Meng-kliping “Babi Oil Oh Nguik Crot Crot Institute”

Posted on September 1, 2012

0


PBRT (Partai Besar Rakyat Tidak)

 

Tepatnya saya sendiri juga lupa, mungkin dua bulan yang lalu? Atau malah kurang? Entah, tapi saya cukup sedih ketika mengetahuinya. Melebihi kesedihan saya ketika membuka friendster.com yang telah beralih fungsi, mengamati  myspace.com yang semakin sepi atau bahkan mengetahui astaga.com yang mati (suri).

Namun saya pertama kali mengendus gelagat tidak sedap ini ketika @aparatmati tiba-tiba berkicau seperti ini di twitland: aparatmati.multiply.com. Seketika itu pula muncul pertanyan dalam benak saya

“Ada apa dengan multiply?”

Singkat cerita, setelah iseng-iseng googling, akhirnya saya tahu bahwa multiply.com akan ditutup. Alasannya? Sabar, nanti akan saya sertakan bersama tanggapan tentang sosok yang akan saya coba kliping kali ini.

Sosok? Ya, seperti biasa. Saya cuma mencoba menulis hal-hal yang saya senangi, kagumi, kritisi atau apapun yang tujuan utamanya adalah sekadar berbagi. Saya berharap dan berusaha untuk tidak meletakkan tendensi lain di luapkanlupa.wordpress.com sebuah lahan pribadi untuk menulis bebas sekaligus ngawur setelah somedayorsomehow.multiply.com

Perlu saya ulangi, saya berharap dan berusaha untuk tidak meletakkan tendensi lain dalam lahan pribadi. Maksudnya adalah, saya tidak akan melakukan viral marketing atau apapun nama kegiatannya yang bertujuan untuk mempariwarakan sebuah (bahkan beberapa) produk yang memiliki entitas komersil, atau yang menurut istilah Remy Sylado disebut dengan ‘Jual Jamu’.

Bukannya haram, najis, nista, salah atau apapun yang diidentikkan dengan menyimpang. Tapi saya pikir, hal itu belum tepat untuk diterapkan ke dalam diri saya sampai tulisan ini selesai dibuat. Kecuali, mendadak saya didaulat sebagai endorsee produk Warwick Infinity NT fretless misalnya atau Leica X2 mungkin? Wallahu a’lam 😀

Setidaknya ketika saya mengenal multiply di tahun 2006 dan mulai tergelitik untuk mengakrabinya setahun kemudian, beberapa sosok yang saya kagumi dalam situs tersebut tidak pernah melakukan hal tersebut.

Sehingga inilah yang memengaruhi saya untuk membebaskan lahan pribadi dari hawa-hawa industri berbasis profit finansial dalam rangka memenuhi tuntutan penguasa kapital. Atau bahasa singkatnya, cari duit lewat internet karena dikejar (mengejar) target. Pret!

Menuju ke sosok yang sedari tadi ingin saya sebutkan namun nyatanya tertahan, saya sudah mengenal sosok ini lewat karyanya yang bagi saya cukup fenomenal ketika saya masih rajin menggunakan seragam putih abu-abu. Bukan karena saya hobi, tapi karena tuntutan dari pihak sekolah.

Yang masih saya ingat, waktu itu saya adalah pelajar kelas 3 dalam kelompok IPS di SMA 91 Jakarta Timur, sebuah kelompok yang mendominasi 4 buah dari total 6 kelas yang disediakan oleh pihak sekolah. 2 kelas sisanya adalah IPA, kalian tahu sendirilah stereotip pelajar-pelajar IPA.

Pasti langsung terbersit citra pintar dan serius? Tidak salah memang, namun untuk 2 personel band yang kami bentuk sejak kelas 2 SMA adalah sebuah pengecualian. Kalau kategori pintar, mereka memang masuk tapi serius? Jauh dari kesan itu! Khususnya drummer band kami tersebut, yang saat ini sudah menjadi polisi di daerah Kalimantan Timur.

Teman saya itulah yang pertama kali mengenalkan saya pada otak dibalik grup musik ini. Atau mungkin ini bukan grup musik? Entahlah. Di cover kaset itu hanya tertera gambar yang selalu sukses membuat saya tersenyum sampai detik ini, diikuti tulisan berwarna hijau dibawahnya yang berbunyi: UNTUK ANAK-ANAK NAKAL SELURUH INDONESIA.

Haha, inilah yang saya maksud fenomenal!

 

THE PANAS DALAM

 

Only Ninja Can Stop Me Now

 

Bagaimana pendapat anda tentang cover album tersebut? Paham kan siapa sosok tersebut? Bagi anda yang mengarungi masa kecil, remaja bahkan dewasa dengan film wajib tahunan berjudul: ‘Pengkhianatan G-30-S/PKI’ saya jamin kalau anda akan langsung mengarahkan penafsiran kepada centeng cendana.

Oya, sebelum lupa saya ingin mengingatkan bahwa tulisan kali ini akan banyak menyertakan gambar. Dan gambar tersebut kemungkinan akan menyebabkan iritasi pada saraf vagus dan frenikus atau tekanan pada saraf frenik, sehingga dapat menyebabkan singultus atau dalam bahasa Inggris nya disebut hiccup. Singkatnya cegukan.

Namun kalau ingin mengetahui lebih lanjut tentang THE PANASDALAM, anda bisa mengunjungi situs ini http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15755723

Bagi saya, THE PANASDALAM merupakan sebuah grup musik yang tidak serius namun mereka mempertanggung jawabkan posisi mereka dalam kapasitasnya sebagai kumpulan musisi dengan membuat aransemen lagu yang tidak recehan.

Singkatnya THE PANASDALAM bisa dijadikan acuan bagi band-band yang ingin berkarya. Kalau anda menilai liriknya tidak bisa dijadikan pegangan dalam berkarya, setidaknya aransemen dari THE PANASDALAM bisa. Coba dengarkan dengan saksama, mereka menggarap musiknya dengan serius meskipun lirik dan kualitas vokalnya berkata lain.

Dalam hal ini (aransemen) saya menyarankan lagu ‘Ayo Kita Kemana’, diikuti oleh ‘Lupa Istri’, ‘Malin Kundang’, ‘Koboy Kampus’ dan ‘Kelamin Uber Alles’ untuk didengar sebagai perkenalan.

Namun jika ditanya apa lagu favorit, maka akan saya jawab ‘I Was Sorrowful Some Socond’. Sebuah lagu berdurasi 47 detik, yang hanya diiringi oleh dentingan gitar dan lirik yang berbunyi seperti ini:

“Aku sangat sedih sekali

Sunyi sepi sendiri (heeem)

Ditinggal kekasihku pergi

Oh,  itu dia… kembali”

Bisa bayangkan seperti apa situasi dalam lagu ‘I Was Sorrowful Some Second’? Saya asumsikan bahwa ini adalah lagu yang dibuat oleh seorang pria yang sedang menunggu kekasihnya yang pergi kamar mandi. Sekarang bisa bayangkan, seperti apa senangnya saya kepada lagu ini? Hahahahaha

Oya, masih menurut saya, THE PANASDALAM juga memiliki lagu yang serius jika kalian ingin meninjau dari segi lirik. Lagu tersebut berjudul ‘Semacam Kasih Sayang’, lagu ini merupakan satu-satunya lagu yang bisa memberikan semacam rasa sedih bercampur takjub kepada saya.

Baiklah, sudah cukup saya bercakap-cakap. Sekarang akan saya mulai parade gambarnya.

 

penjelasan tentang THE PANASDALAM #1

 

penjelasan tentang THE PANASDALAM #2

 

penjelasan tentang THE PANASDALAM #3

 

penjelasan tentang THE PANASDALAM #4

 

penjelasan tentang THE PANASDALAM #5

 

the panas dalam rajin shalat kecuali roy dan iwan karena kristen

 

di laut kita jaya,  di darat kita buaya

 

front pembela islam kristen hindu budha

 

kaum musik kurang ajar

 

your idols are my fans

 

discography

 

the panas dalam

 

vocal

 

bass

 

drum

 

gitar

 

THE PANASDALAM adalah

 

Nah, setelah melihat wujud dari personel THE PANASDALAM (formasi terbaru), sekarang saatnya kita coba menghadap ke Imam Beser.

 

PIDI BAIQ

Seperti yang telah saya janjikan di awal tadi mengenai sosok yang akan saya coba kliping kali ini dan kaitannya dengan keputusan saya untuk sedih karena kebijakan yang membuat multiply ditutup. Tapi mau gimana lagi? Mungkin ini sudah takdir. Jadi niat bersedih-sedihan harus saya matikan, tapi kalau kalian masih mau sedih-sedihan silahkan alihkan perhatian ke sinetron atau reality show yang mengeksploitasi tangis.

 

komentar berita

 

Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang siapa itu Pidi Baiq, karena saya belum pernah bertemu dan ngobrol-ngobrol. Disamping itu saya pikir, kalaupun saya sudah ngobrol-ngobrol dengan makhluk ini, saya jamin bahwa saya tetap tidak bisa menerka gelagat beliau.

Setahu saya, Pidi Baiq adalah orang yang sangat percaya diri untuk berkarya. Berbekal kemampuan,  keinginan dan (mungkin) bantuan dari beberapa rekan, dia bisa melahirkan karya-karya yang bagi saya itu gila!

Meskipun saya dan beberapa teman –yang sudah menikmati karya-karya Pidi Baiq— membuat kesepakatan tidak tertulis melalui lisan, bahwa orang ini lebih tepat dikatakan genius ketimbang dikategorikan gila. Dan mungkin juga sudah beberapa kali Pidi Baiq berkata bahwa sebenarnya dia tidak gila, hanya berbeda saja. Tapi saya benar-benar tidak bisa terima, saya tetap menganggap ia Gila.

Selain bertindak sebagai otak THE PANASDALAM (setidaknya) dalam dua buah album, Ia juga dikenal dengan gambarnya yang tergolong… itu tadi. Gila! Nanti akan saya sertakan gambarnya, dan biar anda sendiri yang menilai.

Masih ada lagi, ia juga sudah menerbitkan beberapa buah buku. Tapi saya sendiri baru memiliki serial Drunken: Drunken Monster, Drunker Mama, Drunken Molen dan Drunken Marmut. Bercerita tentang apa buku-buku tersebut? Inilah yang, menurut saya, layak disebut sebagai catatan harian orang gila (bukan karya Lu Xun).  Hahaha

Kali ini tidak akan saya bagikan tulisan yang ada di dalam buku tersebut, kalau anda berminat bisa datang ke toko buku atau pesan lewat internet. Namun, saya akan bagikan sebuah contoh tulisannya yang saya salin dari halaman multiply: Sebuah wawancara imajiner dengan seorang pentolan grup musik rock oktan tinggi (dimana kadar kegilaan tulisan Pidi Baiq dalam tetralogi Drunken, kurang lebih sepadan dengan wawancara ini)

Sebelum saya menutup tulisan ini dengan beberapa artikel dan gambar yang saya culik dari bermacam situs, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada multiply yang –sedikit banyak dan secara tidak langsung— telah mengajarkan saya tentang struktur dan tata cara penulisan. Meskipun nyatanya, sampai detik ini saya masih saja tidak becus dalam teknik penulisan.

Dengan cara apa multiply mengajarkan? Pastinya dengan cara menampilkan tulisan dari sosok-sosok yang cukup saya segani dalam dunia tulis menulis. Sebut saja: Arian 13, Wendi Putranto, Adib Hidayat, Soleh Solihun, Gustaff, Felix dan pastinya Pidi Baiq.

Situs ini saya kenal jauh sebelum saya menyadari kehadiran  wordpress, blogspot, tumblr, livejournal ataupun situs-situs penulisan lain sekarang merapat jadi tren. Bahkan menurut saya, multiply terasa lebih lengkap. Tapi ya itu tadi, saya sungguh tidak ingin bersedih-sedih. Pindah saja saluran tv anda ke sinetron atau reality show jika anda benar-benar ingin memuja kesedihan.

Dan sebelum benar-benar tiba di akhir tulisan. Saya hanya ingin berseru bahwa, saya sudah mengkliping beberapa karya Pidi Baiq di multiply yang menurut saya patut untuk disimpan sebelum situs tersebut ditutup.

 

multiply

 

hahahaha #1

 

hahahaha #2

 

hahahaha #3

 

hahahaha #4

 

hahahaha #5

 

hahahaha #6

 

hahahaha #7

 

hahahaha #8

 

hahaha #9

 

hahahaha #10

 

serial drunken

 

WAWANCARA IMAGINER
DENGAN ARIAN13, VOCALIS SERINGAI
(BENAR-BENAR SOUND OF CHANGE)

(Setelah selesai ramah tamah. Dan menyampaikan maksud kedatanganku, maka:)

Arian13: Di sini aja gitu? Atau mau di depan?

Pidi Baiq: Bebaslah. Di sini juga enak. Boleh merokok?

Arian13: Kalau mau merokok, kayaknya enak di luar sana. Soalnya gak enak sama orang yang gak merokok. Kita di depan aja gitu? Atau gimana?

Pidi Baiq:Ya sudah. Di sini aja. Ga apa-apa kok gak merokok juga. Sebentar ini.

Arian13: Kurangi merokok, Pid.

Pidi Baiq: Susah. Pengen sih. Begini. mungkin enggak Puppen tampil lagi?

Arian13: Subhanalloh, langsung ini teh?

Pidi Baiq: Iya. Waktu soalnya.

Arian13: Menyangkut soal ini. Terus terang Arian enggak bisa menjawabnya. Arian sepenuhnya menyerahkan diri kepada Kehendak Allah. Apakah Puppen bisa tampil lagi atau tidak, Arian pikir itu bukan soal penting. Hal yang paling penting kita pikirkan adalah pebuatan. Dan sikap kita. Bagaimana dengan itu bisa memberi manfaat bagi mengukuhkan kebaikan untuk semesta alam.

Pidi Baiq: Setuju. Tapi ada gak setidaknya keinginan untuk kembali memunculkan Puppen?

Arian13: Waduh. Gimana ya? Begini deh, Arian lebih memikirkan apa yang sekarang bisa Arian lakukan dulu. Itu belum sampai Arian pikirkan, apakah ingin atau tidak, soalnya untuk yang sekarang-sekarang aja masih banyak hal-hal yang harus segera Arian kerjakan.

Pidi Baiq: Lagi sibuk apa sekarang?

Arian13: Eh. Sudah masuk waktu ashar belum ya?

Pidi Baiq: Jam 15.13. harusnya udah.

Arian13: Bagaimana kalau kita break dulu? Kita shalat ashar dulu?

Pidi Baiq: Atau nanti aja, sebentar kok, paling sepuluh menit lagi selesai.

Arian13: Aaah. Ayo. Gimana kalau lagi wawancara tiba-tiba kita wafat? Ayo ah. Kalau enggak Arian gak mau wawancara nih?

Pidi Baiq: Ya sudah.

(WAWANCARA SETELAH SHALAT}

Pidi Baiq: Sibuk apa sekarang?

Arian13: Ya gitu. Kalau enggak kerjaan senirupa ya musik. Kebanyakan musik sih. Alhamdulilah masih ada yang percaya sama Arian.

Pidi Baiq: Menyangkut soal musik. Menurut Arian, apa hal yang paling prinsip dibutuhkan oleh kelompok orang yang ingin mendirikan group band?

Arian13: Lilahitaala ya? Arian rasa Lilahitaala. Itu hal paling prinsip. Modal penting. Sehingga dengan itu apa yang kita perbuat lebih bersumber pada stimulus dalam. Murni yang bersumber dari diri yang asli. Yang jujur. Ikhlas.

Pidi baiq: Terus, menurut Arian hal apa yang sebenarnya lebih sering menjadi alasan bubarnya sebuah group band?

Arian13: Subhanalloh. Tergantung pada niatnya ya. Nyambung sama yang tadi itu. Kalau niatnya bersumber pada stimulus luar, bukan stimulus dalam, biasanya sangat rentan untuk terjadinya perpecahan.

Pidi Baiq: Stimulus luar itu?

Arian13: Stimulus luar itu unsurnya bisa berupa harta. Bisa jabatan. Wanita. Tahta. Yaaa yang macem begitu-itu lah.

Pidi Baiq: Kalau Thoriq bagaimana menurut Arian?

Arian13: Enggak usah ngomongin oranglah. Itu bisa fitnah. Apalagi dia itu masih saudara kita seiman. Masih se-ka-em-es-er.

Pidi Baiq: Oh iya. Lupa.

Arian13: Lagian kita juga kan belum tentu lebih baik dari orang yang kita omongin.

Pidi Baiq: Baiklah kalau begitu. Menurut Arian bagaimana dengan masalah pembajakan?

Arian13: Arian pikir. Apa pun itu, setiap perbuatan yang merugikan orang lain itu pasti salah. Tapi mestinya kita juga tidak langsung menyalahkan mereka. Karena dalam tiap diri manusia itu kan ada syetan. Syetan yang senantiasa terus berusaha membisiki agar untuk cenderung pada perbuatan jahat..eh ini direkam enggak?

Pidi Baiq: Bentar. Eum.mmmmmmmmmmmm. Eh iya. Lupa. Lupa. Belum neken tombol record. Sori. Sori.

Arian13: Pidi masih aja seperti dulu.

Pidi Baiq: Sori. Sori. Nah udah. Tapi gak apa-apa. Yang tadi semuanya saya pasti ingat.

Arian13: Bukan pasti ah!!. Insya Allah.

Pidi Baiq: Iya Insya Allah.

Arian13: Tapi Arian suka aneh juga sih sama orang yang anti pembajakan padahal software komputer di studionya juga hasil bajakan. Eh tuh kan, masyaAllah jadi ngomongin orang. Nanya yang lain lah.

Pidi Baiq: Apa yang biasa atau sering Arian pikirkan saat manggung.

Arian13: Yang pasti Arian suka inget Allah.

Pidi Baiq: Kalau teks lagu?

Arian13: Ih ya iya dong.

Pidi Baiq: Mana yang paling utama yang harus diingat di antara kedua itu?

Arian13: Kayaknya Allah ya? Iya Allah. Itu yang paling utama.

Pidi Baiq: Begini. Sekarang kayaknya banyak sekali musisi atau pembuat lagu pada umumnya membuat lagu dengan cara…apa ya? Dengan cara nyopot-nyopot nada pada banyak lagu orang, biasanya lagu barat, kemudian dia kombinasikan dengan bantuan media khusus sehingga menjadi sebuah lagu baru. Bagaimana pendapat Arian?

Arian13: Maksudnya?

Pidi Baiq: Apakah itu sah-sah saja sebagai sebuah hal yang lumrah pada diri seseorang yang katakanlah memang sudah bermental plagiator. Atau gimana?

Arian13: Aduh. Arian tidak bisa memberi pendapat soal ini. Tapi yang jelas, ya kembali ke yang kita bahas tadi, soal stimulus dalam dan stimulus luar. Soal niat. Atas dasar apa kita berkarya. Bisa mungkin karena demi meraih sukses pasar. Bisa mungkin karena berharap lekas dapat puja. Lekas populer. Atau lebih menjunjung orisinalitas. Kejujuran. Ya hal itu tergantung pada masing dirinya sendiri sih ya.

Pidi Baiq: Agak pribadi nih. Dari keenam senar gitar, mana yang paling Arian anggap penting?

Arian13: senar satu dan senar tiga kayaknya.

Pidi Baiq: Apa sih cita-cita Arian yang sampai sekarang masih belum kesampaian?

Arian13: Apa ya? Arian ingin umroh.. Ada sih teman ngajak. Tapi Ariannya masih belum ada waktu terus. Kasihan deh. Insya Allah bisa secepatnyalah. Doain ya?

Pidi Baiq: Iya. Mudah-mudahan saja.

Arian13: Oh iya, Arian rencana mau ngajuin proposal membuat desain company profile nya Kubah Emas Depok.

Pidi Baiq: Wuih keren. Bagus lah. Waah, seru ya ngobrol sama Arian. Tapi kayaknya segini dulu deh, Yan. Makasiiih banget udah nyediain waktu buat wawancara. Kalau ada waktu banyak bisa asyik ngobrol panjang ya?

Arian13: Sama-sama. Iya nih. Padahal kita masih sono ya.

Pidi Baiq: Yaah, mungkin lain waktu lah. Oke, Yan, saya harus langsung nih.

Arian13: Oh iya. Iya. Langsung ke Bandung nih?

Pidi Baiq: Kayaknya mau ke Sarah Azhari dulu tuh. Ada janji wawancara imaginer sama Sarah. Oke langsung ya, Yan.

Arian13: Eh jusnya lupa diminum tuh. Dibungkusin ya?

Pidi Baiq: Ga usah, ga usah. Biar saya minum dulu deh.

Arian13: Hati-hati di jalan.

Pidi Baiq: Enak jusnya.

Arian13: Makasih. Bayarnya lewat rekening ya. Eh enggak diiing. Boong. Becanda kok.

Pidi Baiq: He he.Langsung ya, Yan. Makasih banyak. Assalamualaikum.

Arian13: Walaikum salam warahmatullahiwabarokatuh.
Pidi Baiq
Bandung,
2 Agustus 2007.
(diaplod dengan seizin Arian13)

 

hmm #1

 

hmm #2

 

hmm #3

 

hmm #4

 

hmm #5

 

Pidi Baiq, “Drunken Monster” yang Jahil

“Pidibaiq” – Copyright (c) 2012 by galih sedayu

 

Oleh: dewi irma kampus_pr@yahoo.com

http://komik.multiply.com/journal/item/23/klipping-Pidi-Baiq-Drunken-Monster-yang-Jahil

Sikap serius itu penting. Namun, terlalu serius bisa membuat manusia tidak bisa melihat indah dan berharganya hidup. Pidi Baiq meyakini bahwa “kegilaan” merupakan terapi menjaga kewarasan dalam hidup.

Pidi Baiq bisa dikenal sebagai eks vokalis band The Panas Dalam, mantan dekan FSRD kampus ARS International Bandung, anggota tim kreatif Project-P, staf ahli di Bimbel Villa Merah, konsultan di galeri seni dan budaya Space 59, juga ilustrator di penerbit Mizan. Akan tetapi, jika membaca kumpulan kisahnya dalam buku Drunken Monster: Kumpulan Kisah tidak Teladan” yang belum lama ini diluncurkannya, sebuah buku berisi 18 kisah keseharian Pidi yang sebagian dimuat di blog-nya (www.pidibaiq.multiply.com), ia boleh jadi bisa juga dikenal sebagai orang “gila”.

Kisah kejadian nyata sehari-hari kesannya biasa saja, namun dengan keisengan luar biasa, ditambah gaya bertutur yang jumpalitan seenaknya sendiri melanggar kaidah bahasa yang baik dan benar, kisah-kisah Pidi menjadi kocak untuk dibaca. Siapa pun bisa jadi objek kejahilannya, dari mulai istrinya sendiri hingga tukang parkir, tukang becak, satpam, penjual rokok, dsb.

Pidi yang jahil namun juga dermawan, sebab ia kerap pula memberikan sejumlah uang kepada orang kecil yang ditemuinya atau menjadi korban kejahilannya. “Saya tidak mempermainkan mereka, justru mereka yang suka mempermainkan hati saya sehingga saya selalu ingin memberi mereka,” kata Pidi, lulusan Kriya Tekstil FSRD ITB ini, dalam bincang bukunya di pameran buku di Braga, Minggu (4/5), yang langsung disambut tawa pengunjung.

Berbincang dengan lelaki kelahiran 8 Agustus 1972 ini, seperti disuguhi jawaban-jawaban asal, ngawur, dan ganjil. Semua tampak ringan dan bersenang-senang di matanya, meski itu bukan juga jadi meminggirkan substansi penting yang menjadi maksudnya. Ia punya banyak rencana tak terduga, kerap berpikir dengan logika terbalik, singkatnya menjadi orang yang “berbeda”. “Mudah-mudahan berbeda tapi jadi melahirkan karya, bukan berbeda hanya cari sensasi,” kata Pidi yang juga aktif membuat komik, menulis lagu, puisi, dan cerpen.

Pidi mengaku tak berniat melucu, meski hasilnya membuat orang terpingkal-pingkal. Ia tidak bermaksud berhumor karena kehidupan baginya memang merupakan humor. Maka, kendurkan kerut dahi dan munculkan wajah ceria. Mari simak obrolan penuh tawa Kampus dengan ayah dua anak ini, yang dilakukan di Villa Merah Jln. Ciliwung No. 23 Bandung, Senin (5/5).

Kisah di buku Drunken Monster, nyata terjadi semua?

Itu cerita nyata, memang ada proses adonan. Ada satu inti cerita yang kemudian menjadi kendaraan saya untuk menyampaikan pesan-pesan saya. Pastilah ada bumbu juga ya. Sebenarnya itu masih terlalu sopan karena saya masih lebih kacau lagi. Masih direm karena perkenalan dululah (tertawa).

Ada yang lebih jahil yang belum diceritakan?

Banyak juga sih. Misalnya, menjurus ke keagamaan. Saya juga pernah memberi uang Rp 10.000,00 ke anak kecil untuk jadi mata-mata saya, mengambil album keluarganya. Saya iseng aja mau lihat-lihat (tertawa).

Bisa jelaskan tentang gaya bahasa yang dipakai? Kenapa suka membolak-balik kata atau menjelaskan yang tidak perlu?

Saya ini sok nyastra sebenarnya (tertawa). Sebetulnya sastra atau apa pun kesenian dan kebudayaan, kan tidak pernah berhenti pada suatu masa. Jika menurut J.S. Badudu bahasa itu begitu, tetapi itu kan dulu zamannya dia. Kemudian zaman berubah dan sekarang dia di mana? Ketika kebudayaan lahir dari kebiasaan bersama, saya pikir saya juga bisa membuat kebiasaan baru untuk membuat kebudayaan baru. Saya tidak mau hanya sebagai penerima.

Lagi pula, selama ini kita sering pakai bahasa sebagai image. Yang penting tulisan saya dimengerti, walaupun bahasanya ngaco. Kenapa ngaco? Karena tidak umum. Saya sendiri tidak merasa ngaco, hanya berbeda. Padahal, umum itu belum tentu benar. Mungkin buku saya ada geregetnya karena bahasanya yang ngaco (tertawa). Saya menganjurkan setiap orang untuk punya rasanya sendiri. Apa karakter itu disukai atau tidak, ya itulah karakter. Kalau kamu bangau, jangan kamu kursus menggongong, hanya karena anjing sedang ngetren. Bangsa kita kan latah. Kalau negara kita negara pembantu, ya jadilah negara pembantu yang baik (tertawa).

Ada yang menyebut Kang Pidi “gila” sebab kelakuan jahil itu, bagaimana?

Kalau saya disebut gila, saya malah bahagia. Orang jenius pada masanya juga disebut gila, misalnya Archimides, Wright bersaudara, Galileo, James Watt, Edisson, semuanya disebut gila toh? Coba dulu mereka berhenti, sekarang tidak ada lampu, kereta api, dsb. Intinya, saya mah merasanya baik-baik saja (tertawa).

Menurut Kang Pidi, bagaimana porsi ideal antara serius dan kegilaan dalam hidup?

Hidup tidak ada yang ideal, semua relatif. Akan tetapi, saya selalu bilang ke kawan-kawan The Panas Dalam bahwa hidup itu menyembuhkan luka. Setiap hari kamu selalu berusaha ingin lebih baik kan? Berarti sekarang masih kurang baik kan? Jadi, hidup itu bagaimana menyeimbangkan diri. Hidup ini kan permainan. Makanya jangan marah kalau ada orang mempermaikan kita, wong kita lagi bermain-main kan (tertawa). Sikap diri serius itu penting, tetapi substansi saja. Metodenya bisa bermacam-macam.

Kang Pidi pernah jadi dekan atau berlatar belakang akademisi, tertarik bikin buku teoretis? Rencana selanjutnya bikin apa lagi?

Saya berencana bikin buku anak-anak, 17 cara menundukkan orang tua. Lalu saya mau bikin balasannya untuk orang tua, 18 cara menangkal siasat anak. Jadi, saya bikin virus dan antivirusnya (tertawa). Kalau sesuai disiplin ilmu saya yaitu seni, tentang hidup, filosofi, dan banyak hal lain, nanti ada di “Kitab Dabrul”. Itu awalnya judulnya “Ayat-ayat Sompral”, tetapi saya gagalkan sebab ada “Ayat-ayat Cinta”, nanti saya disangka ngikutin.

Saya berusaha sok bijak lah di buku itu (tertawa). Saya juga mau bikin TTS yang sudah ada isinya, silakan orang bikin pertanyaannya sendiri (tertawa).

Juni nanti ada buku kedua yaitu Drunken Mollen. Saya juga mau bikin kumpulan aphorisma saya dan mau menerbitkan komik lagi. Semua sedang dikerjakan, ada di komputer. Akan tetapi, kalau tidak ada yang mau menerbitkan, ya tidak apa-apa. Toh saya sudah sangat bahagia dalam hidup ini. Uang banyak ini, tinggal menyablon (tertawa).

 

Sebagai komikus, apa Kang Pidi punya keinginan memajukan komik nasional?

Nggak, saya hanya ingin memajukan diri saya sendiri. Saya suka bingung, kenapa komik suka dicampurkan dengan kewarganegaraan. Kalau seseorang komiknya bagus, nanti juga bakal ditanya, kewarganegaraan mana sih? Oh, Indonesia. Itu mah nanti aja, yang penting berkarya dulu.

Kalau karya kita bagus kan nanti bakal ditiru banyak orang dan membentuk culture sendiri, seperti yang terjadi pada manga Jepang. Jangan belum apa-apa, sudah berbanyak-banyak, tetapi tidak ada apa-apanya.

Komik Indonesia sekarang masih dalam kebudayaan berkumpul. Pada bikin kelompok, tetapi hasilnya apa? Saya mau kasih pesan sama komikus yang kumpul-kumpul, sudahlah kamu cepat pulang, bikin komik aja, lumayan kan dapat beberapa halaman (tertawa).

 

Katanya Kang Pidi sudah menciptakan 260-an lagu. Bagaimana bisa produktif dan apa berminat solo album?

Ada rencana bikin album The Panas Dalam lagi, mudah-mudahan bulan Juni ini bisa keluar. Saya ambil alih lagi, jadi vokalis. Album pertama kan judulnya “Only Ninja Can Stop Me Now”, yang kedua “Only Almarhum Ninja Can Stop Tamborine”, nanti di bawahnya ada tagline, Bangkitlah musik Thailand. Album dulu juga ada tulisan, “Untuk anak-anak nakal Indonesia”. Itu nggak ada alasan apa-apa, ingin saja (tertawa).

Tentang lagu, saya sebenarnya diuntungkan oleh banyak waktu. Saya di kantor tidak mengerjakan pekerjaan teknis, jadi kalau nggak ada kerjaan, saya gitaran. Mungkin semua orang juga bisa membuat lagu sebanyak itu. Satu, kalau dia memang mau. Tapi kan walau ada waktu, orang suka nggak mau, lebih pilih main game. Kedua, saya tidak suka memainkan lagu orang. Akan tetapi intinya, marilah kita bersenang-senang dalam berkarya. Kalau tidak senang, tidak akan ada rohnya, kamunya jadi tidak keluar. Sebenarnya di dunia ini banyak yang berharga, tetapi karena orang sibuk bekerja, jadi tidak terambil, lupa oleh pekerjaan.

Dulu membuat negara sendiri, sekarang membuat partai. Bisa cerita lebih lanjut?

Kalau partai, jangan tanya maknanya. Saya seperti dapat wangsit saja, tiba-tiba ingin bikin partai. Ya, sudah saya bikin namanya Partai Kucing, lambangnya tikus. Saya ingin menempel stiker partai sendiri di tembok, ingin melihat bendera partai sendiri berkibar di jalan, ingin tahu aja rasanya gimana sih? (tertawa) Sudah mau didaftarin juga ke komisi, walau pasti ditolak (tertawa). Kalau orang tidak suka, tidak masalah, toh saya juga tidak suka sama partai mereka. Biar jelek, yang penting punya posisi sendiri, tidak jadi pengikut terus. Akan tetapi, ternyata di e-mail banyak juga yang tertarik mendaftar ikut partai saya (tertawa).

Dulu di kampus, bikin negara The Panas Dalam tahun 1995 juga senang-senang. Kita ada 25 orang, biasa ngumpulnya di Studio Seni Lukis. Kalau ke luar negeri, tinggal buka pintu (tertawa). Bukan karena benci, justru saya cinta bangsa Indonesia. Akan tetapi, ketika bangsa itu sudah dimiliki seorang saja, sama saja saya mencintai orang itu, ngapain juga kan? Waktu Soeharto turun, akhirnya The Panas Dalam bergabung lagi dengan Indonesia tahun 1999 karena Indonesia mulai jadi milik kita lagi. Dulu sempat bikin Radio Republik The Panas Dalam, pusat kebudayaan, perusahaan-perusahaan fiktif, bahkan kedutaan besar yang mungkin tidak diakui, tetapi tidak apa-apa, yang penting senang-senang (tertawa).

Mungkin bagi orang-orang serius pada mikir, ngapain sih si Pidi? Tapi kan sekarang saya senang mengenang masa lalu di kampus yang indah. Yang rugi itu orang yang serius di dunia, padahal nanti di akhirat harus serius juga, pusing nanti dia, mending juga bisa masuk surga (tertawa).

Tentang sekolah, sebenarnya saya juga mau bikin sekolah. Konsepnya, knowing, doing, being, mirip seperti Muslim, mukmin, dan muttaqin. Selama ini sekolah kurang pada konsep being, makanya banyak yang sekolah, tetapi pribadinya tidak intelektual. Coba sekarang ada berapa jam sih istirahat di sekolah? Senang-senangnya kurang, padahal hidup harusnya seimbang. ***

 

——-

“Hidup Kami, Mati Kau Plagiator!” ~Pidi Baiq

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

01 September 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized