat dari Tio

“Lantas katamu? Apa kau sudah merasa bahwa kita sudah menerapkan kepemimpinan militer bernafaskan semangat kerakyatan? Aku dengar dari rekan angkatanku yang ditempatkan di Las_a Go_tlo, alasan ia menekan pelatuk karena ia dibuat ciut oleh yel-yel penduduk setempat yang bunyinya seperti ini:

Yang kau minta uangku, kuberi perlawanan

Tindakan bodoh sesat

Jangan kau main api, kuberikan neraka

Kuatkah kau menahannya?

Ini perang bungkam setan,

Nyanyikan lagu berani

Walaupun kami kalah, takkan pernah menyerah

Semua takkan terduga

Kami tak berhenti, kami takkan berhenti” ¹⁵

Selepas itu aku terdiam sejenak untuk mengatur nafas akibat degup jantung yang tidak stabil. Tio sudah keterlaluan! Berani bertanya seperti itu artinya tidak jauh berbeda dari menghina kesatuan. Namun, aku masih coba mengatur nafas untuk mengatur sebuah pertanyaan yang akan kukeluarkan. Dua menit berlalu, akhirnya kubelah bungkamku.

“Jadi maumu seperti apa? Apa kau ingin komplain kepada panglima?” tanyaku agak keras

“Apa? Panglima katamu? Bagiku, tak ada yang pantas disebut panglima selain Sudirman! Semua yang berada sesudahnya hanya menganut azas; Sembah berhala kebanggan di dunia, menjual diri berharap hidup abadi.¹⁶” ucap Tio tidak kalah keras, kemudian ia melanjutkan

“Aku ingin keluar dari kesatuan ini! Tapi aku tidak perlu berpamitan dengan siapapun selain kau.”

“Jangan tolol kau!” bentakku sembari mencengkram kemeja Tio dengan seluruh kegeramanku, sebuah wujud kegeraman yang sama ketika aku dilecehkan untuk pertama kali dalam kesatuan ini.

Dengan gerakan yang cukup cepat untuk mementalkan cengkamanku sehingga dua kancing kemejanya terlepas, Tio mendorongku ketembok kemudian tangan kirinya membekap mulutku sementara tangan kanannya mengepal di atas. Setelah aku dibuat tak berkutik, kemudian Tio berkata

“Ssssttt, diam. Tak perlu emosi.” ucap Tio berbisik, namun penuh penekanan

“Aku tak akan melibatkanmu dalam tindakanku kali ini. Aku hanya ingin kau berjanji bahwa apapun yang terjadi, jangan pernah berkata kalau aku masih hidup. Paham kau?” Setelah menyelesaikan pertanyaan itu, Tio mengendurkan tenaganya untuk memberikanku kesempatan merespon

“Apa yang ada dipikiranmu kali ini?” tanyaku

“Aku akan menuju ke pulau itu, saat ini juga” ucap Tio sembari menunjuk bayangan dari sebuah gundukan yang terletak di tengah lautan, dimana jaraknya kuperkirakan hampir 5 kilometer.

“Berenang?”

“Iya! Aku sudah persiapkan semuanya, dan meskipun nanti hasilnya ganjil, kaulah yang bisa membuat skenario ini menjadi terdengar genap.” Ucap Tio penuh harap

“Lim, aku sudah mati disini. Berpikir dan berkesenian sudah tak ada tempat lagi! Aku tahu kalau kalau dalam kesatuan ini, kita tidak diperkenankan berpikir. Sebab kita memang dilatih dengan mengandalkan naluri bertahan dan membunuh saja. Sedangkan seni tak lebih dari sekadar menggerakkan badan dengan gerakan seperti robot. Sudah lupakah kau dengan lagu yang sering kita bawakan ketika berlatih sewaktu SMA? Aku rindu menerapkan itu Lim, akan kutuliskan untukmu sekarang juga. Aku masih sangat ingat setiap kata dan posisinya.”

Setelah Tio selesai menyampaikan pikirannya, kemudian ia menuju kedalam entah untuk apa. Sedangkan aku masih terduduk diluar, seakan tak percaya kalau Tio punya pikiran yang terpendam seperti itu selama ini.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Tio keluar kemudian memberikan dua carik kertas. Yang satu terlipat dan tertulis: ‘Untuk Adikku’, sedangkan yang satunya dibiarkan terbuka. Aku tau kalau tulisan itulah yang dialamatkan untukku dan disana aku melihat bait-bait yang rasanya menggelegar seperti guntur.

Ini musik kami berkumandang liar megah

Mewarnai hidup takkan pernah terbeli

Keyakinan ini bagai cinta yang abadi

Membangun pusaka hingga dibawa mati

Dalam nada bagaikan besi

Simbol perlawanan atas nama seni ¹⁷

*****

Sehabis ia membisikkan skenario itu, akhirnya Tio menceburkan diri ke laut. Namun, tidak sampai 15 detik ia benar-benar sudah tidak terlihat. Hilang! Tio yang kukenal sejak kelas 5 SD akhirnya mengilang di laut ini menuju pulau Gas_ang_mi.

Dua hari setelah itu, apa yang diperkirakan Tio sungguh terjadi. Aku diinterogasi selama berpuluh-puluh jam. Dan selama proses itu berlangsung, aku ucapkan sesuai apa yang dibisikan Tio kepadaku. Dan bagusnya lagi, Tim pencari menemukan atribut Tio yang terkoyak dan berlumur darah. Maka sempurna sudah skenario Tio pada malam itu, Ia dilaporkan mati dimakan Hiu.

Beberapa minggu kemudian, setelah aku tiba di kota asalku, aku membuka surat yang Tio titipkan untuk adiknya seorang. Orang tua Tio sudah meninggal karena kecelakaan, dan sekarang adiknya sudah dipersunting oleh teman seangkatan kami juga. Tio berpesan kalau sebelum surat tanpa amplop ini disampaikan, aku boleh membacanya.

Inikah rencana, demi kau senang

Bahkan malam ini kami bergembira

Di tanah nihil berbakti, kami tetap berbaris

Di tanah nihil bermimpi, kami tetap berbaris

Bakar!!!

Semangat membara didalam diri

Kibar!!!

Bendera kemenangan negeri ini ¹⁸

Aku tau maksudmu dalam tulisan itu, Tio. Meskipun secara fisik kau sudah lenyap dari jangkauan kami, kerabat dan teman-temanmu di kota, tapi kau menancapkan sebuah bukti bahwa kau berusaha untuk tetap mengibarkan bendera negeri di batas terluar Negara ini. Walau banyak yang menganggap bahwa tanah ini nihil, bahkan kau pun tak jarang berpendapat demikian, namun kau masih membuktikan bakti. Kau adalah salah satu sosok orang yang optimis kalau fase kebangkitan itu pasti ada.

Pertanyaanku sekarang; Mungkin ada Tio dalam bentuk lain dinegeri ini? Asal kau tahu, itulah pesan yang diamanatkan Tio ketika malam perpisahan itu. Ia menyuruhku untuk menemukan orang-orang optimis lainnya, dan abaikan beragam bentuk pencela yang tak pernah berbuat apa-apa selain mencela.

 

——-

Tulisan ini dibuat dengan motivasi yang sama seperti tema album ketiga (Gemuruh Musik Pertiwi) dari grup band Heavy Metal Rawa; KOMUNAL. Tema albumnya ialah Kebangkitan! Tema yang sangat positif dibalut semangat yang spontan, meskipun mereka tepat berada di tengah kesemrawutan republik ini.

Oh, tulisan ini ditujukan khusus untuk kawan @diditharyadi_DD maaf saya harus menganulir membuat cerpen yang berdasarkan karya-karya Pink Floyd. Sebab saya masih belum mengerti apa-apa tentang Pink Floyd, namun dengan hadirnya tulisan ini bukan berarti saya menguasai karya-karya KOMUNAL tapi karena saya sangat SEGAAAN dengan substansi albumnya. Disamping itu, bagi saya, karya Pink Floyd itu terlalu personal dan sangat tidak bagus untuk dicerna kalau belum ada “panggilan hati” untuk mengeksekusinya entah dalam format cakram, pita, ataupun digital.

¹ Kala Azar dalam bahsaUrdu, Hindi dan Hindustani berarti demam hitam (kālā meaning black and āzār meaning fever or disease). Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa Leishmania donovani dan ditularkan ke manusia oleh lalat pasir (Phlebotomus argentipes) yang terinfeksi. Penyakit ini menurunkan daya tahan tubuh,  mengakibatkan demam berkelanjutan,  anemia,  pembengkakan hati dan limpa, dan jika tidak diobati akan menimbulkan kematian.

Saya memilih menggunakan judul ini untuk dialamatkan kepada jenis orang yang selalu mencela namun tidak pernah berbuat sesuatu untuk memperbaiki. Entah motivasinya apa saya tidak mengerti, mungkin menurut mereka kalau bertindak kritis dengan mencela itu keren? Dangkal sekali! Dan saat ini, resmi saya analogikan kalian dengan sosok lalat pasir terinfeksi yang mengakibatkan kala azar dalam konteks masyarakat.

Masih saya ingat apa yang saya tulis di twitter kemudian saya pindahkan ke dalam akun facebook, tepat pada hari ulang tahun Indonesia yang ke 67: “Nyinyir tentang kemerdekaan adalah #Lawak kalau kalian tidak ada aksi. Apa artinya belagak kritis kalau cuma membual? Pembual itu lebih hina dari feodal.”

Benar, bagi saya pembual itu jauh lebih hina ketimbang feodal. Kenapa? Karena seorang feodal pun berusaha dengan daya dan upanya untuk melakukan sebuah tindakan. Tapi apa benar kalau membual itu gampang? Teramat mudah, tiggal mengaku saja kalau kalian adalah anak haram Iblis dengan Tuhan.  Selesai urusan!

² bagian dari lirik lagu ‘Pada Mu Negeri’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

³ bagian dari lirik lagu ‘Ngarbone’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

⁴  bagian dari lirik lagu ‘Adong Nang Diada’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

⁵  bagian dari lirik lagu ‘Gemuruh Musik Pertiwi’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

⁶ Oktafiana, Sari. 2011. Mengenang Kembali Jenderal Soedirman. http://sejarah.kompasiana.com/2011/10/29/mengenang-kembali-jenderal-soedirman/. Diakses tanggal 22 Agustus, Pukul 14:00 WIB

⁷ Endarkhairullah, Al. 2012. Masihkah Indonesia Disebut Sebagai Negara Maritim? http://metro.kompasiana.com/2012/05/22/masihkah-indonesia-disebut-sebagai-negara-maritim/. Diakses tanggal 22 Agustus, Pukul 14:00 WIB

⁸ Londo, Paulus. 2012. Pendidikan Militer dalam Perspektif Sejarah http://hankam.kompasiana.com/2012/03/13/pendidikan-militer-dalam-perspektif-sejarah/ Diakses tanggal 22 Agustus, Pukul 14:00 WIB

Ibid.

¹⁰ bagian dari lirik lagu ‘Sisilia Senandung Sang Bapa’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

¹¹ GRE, SON. 2011. 13 Luka Berat, 4 Petani Tertembak http://regional.kompas.com/read/2011/04/17/03162444/13.Luka.Berat.4.Petani.Tertembak.

¹² Wibisono, B.Kunto. 2011.

Warga Setrojenar Tetap Tuntut Hak Tanah Pascabentrok Dengan TNI  http://www.antaranews.com/berita/254654/warga-setrojenar-tetap-tuntut-hak-tanah-pascabentrok-dengan-tni Diakses tanggal 22 Agustus, Pukul 14:00 WIB

¹³ Rastika, icha. 2011. Kesalahan Insiden Kebumen versi eLSAM http://regional.kompas.com/read/2011/04/27/0740544/Kesalahan.Insiden.Kebumen.versi.eLSAM

Diakses tanggal 22 Agustus, Pukul 14:00 WIB

¹⁴ Londo, Paulus. 2012. Loc.Cit. Diakses tanggal 22 Agustus, Pukul 14:00 WIB

¹⁵ bagian dari lirik lagu ‘Lagu Berani’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

¹⁶ bagian dari lirik lagu ‘Esokan Makan Apa? Hidup Adalah Narkotik’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

¹⁷ bagian dari lirik lagu ‘Rock Petir’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

¹⁸ bagian dari lirik lagu ‘Bakar Kibar’ | karya: KOMUNAL | Album: Gemuruh Musik Pertiwi

 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

23 Agustus 2012

Advertisements
Posted in: zar_la_sa