Gerbang Ranah Antah Berantah

Posted on August 26, 2012

1


back cover (CD)

 

H+3 lebaran. Saya berjanji untuk menemui seorang teman di bilangan kalibata, kali ini jarak tersebut bisa saya tempuh hanya dalam hitungan 5 buah lagu The Doors yang menemani saya menunggangi sepeda motor; ‘Back Door Man’, ‘Been Down So Long’, ‘Blue Sunday’, ‘Break On Through’ (live), dan ‘Carr Hiss By My Window’. Total waktu yang saya butuhkan setara dengan 19 menit 23 detik atau tidak sampai 20 menit untuk bisa mencapai tanah yang dijanjikan itu! Bisa bayangkan seperti apa cintanya saya dengan Jakarta sampai hari ketiga setelah lebaran?

Sebenarnya orang yang ingin saya temui kali ini belum tergolong teman lama, tapi saya cukup segan dengan beliau. Ia pertama kali saya kenal di dalam lingkup Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Brawijaya (anggap saja nama sebenarnya), beberapa tahun silam. Entah bagaimana perkenalan itu berlangsung, tapi saya tahu kalau ia merupakan salah satu orang yang dihormati di organisasi pecinta alam (sebut saja Impala Unibraw), sebuah organisasi  yang terletak di seberang sekretariat tempat dimana saya biasa guyon sembari leyeh-leyeh atau belagak sibuk dengan membuat bebunyian dari dalam studio.

Selain faktor usia yang terpaut cukup jauh dengan saya dan pengetahuan serta pengalamannya di bidang kepecinta alaman, beliau juga terlihat menguasai teknik fotografi sekaligus salah satu jenis musik yang menurut saya tidak main-main (atau setidaknya jenis musik ini tidak bisa dimainkan dengan motivasi main-main saja). Beberapa faktor itu yang membuat saya segan terhadap beliau, meskipun sebenarnya orang tua ini terbilang cukup brengsek.

Silahkan berkenalan sendiri, kalau anda merasa bahwa sosok yang saya jabarkan kali ini adalah figur fiktif.

Menurut pengakuannya, mahasiswa yang menghabiskan masa studi 6 tahun (1982-1988) di fakultas peternakan ini mengenal Pink Floyd sekitar tahun 1978 atau ketika ia remaja. Selain itu ia juga memiliki pandangan yang (menurut saya) tepat dalam memandang Dream Theater. Ia menyebutkan bahwa Dream Theater bukan hanya persoalan pamer skill semata, namun mengekplorasi kord yang ada dengan cara yang menurut kami paling ideal yakni progresif.

Kalau bisa, mereka bikin chord sendiri!” begitu ucapnya sembari tertawa, sekaligus menutup kekaguman kami terhadap kuintet asal Amerika itu.

Baiklah, dengan mengutip ucapan di atas, sebenarnya saya sudah membocorkan tentang apa yang sekiranya akan saya bahas pada tulisan kali ini. Meskipun kalau disebut membahas juga kurang tepat sebenarnya, saya hanya ingin berbagi “cerita” yang terhitung masih pendek dalam menapaki salah satu jalan dari aliran musik yang terlampau sering dianggap pamer skill dan identik dengan durasi lagu yang lebih cocok dijadikan film pendek: Progressive rock.

Mungkin ada yang bertanya; “Kenapa harus progressive rock?” Sebenarnya tidak harus, karena saya sungguh tidak suka membatasi jenis musik yang harus saya konsumsi. Bagi saya musik itu hanya ada dua jenis, enak atau tidak enak dinikmati. Terdengar seperti menggolongkan makanan? Memang! Karena musik sangatlah bersinggungan dengan faktor selera. Kalau menurut saya enak, maka itu merupakan selera subjektif saya yang belum tentu sesuai dengan selera anda. Sesederhana itu.

Rock adalah bumbu favorit saya. Jika dianalogikan dalam makanan, ada yang suka manis, pedas atau bahkan asin, maka rock adalah rasa tersebut. Menurut saya rock adalah bumbu yang membuat musik menjadi terasa sedap, dan yang namanya bumbu, idealnya harus menyesuiakan dengan konteks menunya.

Singkatnya akan terasa tidak enak kalau bumbunya terlalu dominan. Jadi meskipun rock merupakan bumbu favorit, saya tidak melulu menghabiskan waktu berada ditengah-tengahnya untuk larut dalam bising. Namun jika harus menyederhanakan tentang sensasi terbius musik rock, maka akan saya asumsikan bahwa telinga ini sudah teradiksi distorsi.

Dan bagi saya, progressive (atau progresif) adalah cara yang ideal untuk mengelaborasi kemampuan seorang seniman, dalam hal konteks sempitnya seniman (artis) tersebut adalah musisi. Entah itu kemampuan teknis bermusik maupun tema yang dituangkan dalam karyanya. Singkatnya dalam musik progresif –kemungkinan besar— akan ditemukan arti dan makna, bahkan jika ditarik lagi faktor filosofis juga tak menutup kemungkinan terkuak.

Oh, saya pikir perlu kita mulai untuk membedakan definisi artis dengan selebritis. Masih menurut asumsi saya, artis adalah sinonim seniman, sedangkan selebritis belum tentu harus eksis melalui seni. Jadi kalau masih ada angan ingin terkenal seperti artis, jadilah artis (seniman) yang berbicara lewat karya bukan eksis berlandaskan sensasi layaknya kebanyakan selebriti.

Menurut pengamatan dangkal saya, tidak ada standarisasi bahwa musik progresif itu harus agresif. Sama sekali tidak ada! Sebagai contoh, silahkan tengok cara Roger Waters dan John Myung dalam mengolah instrumennya. Mereka ibarat gurun dan kutub, Roger Waters terasa dingin mencekam sementara John Myung panas membara. Namun mereka berdua adalah sosok yang berada dalam garis musik progresif. Lantas apa yang membuat mereka digolongkan padahal berbeda karakter? Sekali lagi saya tegaskan, karyanya.

Setelah membaca tulisan kali ini, saya yakin anda akan menganggap saya hanyalah seorang  amatir. Tak masalah! Justru itulah tujuan saya menulis kali ini. Saya akan memaparkan kedangkalan pengetahuan saya terhadap salah satu aliran musik yang asik mendoktrin saya dalam beberapa 7 tahun belakangan. Dimana Frances The Mute mulai melancarkan serangan di batas imaji dan nalar saya, yang pada waktu itu masih tergolong giat memacu hasrat bermusik.

 

THE MARS VOLTA

Motivasi saya untuk mendengarkan album kedua dari grup band yang terbentuk tahun 2001 di El Paso, Texas adalah John Frusciante semata. Karena pertama kali saya tahu tentang album ini –kalau tidak salah— dari majalah hai yang saya beli ketika saya hendak menaiki kereta menuju ke Jakarta pada bulan Oktober tahun 2005 yang merupakan fase libur lebaran pertama saya sebagai mahasiswa, dimana dalam artikel tersebut tertulis John Frusciante terlibat sebagai musisi pembantu.

Langsung kepada poin intinya, album Frances The Mute adalah gerbang menuju kepada karya-karya dari ranah musik progressive. Khususnya progressive rock, atau bisa juga disebut prog. Jauh sebelum saya berkenalan dengan Pink Floyd, Emerson Lake & Palmer, Led Zeppelin, King Crimson, Frank Zappa, Asia, Genesis, Yes, Supertramp, Porcupine Tree, TOOL, Mastodon atau siapapun yang bisa anda identikan dengan genre musik Progressive Rock.

Dimana (kemungkinan besar) saya sendiri tidak tahu kalau grup yang anda sebutkan nanti adalah bagian dari sejarah Progressive Rock di muka bumi. Inilah bukti otentik mengenai apa yang saya sebutkan tadi, saya adalah amatir.

Memang, sejak saya putuskan untuk mengakrabi papan bersenar 4 saat kelas 2 SMA, saya beberapa kali mendengar karya-karya dari Dream Theater dan RUSH. Tapi saya sungguh tidak tahu menahu kalau mereka adalah bagian dari sekte prog, karena pada waktu itu saya masih menganut mazhab beat funk yang seksi.

Kali ini saya tidak akan memberi tahu tentang The Mars Volta, tidak akan menceritakan siapa itu Cedric Bixler-Zavala dan Omar Alfredo Rodríguez-López, tidak akan memaparkan tentang De Facto terlebih lagi At The Drive In.

Saya melakukan ini bukan karena saya pelit, tapi semua informasi tentang yang baru saja saya sebutkan tadi sejatinya terdapat dalam Wikipedia. Dan terkesan akan membual, jika saya yang memaparkan tentang mereka.

 

Sensasinya (mungkin) Seperti Terjebak Dalam Badai

Setelah mulai akrab dengan nama The Mars Volta, saya putuskan untuk mejelajah karya-karya mereka. Singkat cerita, saya memutuskan bahwa karya favorit versi saya tidak terletak dalam album Frances The Mute, melainkan terdapat pada album sesudahnya yang diberi judul Amputechture.

Tapi seperti judul yang saya tulis diatas, Gerbang Ranah Antah Berantah, maka saya akan dedikasikan tulisan ini untuk album Frances The Mute bukan untuk tiga buah karya favorit saya yang berjudul; ‘Viscera Eyes’, ‘Asilos Magdalena’ dan ‘Day of The Baphomets’.

Kembali ke bulan oktober 2005,  setibanya saya di kota asal, akhirnya saya putuskan untuk mencari album Frances The Mute. Dengan motivasi, seperti apa lagu L’Via L’Via Quez yang didalamnya terkandung dua buah solo gitar John Frusciante? Akhirnya saya dapatkan album ini dalam format kaset di salah satu mall bilangan Jakarta Selatan.

Beberapa bulan berlalu, jujur, saya hanya menamatkan satu buah lagu itu saja. Dan seperti biasa, saya terpukau dengan permainan gitar John Frusciante. Namun rupanya, telinga saya mulai terkontaminasi oleh solo ketiga lagu tersebut. Belum lagu nuansa latin yang menggelitik, perpaduan lirik bahasa Spanyol-Inggris dan lagi aransemen lagu yang tidak biasa.

Sampai waktu saya beli kaset tersebut, referensi saya untuk progressive rock masih sangat kurang. Sehingga ketika saya coba mendengarkan album ini mulai dari track pertama di side satu hingga lagu satu-satunya di side dua, saya merasa seperti terjebak ditengah badai nada yang absurd. Terobang ambing dalam ketidakpastian mengenai nasib kita setelah dengung di telinga mereda.

Sejauh yang saya tahu, aransemen musik progresif biasanya sangat mengalun dan enak didengar. Atau mungkin, lebih tepatnya tetap sinkron meskipun rumit. Tapi album Frances The Mute? Sangat jauh dari kesan itu!

Nada yang sentimental bisa menjadi sarkastis secara drastis, begitupula sebaliknya. Dan bangsatnya lagi, semuanya terjadi tanpa gejala.

Hal ini bisa disimak dalam lagu L’Via L’Via Quez ketika memasuki menit kedua detik ketiga puluh. Tidak sampai satu detik setelah drum merentet dan vocal yang melengking menguasai medan, unsur perkusif bernuansa latin langsung berkumandang. Jelas saja hal tersebut membuat saya kaget, karena gerombolan ini benar-benar memamerkan aransemen yang menakjubkan.

Sebenarnya masih cukup banyak aransemen yang membuat saya banyak mengumpat ketika mengulik album ini dengan daya dan upaya saya sebagai seorang amatir. Namun satu hal yang saya pelajari dari album ini, disamping aransemen membabi buta, adalah definisi album yang terkonsep.

Meskipun tidak melulu karya-karya musik progresif adalah kesatuan yang berangkat dari sebuah konsep sehingga membentuk album, setidaknya karya-karya mereka terasa seperti prosa yang bernada.

Frances The Mute merupakan album pertama yang saya konsumsi, jauh sebelum saya mengonsumsi Dark Side of The Moon, Wish You Were Here, ataupun The Wall dari Pink Floyd. Dimana tiga buah judul yang saya sebutkan belakangan memiliki aransemen musik dan lirik yang berkesinambungan. Dan Frances The Mute menyerupai ketiga karya Pink Floyd yang saya sebutkan barusan, sebuah album yang terkonsep.

Disalah satu forum thecomatorium.com tertulis sebuah petunjuk singkat yang saya pikir bisa membedah maksud dari album Frances The Mute.

 “The story is inspired by a diary that Jeremy found in the backseat of a car while working as a repo man,” singer/lyricist Bixler-Zavala. “He discovered he had a lot in common with its author. He kept it and let us in on it. The diary told of the author being adopted and looking for his real parents. The names of each song are named after people in the diary. Each person he meets sort of points him in the direction of his biological parents.”

Dan setelah hal itu diungkapkan, rupanya cukup banyak interpretasi yang bermunculan. Tapi satu yang menarik perhatian saya, sekaligus yang saya yakini benar (atau setidaknya menyerempet benar) yaitu:

Frances The Mute is about an HIV positive, chain smoking, male prostitute named Vismund Cygnus. He has split personality disorder. He also has a terrible wheezing cough. He has a list of names of members of his family that he seeks to track down and question for information regarding what happened to his mother, a mute named Frances.

Along the way, a Widow enlists his services as a prostitute. Vismund is a different kind of prostitute. He gives AIDS to all the people he has sex with, and I think the customers, such as the Widow, know this and use him to kill themselves.

At some point, he finds his aunt, L’Via L’Viaquez, the sister of his mother, Frances. L’Via has changed her name but meets Cygnus and describes the rape of Frances by priests in a church. She hid while a group of men, actually priests, raped Frances and left her in a pool of her own blood. I think for her own safety, L’Via cleaned up the mess but didn’t help Frances or tell anyone about the rape, because the members of the Church blackmailed her. When Cygnus hears this, he becomes angry, and rapes and kills his aunt.

Cygnus now ends up in Puerto Rico, looking for his grandmother Miranda, the mother of Frances. He finds out from townspeople that Miranda tried to tell people what happened to her daughter, but the people, used to the oppression of the Church, refuse to help. There is a possibility that Miranda was eventually hung.

Finally, Cygnus finds the twenty-five priests that raped his mother. This is where the whole split personality thing comes into play. He becomes Cassandra, his female alter ego, and one by one begins seducing the priests and killing them by transmitting HIV through his “icepick”. Through all the killing, Cygnus realizes that he has basically become just as horrible as the priests who raped his mother.

In the song “Frances the Mute”, which is the song that didn’t make it to the album but can be found on “The Widow” single, we find out that eventually, the priests realized that one of them had impregnated Frances during the rape. I think she tries to run away while the fetus develop, but she’s caught, hung upside down from a tree, and killed. Her womb is cut open, and the baby Cygnus is left for dead. However, he lives, and finds a letter that his mother Frances wrote for him in case she was killed before he was born. The letter is part of the lyrics to that song, and also contains the names of the family members that Cygnus will grow up to track down.

Dari penafsiran di atas jelas sekali bahwa tema album Frances The Mute tergolong tidak biasa dan amat sangat subjektif. Semenjak saya bisa meresapi dan menikmati album ini, meskipun pada awalnya terkendala bahasa, saya mulai menghancurkan pendapat bahwa tema dari sebuah lagu haruslah global atau yang akrab ditelinga kita dengan julukan universal. Dimana cinta sering dijadikan kambng hitam demi tujuan finansial semata.

Disamping faktor tema yang konon harus “universal” itu, saya pikir bahwa ketidak piawaian musisi dalam mengeksplorasi tema dari sudut pandang seniman adalah penyebab kenapa musik belakangan ini terasa hambar dan plastik. Asumsi singkat saya, belakangan ini cukup banyak selebriti yang memaksakan diri menjadi artis, dimana sejatinya seorang artis itu perlu banyak referensi tentang hal-hal subtil dalam kehidupannya.

Sedangkan selebriti tersebut saya pastikan kurang bisa memaknai kata estetik, atau bahasa lainnya mereka tidak peka terhadap situasi yang benar-benar terjadi disekitar mereka. Padahal menurut Seno Gumira Ajidarma:

Pencapain estetik dilahirkan oleh pengalaman yang kongkret. Keindahan dicapai bukan dengan mengotak-atik bahasa, melainkan dari pergumulan yang total terhadap hidup.”

Setelah ini, saya akan membagikan lirik dari enam buah lagu yang terdapat dalam album Frances The Mute yang sudah ada terjemahan lirik bahasa Spanyol nya, sedangkan untuk urusan seperti apa musiknya itu jelas tegantung pada anda. Mau dilanjutkan mencari boleh, berhenti sampai disipun tak masalah.

Setidaknya saya sudah mengutarakan asalan saya memilih progresif sebagai dasar konsumsi saya dalam ranah musik, kurang lebih 7 tahun ke belakang.

 

 

CYGNUS….VISMUND CYGNUS

 A. SARCOPHAGI

B. UMBILICAL SYLLABES

C. FACILIS DESCERNUS AVERNI

 

The ocean floor is hidden

From your viewing lens

A depth perception

Languished in the night

All my life, I’ve been

Sewing the wounds

But the seeds sprout

A lachrymal cloud

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Que vas sufrir (Cause youre going to suffer)

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Salte veneno (Get out venom)

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Salte de aqui (Get out of here)

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Labios temblando (Lips trembling)

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Salte veneno (Get out venom)

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Salte de aqui (Get out of here)

Niño preparate (Boy prepare yourself)

Brincan los cuerpos (The bodies jump)

Vas a sufrir (Youre going to suffer)

My nails peel back

When the taxidermist ruined

Goose stepped the freckling impatience

All the brittle tombs

Five hundred little q

I’m splitting hairs to

Match the faces

All night long I’ll hunt for you

Let me show you what I mean

Sangre (Blood)

Sonando (Dreaming)

De rabia naci (From rage I was born)

Now this train don’t lie

An abortion that survived

A lineage of

Bastard mastacation

All the severed proof

Talons scratch my suite

These are the feathers

That replace them

All night I’ll hunt for you

Let me show you what I mean

Sangre (Blood)

Sonando (Dreaming)

De rabia naci (From rage I was born)

Who do you trust

Will they feed us the womb

Chrome the fetal mirage

Will they feed us the womb

I found the remnants

Of a crescent fang

It cleaned my wing

Down to the bone

Umbilical syllables

Left to decode

There was no cradle

I can taste it

Come on now

All night I’ll hunt for you

Let me show you what I mean

Sangre (Blood)

Sonando (Dreaming)

De rabia naci (From rage I was born)

Who do you trust?

Will they feed us the womb

Chrome the fetal mirage

Will they feed us the womb

Bring me this plague

She took a drink

Those nicotine stains

On his every word

My scavenger quilt

Will only hide the truth

Bring me

Bring me this plague

I count the days to find

What was left behind

Only these names I clutch

Will lead me to my home

Somehow this river marks

A wrinkle hand in mine

And everyday that parts

The water into two

Mothers and feathers start

To drown the living proof

I can’t remember these lakes of blood

Wrapped in a blanket

There sweats a cut

Who do you trust?

Will they feed us the womb

Chrome the fetal mirage

Will they feed us the womb

THE WIDOW

 He’s got fasting black lungs

Made of clove splintered shardes

They’re the kind that will talk

Through a weezing of coughs

And I hear him every night

In every pore

And every time he just makes me warm

Freeze without an answer

Free from all the shame

Must I hide?

Cause I’ll never

Never sleep alone

Look at how they flock to him

From an isle of open sores

He knows that the taste is such

Such to die for

And I hear him every night

On every street

The scales that do slither

Deliver me from…

Freeze without an answer

Free from all the shame

Then I’ll hide

Cause I’ll never

Never sleep alone

Oh lord

Said I’m bloodshot for sure

Pale runs the ghost

Swollen on the shore

Every night

in every pore

The scales that do slither

Deliver me from…

Freeze without an answer

Free from all the shame

Then I’ll hide

Cause I’ll never

Never sleep alone

Freeze without an answer

Free from all the shame

Let me die

Cause I’ll never

Never sleep alone

L’VIA L’VIAQUEZ

L’via, hija de Miranda (L’via, Miranda’s daughter)

Tú apeyido se cambio (Your last name changed)

L’via, sin ojos me quieres dar (L’via, without eyes you want to give me)

Una historia sin mi madre (A history without my mother)

Solo tengo que decirte (I just have to tell you)

El dolor de noche dice (The night pain tells)

Solo se quedo el vestido (Alone the dress kept)

Le lave la sangre (I washed the blood off)

L’via, no dejes de descansar (L’via, don’t stop resting)

En la calle caminas (In the street you walk)

¿quien te ve persegir? (Who’s going to chase you?)

L’via, te quieren matar (L’via, they want to kill you)

Dientes de machete, cabeza de gallo (Machete tooth, cockerel head)

L’via, volviendo en pas (L’via, returning in peace)

Abre los ojos, tú no cambiaras (Open your eyes, you will not change)

L’via, soñando de venganza (L’via, with the sound of vengeance)

Yo te lo juro (I swear it to you)

Lo van a pagar They will pay)

Blackmail she fell off every mountain

The ones they tightly wrapped in tape

In hurried razors snag the guilty

As it made the best mistakes

And with every body that I find

And with every claymore that they mine

I won’t forget who I’m looking for

Oh mother help me, I’m looking for

L’via, hija de Miranda (L’via, Miranda’s daughter)

Tú apeyido se cambio (Your last name changed)

L’via, sin ojos me quieres dar (L’via, without eyes you want to give me)

Una historia sin mi madre (A history without my mother)

Solo tengo que decirte (I just have to tell you)

El dolor de noche dice (The night pain tells)

Solo se quedo el vestido (Alone the dress kept)

Le lave la sangre (I washed the blood off)

Blackmail she fell off every mountain

The ones they tightly wrapped in tape

In hurried razors snag the guilty

As it made the best mistakes

And with every body that I find

And with every claymore that they mine

I won’t forget who I’m looking for

Oh mother help me, I’m looking for

Solo tengo una hora (I only have one hour)

Y me duermo terminado (I sleep finished)

Por veinte cinco años pasaron (Twenty five years gone by)

Siguen los cuerpos aqui temblando (The bodys are here, shivering)

Tomé la sangre, tomé el cuerpo (Take the blood, take the body)

Mis lagrimas (My tears)

When all the worms come crawling out your head

Telling you, don’t you be afraid

When all the worms come crawling out your head

Telling you, don’t you be afraid

Blackmail she fell off every mountain

The ones they tightly wrapped in tape

In hurried razors snag the guilty

As it made the best mistakes

Sharkhides got tangled in the mausoleum

Urgent plea of escape

A melted mouth on the chalkboard

Written in fingernail distastes

And with every body that i find

And with every claymore that they mine

I wont forget who I’m looking for

Oh mother help me, I’m looking for

Blackmail she fell off every mountain

The ones they tightly wrapped in tape

And hurried razors snag the guilty

As it made the best mistakes

And with every body that i find

And with every claymore that they mine

I won’t forget who I’m looking for

oh mother help me, I’m looking for

MIRANDA THAT GHOST JUST ISN’T HOLY ANYMORE

[a. VADE MECUM]

 I’ve always wanted

To eat glass with you again

But I never knew how

How to talk without

Walls dropping on the eve

The nest they made couldn’t break you

Along the fallen

Scowled a fence of beaks

But the temple is scathing

Through your veins

They were scaling

Through an ice pick of abscess reckoning

And when Miranda sang

Everyone turned away

Used to the noose they obey

And whoever said that they would scatter

Separating the mother from child

She can bat a broken eyelid

Raining maggots from its sty

And with the traces that she leaves

She will skin you out alive

All the children go grinding their jaws

The sweet smell of their toothless canals

And the dam she will break,

Make an ocean from this lake

As they siphon off all our blood

And when Miranda sang

Everyone turned away

Used to the noose they obey

And when Miranda sang

Everyone turned away

Used to the noose they obey

And when Miranda sang

Everyone turned away

Used to the noose they obey

[b. POUR ANOTHER ICEPICK]

 I think I’ve become like one of the others

I think I’ve become like one of the others

I think I’ve become like one of the others

There was a frail syrup dripping off

His lap danced lapel, punctuated by her

Decrepit prowl she washed down the hatching

Gizzard soft as a mane of needles

His orifice icicles hemorrhaged

By combing her torso to a pile

Perspired the trophy shelves made room for his collapse

She was a mink hand job in sarcophagus heels

Bring me to my knees

Read the sharpened lines

All my arms,

Bled me blind

Faucet leaks in shadows

Spilling from morgue lancet

Caressed your fontanelle

I’ve sworn to kill every last one

Every last one

Panic in the shakes of the wounded

Panic in the worms

Onto the floor

And out of your mouth

Out of your eyelids

No there’s no light, in the darkest

Of your furthest reaches

No there’s no light, in the darkest

Of your furthest reaches

All your dreams, splintered off

Leech by leech on this catafalque

Anyone will tell you, yes anyone

Chance had me setting a trip wire alarm

Your mother flirted with disease

When she skinned that costume by its navel strings

Panic in the shakes of the wounded

Panic in the worms, onto the floor

And out of your mouth

And out of your eyelids

No there’s no light, in the darkest

Of your furthest reaches

No there’s no light, in the darkest

Of your furthest reaches

No there’s no light, in the darkest

Of your furthest reaches

Shock lest shackles free you

Volt face cons

abandon you again

I won’t feel not this time

Shock lest shackles free you

Volt face cons

abandon you again

I won’t feel not this time

[c. PISACIS (PHRA-MEN-MA)]

 Brick by brick, the night eclipsed

Pricked by cuticle thorns

Dried the sleep on nursery slits

Into this life I’m born

Heaven’s just a scab away

I’d like to see you after just one taste

Sink your teeth into the flesh of midnight

Night forever more,

Let them see it has begun

The others I’ve become

If you should see the dice,

Charmed with its snaked choked eyes

You’ll wear the widows weeds

Because they’re just your size

Behind the snail secretion,

Leaves a dry heave that absorbs

A limbless procreation,

Let the infant crawled deformed

A bag replaced the breath of these suffocating sheets

And now when the craving calls

I’ll scratch my itchy teeth

Come on and sing it now…

Sink your teeth into the flesh of midnight,

Night forever more

Sink your teeth into the flesh of midnight,

Night forever more

She fell for the whispers,

Sister flooded deaf tears

That night tore a river,

In her baron womb mirror

And his multiple sons with their mandible tongues

Set crucified fires to petrified homes…

Let it burn

And the owls they were watching

And the owls didn’t care

Then the owls came a knocking,

Placenta in their stares

They will feed on all the carnage,

Leftover from the flood

And in the corner of their eyes,

Fled sister L’ Via

Sister L’ Via

Now the pieces went floating,

Reflecting all at dusk

Conceived from the stabbing,

was Vismund Cygnus

Twenty five wives in the lake tonight…

[d. CON SAFO]

 Twenty five wives in the lake tonight

Raw bark in the water of the marble shrine

Twenty five snakes pour out your eyes

Yeah the icepicks cumming on the marble shrine

Twenty five snakes are drowning

CASSANDRA GEMINI

[a. TARANTISM]

 You can’t bend your crooked arms or fold your punctured proof

The air is growing cold and there’s nothing you can do

Soon there’ll be no gauze, inside the confessional

Only rows of crows, defrocking every breath

And one day you’ll remember

Behind the melting cones,

I said, one day you’ll remember

Behind the melting cones,

You always had a family

In the burial of your home.

In the burial of your home.

Night forever more

Night forever more

Night forever more

Night forever more

Night forever more

And I’ll peel back all of my skin

I’ll peel back and let it all run

Peel back all of my skin

Peel back and let it all run

Peel back all of my skin

[b. PLANT A NAIL IN THE NAVEL STREAM]

 [Instrumental]

[c. FAMINEPULSE]

 Brick by brick, the night eclipsed

Pricked by the cuticle thorns,

Dried the sleep on nursery slits

Into this life I’m born

Havens just a scab away,

I’d like to see you after just one taste

Sink your teeth into the flesh of midnight

Night forever more,

Let them see it has begun

The others I’ve become

[d. MULTIPLE SPOUSE WOUNDS]

 No there’s no light,

In the darkest of your furthest reaches

No there’s no light,

In the darkest of your furthest reaches

No there’s no light,

In the darkest of your furthest reaches

No there’s no light,

In the darkest of your furthest reaches

No there’s no light, no there’s no time

You ain’t got nothing, your life was just a lie.

No there’s no light, no there’s no time

You ain’t got nothing, your life was just a lie.

[e. SARCOPHAGI]

 The ocean floor is hidden from your viewing lens

A depth perception languished in the night

All my life, I’ve been sowing the wounds

But the seeds sprout a lachrymal cloud

 

 

——-

Saya dedikasin tulisan ini untuk semua artis yang terlibat menggarap album Frances The Mute, meskipun saya tahu kalau tulisan ini tak akan mungkin mereka baca.

The Mars Volta:

Omar Alfredo Rodríguez-López – guitar, synthesizers, field recordings, production

Cedric Bixler-Zavala – vocals

Jon Theodore – drums

Isaiah “Ikey” Owens – keyboards

Juan Alderete de la Peña – bass

Marcel Rodriguez-Lopez – percussion

Additional musicians:

Flea – trumpet on “The Widow” and “Miranda That Ghost Just Isn’t Holy Anymore”

John Frusciante – first two guitar solos on “L’Via L’Viaquez”

Larry Harlow – piano, treated clavinet on “L’Via L’Viaquez” and “Cassandra Gemini”

Lenny Castro – added percussion (all tracks)

Adrián Terrazas-González – tenor sax, flute on “Cassandra Gemini”

Salvador (Chava) Hernandez – trumpet

Wayne Bergeron – trumpet

Randy Jones – tuba

Roger Manning – piano

Nicholas Lane – trombone

William Reichenbach – bass trombone

David Campbell – string, brass, piano, and percussion arrangements

Larry Corbett – cello

Suzie Katayama – cello

Violins:

Fernano Moreno

Erick Hernandez

Diego Casillas

Ernesto Molina

Joel Derouin

Roberto Cani

Mario De Leon

Peter Kent

Josefina Vergara

The Coquí of Puerto Rico

Produced:

Omar Alfredo Rodríguez-López

Mixed:

Rich Costey

Mastered:

Howie Weinberg

Cover Design:

Storm Thorgerson, Peter Curzon and Dan Abbott, with Bill Thorgerson

Photograph:

Rupert Truman, Storm Thorgerson, and Peter Curzon

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

26 Agustus 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized